
Hari ini adalah hari Minggu. Cuacanya cukup mendung yang membuat udara agak sejuk di hari yang panas. Hari ini juga adalah hari yang cocok untuk belanja dan kencan.
Hanya saja karena Ryuuji tidak memiliki pacar, ia memilih opsi lain, berbelanja. Stok dagingnya habis, sosisnya habis, telurnya habis, berasnya habis, rotinya habis, sabun mandi dan sabun cucinya habis. Dengan semua masalah itu tentu saja siapapun akan setuju kalau hari ini adalah hari yang tepat untuk berbelanja.
Dan disinilah Ryuuji berada di supermarket, belanja sambil berjalan-jalan. Penampilannya agak mencolok dengan tinggi dan tindik di telinganya. Dia berjalan santai sambil membawa troli belanjanya yang sudah berisi sabun cuci dan peralatan mandi. Sekarang ia sedang berjalan menuju bagian sayuran dan buah-buahan.
Sesampainya di bagian sayur dan buah, ia segera memilih dan memilah dengan santai sampai dia menabrak seseorang.
"Ah, maaf."
Saat Ryuuji menengok, dia melihat wajah yang sudah dikenalnya. Perempuan berkacamata.
"Senpai?"
Dia adalah Chizuru.
"Oh, Ichinose. Kebetulan sekali."
"Senpai? Kamu juga berbelanja?"
"Yah, kamu lihat sendiri."
"Aku kira, para laki-laki yang hidup sendiri jarang berbelanja."
"Dan kamu sekarang melihatnya, pria yang hidup sendiri tapi berbelanja."
"Kamu sedang mencari buah?"
"Lebih tepatnya, sayur dan buah. Jujur saja aku tidak bisa membedakan mana yang bagus dan tidak."
Chizuru melihat Ryuuji mengambil dua apel, dan mengembalikannya ke tempatnya.
"Hmmm, aku bisa mengajarimu."
"Kalau begitu,.."
"Kemarilah senpai."
Begitu mereka selesai memilih sayur dan buah yang segar dan baik, keduanya berjalan ke bagian daging. Mereka berakhir belanja bersama karena apa yang mereka beli hampir sama.
Setelah selesai membayar, keduanya keluar supermarket. Barang bawaan Ryuuji terlihat lebih banyak karena dia juga membawa beras. Kedua tangannya penuh sekarang.
"Kamu akan pulang atau bagaimana, Ichinose?"
"Aku akan langsung pulang sebelum hujan."
"Mau jalan bersama?"
"Tentu saja."
Baru saja berjalan sebentar, perkiraan terburuk Chizuru menjadi kenyataan. Hujan turun cukup deras dan Chizuru tidak membawa payung. Jadi mereka memutuskan untuk berteduh di depan toko yang tutup.
"Firasat burukmu menjadi kenyataan."
"Harusnya aku belanja lebih awal tadi." Chizuru kemudian duduk dan melepas kacamata serta kepangan rambutnya.
Ryuuji di sisi lain sedang berdiri dan menyisir rambutnya yang basah dengan tangannya. Gerakannya alami namun terlihat keren padanya. Chizuru yang kebetulan melihat adegan itu tertegun. Dia memang agak mengabaikan penampilan Ryuuji. Tapi memang, setelah beberapa kali dilihat, Ryuuji adalah pria yang keren dan tampan. Kebetulan, Ryuuji menyisir dengan menghadap ke arah Chizuru.
Karena Ryuuji menunduk, Chizuru yang duduk di bawah bisa melihat wajahnya. Mata merah dengan rambut hitam, kombinasi keduanya terlihat sangat serasi. Tindik hitam di telinganya membuat kesan Ryuuji agak kejam dan nakal. Chizuru bisa menangkap semua detail wajah Ryuuji dari bawah.
'Tipe pria tampan.'
Saat tatapan mereka bertemu, refleks, Chizuru langsung mengalihkan pandangannya. Dia agak malu.
Ryuuji yang menatap Chizuru melihat bajunya putihnya agak basah menempel di kulitnya yang menambah keseksiannya. Berpikir jernih, Ryuuji segera mengalihkan pandangannya dan duduk agak jauh dari Chizuru.
Dia sekali lagi menatap Chizuru. Lalu ia melepas jaketnya.
"Mau pakai?"
Melihat Ryuuji menyodorkan jaketnya, Chizuru segera menolaknya.
"Eh? Aku tidak kedinginan, lagi pula jaketmu juga basah senpai."
