My Good-looking Neighbor

My Good-looking Neighbor
Ch 8 : Berantakan


__ADS_3

"Umi-kun!"


Setelah sapaan singkat, pria itu duduk. Nakano Umi, dia adalah teman kursus akting Chizuru.


"Bagaimana kabarmu, Chizuru-chan?"


"Sangat baik. Bagaimana denganmu?"


"Yah, menjalani hari-hari seperti biasa. Kamu cantik hari ini."


Chizuru agak tekesiap. Dia memang selalu dibombardir dengan godaan tetangga tampannya yang menyebalkan akhir-akhir ini. Tapi tetap saja, dipuji secara langsung agak memalukan.


"Ah terima kasih."


Umi tersenyum.


"Bagaimana castingnya?"


"Aku sudah mengirimkan videonya ke penyelenggara. Dan, yah, itu ditolak." Chizuru tersenyum tanpa daya.


"Semangatlah. Akan ada kesempatan lain."


Perlu diketahui, Chizuru mempunyai impian menjadi aktris. Pekerjaan pacar sewaannya juga untuk memenuhi impian itu. Dia melakukannya untuk melatih aktingnya. Karena klien biasanya meminta bagaimana Chizuru harus bertindak. Entah itu sebagai pacar yang imut, dingin, tsundere, dan masih banyak lagi. Oleh karena itu ia berpikir ini bisa menjadi latihan untuk aktingnya.


"Yah, kamu benar. Omong-omong bagaimana projekmu, Umi-kun?"


"Well, itu berjalan lancar. Masih ada beberapa hari lagi untuk syuting. Sutradanya cukup ketat."


"Bagaimana?"


"Dia cepat marah akan sesuatu. Aku juga sering dimarahinya. Meskipun aku hanya menjadi pemeran minor, dia cukup serius dengan hal itu."


"Yah, mau bagaimana lagi. Setelah selesai syuting, kamu ke kursus lagi kan?"


"Tentu saja. Lagi pula masih banyak yang perlu dilatih."


Mereka berdua mengobrol sebentar tentang beberapa hal yang menyangkut akting.


"Mau berangkat sekarang?" Umi melihat jam tangannya.


"Baiklah." Chizuru mengangguk.


"Aku akan membayar tagihannya." Kata Umi.


"Eh? Itu tidak perlu, Umi-kun."

__ADS_1


"Tidak apa-apa." Jawab Umi sambil tersenyum.


Setelah membayar tagihan, mereka keluar dari kafe. Selama di jalan banyak tatapan yang jatuh ke keduanya. Bagaimana lagi, mereka terlihat mencolok. Chizuru yang cantik dan anggun serta Umi yang keren dan kalem. Mereka berdua terlihat seperti sepasang kekasih good-looking yang diinginkan beberapa kalangan orang.


Chizuru sudah terbiasa dengan tatapan kagum orang-orang. Secara alami dia mengabaikannya.


Beberapa menit berjalan, Chizuru melihat seorang pria berambut hitam tinggi yang terlihat familiar. Pria itu sedang berdiri bersandar di sebuah bangunan sambil memegang kamera DSLR. Bisa dilihat pria itu sedang melihat hasil-hasil fotonya. Dia adalah tetangganya, Ryuuji.


Hati Chizuru agak tersentak. Dia sedang bejalan dengan Umi sekarang. Dan mereka terlihat sedang berkencan. Memang, Chizuru pernah mengatakan kalau ia berkencan saat Ryuuji bertanya. Tapi jelas, itu adalah kebohongan. Awalnya ia tak masalah mengatakan 'kencan' sebagai kebohongan, tapi sekarang ia merasa itu agak tidak benar dan mengganjal di hatinya. Apalagi sekarang Ryuuji dan Chizuru sudah semakin dekat walaupun sempat perang dingin sebelumnya. Sekarang dia tidak ingin Ryuuji melihat dirinya berjalan dengan seorang pria di saat masalah belum terselesaikan.


