
'Dia?' Tanya Chizuru dalam hati.
Saat Ryuuji menanyakan hal itu, suasana di kamar menjadi agak berat. Semua orang di kamar diam sejenak. Karena belum ada yang menjawab, Ryuuji menebak jawaban mereka.
"Apakah dia bekerja atau tidak berani menemuiku?" Tanya Ryuuji datar.
Ibu Ryuuji, Ayaka adalah yang bereaksi. Wajahnya agak terbenam. Ryuuji hanya meliriknya tanpa berkata apa-apa. Setelah diam sejenak, Ayaka mengangkat wajahnya dan menatap Ryuuji.
"Dia bekerja di luar kota mulai dari kemarin." Jawab Ayaka dengan senyum dipaksakan.
Ryuuji menghela napas panjang. Memang dia sudah menduga ini tapi, kejadian ini sudah beberapa kali terjadi. Seakan dia menghindarinya.
'Kerja di hari minggu huh?' Pikir Ryuuji.
"Yah, setidaknya dia memenuhi kewajibannya sebagai kepala keluarga. Tapi aku juga ingin dia setidaknya berkumpul dengan keluarga barunya, meskipun itu sebentar." Kata Ryuuji datar.
Ayaka hanya diam mendengarnya dari Ryuuji. Ayaka agak tidak menerima apa yang dikatakan anaknya, tapi itu adalah fakta. Sejak menikah lagi dengan suaminya yang sekarang, memang suaminya jarang berkumpul dengan keluarga.
Dan Ryuuji tidak suka itu. Ibunya menikah lagi setelah 4 tahun ayah kandung Ryuuji meninggal. Tepatnya setelah Ryuuji masuk universitas. Dan Ryuuji sudah bekerja dan cukup menghasilkan untuk dirinya sendiri ataupun untuk keperluan Ibunya dan adiknya.
Ryuuji paham kebutuhan akan seorang pasangan dalam hidup, tapi dia berharap setelah melakukan komitmen, setidaknya luangkan waktu untuk keluarga baru.
"Ya sudahlah. Aku tidak ingin merusak suasana lebih jauh lagi. Aku hanya penasaran, dan aku bertanya." Kata Ryuuji setelah menghela napas dan menggaruk bagian belakang kepalanya, merasa bersalah.
Ryuuji tidak menunggu jawaban keluarganya dan segera keluar bersama Chizuru.
Chizuru yang selama ini mendengar dalam diam merasa seperti tidak seharusnya terlibat dalam pembicaraan mereka. Chizuru mengetahui garis besarnya tentang apa yang Ryuuji katakan. Tapi karena pembicaraan itu adalah ranah pribadi, Chizuru tetap diam atau menunggu Ryuuji berbicara.
Chizuru menatap punggung Ryuuji. Entah kenapa ia merasa punggung tetangganya itu terasa lebih lebar dari biasanya. Chizuru segera menyusul Ryuuji dan menepuk punggungnya. Ryuuji merespons dengan menengok ke arah Chizuru dan tersenyum, seolah tidak terjadi apa-apa.
"Yah, terima kasih." Kata Ryuuji.
"Aku tidak melakukan apapun." Chizuru hanya terus menatap ke depan dengan senyuman kecil.
"Jadi di mana kamar nenekmu?" Tanya Ryuuji.
"Di sisi lain kamar kakekmu. Di seberang." Jawab Chizuru.
Setelah beberapa menit berjalan, akhirnya mereka sampai di depan kamar nenek Chizuru.
Ryuuji menyesuaikan dirinya terlebih dahulu. Meskipun terlihat keren dari luar, ia juga gugup untuk menghadapi keluarga Chizuru.
Pintu di buka dan terlihat nenek Chizuru sedang berbaring sambil memegang ponsel secara horizontal. Ryuuji mendengar suara familiar game dari ponsel nenek Chizuru.
Saat mereka sepenuhnya masuk,nenek Chizuru menengok ke arah mereka berdua. Nenek Chizuru segera mengeluarkan gamenya dan menyapa Chizuru.
"Kamu agak lama Chizuru!" Kata nenek Chizuru.
"Terlalu masuk dalam obrolan tadi." Jawab Chizuru.
Nenek Chizuru mengangguk. Kemudian nenek Chizuru mengganti arah pandangan ke Ryuuji dan membenarkan posisi kacamatanya.
"Dan anak muda ini?" Tanya nenek Chizuru.
Saat itu Ryuuji mendekat.
"Nenek, ini teman sekaligus seniorku, Shinjo Ryuuji-senpai. Dan senpai, ini nenekku Ichinose Sayuri." Chizuru mengenalkannya secara bergantian.
"Senang bertemu dan berkenalan dengan anda nenek! Dan maaf kalau saya meminjam Chizuru-san terlalu lama!" Ryuuji membungkuk memperkenalkan diri sekaligus meminta maaf.