"Bukan itu."
__ADS_1
Ryuuji menunjuk ke arah tubuh Chizuru dengan pandangan lurus kedepan tanpa memperhatikan tubuh Chizuru.
'Apa?'
Chizuru mencari apa yang ditunjuk Ryuuji. Dia cukup santai sampai dia sekali lagi melihat arah tangan Ryuuji dan menemukan baju basahnya agak transparan karena air hujan.
Wajahnya langsung memerah dan menutup dadanya dengan tangan. Ia langsung menoleh Ryuuji dan menemukan bahwa, dia tidak melihat tubuhnya sama sekali. Chizuru agak lega dengan itu. Tapi berpikir kalau, Ryuuji sudah sempat melihatnya, membuatnya malu. Pelan-pelan ia mengambil jaket yang ditawarkan Ryuuji dan memakainya.
"T-Terima kasih."
Ryuuji menatapnya dan tersenyum pahit.
"Sama-sama."
Saat itu pikiran acak masuk ke otak Ryuuji. Ia teringat sesuatu. Ia segera membuka tas ranselnya dan menemukan harta.
"Ichinose, aku lupa kalau aku membawa ini."
Chizuru menengok dan melihat apa yang dipegang Ryuuji, itu adalah payung. Mata Chizuru berbinar. Tapi segera, tatapannya berubah tajam.
"Senpai?"
"Hm?"
"Apa kamu sengaja?"
"Sengaja apa?"
"Hmmmm."
Melihat wajah datar Ryuuji yang menunjukkan kebingungan kecil, Chizuru menyingkirkan tuduhannya. Ryuuji tidak tahu apa yang Chizuru pikirkan.
"Tidak apa-apa. Ayo kita pulang."
"Hm? Berdua? Dengan satu payung ini?"
"Iya."
"Kamu tidak masalah?"
"Baiklah. Kalau begitu ayo. Kamu yang memegangnya, oke?"
"Oke."
Setelah itu mereka berjalan dan pulang menuju apartemen dengan satu payung.
...
Keesokan harinya setelah pulang dari kelas, Ryuuji langsung berbaring di kasurnya. Hari ini tidak ada hangout dengan kedua sahabat bodohnya dan tidak ada tugas. Pekerjaan juga sudah selesai. Jadi dia bisa sedikit santai.
Setelah berbaring sebentar, ia mandi dan duduk di kursi gamingnya dan menyalakan komputernya. Dia bermaksud untuk bermain game santai, GTA V. Sebenarnya dia agak bosan dengan game ini, lagi pula game ini sudah berusia hampir 10 tahun. Dan dia sudah memainkannya sejak awal rilis.
Bermain selama satu jam, ia bosan dan berbaring lagi di tempat tidurnya. Saat itu, ketukan pintu terdengar.
Ryuuji segera bangkit dan membuka pintu. Begitu pintu terbuka, dia menemukan Chizuru yang berdandan sangat cantik di depannya.
'Wow.'
"Oh, Ichinose. Ada apa?"
"Aku ingin mengembalikan jaketmu kemarin. Dan aku membuat kare."
Chizuru menyodorkan jaket dan kotak makan berisi kare. Ryuuji mengambilnya dengan lembut.
"Oh, ini masih hangat. Terima kasih."
"Sama-sama. Kalau begitu, aku permisi dulu senpai."
"Ah, oke. Hati-hati."
Ryuuji secara tidak sadar mengatakan hati-hati.
'Dia berdandan. Kencan kah?'
...
__ADS_1
Keesokan harinya, setelah pulang kelas, Ryuuji mengembalikan kotak makan Chizuru. Dan kebetulan saat itu, sebelum Ryuuji mengetuk, Chizuru keluar dengan berdandan lagi.
Dalam beberapa hari Ryuuji sering bertemu dengan Chizuru waktu sepulang kelas. Ada hari mana dia tidak keluar atau keluar dengan dandanan biasa. Tapi dia lebih sering melihatnya dengan dandanan yang cantik.
Ryuuji menahan diri untuk bertanya karena mereka belum cukup dekat. Namun setelah beberapa hari ini, mereka kadang olahraga pagi bersama, dan terkadang mengobrol malam di balkon. Karena mereka sudah saling kenal selama 3 minggu dan sering melakukan aktivitas bersama. Bisa dibilang mereka sudah cukup akrab sekarang. Jadi, Ryuuji ingin menanyakan tentang penampilan berbeda Chizuru jika ia bertemu mode cantik Chizuru selanjutnya.
