My Good-looking Neighbor

My Good-looking Neighbor
Ch 5 : Tanpa Kecanggungan


__ADS_3

Di kantin kampus.


"Dan begitulah, hatiku terasa kosong. Sialan!" Keiji meringkuk di meja.


"Terkadang aku juga merasakannya. Anime romance terkadang meninggalkan bekas kekosongan setelah menontonnya sampai tamat." Ryuuji membalas setelah meminum es teh nya.


"Bukankah solusinya mudah? Cukup cari pacar yang baik. Heh." Kata Yoshio sambil menatap licik kedua temannya.


"Dasar bajingan tampan." Keiji membalas.


Ryuuji sedikit setuju dengan omongan Yoshio. Tampan kah? Yoshio adalah pria yang tampan, dia juga tinggi, tidak setinggi Ryuuji dan Keiji, tapi hampir sama. Mereka bertiga adalah pria dengan kategori tampan, tapi tidak populer. Ryuuji berpikir demikian.


"Kau juga tipe tampan, bodoh." Kata Ryuuji menatap Keiji.


"Sialan! Aku tahu. Kita bertiga adalah pria keren disini. Tapi kenapa keberuntungan kita tidak keren." Jawab Keiji tidak terima.


"Jangan masukkan aku, aku sudah punya pacar." Kata Yoshio.


"Bangsat! Aku ingin kencaaann!!! Menghabiskan waktu bersama para pria seperti kalian, aku merasakan hambar di perutku." Keiji mengeluh.


"Kenapa tidak mengajak teman perempuanmu? Aku yakin kau punya banyak kenalan." Ryuuji membalas.


Keiji melihat Ryuuji sebentar, memikirkan apa yang dikatakan temannya. Dan dia merasa itu ide bagus.


"Ryuuji, kau memang sahabatku. Jangan dapatkan pacar sampai aku kencan, bro." Keiji melingkarkan tangannya di leher Ryuuji dengan ceria.


"Geh."


'Tapi, pacar kah?' Pikir Ryuuji.


Tiba-tiba wajah Chizuru terproyeksi di pikiran Ryuuji. Ryuuji terkekeh dalam hati. Terlalu cepat. Mereka bahkan baru bergaul selama beberapa hari. Apa jangan-jangan ini cinta pada pandangan pertama? Banyak yang bilang cinta pandangan pertama adalah cinta yang tidak murni karena hanya melihat dari penampilan fisiknya saja. Tapi peduli setan dengan itu. Good-looking adalah privilege.


Namun, begitu ia teringat kemarahan Chizuru yang tidak jelas, Ryuuji menyingkirkan pikiran itu.


...


Pulang dari kuliah, Ryuuji menuju rumah sakit dengan sepeda motornya. Sebelum masuk rumah sakit dia membeli beberapa bunga di toko bunga di dekatnya.


"Aku bilang tidak usah membeli bunga setiap kali kau datang kesini, bocah."


Kakek Ryuuji, Shinjo Naoki, berkomentar sinis saat melihat cucunya masuk ke kamar membawa seikat bunga.


"Aku tahu kau akan mengatakan itu sepanjang waktu, lagi pula ini untuk perawat."


"Ha??"


"Aku bilang ini untuk perawat. Ck ck. Aku merasa tidak enak dengan mereka karena merawat orang tua kaku dan cerewet sepertimu. Yah itu tidak bisa ditolong."


"Jika saja aku diizinkan untuk keluar dari tempat tidur sekarang, aku akan memukulmu dengan tongkat kendo."


"Hah?? Aku yakin kau bahkan tidak akan bisa menyentuhku sekarang jika kita sparing." Ryuuji berkata sambil meletakkan tasnya, mengambil kursi dan duduk di samping kasur.


"Ck. Cucu yang sombong. Kita lihat saja setelah aku diperbolehkan keluar dari sini." Naoki mencibir dengan seringaian penuh semangat.


"Heh, coba saja." Ryuuji juga membalas dengan seringai. Ia juga mengeluarkan buah-buahan dari tasnya dan meletakkannya di meja di dekatnya.


"Jadi di mana mereka?" Tanya Ryuuji dengan wajah datar.


Naoki menghela napas atas tanggapan cucunya.


"Mereka sibuk."


"Yah, itu agak disayangkan."


Ryuuji sebenarnya tidak terlalu ingin bertemu orang tuanya, kecuali ibunya. Karena ibunya menikah lagi, dia tidak terlalu nyaman dengan ayah barunya. Bukannya tidak suka, ia hanya tidak nyaman.


"Jadi bagaimana kuliahmu? Kau menikmatinya?" Tanya Naoki.


"Kau bisa mengatakannya seperti itu."


"Bagaimana?"


"Well, di beberapa titik aku menikmatinya, tugas dan kerja. Itu lancar. Hanya saja banyak klien yang menyebalkan yang tiba-tiba meminta revisi di saat sebagian besar hal sudah diselesaikan."


"Selain itu, pacar??"


Ryuuji tertegun sedikit dengan pertanyaan kakeknya. Dia teringat dengan wajah Chizuru. Namun di sisi lain ia teringat kemarahan aneh Chizuru terakhir kali.


"Aku yakin ada beberapa gadis menyukaimu kan?"

