My Good-looking Neighbor

My Good-looking Neighbor
Ch 11 : Bagaimana Aku Melupakannya?


__ADS_3

"Sudah memutuskan untuk menaiki wahana apa?" Tanya Ryuuji sambil menyeruput minumannya dan memandangi orang-orang.


"Aku tidak tahu." Jawab Chizuru sambil melakukan tindakan yang sama dengan Ryuuji.


Mereka sekarang sedang duduk santai di food court. Tiba-tiba mereka malas untuk menaiki wahana karena cukup banyak orang yang mengantre. Tidak heran, ini hari libur.


"Hmmmmm..." Ryuuji berdeham dengan bibir yang masih menempel disedotan.


Ia perlahan memutar kepalanya. Dan tibalah pandangannya ke roller coaster. Tidak terlalu banyak yang mengantre. Chizuru memperhatikan tindakan kecil Ryuuji.


"Bagaimana dengan ro-"


"Tidak!" Tegas Chizuru.


Bahkan sebelum Ryuuji menyelesaikan kalimatnya, Chizuru memotongnya dengan jawaban tegas namun santai.


"Ayolah, hanya itu wahana yang memiliki antrean yang tidak terlalu panjang."


"Hmmmmmmm. Tiidakk." Lalu Chizuru melanjutkan meminum minumannya.


Ryuuji setengah menyerah dan melanjutkan kegiatannya. Ia menghela napas dan bersandar santai sambil melihat orang berhalan. Tapi, Ryuuji juga berpikir, sekarang dia dan Chizuru memiliki kemalasan yang cukup untuk tidak menaiki wahana karena banyaknya orang yang mengantre. Akan cukup sia-sia jika datang ke taman hiburan hanya untuk melihat orang berlalu lalang sambil makan dan minum di food court.


Rantai kemalasan harus berhenti. Caranya adalah dengan menaiki salah satu wahana yang membuat adrenalin meningkat serta mempunyai antrean yang tidak terlalu panjang. Dengan begitu akan muncul kemungkinan untuk membangkitkan keinginan menaiki wahana lain.


Sedangkan apa yang dipikirkan Chizuru adalah, sebenarnya dia ingin menaiki dan mencoba beberapa wahana. Tapi, yah karena banyak yang mengantre, dia menjadi malas. Sekali lagi ada wahana yang antreannya tidak terlalu banyak, roller coaster. Tapi Chizuru terlalu takut untuk mencobanya.


Chizuru melirik Ryuuji yang sedang melihat orang berjalan dan melirik lintasan roller coaster. Ia menghela napas.


'Aku adalah pacar sewaan yang dibayar. Bukankah aku harusnya profesional meskipun yang menyewaku adalah orang yang aku kenal!?'


Tatapan mata Chizuru jatuh ke wajah Ryuuji lagi. Dan sekali lagi ia menatap intens lintasan roller coaster yang seram menurutnya.


"Fyuh, oke. Aku akan menaiki roller coaster."


Ryuuji mau tidak mau menjadi keheranan. Lagi pula Chizuru sangat menolak sebelumnya. Kemudian terbesit pemikiran yang sama dengan Chizuru di kepala Ryuuji. Profesionalisme. Ya, Ryuuji cukup suka itu. Tapi,


"Kau yakin?" Harus menanyakannya sekali lagi.


"Ya, aku yakin." Chizuru menjawab sambil mengangguk.


Dan begitulah, mereka akhirnya menaiki roller coaster setelah beberapa menit mengantre. Yang mengejutkan adalah betapa berbedanya reaksi Chizuru sebelum dan sesudah menaiki roller coaster.


Sebelum menaikinya, Chizuru sempat ingin membatalkannya karena ketakutan yang akhirnya berhasil dibujuk oleh Ryuuji. Dan setelah Chizuru menaikinya, begitu turun ia hanya terdiam sejenak dan kemudian tertawa terbahak-bahak. Ryuuji sebenarnya juga tidak akan menyangka bahwa reaksi seperti itu akan datang.


Setelah roller coaster, benar saja, mereka mencoba beberapa wahana dan diakhiri dengan ferris wheel. Kemalasan mereka berakhir setelah adrenalin datang.


Kembali lagi ke food court, hari sudah sore menjelang senja.


"Tadi itu menyenangkan, senpai."


"Yah, setidaknya kita berhasil menaiki beberapa wahana sebelum pulang."


"Tapi kau masih punya beberapa jam sebelum menyelesaikan kencan?"


"Kita ke bioskop, film apa yang kau sukai Chizuru?"