Chizuru tentu mendengar apa yang dikatakan Ryuuji dengan jelas. Pemanggilan nama depannya secara tiba-tiba membuat Chizuru sedikit terkesiap.
"Ohoho. Tidak masalah sama sekali. Omong-omong, Shinjo? Kamu kerabatnya Shinjo Nozomi-san dan Shinjo Naoki-san?" Tanya nenek Chizuru, Sayuri.
Ryuuji sudah tegap.
__ADS_1
"Iya, kebetulan saya adalah cucunya. Tadi kakek dan nenek menyebut anda." Jawab Ryuuji.
"Oh begitukah? Aku terkadang bertemu mereka berdua di rumah sakit." Ungkap Sayuri.
"Omong-omong bagaimana aku memanggilmu? Nak Shinjo? Ryuuji?" Tanya Sayuri.
Sebelum Ryuuji menjawab, Sayuri melanjutkan.
"Chizuru, kursi! Kursi!" Lanjut Sayuri.
"Ah,..." Chizuru tersadar.
Chizuru segera mengambil kursi untuk dua orang. Saat kursi sudah ditempatkan, Chizuru duduk lalu diikuti oleh Ryuuji.
"Senyaman anda untuk memanggil saya." Jawab Ryuuji.
"Kalau begitu, Nak Ryuuji saja." Kata Sayuri.
Chizuru yang mendengar percakapan saat ini merasa sangat familiar. Ya, lagipula ia barusan mengalaminya bersama keluarga Shinjo dengan konteks dialog yang sama. Chizuru berpikir kalau dialog saat perkenalan memang kebanyakan seperti ini.
"Chizuru sering menyelipkan cerita tentang tetangga barunya setiap datang ke sini. Dia sangat pendiam tentang namamu. Dia jarang menyebutnya. Mungkin hanya 'senpai' atau 'tetanggaku' untuk mendiskripsikan kamu, nak Ryuuji." Tambah Sayuri dengan niat menggoda cucunya.
"Nenek!!" Chizuru memelototi neneknya dan kemudian melirik ke arah Ryuuji dengan malu.
Ryuuji terkejut. Ia tidak mengira bahwa Chizuru akan bercerita tentang dirinya. Ia agak malu meskipun tidak terlihat di wajahnya.
Tapi bukan hanya Ryuuji yang malu saat ini. Begitu Ryuuji melihat wajah malu Chizuru, Ryuuji tersenyum penuh arti dan kemudian merespons Sayuri.
"Benarkah nek? Saya akan senang jika saya bisa mendengar salah satu cerita Chizuru-san tentang saya!" Kata Ryuuji.
"Senpai!!!!" Bentak Chizuru dengan lembut.
"Tentu saja, aku akan menceritakannya. Chizuru bilang kalau kamu-"
Sayuri hanya tersenyum dan melihat ke arah Ryuuji.
"Begitulah katanya, nak Ryuuji. Aku tidak bisa menceritakannya." Sayuri mengangkat bahu.
"Sangat disayangkan!" Ryuuji terlihat pasrah dengan jawabannya.
Chizuru melihat keduanya. Ia bisa merasa kalau dia sedang digoda oleh Ryuuji dan neneknya sendiri.
"Ya! Itu sudah cukup. Dan nenek, aku ingin membicarakan sesuatu." Ungkap Chizuru.
"Oh apa itu?" Tanya Sayuri.
"Well, ini tentang pekerjaanku. Selain mengenalkan senpai ke nenek, aku membawa senpai ke sini untuk menjadi saksi." Tegas Chizuru.
Ryuuji bisa merasakan suasana perlahan berubah menjadi serius.
Sayuri yang sudah menangkap omongan Chizuru melihat Ryuuji. Tatapannya meninta untuk konfirmasi. Ryuuji mengangguk sebagai jawabannya.
Begitu Sayuri sudah mengkonfirmasinya, Chizuru mulai bercerita.
"Jadi, tentang pekerjaan yang pernah aku ceritakan. Aku sebenarnya bekerja sebagai pacar sewaan." Cetus Chizuru sambil menatap neneknya dengan serius.
"Apa?" Sayuri agak kaget, namun masih tenang.
...
Setelah bercerita cukup panjang dengan berbagai tanya jawab dan alasan, akhirnya Sayuri menerima pekerjaan Chizuru dengan lapang dada.
Sebagai pihak pendengar, Ryuuji juga mengetahui beberapa hal baru dari percakapan Chizuru dengan Sayuri tentang pekerjaan sewa pacarnya.
Pertama, Chizuru bekerja sebagai pacar sewaan sebagai metode latihan aktingnya. Ia bercita-cita sebagai aktris.
