My Beastly Husband

My Beastly Husband
Dihatimu, Akulah laki-lakimu


__ADS_3

Naura sekuat tenaga mendorong Lucas hingga pria itu melepaskannya. Lalu, dengan penuh amarah, ia menampar wajah Lucas. "Kamu keterlaluan!"


"Aku keterlaluan. Lalu bagaimana dengan Aagha? Dia menciummu dan kamu nggak marah. Harusnya kamu marah sama dia karena dia sudah berani menciummu, Naura. Bukan malah marah padaku."


"Bagaimana aku bisa marah sama dia, dia itu suamiku Kak."


"Suami?" Lucas malah tertawa kecil seolah mendengar sebuah lelucon dari Naura. Lalu detik berikutnya ia berhenti tertawa dan kembali menatap Naura yang marah padanya. "Naura sadarlah! Dia cuma suami di atas kertas. Dihatimu, akulah laki-lakimu, cintamu yang sangat kau impikan. Apa kau amnesia, hah?"


"Aku nggak lupa kalau aku mencintaimu tapi kau juga harus sadar kak. Aku dan kamu tidak akan mungkin kembali. Sadarlah dan terima lah semua takdir yang sudah ditentukan. Kau tidak bisa terus menjadi orang keras kepala begini." Naura sudah tidak tahan hingga ia berteriak keras pada Lucas.


"Di dunia ini nggak ada yang nggak mungkin," ucap Lucas.


Naura capek mendengar Lucas. Ia pun memutar tubuhnya untuk pergi tapi Lucas kembali menariknya ke dalam pelukan laki-laki itu. Bahkan Lucas kembali mencium Naura. Naura geram sampai ia menggigit bibir bawah Lucas. Lucas tidak melepaskan Naura. Laki-laki itu membalas Naura dengan menggigit bibir Naura.


Naura makin murka sampai ia menendang ******** Lucas, dan akhirnya Lucas melepaskannya.


"Kau, ah, ssst... kau menendangku Naura," keluh Lucas sembari memegang *********** serta menahan sakitnya akibat tendangan keras dari Naura.


Naura tampak kasihan tapi ia meneguhkan hati untuk tidak melunak pada Lucas. Dengan bersikap tak peduli, ia meninggalkan Lucas di sana dan datang menghampiri Lunara. Lucas menyusul dari belakang dan ia tidak mengganggu Naura lagi yang kini ada di kamar Lunara.


"Bagaimana Lunara Kak?" tanya Naura pada Aagha yang duduk di sebelah Lunara.


Aagha berdiri lalu menjawab, "Dia baik-baik saja. Sekarang udah tidur!"


Tiba-tiba Aagha terdiam ketika melihat Lucas memegang bibirnya yang berdarah, dan ia juga melihat bibir Naura yang merah seperti habis digigit. Entah kenapa Aagha tiba-tiba berburuk sangka pada mereka berdua, dan menganggap mereka habis berciuman di belakangnya. Namun, Aagha memilih diam karena tidak ingin membuat masalah di depan Lunara.

__ADS_1


Sementara Naura yang diperhatikan oleh Aagha, tidak berani menatap langsung wajah suaminya. Ia memalingkan wajah. Entah kenapa ia merasa bersalah seolah habis berselingkuh di belakang Aagha. 'Semoga Kak Aagha tidak menyadarinya.'


Disaat yang sama, ponsel Aagha berdering. Ia melihat layar ponselnya dan orang yang menghubunginya adalah Nyonya Elif.


"Kamu jaga Lunara dulu. Aku mau angkat telfon mommy!" pinta Aagha pada Naura.


"Ya kak." Naura mengangguk. Lalu Aagha berjalan melewati Naura dan Lucas tapi sesaat ia melirik Lucas dengan tajam seolah ingin memukul wajah pria itu.


"Naura!" sahut Lucas dengan suara pelan.


"Tolong Kak! Jangan bicara padaku! Hormatilah aku dan Lunara!"


Detik berikutnya, Aagha datang dengan ekspresi serius menatap Naura. "Naura, kita pulang sekarang!"


"Sekarang? Kenapa? Liburannya kan, belum selesai Kak?" tanya Naura bingung.


"Lalu, bagaimana dengan Lunara?"


"Kita bangunkan dia, lalu pulang sama-sama. Aku nggak bisa tinggalkan adikku di sini, bersama laki-laki tidak bertanggungjawab," ucap Aagha sembari melirik ke Lucas.


Lucas sadar dirinya tengah disindir oleh Aagha tapi ia diam saja karena tidak ingin bertengkar terus dengan Aagha. Naura pun memahami suaminya yang menyindir Lucas tapi tentunya ia diam saja meski sekilas ia melirik ke Lucas hanya untuk melihat ekspresi Lucas.


