My Good-looking Neighbor

My Good-looking Neighbor
Ch 13 : Ajakan Kencan


__ADS_3

Sehari setelah mengetahui fakta yang mengejutkan dari kakeknya, Ryuuji saat ini sedang berada di kantin kampus. Dan sendirian. Ia sedang membuka laptopnya, mengerjakan tugas dan pesanan dari klien. Ryuuji terlihat sedang bekerja dengan normal hanya saja wajahnya tampak sedikit linglung.


'Sudah punya pacar kah?'


Apa yang dikatakan kakeknya kemarin masih terngiang-ngiang di kepalanya. Tapi tidak setiap waktu. Hanya saat Ryuuji tidak sibuk atau sendirian. Kali ini ia teringat lagi karena tugas dan pekerjaan tidak terlalu berat karena memiliki deadline yang cukup lama. Yah lagi pula masih sehari. Dan juga pria ini sudah cukup menyukai tetangganya, Chizuru. Dia pasti akan kaget setelah mengetahui fakta tersebut.


Bahkan kemarin setelah pulang dari rumah sakit, ia tidak menanyakan kebenaran dari berita yang diberikan kakeknya kepada Chizuru. Kemarin mereka bertemu. Hanya saja Ryuuji masih berbicara secara normal dan sedikit menghindarinya. Merupakan reaksi alami dari seorang pria jika wanita yang disukainya memiliki pasangan.


'Mau tidak mau aku harus menanyakannya kepada orangnya langsung.'


Tentu saja kau harus menanyainya nak. Jangan seperti protagonis anime romcom yang hanya akan menghindarinya tanpa usaha untuk bertanya. Komunikasi adalah hal yang penting.


"Senpai!"


Tepat setelah Ryuuji mengatur dan menata apa yang ada dipikirannya, suara dari seorang gadis terdengar. Suaranya lembut dan sedikit,..imut.


Ryuuji mengangkat kepalanya. Apa yang dia lihat adalah seorang gadis cantik berambut pirang pendek dengan tubuh yang mungil tapi terlihat dewasa. Tak dipungkiri semua ciri yang dimilikinya menandakan bahwa dia adalah gadis yang cantik dan menawan. Ryuuji berpikir sejenak, wajahnya tampak familiar.


"Mami?"


Dalam sepersekian detik gadis itu terperanjat karena langsung dipanggil dengan nama depannya. Namun Ryuuji melakukannya karena refleks setelah mengingat namanya.


"Nanami Mami? Apakah aku benar?"


Dan benar saja, dia langsung mengkoreksinya menjadi nama lengkap karena Ryuuji tak ingin ada kesalahpahaman. Lagi pula mereka baru satu kali bertemu, hitung sekarang dan akan menjadi kedua kalinya.


"Iya benar, Senpai. Tak menyangka kamu akan mengingatku setelah terakhir kali bertemu beberapa minggu yang lalu."


Gadis itu, Mami masih berdiri di depan Ryuuji. Ia sedikit membungkuk. Karena memakai kaos yang agak longgar, siapapun yang duduk di depannya bisa melihat sedikit belahannya, siapapun termasuk Ryuuji. Ryuuji bukanlah orang yang sangat suci sehingga selalu bisa menghindari pemandangan itu. Namun tetap saja ia merasa tidak nyaman dan hanya menjatuhkan pandangannya selama kurang dari satu detik dan langsung melirik ke arah wajah Mami.


"Aku mempunyai ingatan yang bagus. Silahkan duduk."


Jawaban yang seadanya. Setelah jawaban itu jatuh, Mami segera duduk di depannya. Tepatnya agak ke samping kanan Ryuuji. Karena tepat di depan Ryuuji adalah laptop.


Mereka diam sejenak, Ryuuji sibuk dengan laptopnya, dan Mami duduk merapikan dirinya dan meminum susu kotak yang sudah ia beli.


"Sedang sibuk mengerjakan tugas, Senpai?"


Ryuuji berhenti. Tatapannya berganti, menatap Mami.


"Ya begitulah. Hanya tugas dengan deadline panjang."


Lagi-lagi jawaban klasik yang dikeluarkan.


"Jadi ada apa, Nanami?"


Ryuuji bertanya sambil menutup laptopnya.


"Emm, tidak ada apa-apa, Senpai. Aku hanya ingin menyapa. Kebetulan juga kamu sedang sendirian, apakah aku menganggumu?"


Ekspresinya canggung. Bisa dilihat, ia mungkin merasa agak bersalah dengan tiba-tiba mendatangi dan menyapa, mengganggu kesibukan dan waktu sendiri milik Ryuuji.


"Santai saja. Bisa dibilang aku bebas saat ini."


Mami tersenyum manis atas tanggapan Ryuuji. Ia mengelus dadanya dan menghela napas lega.


