
Aagha kembali ke Rumah Sakit untuk melihat keadaan Lunara. Dan ketika sampai di sana, Lunara sudah dipindahkan ke Kamar Inap. Di kamar itu, Lunara ditemani semua orang. Aagha masuk ke dalam dan memandang adiknya yang masih belum sadar. Tampak diwajah Aagha yang begitu kasihan melihat adiknya terbaring lemah dengan kondisi kepala diperban.
"Aagha! Kenapa kamu sendiri? Di mana Naura?" Nyonya Elif masih bertanya tentang disaat ia sangat mengkhawatirkan kondisi Lunara karena meski Naura bukan anak kandungnya tapi ia membesarkan Naura selama bertahun-tahun.
"Bagaimana keadaan Lunara?" Untuk saat ini, Aagha tidak mau membahas tentang Naura hingga ia tidak menjawab pertanyaan ibunya dan malah bertanya balik.
"Lukanya tidak serius tapi kata dokter dia mengalami gegar otak ringan. Dan dokter masih harus memeriksanya saat dia sadar untuk memastikan kondisi kepalanya baik-baik saja," jelas Nyonya Elif.
Aagha menghela nafas lega karena kecemasannya sedikit berkurang tapi amarahnya pada Naura yang mengira adalah penyebab Lunara jatuh, belum menghilang, bahkan jika mengingat tentang Naura, membuatnya semakin benci pada Naura.
"Mommy dan daddy pulang aja. Tante Laura juga harus pulang. Biar aku yang jaga Lunara," kata Aagha yang baru saja duduk di samping tempat tidur Lunara.
"Tidak Aagha. Biar tante yang menemani Lunara. Kamu pulang saja dengan mommy dan daddymu karena kamu pasti capek gara-gara pesta kemarin." Laura merasa bersalah pada Lunara gara-gara Naura hingga ia ingin menemani Lunara di sana.
Nyonya Elif yang melihat ekspresi Laura, tahu bahwa sahabatnya itu merasa bersalah pada Lunara karena Naura. "Laura, kamu jangan menyalahkan Naura! Karena aku yakin, Naura tidak mungkin sengaja melukai Lunara."
"Tapi tetap saja, Lunara begini karena kecerobohan Naura, Lif. Dia sudah tahu ada Lunara di sana tapi masih saja bertengkar dengan Tasya. Dan kalaupun tidak ada Lunara, Tasya yang akan berbaring di sini. Jadi ada atau tidaknya Lunara, Naura tetap salah karena dia berniat mencelakai saudaranya sendiri. Aku sangat marah padanya."
Tasya sudah menjelaskan pada Nyonya Laura bahwa Naura lah yang ingin mendorongnya duluan tapi malah mendorong Lunara yang tiba-tiba datang.
"Tapi apa harus kamu menamparnya dan memarahinya di depan banyak orang. Walau bagaimanapun, Naura sudah dewasa. Dia pasti sangat malu saat kamu memarahinya tadi bahkan kamu menamparnya." Nyonya Elif menyayangi Naura dan Lunara tanpa membedakan mereka, dan ia merasa bahwa tindakan Laura pada Naura tidak adil karena langsung datang menampar Naura tanpa mendengar pembelaan Naura.
"Kamu ini seperti bukan ibunya Lunara. Kamu lebih memihak Naura daripada Lunara." Tanpa sadar kalimat itu terlontar dari mulut Nyonya Laura.
__ADS_1
"Justru karena aku ingin selalu adil pada mereka sampai aku bersikap begini Laura," tegas Nyonya Elif.
Dua hari sudah Lunara dirawat di rumah sakit. Orang silih berganti menemani Lunara tapi tidak dengan Naura yang ditinggalkan sendiri di ruang gelap itu, bahkan Aagha yang menguncinya tidak pernah datang melihatnya. Hal itu membuat Tasya senang, bahkan merasa sudah menang dengan persaingannya bersama Naura.
Dan Tasya semakin senang jika melihat penderitaan Naura secara langsung hingga ia datang ke ruangan itu demi memuaskan perasaannya yang bangga karena membuat Naura makin dibenci oleh semua orang dan terutama pada Aagha.
