My Good-looking Neighbor

My Good-looking Neighbor
Ch 16 : Pergantian Suasana


__ADS_3

Di sore hari, di hari yang sama kencan Mami dan Ryuuji, seorang gadis muda dan cantik terlihat sedang melakukan aktivitas hariannya di kamar. Dia adalah Chizuru. Dia sedang berbaring santai di kasur setelah melakukan kegiatan yoganya setiap tiga kali seminggu. Bukan hanya untuk kesehatan dan kebugarannya, tapi juga ada mimpi yang harus ia raih.


Kesampingkan itu. Hari ini Chizuru sedang tidak mood. Dia masih memikirkan tentang insiden Kazuya di depan kamarnya. Rasanya seperti hujan yang ringan yang tidak konsisten untuk turun. Membuat rasa tidak nyaman. Chizuru tidak tahu mengapa rasanya seperti ini. Tentu saja ia sempat memikirkan rasa cinta. Tapi penyangkalan datang tepat di depan wajahnya. Masih terlalu awal untuk membahas cinta antar tetangga yang belum matang dalam berteman. Maksudku, mereka bahkan belum berteman selama tiga bulan.


Pertanyaannya sekarang setelah semua itu adalah, apakah Chizuru mengetahui fakta bahwa Ryuuji dan Mami sedang melakukan kencan laptop sekarang? Tentu saja tidak. Meskipun Chizuru masih berada di kamar saat Ryuuji menjemput Mami. Chizuru hanya ragu untuk keluar dan menyapa. Setidaknya mungkin ia akan bersyukur tidak mengetahui fakta itu yang mungkin akan membuatnya lebih tidak nyaman.


Chizuru hanya menatap kosong ke langit-langit. Pikirannya terbang ke mana-mana sampai suara burung berkicau dari notifikasi ponselnya berbunyi, membuat pikirannya berkumpul lagi.


"Shina?"


Shina adalah salah satu teman Chizuru versi nerd. Ia mengirimkan sebuah pesan yang membuat Chizuru mengerutkan kening. Ya, mungkin kalian bisa menebaknya. Apa yang dikirim Shina adalah sebuah pesan 'Ini senpai yang kemarin kan?' beserta foto dengan pasangan pria dan wanita sedang berjalan sebagai fokusnya. Fitur tubuh prianya tentu saja Chizuru sangat mengenalinya.


"Senpai?"


Tentu saja Chizuru mengenalnya. Pria di foto itu adalah Ryuuji.


"Dan...Nanami-san?"


Dalam sekejap hal-hal di kepala Chizuru berputar. Banyak pertanyaan melewati otaknya. Jantungnya berdegup kencang, yang sayangnya ia tidak tahu mengapa di setiap detakan jantungnya ia merasa aneh.


'Apakah mereka berkencan? Mereka sepasang kekasih?'


Terbesit pemikiran seperti itu dalam kepala Chizuru. Bagaimana tidak, mereka berdua kelihatan cocok meskipun perbedaan tinggi mereka terlihat sangat kontras. Tapi, Chizuru tidak menyimpulkan secara cepat dan gegabah. Lebih baik mendengarnya langsung dari orangnya.


'Bukan berarti aku peduli juga.'


Chizuru hanya menekan tombol power ponselnya dan berbaring. Chizuru menengok ke kiri melihat jam dindingnya yang menunjukkan pukul 15.30.


'Mereka pergi cukup lama.'


Saat itu suara mesin motor yang familiar terdengar dari luar. Chizuru bangkit dari kasurnya dan mengintip dari celah pintu yang ia buka sedikit. Benar saja, itu adalah Ryuuji dan Mami. Tidak, ia tidak bersama Mami. Ryuuji sendiri.


'Apakah aku harus keluar dan menyapanya??'


Ragu, Chizuru hanya melihat Ryuuji dalam diam. Ryuuji masi duduk di motornya sambil melihat ponsel. Dalam kesempataan itu, Chizuru akhirnya memutuskan untuk keluar. Ia segera memakai jaket yang biasanya ia pakai untuk keluar di zona dekat apartemen, entah itu untuk belanja, laundry, atau apapun itu yang menyangkut kebutuhan sehari-hari Chizuru.


Setelah memakai jaket dan sedikit merapikan tampilannya, Chizuru masih mengintip untuk menunggu Ryuuji berjalan dari motornya.


