
Hari ini adalah pagi yang cerah dan damai. Burung-burung berkicau di bawah udara yang cukup dingin. Tidak bisa terbayangkan apa yang bisa menghancurkan hari yang indah dan damai ini.
*ALARM*
Yah, sayang sekali kedamaian terkadang hanya berlangsung sementara.
Seorang pemuda sehat setengah telanjang dengan rambut acak-acakan sedang tertidur lelap di ranjangnya. Ia meraba-raba meja di sampingnya dan menemukan sebalok jam digital. Sayang sekali bahkan kedamaian benda matipun takkan berlangsung lama. Ia mencengkramnya dan melemparkannya dengan cukup keras ke sudut ruangan. Jam itu hancur.
Pemuda itu terlentang sekali lagi dan menikmati tidurnya.
*ALARM*
Ia merasakan kepalanya bergetar dan segera mencari sumber suara dan sumber getaran. Bingo. Pemuda itu menemukan balok lagi, itu handphonenya yang tergeletak tidak jauh dari kepalanya. Ia menggenggamnya, duduk dan sudah berada dalam posisi melempar. Dia berhenti di tengah jalan dan mematikan alarm ponselnya yang mengganggu telinganya. Dia melihat sekeliling.
"Kurasa aku harus membeli jam baru setelah ini."
Pemuda itu adalah Shinjo Ryuuji. Usia 20 tahun, yang sekarang sedang berada di tahun kedua kuliahnya jurusan animasi.
"Bagus sekali. Sakit kepala di hari Senin. Ugh."
Ryuuji menguap lebar sambil memijat pelipisnya saat dia perlahan turun dari kasurnya. Ia berjalan perlahan ke cermin di lemarinya dan berpose seperti pose stereotip binaragawan. Dilihat dari cermin, ia memiliki tubuh yang setinggi 191 cm dengan otot yang tidak terlalu sedikit atau menonjol. Wajahnya yang tertutup rambut hitamnya bisa dibilang wajah tampan dengan tipe tampan yang keren dan tegas.
"Hmmm. Nice Abs."
Ryuuji segera mengambil posisi push up dan melakukan push up selama 5 menit. Push up selesai, selanjutnya adalah sit up dan back up. Ia melakukan hal ini setiap pagi ditambah dengan lari pagi. Hanya saja karena kemarin dia begadang untuk menyelesaikan komisi ilustrasi dan tugas serta mendapatkan sakit kepala karenanya, dia tidak lari pagi hari ini.
Begitu dia selesai dengan olahraga paginya, Ryuuji yang sudah sedikit bertenaga segera melangkahkan kakinya ke kamar mandi.
Setelah mandi, Ryuuji yang hanya menggunakan handuk di tubuh bagian bawahnya membuka kulkas dan mengambil 2 dari 8 sandwich yang dia buat kemarin untuk sarapan. Tidak lupa juga ia mengambil susu untuk minumannya. Tidak perlu mengambil gelas, cukup minum langsung saja dari kotaknya.
Sarapan selesai, Ryuuji kemudian mengeringkan rambut panjang sebahunya, memakai sweater tipis hitam polos dan celana kargo yang juga berwarna hitam, keluar dari apartemennya dan sekarang sedang berjalan menuju kampus.
Sambil berjalan, ia memakai jam tangannya, mengikat rambutnya dan memakai kacamata. Bukan kacamata rabun jauh, itu hanya kacamata fashion.
Merogoh sakunya, Ryuuji sedikit mengernyit. Selesai dengan sakunya, ia membuka tas ranselnya yang berisi laptop, wireless mouse, iPad, buku catatan dan alat tulis. Ekspresinya menjadi lebih jelek.
"Sial. Aku melupakan dompetku."
Dia bergumam pelan dan mengutuk kelalaiannya dalam hati.
"Haish, lupakan. Sudah terlalu jauh untuk kembali."
Tas ranselnya sudah kembali ke posisi semula, di punggungnya. Ryuuji tidak terlalu memikirkan dompetnya, lagipula, saldo rekening dan dompet digitalnya masih sangat banyak.
"Oiii!!"
Melihat jauh kedepan, Ryuuji menyipitkan matanya. Ia melihat kedua sahabatnya mengangkat salah satu tangannya. Hisoka Keiji dan Moriyama Yoshio. Mereka berdiri sambil menunggunya.
Ryuuji tidak memiliki banyak teman. Dia memiliki banyak kenalan, tapi hanya beberapa yang bisa ia sebut teman dan sahabat. Ryuuji lebih suka seperti ini.
Setelah sampai di tempat mereka berdiri, Ryuuji mengepalkan tinjunya dengan malas.
"Yo!"
Mereka saling bertukar sapaan singkat dan salam tinju dengan ringan.
__ADS_1
"Osu!"
"Yo!!"
Setelah sapaan singkat dan tinju ringan, Keiji yang memiliki tinggi hampir sama dengan Ryuuji melingkarkan tangan sedikit kekarnya ke lehernya. Sekedar informasi, tinggi Keiji adalah 188 cm.
"Man, kau kelihatan lesu hari ini." Keiji berkomentar.
"Aku begadang semalaman. Kau tau. Deadline tugas dan klien yang bangsat."
Ryuuji berkata sinis sambil memijat pelipisnya.
"Eh, itu sebabnya kau tidak ikut bersama kami semalam? Man, kau beruntung, pesta semalam cukup gila."