"Baik, Senpai. Omong-omong bagaimana kabarmu, Senpai?"


"Yah, bisa kau lihat sendiri, cukup baik untuk hari ini."


"Untuk hari ini?"


"Well, selalu ada permasalahan dalam keseharian kan? Lupakan itu, bagaimana kabarmu sendiri?"


"Cukup baik untuk hari ini."


Ryuuji mengangkat alis dan tersenyum tipis.


"Untuk hari ini?"


"Sebenarnya, aku baru putus dengan pacarku beberapa hari lalu."


"Oh, kau baik-baik saja kan? Apakah tidak apa-apa kau membahasnya dengan orang yang baru dua kali kau temui?"

__ADS_1


Mami tersenyum dan menjatuhkan tubuh bagian atasnya ke meja dengan lembut. Gerakannya terlihat sangat feminim. Ia kemudian menatap Ryuuji dengan lembut.


"Tidak masalah. Aku mengenalmu, meskipun hanya dua kali bertemu. Menurutku kita juga sudah bisa bicara cukup akrab saat pertama kali bertemu di kafe, tapi aku tidak tahu bagaimana menurutmu, Senpai. Dan juga, aku hanya ingin mengeluarkan beberapa beban di hatiku."


Cukup masuk akal. Setidaknya Mami tidak terlalu memikirkan putusnya dia dengan pacarnya sehingga akan berlarut-larut. Ryuuji tersenyum.


"Jadi bagaimana? Kau baik-baik saja?"


Mami menatap sejenak mata Ryuuji dan memejamkan matanya sambil tersenyum.


"Bisa kamu lihat sendiri, Senpai. Aku baik-baik saja. Masa lalu adalah masa lalu."


"Baguslah. Omong-omong, saat pulang dari kafe, kau pulang malam saat itu. Tidak ada masalah apapun kan?"


"Aman. Tidak ada masalah apapun. Kami bertiga selalu menghindari tempat sepi."


"Begitukah? Baguslah kalau begitu. Kekhawatiranku menurun."


Mulut Ryuuji memang kadang sulit untuk direm. Kadang dia tidak tahu apakah perkataannya akan berefek atau tidak ke lawan bicaranya. Contoh saja gadis yang mungkin polos di depannya. Dia terlihat menyukai kata 'khawatir' dari Ryuuji.


Dan entah kenapa setelah itu obrolan mereka mengalir seperti air. Hampir sempat menyentuh ranah pribadi tapi Ryuuji segera mangalihkannya.


***Kling***


Notifikasi chat ponsel Ryuuji berbunyi. Tentu saja ia mengeceknya. Dan pesan yang masuk adalah pesan grup.


[DOGSHIT]


Keiji : @Shinjo Ryuuji -- Kau di mana kawan?


Ryuuji : Di kantin. Ada apa?


Keiji : Ya, aku bisa tahu itu.


Keiji : (IMG0882.jpg)


Ryuuji bisa melihat preview dirinya sedang duduk berdua dengan seorang gadis pirang. Dia langsung bisa dari arah mana Keiji memotretnya. Saat dia menoleh...


"Jadi, Senpai? Apakah jadwalmu kosong besok?"


Karena terlalu fokus dengan temannya, lidahnya terpeleset.


"Benarkah?"


Ryuuji hendak berkata tidak tapi ia terlanjur berbicara iya. Ia menatap sebentar gadis mungil di depannya. Entah kenapa ia terlihat senang. Ryuuji hanya menghela napas kecil dan tersenyum.


"Iya benar."


Well, lagi pula Ryuuji memang kosong besok. Dan besok adalah hari Sabtu, kampus libur.


"Kalau begitu, bisakah aku meminta tolong besok?"


"Hmm, oke."


"Sebenarnya aku ingin mengupgrade laptopku. Tidak, aku ingin membeli laptop baru. Laptop milikku sudah cukup lama dipakai, dan akhir-akhir ini performanya menurun. Bolehkah aku meminta tolong Senpai untuk mengantarku dan memilihkanku laptop? Aku kurang mengerti tentang hal-hal seperti itu."


"Hmmmm, berapa budget mu Nanami?"


"Sekitar *** Yen."


"Ingin membeli laptop baru atau second hand?"


"Aku ingin membeli baru."


Ryuuji diam sejenak dan berpikir. Ia melihat lawan bicara di depannya.


"Hmm, oke. Aku akan mengantarmu besok."


"Yey, terima kasih, Senpai!!"


Mami melompat dengan ceria dan tiba-tiba langsung memegang tangan Ryuuji. Ryuuji yang tidak pernah mendapat pengalaman seperti itu dengan perempuan hanya terdiam dan menatap tangannya yang sedang dipegang Mami. Kemudian ia kembali menatap Mami dengan ekspresi heran, dan ia berdeham.