Setelah sekitar dua menit, Ryuuji akhirnya beranjak dari motornya. Saat itu, Chizuru membuka pintu dan keluar. Ryuuji menyadari saat Chizuru keluar. Ia menengok ke atas untuk melihat tetangga cantiknya.


Setelah mengunci pintu, Chizuru berbalik dan berakting kaget melihat Ryuuji yang sekarang sedang melambaikan tangannya sambil tersenyum. Chizuru juga membalas dengan lambaian tangan kanan dam tersenyum manis.


'Kurasa aktingku cukup bagus kan?'


Ya, kurasa aktingmu cukup bagus. Sepertinya siapapun akan terperdaya, bahkan Ryuuji yang saat ini berhenti berjalan di dekat tangga seolah menunggu Chizuru turun.


"Mau keluar? Belanja kah?" Tanya Ryuuji.


Ryuuji langsung bertanya begitu Chizuru sudah turun. Chizuru agak bingung.


"Emm, aku ingin membeli beberapa cemilan sebelum mengerjakan tugasku sambil jalan-jalan sore." Jawab Chizuru.


Ryuuji terdiam sejenak dan menaruh tangan kanannya di dagunya.

__ADS_1


"Ohh, boleh aku bergabung?" Tanya Ryuuji sambil tersenyum.


Pertanyaan Ryuuji melenceng dari skenario yang dipikirkan Chizuru. Ia berpikir akan menyapa saja dan lewat. Tapi Ryuuji memberikan respons yang cukup mengejutkan. Karena ini, Chizuru agak tertegun, namun tidak ada pikiran untuk menolak permintaan Ryuuji. Lagipula usulan Ryuuji sepertinya cukup efektif untuk meredakan ketegangan dan kecanggungan sebelumnya.


"Tentu saja, Senpai." Jawab Chizuru sambil tersenyum dan mengangguk.


"Kalau begitu, tunggu sebentar. Aku akan mengembalikan helm-helm ini." Kata Ryuuji sambil berlari kecil menaiki tangga.


Chizuru memperhatikan Ryuuji sampai ke atas. Saat Ryuuji masuk ke unit apartemennya, Chizuru menghela napas dan memegang dadanya.


'Entah kenapa aku merasa percakapan barusan cukup intens. Sungguh ini tidak baik untuk jantungku.'


'Yah, sepertinya ini respons normal ketika kami memiliki momen tegang sebelumnya kan? Aku harus tenang.'


'Kalau dipikir-pikir nanti adalah waktu yang tepat untuk meluruskan kesalah pahaman kami.'


'Baiklah, kalau begitu sudah diputuskan.'


Setelah monolog batin yang cukup panjang (mungkin tidak), Ryuuji akhirnya keluar dari apartemennya dan segera turun. Saat ini Chizuru sudah tenang.


"Berangkat sekarang?" Tanya Ryuuji.


"Oke." Jawab Chizuru cepat.


Mereka berdua mulai berjalan dengan santai.


"Ke mini market?" Tanya Ryuuji.


Dari sini bisa terlihat kecanggungan yang mengambang di antara mereka.


"Jadi, Senpai?" Chizuru bertanya sambil menengok ke arah Ryuuji.


"Hmm??" Respons Ryuuji lembut.


"Darimana saja hari ini?" Tanya Chizuru dengan lugas.


Ryuuji diam sejenak dan melihat langsung ke arah Chizuru. Kemudian ia memejamkan mata sebentar, seolah sedang berpikir. Dan tak lama kemudian Ryuuji menjawab.


"Well, hari ini ada kencan." Jawab Ryuuji sambil mengalihkan pandangannya ke depan.


Ryuuji memberikan jawaban jelas namun agak kabur. Entah kenapa seperti ia sedang mencoba melihat reaksi Chizuru.


"Ah, kencan ya. Dengan pacar?" Tanya Chizuru.


Chizuru sebenarnya merasa agak tidak enak dengan pertanyaannya sendiri. Karena menurutnya, ia sudah menyentuh ke arah pribadi. Tapi Chizuru ingin memastikan.


Ryuuji yang mendengar respons Chizuru, melirik Chizuru dan tersenyum tipis.


"Pacar? Tentu saja bukan. Kau tahu Nanami-san dari jurusan Hubungan Internasional tahun pertama?" Sambil mengkonfirmasi, Ryuuji juga bertanya.