Beberapa menit kemudian.


Naura sudah berada di mobil yang kini dikendarai sendiri oleh Aagha. Dan ada Lunara bersama Lucas yang duduk di belakang.

__ADS_1


"Jadi kak, apa yang dibilang mommy waktu nelfon kakak?" Lunara sangat penasaran dengan ibunya yang tiba-tiba memaksa mereka pulang hingga Lunara kembali bertanya untuk ketiga kalinya. Sebelumnya ia sudah bertanya ketika ia baru saja bangun dan keluar dari penginapan. Sekarang ia bertanya lagi karena jujur, ia sedikit khawatir jika ibunya sudah mendesak seperti itu.


"Kakak juga tidak tahu, Lunara. Tadi waktu beliau bicara sama kakak, cuma bilang gitu. Kakak tanya, dia bilang, pulang aja dulu. Kita bahas sama-sama," jelas Aagha.


Lunara menghela nafas panjang. Namun orang yang paling deg-degkan adalah Naura, karena ia takut jika kebohongannya mengenai kehamilannya lah yang sudah diketahui oleh semua orang hingga Nyonya Elif memaksa mereka pulang untuk bicara serius.


Sementara itu di rumah, semua orang duduk di ruang tengah, menunggu kedatangan Naura dan Aagha. Wajah mereka tampak begitu serius, berbeda dengan Tasya yang malah tersenyum miring dengan kepala sedikit menunduk karena tidak ingin menunjukkan ekspresinya di depan semua orang.


'Naura, riwayatmu hari ini akan berakhir. Kau akan melihat bagaimana semua orang akan menyalahkanmu atas kebohongan yang kau lakukan demi menikah dengan Kak Aagha. Kau juga akan disalahkan oleh Lunara yang sengaja membohonginya. Lihatlah, satu persatu orang yang berada dipihakmu akan menjauhimu. Termasuk Lunara. Akan aku buat sahabat terbaikmu itu menjadikanmu musuh, Naura.'


"Kenapa Naura dan Aagha belum sampai juga?" tanya Nyonya Elif yang mondar-mandir di depan semua orang.


"Sabar Lif. Mereka baru di jalan," sahut Nyonya Laura.


Mendengar suara Nyonya Laura, membuat Elif menghentikan aksi mondar-mandirnya, dan hanya fokus melihat Nyonya Laura-temannya. "Laura, kita panggil anak-anak kembali untuk bicara baik-baik. Tolong, nanti kamu jangan menyalahkan Naura lagi. Jangan hanya berpihak pada satu orang!"


Laura mengangguk. "Iya. Aku tidak akan melakukannya. Lagipula, Naura begini pasti gara-gara aku yang tidak memperhatikannya. Aku pikir, setelah Naura berada dalam keluarga Ozkan, dan berada dalam pengawasanmu, dia menjadi anak yang baik tapi ternyata dia berani membohongi semua orang."


"Mau bagaimana pun aku mendidiknya, Naura akan selalu ingat pada kedua orang tuanya sendiri, Laura. Apalagi dia sejak kecil tahu bahwa dia punya orang tua. Aneh kalau seorang anak, tidak mengharapkan kasih sayang dan cinta kedua orang tuanya," tutur Nyonya Elif yang sedikit kesal dengan Laura.


Laura menghela nafas panjang. "Iya. Aku tidak memikirkan itu. Aku cuma berpikir, Naura akan mendapatkan didikan yang bagus kalau dia bersamamu. Dia akan lebih diperhatikan dibandingkan kalau dia hidup bersamaku yang hanya fokus pada kesembuhan Nara."


Laura sejak kecil dibesarkan oleh kakaknya-ayah kandung Tasya. Dia sudah tidak punya orang tua sejak kecil hingga ia merasa kurang didikan dan kurang kasih sayang dari kedua orang tuanya. Ketika melahirkan Naura, anak keduanya, ia menyerahkan Naura pada keluarga Ozkan yang sejak dulu menganggapnya sebagai keluarga. Hal itu ia lakukan karena pada saat itu, Nara yang menderita jantung bawaan, lebih membutuhkan perhatian, dan ia pasti akan mengabaikan Naura.


Nyonya Laura ingin yang terbaik untuk kedua anaknya hingga ia rela menyerahkan Naura agar mendapat didikan yang bagus, tentunya juga lebih diperhatikan di sana. Terlebih ia tidak ingin anaknya mengalami hal seperti yang ia alami sejak kecil yaitu kurang kasih sayang dari orang tua.

__ADS_1


Terdengar mobil Aagha di luar rumah yang membuat semua orang menoleh ke arah pintu.


"Mereka sudah datang," sahut Nyonya Elif tidak sabar ingin bicara dengan anak dan menantunya.


__ADS_2