Naura yang duduk menunduk sembari memeluk kedua lututnya, mengangkat wajahnya ketika merasakan cahaya masuk ke dalam ruangan itu. Ternyata pintunya dibuka oleh seseorang dan seseorang itu adalah Tasya.
Tasya melangkah mendekati Naura dengan senyuman smirk diwajahnya. Naura bisa melihatnya meski tidak jelas karena ada cahaya sedikit di ruangan itu dari pintu yang terbuka.
"Kak Tasya datang mengeluarkanku dari sini setelah memfitnahku di depan semua orang."
'Hahahaha!' Tasya tertawa keras mendengar ucapan Naura, sedangkan Naura tampak bingung melihat kakak sepupunya tertawa seperti orang gila.
"Jadi kamu datang kemari cuma untuk menghinaku?"
Tasya Kembali tersenyum miring sembari berjongkok di depan Naura. Wajahnya yang dekat di depan wajah Naura, menatap penuh hina. "Aku datang bukan sekedar untuk menghinamu tapi untuk memperingatimu Naura. Akan terjadi sesuatu yang lebih buruk dari ini kalau kau tidak meninggalkan Aagha karena pada awalnya akulah yang menikah dengan Aagha bukan kamu. Jadi kalau kau mau selamat, menghilang lah dari hidupku."
"Apa yang akan Kak Tasya lakukan kalau aku tidak menurutimu?"
Tasya mendekatkan bibirnya didekat telinga Naura lalu berbisik, "Kalau kau mau tahu, kau bisa memastikannya sendiri."
Naura tidak mengatakan apapun tapi ia sedikit takut meski begitu ia tidak mau menuruti Tasya. Tasya puas bicara dengan Naura hingga ia pun meninggalkan Naura di dalam ruangan itu. Dan Tasya kembali mengunci pintu agar Naura tidak bisa keluar.
__ADS_1
Sementara itu, Lucas datang ke rumah sakit setelah tahu dari Azra bahwa Lunara masuk rumah sakit. Lucas datang bersama Azra yang ingin menemani Lunara di sana.
"Jadi Aagha yang sudah memukulmu sampai babak belur begitu?" tanya Azra pada Lucas. Mereka berdua berjalan di lorong rumah sakit menuju kamar Lunara.
"Teman-temannya. Aku mabuk dan bikin kekacauan di sana jadi jangan salahkan Aagha!" Meski Lucas benci Aagha tapi ia bukan orang yang suka menjelek-jelekkan orang demi mendapat simpati kecuali yang pernah ia lakukan pada Naura karena hanya ingin Naura kembali padanya.
Azra diam karena tak ada lagi yang ingin ia katakan. Apalagi ia dan Lucas sudah ada di depan kamar Lunara.
Lucas menghentikan langkahnya ketika ingat sesuatu yang harus ia katakan pada Azra. "Oh ya, jangan katakan pada semua orang tentang aku dan Aagha. Takutnya mereka khawatir. Terutama pada Mommy dan Daddy."
"Beres." Azra menjawab sembari tersenyum dan memegang bahu Lucas. Kemudian mereka pun masuk ke dalam.
Di dalam ruangan itu, hanya Nyonya Elif yang menemani Lunara. Aagha baru saja pergi bersama Tuan Edis ke kantor untuk mengurus bisnis keluarganya.
Sebelum duduk, Lucas terlebih dulu menyapa Nyonya Elif lalu mencium tangan ibu mertuanya itu.
"Kenapa wajahmu Nak?" tanya Nyonya Elif.
"Semalam saya keluar bertemu teman dan di jalan saya dapat kecelakaan kecil mom. Karena ini juga, saya tidak tahu kalau Lunara masuk rumah sakit. Saya minta maaf!" Lucas tidak enak hati pada ibu mertuanya karena baru datang melihat Lunara, bahkan ia membungkuk di depan Nyonya Elif sebagai bentuk perminta maafnya.
"Ya tuhan ...,"
"Mom!"
__ADS_1
Disaat yang sama, suara Lunara terdengar yang membuat Nyonya Elif terkejut sampai berhenti bicara. Ia menoleh dan melihat Lunara sadar kembali.