Namun, sebelum Chizuru memutuskan untuk berbalik arah atau bersembunyi, Ryuuji sudah menatapnya setelah Ryuuji menengok ke segala arah untuk mencari target fotonya. Pikiran Chizuru tiba-tiba berhenti tapi tubuhnya tetap bergerak.


Umi yang sedang berjalan di samping Chizuru melihat pria tampan tinggi di depan menatap ke arahnya, bukan, lebih tepatnya ke gadis di sebelahnya. Saat ia menengok ke arah Chizuru, ia melihat Chizuru yang terlihat terkejut. Ia menghentikan langkahnya dan memegang pergelangan tangan Chizuru untuk berhenti.


"Chizuru-chan? Kenalanmu kah?"


Saat itu Chizuru tiba-tiba tersadar. Kemudian ia melihat tatapan kosong Ryuuji beralih dan berjalan menjauh.


Melihatnya menjauh tanpa menyapa membuat hatinya sedikit sakit. Namun ia teringat kemarahannya yang tidak jelas kepada Ryuuji. Ia sendiri yang memintanya untuk tidak menyapanya saat bersama temannya.


'Dia masih mengingatnya ya meskipun akhir-akhir ini kami sudah bersikap biasa.'


"Ah, dia seniorku di kampus." Chizuru tersenyum pahit dengan ekspresi sedikit murung.


Umi memilih untuk tidak membahasnya lebih jauh setelah melihat ekspresi Chizuru. Mereka diam beberapa saat. Chizuru segera mengganti ekspresinya dan tersenyum ke arah Umi.


'Ah, ini agak menyakitkan.'


...


Setelah hangout bersama Umi, Chizuru pulang. Ia sampai di apartemen cukup larut, pukul 10.30 malam. Hangoutnya menyenangkan. Ia bertemu dengan banyak orang. Namun bayangan Ryuuji yang berjalan menjauh terngiang di kepalanya.


Jadi setelah pulang, ia bermaksud untuk mengobrol bersama Ryuuji tentang hari ini dan tentang hari saat Chizuru memarahinya. Tidak langsung ke ruangannya, ia berjalan ke depan pintu Ryuuji.


'Apakah dia masih bangun?'


Ia mengetuk pintu. Namun tidak ada balasan. Kemudian ia mengetuk lagi beberapa tanpa ada balasan dari dalam. Lalu ia melihat tempat parkir di bawah.


'Sepeda motornya tidak ada.'


Karena Ryuuji tidak ada di rumah, ia masuk ke ruangannya. Chizuru berjalan ke kamar mandi untuk mandi dengan air hangat dan berganti dengan piyama yang agak lucu dan mengekspos cukup banyak kulitnya.


Dia langsung berbaring di kasurnya. Matanya menatap kosong ke langit-langit, masih terbayang-bayang Ryuuji yang berjalan menjauh tanpa menyapa. Chizuru menggigit bibir bawahnya dan berguling. Dia membuka ponselnya dan melihat notifikasi menumpuk. Ia kemudian memutuskan untuk membuka e-mail. Saat itu ia melihat daftar kotak masuk dan melihat alamat e-mail yang cukup familiar, shinjo.ryuuji01@gmail.com. Itu adalah e-mail Ryuuji.


Chizuru membukanya dan menemukan beberapa track audio. Ia mengunduhnya dan mendengarkan musik dan suara menenangkan Ryuuji. Secara otomatis, otaknya teringat lagi Ryuuji yang berjalan menjauh. Namun di saat bersamaan ia juga tertidur. Tertidur dengan perasaan gelisah.

__ADS_1


...


"Ichinose, aku ingin membicarakan tentang waktu itu."


"Ah tentang itu, aku meminta maaf karena marah kepada-"


"Tidak perlu, lagi pula kau membenciku kan? Tenang saja, aku akan pergi dari hadapanmu selamanya."


"Tunggu, tunggu, tidak seperti ini, senpai!!! Ryuuji!!! Jangan tinggalkan-"


"Selamat tinggal!"