"Dan berkat itu, aku yang harus menyeret si bodoh ini ke apartemen sendirian."
"Ahaha, maaf maaf."
Ryuuji terkekeh mendengarnya. Jujur saja ia juga memiliki keinginan untuk mengikuti pesta. Lagipula angkatan mereka cukup akrab.
"Bagaimana dengan para gadis?"
Saat Ryuuji menanyakan itu dengan malas sambil memasang senyum licik yang menggoda, Keiji melepaskan tangannya dan menjawab dengan cukup bersemangat.
"Ck ck, aku berkenalan dengan beberapa gadis jurusan lain. Fyuh. Mereka cantik. Tapi aku bisa katakan angkatan bawah kita lebih top-tier."
"Dia sangat senang saat dipanggil Senpai. Betapa bodohnya."
"Aishhh, diam kau Yoshio. Aku yakin kau juga senang kan??"
Selagi ketiganya berjalan sambil mengobrol menuju tempat tujuan, beberapa kertas, dan buku berjatuhan di depan mereka. Mereka bertiga tiba-tiba berhenti.
"Ah maafkan aku."
Gadis itu dengan panik segera memungut kertas dan buku yang berhamburan. Melihatnya memungut dengan tergesa-gesa, Ryuuji berinisiatif untuk membantu.
"Biarkan aku membantumu."
Keiji dan Yoshio juga memungut kertas yang terbang tidak terlalu jauh dan menyerahkannya ke Ryuuji.
"Ini."
Ryuuji menyerahkan tumpukan kertas dan buku yang dia dan sahabatnya kumpulkan. Saat mata gadis berkepang itu bertemu dengan tatapannya, ia tertegun.
Setelah beberapa detik membeku, Ryuuji segera sadar dan melepaskan genggamannya dari tumpukan kertas dan buku yang dipegangnya. Ia teringat gadis berkepang itu membawa laptop dipelukannya. Ia menatap gadis itu sedikit dengan kepala sedikit mengangguk kebawah.
"Lebih baik untuk memasukkannya ke tas daripada membawanya seperti itu. Aku yakin akan merepotkan jika terjatuh seperti kertas dan buku barusan."
Ryuuji berkata sambil tersenyum lembut.
"Terima kasih."
Gadis itu sedikit membungkuk ke mereka bertiga sebelum berjalan pergi melewati mereka. Mereka masih melihat gadis itu berjalan dari belakang.
"Siapa itu?" Keiji bertanya.
__ADS_1
"Tidak tahu." Jawab Yoshio sambil menoleh ke arah Ryuuji yang saat ini tatapannya datar berkata penuh arti.
Keiji juga ikut melihat Ryuuji. Ryuuji hanya menatap sahabatnya secara bergantian sambil mengangkat alis. Ia menghela napas, kemudian berbalik dan menjawab dengan hambar sambil berjalan.
"Mana aku tahu."
Melihat temannya berjalan, Keiji dan Yoshio mengikuti.
"Ada apa dengan jeda itu. Kau mengenalnya?" Tanya Yoshio.
"Tidak."
"Hmmmmmmm. Benarkah?" Keiji bertanya dengan penasaran.
Ryuuji menghela napas dan kepalanya agak di angkat dengan tangan menyentuh dagunya.
"Aku hanya berpikir dia cukup cantik." Ryuuji menjawab sambil mengangguk.
"Benarkah? Aku kira dia terlihat nerdy dan membosankan." Kata Keiji. "Apakah karena kalian berdua berkacamata? Atau, dia tipemu?"
Ryuuji mengernyit.
"Mungkin saja? Siapa tahu." Ryuuji menjawab dengan santai.
"Cih, membosankan."
"Baiklah, kita berpisah di sini." Kata Yoshio. "Sampai jumpa setelah kelas, Ryuuji."
"Oossu!" Ryuuji mengangkat salah satu tangannya sedangkan tangan lainnya masuk ke kantong.
...
Setelah beberapa jam kelas sudah selesai. Laptopnya juga sudah mati. Ryuuji melihat jam tangannya, merapikan mejanya dan duduk bersandar dengan santai. Ada mata kuliah yang kosong pagi ini, dan Ryuuji menghabiskan waktu kosong itu dengan tidur. Namun dia bahkan masih merasa sedikit ngantuk sekarang.
Saat matanya hampir tertutup, ponselnya bergetar. Ia membuka ponselnya dengan lesu. Pesan masuk ya berasal dari chat group.
[DOGSHIT]
Keiji : @Shinjo Ryuuji -- Summon!!!
Ryuuji : Ada apa?
Keiji : Woah itu balasan cepat. Apakah kau bebas nanti?
Ryuuji : Aku tidak ada jadwal setelah ini. Jadi, ya.
Keiji : Great. Apakah kau mau ikut kami hang out setelah ini?
Ryuuji : Tentu saja, kenapa tidak?
Keiji : Bagus. Kita akan bertemu jam 6 di...uh..aku belum menentukan tempatnya. Lol.
Yoshio : Aku kira kau sudah menentukannya.
__ADS_1
Ryuuji : Lehh. Okedeh. Aku yang akan menentukan tempatnya. Aku akan mengirimkan alamatnya nanti. Aku akan kesana dulu. Aku sudah tidak ada kelas.
Keiji : Woah. Sangat bisa diandalkan.