"Hmmmm, aku suka horror atau action."


Usai berbicara sambil makan dan minum di food court. Mereka berdua akhirnya memutuskan untuk menonton film. Sialnya tidak ada film horror yang tayang di bioskop sekarang. Jadi akhirnya mereka menonton film action.


Setelah selesai menonton film, Ryuuji dan Chizuru pulang. Jika biasanya sepasang kekasih berpisah di stasiun setelah selesai kencan seperti di anime atau manga mainstream, mereka pulang bersamaan sampai ke apartemen. Well, karena apartemen yang sama.

__ADS_1


...


Ryuuji dan Chizuru sampai di apartemen pukul 9 malam, satu jam sebelum masa kencan hari ini berakhir. Ryuuji menghentikan motornya di tempat parkir, dan Chizuru segera turun.


Chizuru diam sejenak dan melihat sepeda motor Ryuuji.


"Ah, aku ingat sesuatu." Kata Chizuru sambil melepas helmnya.


"Apa?" Respons Ryuuji.


"Sepeda motormu berbeda hari ini. Scooter matic."


Ryuuji hanya termenung beberapa detik. Bola matanya berputar ke atas. Ekspresi di wajahnya berkata sedang mencoba mengingat sesuatu. Dan kemudian dia sadar.


"Ohh. Iya. Aku menitipkannya di rumah temanku."


"Eh kenapa?" Chizuru memiringkan kepalanya.


"Um, kupikir akan tidak nyaman bagimu untuk duduk di atas tempat duduk yang tinggi dan kecil itu."


Chizuru tidak menyangka akan mendengar jawaban seperti itu dari Ryuuji. Jadi dia hanya membeku dengan wajah yang lucu. Dan dalam sekejap ia kembali ke dunianya.


"Ahem. Terima kasih atas perhatiannya." Chizuru membungkuk.


Senyuman kecil melengkung di wajah Ryuuji.


"Yah, sama-sama." Jawab Ryuuji sambil mengambil kunci dan berdiri dari motor.


Sembari berjalan ke lantai dua, mereka mengobrol tanpa ada rasa canggung. Tanpa sadar mereka berdua mengurangi kecepatan berjalan agar percakapan dapat menyambung.


"Aku akan mencuci dan mengembalikan baju yang kau belikan hari ini, Senpai."


"Eh? Tidak tidak tidak! Tidak perlu! Itu untukmu. Dan sepatunya juga."


"Ets ets, cukup! Aku memang berencana membelikanmu sesuatu saat kencan."


"Benarkah?"


"Sangat benar."


"Kau yakin?"


"Ya, 3000%"


"Itu angka yang banyak. Jadi ini milikku sekarang?"


"Apakah aku harus mencuri reality stone dari Thanos untuk mengubah realitas di mana kau menerima pemberianku?"


Ryuuji bertanya dengan senyuman menggoda. Chizuru juga sedikit tersenyum sebagai respons candaannya. Terlihat seperti senyuman pasrah.


"Yah kau meyakinkanku, Senpai. Aku akan menerimanya. Jadi kau tidak perlu mencari Thanos sampai ke ujung galaksi. Lagi pula tidak baik untuk terus-terusan menolak pemberian orang lain. Jadi, terima kasih sekali lagi." Chizuru membungkuk.


"Sama-sama." Ryuuji tersenyum.


Kemudian Chizuru menegakkan badannya.


"Tapi, untuk helm, aku akan tetap membawanya." Tambah Ryuuji dengan menunjuk ke arah helm Ryuuji yang dibawa Chizuru. Tidak lupa ia memasang senyuman menggoda khas Ryuuji.


Chizuru melirik helm yang dibawanya dan balas tersenyum menggoda juga.


"Yah, helm ini terlihat sangat mahal."

__ADS_1


"Aku menabung dan menambah pekerjaanku untuk membeli dua helm ini." Ryuuji hanya mengangkat bahu.


Setelah menyerahkan helmnya kepada Ryuuji, tanpa sadar mereka berdua sudah sampai di depan ruangannya.


"Terima kasih untuk hari ini, Senpai."


"Terima kasih juga. Aku bersenang-senang hari ini. Kalau begitu aku akan masuk. Selamat malam!"


Saat Ryuuji berjalan ke arah pintu, Chizuru teringat sesuatu. Sesuatu yang penting yang ia lupakan sejenak karena hari libur yang cukup menyenangkan. Ia memandang punggung Ryuuji yang lebar. Saat Ryuuji sudah memutar kunci dan membuka separuh pintunya,..