Lengan dan kakinya bergerak sedikit sebelum Chizuru mengangkat badannya untuk bangun dan duduk secara tiba-tiba. Napasnya intens dan jantungnya dipompa dengan cepat.


Ia tidak menyangka akan bermimpi tentang Ryuuji. Apalagi itu adalah mimpi buruk.


Chizuru melihat mimpi anehnya dengan pandangan orang ketiga. Dia bisa melihat dirinya berdiri bersama Ryuuji di depan apartemen. Namun di setiap percakapan, tempatnya selalu akan berubah ubah.


Perubahan tempat berakhir saat Ryuuji mengatakan berbalik dan berhenti untuk mengucapkan selamat tinggal. Saat itu ia berada di ruangan putih kosong. Saat ia melihat Ryuuji pergi, dia jatuh ke lorong hitam tanpa batas.


'Mimpi buruk.'


Nafas dan pompaan darah ke jantungnya masih cepat. Setelah tenang ia segera pergi untuk mandi. Ia berjalan keluar dan membuka pintu. Dia mengharapkan sesuatu tapi harapannya segera pupus.


'Dia tidak berdiri di sana.'


Ia memutuskan untuk menghampiri ruangan Ryuuji dan mengetuk pintunya. Namun tidak ada jawaban. Mengetuk beberapa kalipun juga tidak ada jawaban. Dan jam sudah menunjukkan waktu untuk segera berangkat ke kampus. Berarti Ryuuji berangkat terlebih dahulu.


'Apakah dia menghindariku?'


Dengan perasaan tidak enak, Chizuru berangkat sendiri ke kampus seperti hari-hari sebelum bertemu Ryuuji. Ia sudah mencoba menghilangkan perasaan mengganjal ini sebisanya, namun apa daya, bahkan saat mata kuliah berlangsung, perasaan tidak enaknya masih tetap muncul.


Chizuru juga mencoba mencari Ryuuji di kampus tapi tetap saja tidak menemukannya di manapun. Mencoba untuk menghibunginya dengan chat, Ryuuji juga tidak menjawab. Bahkan setelah sampai di rumah pun Ryuuji sama sekali tidak merespons saat Chizuru mengetuk pintu.


Menyerah, saat ini Chizuru sedang berbaring di kasurnya hanya mengenakan tank top dan ****** *****.


'Apakah benar-benar seperti ini?'


Menghilangkan perasaan gelisahnya, ia membuka Diamond di ponselnya. Sebenarnya adalah kebiasaan Chizuru untuk mengecek Diamond setiap waktu. Lagi pula itu adalah pekerjaannya. Ada beberapa pesanan. Chizuru melihat daftar paling atas. Itu pesanan dari VIP bintang lima dengan durasi kencan seharian sekitar 12 jam. Waktu kencannya adalah hari Sabtu, besok. Pembayarannya tercatat 80.000 Yen dan lunas. Bagi Chizuru, sangat jarang ada pelanggan yang membayar di muka, apalagi dengan bonus dan tanpa tuntutan apa-apa.


Rata-rata pelanggan VIP mempunyai tuntutan harus berperilaku seperti apa, berpakaian seperti apa dan sebagainya sesuai batas ketentuan penyedia layanan, Diamond. Namun, orang ini, Watanabe Akira tidak menuntut apapun.


Hal baik datang, tentu saja Chizuru menerimanya. Lagi pula dia bukanlah orang munafik, dia tentu saja suka uang. Apalagi pelanggan VIP harus dilayani lebih dahulu. Suasana hatinya cukup baik sekarang sampai ia teringat Ryuuji.


Menghela napas, ia menaruh ponselnya dengan malas dan melihat tembok yang sebelahnya adalah ruangan Ryuuji.

__ADS_1


'Apakah besok dia akan menanyaiku seperti biasa ya?'


Dengan perasaan gelisah dan pikiran yang mengembara, Chizuru tertidur dengan lelap.


__ADS_2