"Ahem."

__ADS_1


Seketika, Mami kembali ke dunianya dan melepas genggamannya.


"Ah, maafkan aku Senpai! Aku terlalu senang. Sudah sangat lama aku memakai laptop itu dan harus bertahan dengan performanya yang lambat. Sekali lagi maafkan aku!"


Mami langsung meminta maaf dan membungkuk dengan cukup dalam. Posisi itu mengundang banyak perhatian. Memang ia tidak berbicara dengan keras, tapi posisi membungkuk itu saja sudah menarik perhatian. Apalagi Mami cukup populer di kampus. Ryuuji melirik sekelilingnya dengan tatapan yang agak mengintimidasi. Setelah orang-orang yang menatapnya mengalihkan pandangannya, Ryuuji menghela napas.


'Apakah dia sesenang itu hanya karena membeli laptop baru? Yah, aku juga senang jika aku bisa mengupgrade peralatanku.'


"Tidak apa-apa Nanami. Tidak perlu meminta maaf. Duduklah kembali, kau cukup menarik perhatian sekarang."


Mami kemudian tersadar dan menoleh ke segala arah, dan apa yang dikatakan Ryuuji benar. Ada beberapa tatapan mata yang melihat mereka. Meskipun juga ada yang sudah tidak memperhatikan karena tatapan Ryuuji sebelumnya.


"Ah iya, maafkan aku."


Mami kemudian duduk, merapikan baju dan rambutnya.


"Tidak perlu dipikirkan. Jadi kapan beso-"


"Oii, Ryuuji!"


Kepala Ryuuji langsung menoleh ke kanan, arah suara memanggilnya.


"Keiji."


"Wassup bro?"


Keiji mengulurkan tinjunya, dan Ryuuji membalas dengan salam tinju yang biasa mereka lakukan bersama Yoshio.


"Ya bisa kau lihat sendiri, sedang berbicara dengan Kouhai kita."


"Oh siapa ini? Nanami-chan, apa kabar?"


Ryuuji hanya melihat Keiji yang sedang duduk dan melakukan obrolan sok dekat, seperti biasanya. Dalam kepalanya, Ryuuji berpikir 'Kau sudah tahu dia disini dari tadi'. Ryuuji hanya menghela napas.


"Ah, Hisoka-senpai. Cukup baik dan sehat, bagaimana denganmu, Senpai?"


Keiji agak tertegun.


"Ohhhh, kau masih mengingatku. Kabarku sangat hyper sehat dan bersemangat hari ini."


Sebelum Mami merespons, Keiji meninju tangan kanan Ryuuji yang sedang damai meminum es cappuccinonya.


"Oi, Ryuuji, dengarkan dia, Nanami-chan masih mengingatku."


Ryuuji hanya menatapnya, lalu menatap Mami yang tertegun dengan sikap Keiji. Mami tertawa kecil.


"Tentu saja aku mengingatmu. Siapa yang tidak mengenal anggota inti tim basket kampus kita yang terkenal dan kuat? Kamu sebenarnya cukup populer Hisoka-senpai."


Alis Keiji terangkat. Dan perlahan senyuman liciknya terlihat.


"Hehe. Oiii, kau dengar itu Ryuuji? Aku cukup terkenal sekarang, ahahaha."


"Iya iya selamat!"


Ryuuji menanggapinya dengan nada dengan penuh kebosanan sambil tersenyum kosong. Mami yang melihat interaksi kedua sahabat ini mau tidak mau tersenyum, interaksi mereka aneh namun lucu.


Mami kemudian memeriksa ponselnya dan berdiri.


"Ah, maaf aku harus pergi sekarang. Dan Shinjo-senpai, besok pukul 10 di kafe pertama kita bertemu, apakah itu oke?"


"Baiklah. Hati-hati di jalan!"


"Kalau begitu, sampai jumpa besok, Shinjo-senpai. Aku pamit dulu Hisoka-senpai!"


Mami tersenyum manis ke arah mereka berdua dan melambaikan tangan. Sebenarnya hanya ke Ryuuji. Dan Keiji mengetahui itu. Keiji yang duduk di samping kanan Ryuuji hanya melirik di antara keduanya dan melambaikan tangan. Begitu juga Ryuuji, tersenyum dan melambaikan tangan.


Setelah Mami sepenuhnya keluar dari kantin kampus, ekspresi Keiji berubah menjadi ekspresi kosong. Hanya diam melihat pintu keluar kantin tanpa mengalihkan pandangannya.


"Ei bro? Apa maksudnya ini?"


Ryuuji melirik Keiji dan merilekskan badannya.


"Nothing. Hanya mengantarkan dia membeli laptop baru."

__ADS_1


"Hah???" Respons Keiji.


"Hah?"


__ADS_2