"Masih ada sisa 1 jam untuk masa sewanya."


Chizuru berbicara cukup lirih. Namun, Ryuuji yang tidak jauh, pasti bisa mendengarnya. Ryuuji menoleh dengan wajah polos.


"Hmmm?"


Chizuru mengangkat wajahnya dan menatap Ryuuji dengan intens. Dia melangkahkan kakinya, berjalan menuju Ryuuji.


"Aku, minta maaf." Dan membungkuk.


Fyuh, berapa kali Chizuru membungkuk?


"Maaf? Untuk apa?" Tanya Ryuuji yang saat ini ia menutup kembali pintunya dengan wajah keheranan.


"Untuk aku yang tiba-tiba memarahimu tanpa alasan yang jelas saat kamu ingin membeli jam digital baru."


'Ah.' Pikir Ryuuji dalam sekejap.


Wajah keheranan Ryuuji tiba-tiba menghilang dan mengingat apa yang dikatakan Chizuru. Berkat itu, Ryuuji terdiam. Menunggu cukup lama, Chizuru menegakkan badannya perlahan. Saat badannya sudah sepenuhnya tegak, ia bisa melihat ekspresi yang menempel di wajah Ryuuji. Itu adalah wajah sedih. Melihat itu, mau tidak mau Chizuru mulai berpikir negatif.


'Apakah itu sangat berefek? Apakah aku menyakitinya?'


Itu adalah isi kepala Chizuru sekarang. Bukan hanya pikiran yang ada di kepalanya yang berputar-putar tidak jelas, jantungnya sekarang seolah diaduk, dan perasaannya ditusuk oleh rasa bersalah. Karena itu Chizuru hanya menundukkan kepalanya, tidak berani melihat wajah pria di depannya.


Mereka dalam suasana hening sekarang. Bahkan suhu juga ikut turun karena itu. Well, ditambah dengan musim ini adalah musim gugur.


Chizuru yang sekarang menunduk bisa melihat kaki Ryuuji yang melangkah mundur. Pikiran negatif dan pikiran yang berlebihan menyerang kepalanya.


"Aku juga meminta maaf atas sikap dinginku saat itu."


Namun sekarang realitanya berbeda dari apa yang sudah dipikirkannya tadi. Terbukti tadi hanya pikiran negatif Chizuru yang muncul karena rasa bersalah. Nyatanya sekarang pria di depannya sedang membungkuk dan ikut meminta maaf, meskipun itu bukan salahnya. Tapi tentu saja, Ryuuji juga merasa bersalah atas perlakuan dingin yang dilemparkannya ke arah Chizuru setelah mendapatkan amarah tidak jelas darinya.


'Eh?' Yep girl. Kau terlalu berpikir negatif.


Terkejut dengan perubahan situasi yang mendadak, Chizuru mengangkat wajahnya yang sebelumnya terbenam. Ia melihat Ryuuji yang masih membungkuk di depannya.


'Jadi wajah sedihnya tadi, karena rasa bersalah?' Pikir Chizuru.


Ya, itu benar girl. Bahkan Ryuuji merasa bersalah atas kejadian itu. Dia juga berniat untuk meminta maaf. Tapi malah terlupakan karena dia bersenang-senang hari ini. Tidak ada ruang untuk merasa sedih di saat suasananya sedang bagus.


Chizuru tersadar dari lamunannya sekarang.


"Eh, senpai. Tidak perlu membungkuk dan minta maaf untuk itu. Lagi pula dari awal itu salahku."


Chizuru memegang kedua bahu Ryuuji dengan panik dan canggung, membuatnya untuk menegakkan tubuhnya.


Saat postur badan Ryuuji sudah dalam posisi normal, Chizuru bisa melihat rasa bersalah yang ada di wajahnya. Chizuru menarik napas dalam-dalam dan tersenyum kecil.


"Sebenarnya kamu tidak perlu meminta maaf karena kejadian itu sepenuhnya kesalahanku. Tapi, aku memaafkanmu, Senpai. Dan sekali lagi aku minta maa-"


Perkataan Chizuru sepenuhnya dibungkam oleh tangan Ryuuji yang menyentuh kepalanya.

__ADS_1


"Dimaafkan!"


Ryuuji mengusap-usap kepala Chizuru. Saat itu, Chizuru bisa melihat senyuman manis yang dibentuk bibir Ryuuji. Dan di saat yang sama, ia bisa merasakan jantungnya memompa darah lebih cepat dari biasanya.


__ADS_2