__ADS_1
Kedua, Chizuru hidup hanya dengan kakek dan neneknya. Orang tuanya berpisah saat Chizuru masih kecil. Dan Chizuru hidup bersama ibunya sampai ibunya meninggal saat Chizuru berusia 4 tahun.
Ketiga, neneknya, Sayuri, adalah orang yang memiliki pemikiran terbuka sehingga percakapan menjadi lebih lancar. Dan juga Sayuri adalah alasan mengapa Chizuru ingin menjadi aktris. Lebih detailnya, Chizuru ingin menjadi aktris setelah melihat DVD neneknya yang di dalamnya neneknya memiliki peran.
Ryuuji yang sudah terlanjur mengetahui semua ini sebenarnya merasa agak kurang enak karena ia hanyalah orang luar. Meski begitu, ia ikut bahagia melihat kelegaan Chizuru.
"Begini saja?" Tanya Chizuru ke Sayuri.
"Iya. Aku menerimanya dan merestui pekerjaanmu." Jawab Sayuri santai.
"Entah kenapa ini terasa lebih mudah daripada yang aku pikirkan." Kata Chizuru.
"Hmmm yaa aku memang merasa sedikit khawatir tentang keamananmu. Dan sepertinya akan repot juga kalau ternyata akan ada yang jatuh cinta padamu saat menyewa jasamu. Setelah itu penyewamu akan mengenalkanmu ke keluarganya. Sehingga kamu akan terjebak dalam putaran rasa bersalah." Jawab Sayuri.
Welp! Insting orang tua memang agak tepat. Chizuru terkesiap. Apa yang dikatakan neneknya terdengar sangat familiar dengan situasi yang ia miliki.
Chizuru perlahan menatap Ryuuji, dan Ryuuji juga melirik Chizuru. Melihat interaksi mencurigakan keduanya, Sayuri menebak sesuatu.
"Jangan bilang hal itu sudah terjadi?" Tanya Sayuri.
Chizuru hanya diam dan memutar bola matanya.
"Situasinya agak berbeda namun,..ya. Hal itu sudah terjadi." Jawab Chizuru pelan.
"Astaga!" Jawab Sayuri dan menghela napas.
Sayuri menutup wajahnya dengan telapak tangan kanannya dan mengintip dari sela-sela jari.
"Keberatan untuk menceritakannya?" Lanjut Sayuri.
Chizuru mengambil napas.
"Well, nenek tahu keluarga Kinoshita? Yang kamarnya berada di ujung?" Tanya Chizuru.
Sayuri mengangkat alisnya.
"Iya, aku tahu dan mengenalnya." Jawab Sayuri.
"Sebenarnya ini melibatkan cucu dari Kinoshita. Singkat cerita aku terbawa skenario nyata di mana si cucu mengenalkanku sebagai pacarnya ke neneknya. Aku hanya bisa mengikuti karena suasana di kamar terasa seperti suasana berharap cucu laki-laki itu punya pacar. Apalagi saat itu banyak keluarganya yang datang." Jelas Chizuru.
"Untuk bagaimana aku bisa di bawa ke kamar neneknya adalah, neneknya di rawat darurat dan si cucu harus datang. Kebetulan saat itu masa sewanya belum berakhir. Jadi aku terpaksa ikut." Lanjut Chizuru.
"Tapi bukan berarti cucu dari keluarga Kinoshita adalah orang yang berniat buruk. Sepertinya ia hanya mengikuti suasana." Lanjut Chizuru lagi.
Ryuuji mengangguk dengan penjelasan singkat Chizuru. Dan Ryuuji juga mengapresiasi Chizuru untuk tidak menjelekkan Kinoshita Kazuya. Ryuuji kemudian melihat bagaimana Sayuri akan merespons.
Sayuri hanya menghela napas.
"Pantas saja aku mendengar kalau cucunya mendapatkan pacar. Ternyata itu kamu." Sayuri bersandar dan menggelengkan kepalanya.
"Cepat selesaikan kesalahpahaman itu. Kamu tidak ingin semuanya berakhir tidak baik kan?" Lanjut Sayuri.
"Tentu saja. Aku ingin cepat meluruskan permasalahnya." Jawab Chizuru.
Sayuri mengangguk dan menarik kesimpulan.
"Kalau begitu, masalah yang ini bisa dibilang clear. Dan untuk masalah keamanan...."
Sayuri diam sejenak dan melirik Ryuuji dengan lembut.
"Sepertinya, aku harus meminta tolong meskipun tidak bisa setiap saat. Kalau tidak keberatan mungkin?" Kata Sayuri.
"Tu-tunggu...." Chizuru paham hanya dengan bahasa tubuh neneknya.
Sayuri ingin meminta tolong kepada Ryuuji.
__ADS_1