"Iya aku tahu, dia cukup populer di kampus." Jawab Chizuru.


Ryuuji menengok ke arah Chizuru dan tersenyum tipis.

__ADS_1


"Aku hanya menemaninya membeli laptop hari ini. Jadi mungkin bisa dibilang kencan tapi bukan kencan?" Ryuuji mengangkat bahu.


"Ohoo, begitu." Kata Chizuru sambil memegang dagunya.


"Yup." Jawab Ryuuji.


Konfirmasi langsung dari Ryuuji, entah kenapa membuat Chizuru agak tenang. Tentu saja, ia tidak tahu mengapa.


"Jadi bagaimana, Senpai?" Tanya Chizuru.


"Apanya yang bagaimana?" Jawab Ryuuji.


"Nanami-san." Jawab Chizuru.


"Hmmmmm, cantik, imut, dan aku tidak tahu kenapa, dia memberi suatu getaran aneh." Jawab Ryuuji datar.


'Cantik? Imut?' Pikir Chizuru agak terganggu. Namun ia langsung menyingkirkan dua kata itu karena melihat respons jujur Ryuuji yang seakan tidak terlalu peduli. Jadi ia menanyakan pernyataan Ryuuji yang ketiga.


"Getaran aneh?" Tanya Chizuru.


Ryuuji melihat agak ke atas dan memejamkan matanya.


"Hmmmmmmmmm, bagaimana aku menjelaskannya? Seperti menyembunyikan sesuatu? Entahlah. Mungkin seperti itu." Jawab Ryuuji agak ragu.


"Begitu ya." Kata Chizuru singkat.


Jujur saja Chizuru mengerti. Terkadang orang populer cenderung menyembunyikan sesuatu. Apalagi Nanami. Chizuru merasa apa yang terlihat di luar berbeda dengan apa yang di dalam. Mungkin untuk membangun citra karena banyak yang memperhatikannya? Well, ia tidak tahu. Jadi Chizuru segera menampil pikirannya jauh-jauh. Lagipula Chizuru bukanlah orang yang suka berprasangka buruk.


Setelah beberapa percakapan tentang kencan Ryuuji hari ini, mereka mengobrol berbagai topik saat perjalanan. Berangsur-angsur sisa kecanggungan mereka berdua hilang dan obrolan mengalir dengan alami. Dan tidak terasa sudah 10 menit mereka berjalan dan sudah sampai di mini market.


"Kau ingin membeli apa, Chizuru?" Tanya Ryuuji.


Chizuru kaget dengan perkataan Ryuuji. Bukan karena pertanyaannya, tapi karena Ryuuji yang memanggilnya dengan nama depan dengan ringan tanpa beban. Pipinya sedikit memerah.


'Chizu-'


Melihat Chizuru yang diam saja tidak menjawab, Ryuuji menghentikan langkahnya dan menengok ke belakang. Ia melihat wajah terkejut Chizuru dengan sedikit rona merah di pipinya. Saat itu, wajah Ryuuji seakan menunjukkan realisasi dan meninjau lagi perkataannya sebelumnya. Ekspresinya terlihat canggung.


"Ah, maafkan aku. Karena obrolan kita sebelumnya yang mengalir, aku tidak sadar memanggilmu dengan nama depan!" Ryuuji menggaruk tengkuknya dan membungkuk.


Melihat Ryuuji, Chizuru juga tidak ingin malu sendiri.


"Ahem. T-Tidak masalah, R-Ryuuji-Senpai!" Jawab Chizuru.


Mendengar itu, Ryuuji segera menegakkan tubuhnya dan melihat Chizuru dengan ekspresi terkejut. Yah, meskipun ia hanya menunjukkan reaksi paling minimal dengan sedikit melebarkan matanya dan mengangkat alis. Ryuuji membeku sebentar dan setelah itu, ia langsung mengalihkan pandangannya dan berdeham.


"Ahem. Apakah ini tidak masalah?" Tanya Ryuuji.


"Masalah?" Chizuru bertanya balik dan memiringkan kepalanya.


Melihat Chizuru yang merespons dengan ketidaktahuan, Ryuuji menatap wajah Chizuru dengan lembut. Namun, ada kilatan samar yang aneh di ekspresinya.


"Bukankah kau sudah punya pacar?" Jawab dan tanya Ryuuji.

__ADS_1


__ADS_2