
Paginya, Naura membuka matanya. Semalam karena terlalu lelah, ia tidak bangun untuk makan malam, padahal sore kemarin, ia dan Lunara sangat lapar. Mereka berdua bahkan berencana untuk makan malam bersama tapi gara-gara Aagha yang memaksanya sampai ia tidak makan malam. Karena itu, Naura lemas sekali. Tubuhnya sama sekali tidak ada tenaga untuk segera bangun. Ditambah sesuatu yang dilakukan Aagha padanya, berulang-ulang. Sekucur tubuh kurusnya seakan remuk habis dipukuli balok. Untuk bergerak ke samping saja, rasanya susah, harus pelan-pelan. Sementara Aagha, masih tidur nyenyak di sampingnya. Pria itu tidur dengan tangannya yang berada di atas dada Naura.
Naura ingin bangun tanpa membangunkan Aagha hingga ia mengangkat tangan Aagha perlahan-lahan, sampai akhirnya menyingkir darinya. "Huuuufffht!"
Cepat-cepat Naura menggerakkan tubuhnya yang sakit, lalu duduk sembari memegang area intimnya yang terasa begitu perih. Bahkan raut wajahnya tampak jelas menahan sakitnya itu. Dengan menahan selimut didadanya, Naura membungkuk dan mengambil pakaiannya di lantai. Perlahan, ia memakai kembali pakaiannya itu lalu bergerak untuk berdiri tapi Aagha tiba-tiba melingkarkan tangannya diperutnya-memeluk perutnya dengan erat hingga Naura yang tadinya ingin berdiri, jadinya tidak bisa.
"Kak Aagha udah bangun?" tanya Naura sembari melihat Aagha yang masih dengan posisi miringnya.
Pria itu tidak menyahut, membuat Naura sedikit kesal. "Kalau masih ngantuk. Tidur aja lagi. Tapi aku nggak bisa. Aku mau mandi."
Tiba-tiba saja, Aagha menarik Naura kembali berbaring dengan posisi miring di sampingnya dengan membelakanginya, dan pria itu mempererat pelukannya pada Naura.
"Kak, aku lapar. Bisa lepaskan aku nggak!"
Mendengar ucapan Naura, membuat Aagha membuka matanya. Sejak tadi, ia memang sudah bangun tapi ia malah saja membuka matanya.
"Lapar?"
"Ya, aku lapar. Dari kemarin belum makan," jawab Naura.
Aagha mengangkat kepalanya lalu melihat wajah Naura yang masih baring miring. "Mau makan apa?"
Kening Naura mengerut mendengar pertanyaan Aagha yang seolah peduli padanya, padahal selama ini Aagha tidak pernah bertanya seperti itu kepadanya. Naura pun memutar kepalanya sampai berhasil melihat wajah Aagha. "Apa aja tapi kenapa Kak Aagha tanya gitu?"
"Ya karena kamu bilang lapar, jadi aku tanya."
Naura tidak heran lagi. Raut wajahnya yang tadi penasaran dengan Aagha, berubah biasa. "Sekarang bisa lepasin aku! Aku mau sarapan sama Lunara!"
__ADS_1
"Oke. Aku lepaskan tapi cium aku dulu!" Aagha menutup matanya sembari memajukan bibirnya ke depan wajah Naura yang seketika kaget dengan sikap Aagha. Bahkan mata Naura membulat melihat bibir monyong Aagha.
'Pria ini kenapa sih?'
"Ayo Naura! Kalau mau, aku lepaskan dari sini, cium aku dulu!" pinta Aagha yang membuat Naura bingung.
"Kamu lagi kesal ya?" tanya Naura, dan Aagha malah merasa aneh mendengar pertanyaan Naura yang tidak nyambung dengan dirinya hingga Aagha kembali membuka matanya melihat Naura.
"Kamu kalau bicara suka aneh-aneh. Memang aku kelihatan kesal?"
"Terus kalau bukan kesal, lalu apa sampai Kak Aagha tiba-tiba begini?"
Aagha menghela nafas lelah melihat Naura yang tidak sejalan dengan dirinya. Dan ia tidak ingin berdebat pagi-pagi dengan Naura hingga Aagha berinisiatif sendiri mencium bibir Naura.