...
Di hari lain, saat sore hari di dekat pusat perbelanjaan, Ryuuji sedang berjalan sendirian untuk membeli jam digital nya yang sudah hancur. Karena cukup jauh, Ryuuji membawa motor dan memarkirkannya agak jauh dari pusat perbelanjaan. Dia ingin sekalian jalan-jalan sore menikmati keramaian.
Berjalan dengan santai, ia menemukan Chizuru versi kutu buku sedang berkumpul dengan beberapa gadis. Sepertinya temannya. Mereka duduk jauh di depan Ryuuji, tapi tidak terlalu jauh untuk bisa terlihat dengan mata telanjang kecuali memiliki masalah penglihatan.
Saat Ryuuji agak dekat, ia menyapanya dengan santai.
"Oh, Ichinose!"
Chizuru yang berpikir bisa santai menikmati waktu sorenya, tiba-tiba merasa agak tidak nyaman dengan suara familiar yang memanggilnya.
Gadis-gadis lain segera berbalik melihat Ryuuji yang terlihat asing karena mereka belum pernah melihat Ryuuji.
"Senpai?"
Setelah mengatakan itu, Ryuuji bisa melihat tatapan tidak nyaman dari Chizuru. Ryuuji bisa mengerti jika diganggu saat hangout dengan teman bisa membuat tidak nyaman. Tapi tatapan Chizuru terasa salah, dia bisa merasakan bermusuhan di wajahnya.
"Bisakah kalian memberi kami waktu sebentar?"
Chizuru segera meraih tangan Ryuuji dan menariknya menjauh.
"Apa yang membawamu kesini, senpai?"
Nadanya pelan tapi kedengaran seperti marah.
"Membeli jam digitalku yang rusak."
Chizuru melihat Ryuuji dengan sinis.
"Kamu berbelanja cukup jauh, senpai. Dan di mana jam itu?"
"Aku baru saja akan membelinya."
"Di mana?"
Ryuuji yang dibombardir pertanyaan dengan nada marah, mengernyit. Apa yang salah dengan wanita ini? Apakah hanya karena aku memanggilnya, hanya untuk menyapanya sebentar dia bisa semarah ini?
"Di pusat perbelanjaan." Ryuuji menjawab dengan dingin.
"Fyuh, tolong jangan panggil aku begitu tiba-tiba seperti itu. Terutama saat aku bersama teman-temanku atau saat aku bekerja. Tolong mengertilah, senpai."
Ryuuji sekali lagi mengernyit. Bekerja? Tatapannya berubah dingin. Dia tidak tahu apa kesalahannya dan dibombardir dengan nada penuh kemarahan. Dia bahkan tidak tahu apa pekerjaannya.
Tiba-tiba ia teringat penampilan mode cantik Chizuru. Apakah mode cantik itu untuk bekerja? Apakah kemarahannya karena itu? Sungguh. Kalau kau ingin memberitahuku, kau bisa memberitahuku dengan benar.
Tatapannya semakin dingin. Bahkan Chizuru mulai merasa takut dengan tatapan Ryuuji.
"Sungguh, apa yang salah denganmu Ichinose?"
Ryuuji melepaskan genggaman tangan Chizuru yang membeku dengan lembut. Kemudian Ryuuji tersenyum manis.
"Maafkan aku. Kalau kamu memang sebegitunya tidak ingin melihatku, aku akan pergi sekarang. Tenang saja. Selamat bersenang-senang."
Ryuuji berkata dengan acuh dan berjalan meninggalkannya. Chizuru yang membeku hanya bisa melihatnya berjalan menjauh. Kemudian ia tersadar.
"Ah. Dia bahkan tidak tahu pekerjaanku."
Karena Ryuuji yang sering melihatnya berdandan dan berpakaian cantik, dia dengan panik lupa kalau Ryuuji tidak tahu pekerjaan yang ia sembunyikan.
'Aku ceroboh.'
Dengan rasa hambar di hatinya, ia berbalik dan kembali duduk dengan teman-temannya.
"Siapa pria keren tadi? Kau tidak pernah mengenalkannya kepada kami. Bagaimana ka-"
"Bagaimana kalau kita menikmati sisa hari ini. Aku sedang tidak mood membicarakannya."
Chizuru berkata sambil menahan rasa bersalah yang bersarang di hatinya.
__ADS_1