"Mmm!" Naura mendorong Aagha sampai Aagha berhenti menciumnya, "Kak Aagha ...," Namun Aagha kembali menciumnya lagi, dan pria itu memegang tangan Naura agar tidak mendorongnya.
Aagha berhenti mencium setelah ia merasa puas, dan ia melepaskan tangan Naura lalu bangun kembali. "Bangunlah!"
Kini, Naura berdiri di samping tempat tidur sembari melihat Aagha yang kembali menyelimuti tubuhnya. "Kak Aagha nggak mau sarapan?"
Aagha tidak menyahut. Dan Naura hanya menghela nafas lelahnya lalu melangkah masuk ke kamar mandi. Sekitar lima belas menit, Naura keluar dari kamar mandi, dan ia kaget melihat makanan sudah ada di atas meja, bahkan Aagha yang duduk di sofa sembari memegang ponselnya. Pria itu asyik bermain game.
"Loh, makanannya udah ada. Padahal, aku belum pesan makanan," kata Naura sembari berjalan mendekati Aagha,
"Aku yang pesan. Kamu pakai baju dulu, baru makan." Aagha membalas tanpa melihat Naura, ia hanya memperhatikan ponselnya.
Tanpa mengatakan apapun, Naura ke dekat lemari pakaiannya. Di sana, ia berganti pakaian. Sesekali, ia memperhatikan Aagha yang masih fokus dengan ponselnya.
__ADS_1
"Dia berubah-ubah. Tadi dia santai waktu bicara padaku, sekarang balik kayak gitu lagi. Muka dingin dan nggak peduli sama orang ketika bicara," gumam Naura yang heran melihat sikap Aagha kali ini.
Naura kembali setelah selesai berpakaian. Ia mendatangi Aagha di sana, dan ia duduk sembari menatap Aagha yang sudah tidak bermain ponsel lagi.
"Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Aagha yang sibuk meletakkan piring dan sendoknya di depan Naura.
"Kenapa kita nggak makan sama Lunara dan Lucas?" Naura malah balik tanya.
Aagha langsung menatap Naura dengan tatapannya yang tajam. "Supaya bisa nostalgia sama suami adik iparmu sendiri."
Naura lagi-lagi kesal karena ucapan Aagha tapi ia berusaha untuk tetap menahan emosi dengan menarik bibirnya tersenyum. "Kamu salah. Aku nggak ada urusan sama suami orang. Aku urusannya sama sahabatku. Kemarin udah janji mau makan sama-sama. Dan sarapan pagi ini, mau ngajak Lunara makan di dekat kolam renang. Di sana kan, ada restoran terbuka," tutur Naura.
"Nanti malam aja. Hari ini kita makan berdua dulu." Sebelum menjawab, Aagha yang mulai menguyah makanannya, mengangkat bola matanya sekilas.
"Ya mau gimana lagi. Udah terlanjur makan di sini!" Meski tak protes tapi Naura cemberut, dan Aagha melihat ekspresi istrinya itu yang membuatnya tersenyum licik.
"Tanganku keram." Aagha tiba-tiba meletakkan garpu dan sendoknya dengan kasar ke atas meja lalu menunjukkan tangannya yang lemah.
Naura mengerutkan keningnya, heran melihat Aagha yang seperti itu. "Kok bisa?"
"Ya tidak tahu kenapa? Dan aku tidak bisa makan lagi!"
"Ya udah nggak usah makan."
Aagha malah tampak kesal dengan Naura yang tidak mengerti maksudnya. Ia menatap kesal wanita yang asyik makan di depannya. "Sebagai istri, kamu tidak punya sedikit perhatian. Kamu diam saja lihat suamimu yang tidak berdaya. Kamu malah asyik makan sendiri," keluh Aagha.
Naura mengangkat wajahnya melihat Aagha. "Mau disuapin kayak orang-orang Korea, begitu?"
__ADS_1
"Siapa yang mau seperti itu? Walau sakit begini, aku tidak suka disuapi orang. Maksudku tadi, harusnya kamu pijitin tanganku sampai bertenaga lagi. Tapi kamu nggak ada usaha sama sekali selain protes. Heran, lihat saja Lunara. Dia lebih cepat bergerak kalau aku sakit." Aagha kesal pada Naura karena itu ia bicara keras.
'Sekarang malah berubah jadi manja! Dasar Kak Aagha yang suka berubah-ubah,' batin Naura.