__ADS_1


"Peduli setan dengan itu. Hanya saja, si Yoshio, dia sudah memiliki pacar sekarang."


"Lihat, temanmu sudah mendapatkan pacar. Dan kau? Apa gunanya wajah dan badan kerenmu itu? Ck ck."


Ryuujii diam sejenak.


"Sebenarnya, ada gadis yang baru aku kenal."


"Oho? Bagaimana? Apakah dia cantik?"


"Menurutku,..hmm, well, dia sangat cantik."


Mata Naoki berbinar mendengar perkataan cucunya.


"Jadi siapa namanya?"


"Ichinose Chizuru."


"Hmmm, Ichinose Chizuru. Chizuru kah? Nama yang bagus. Dan, sepertinya aku pernah mendengar nama ini tapi...lupakan. Bagaimana kalian bertemu?"


"Aku membantunya."


Penjelasan ambigu dan singkat Ryuuji membuat Naoki mengernyitkan dahi.


"Dan kebetulan, dia adalah tetanggaku."


Sekali lagi mata Naoki berbinar.


"Heh, itu bagus. Kejar saja nak."


"Kau tahu aku tidak bisa terlalu agresif. Lagipula aku baru mengenalnya."


"Hahahaha, pelan-pelan saja."


"Yah, tapi sepertinya dia marah padaku tiba-tiba."


"Cih, masa muda. Ceritakan saja nak."


...


Setelah beberapa jam bergelantungan di kamar kakeknya dan mengobrol banyak hal, Ryuuji pulang. Dia mendapat beberapa wejangan bagus.


'Yah, mungkin akan aku coba.'


Sesampainya di depan pagar apartemen, ia melihat gadis cantik berjalan keluar. Itu adalah Chizuru. Dia menghentikan motornya dan menyapanya.


"Keluar?"


Chizuru melihat Ryuuji dengan curiga. Bagaimana tidak, ia memakai helm full face dengan jaket hitam dan sarung tangan hitam. Chizuru hanya diam dan sedikit menjauh, terlihat akan segera meninggalkannya. Lagipula Chizuru belum pernah melihat Ryuuji keluar menggunakan motor sebelumnya. Melihat tingkahnya, Ryuuji melepas helmnya.


"Ah, I'm your friendly neighborhood, Spiderman."


Setelah melepas helm nya, Chizuru bisa melihat wajah tetangganya yang baru ia kenal. Dia agak lega itu bukan orang asing yang aneh. Tawa kecil keluar setelah mendengar Ryuuji dengan bahasa Inggris.


Chizuru teringat wajah dingin Ryuuji terakhir kali. Dan kali ini ia melihat wajahnya dengan ekspresi hangat. Jadi meskipun agak pahit, Chizuru melupakan kesalahannya karena kemarahan yang tidak jelas terakhir kali, dan akan meminta maaf saat suasana lebih bagus.


"Jadi, aku adalah Mary Jane sekarang?"


Ryuuji terkekeh mendengarnya.


"Kamu berdandan dan terlihat lebih cantik dari biasanya. Kencan atau bekerja?"


Ryuuji menyandarkan tangan dan kepalanya di helm yang diletakkan di tangki motornya. Chizuru agak malu mendapatkan pujian langsung seperti itu. Dia juga agak kaget Ryuuji menyebutkan 'bekerja'.


"Y-Yah, sesuatu seperti itu. Dua-duanya."


Ryuuji agak sakit mendengarnya. Apalagi setelah membicarakan tentang mendapatkan Chizuru dengan kakeknya.


"Siapapun pria itu, dia benar-benar beruntung."


Ryuuji tersenyum penuh arti.


"Ah, mungkin."


Chizuru tersenyum canggung. Suasana yang humoris tiba-tiba menjadi canggung. Ryuuji tahu ini karena perkataannya. Ia menghela napas.


"Mau aku antar sampai tempat pertemuan? Jika ditanya anggap saja aku sebagai uber atau seseorang dari jasa transportasi."


Chizuru tersenyum kecil sebagai tanggapan. Chizuru tidak keberatan dengan saran Ryuuji, lagi pula itu akan menghemat waktu.

__ADS_1


"Hmm, mungkin sampai stasiun saja."


"Oke, tunggu di sini sebentar. Aku akan mengambil helm lain di kamarku."


...


Ryuuji sekarang sudah berada di kamarnya, menatap dual monitor di depannya. Dia baru saja menyelesaikan ilustrasi dari klien menyebalkannya. Merasa cukup lelah, ia melepas headsetnya, dan berbaring di kasur tanpa mematikan komputernya. Ia menatap langit-langit dengan tatapan kosong. Pikirannya tenggelam dengan bayangan Chizuru.


'Jadi dia sudah punya pacar kah?'


Membuka ponsel, dia melihat hari sudah larut. Seketika, ia teringat balok malang yang hancur karena lemparannya.


'Aku lupa membelinya.'


Dia berguling dan melihat gitar listriknya bersandar bersama gitar akustiknya. Terlihat seperti pasangan.


'Geh, pikiran yang aneh.'


Entah kenapa dia merasa ingin memainkan gitar dan bernyanyi. Bangkit dari kasur, ia mengambil gitar akustik, duduk di balkon, dan memetik gitarnya dengan melodi yang indah. Intro sudah dimainkan dan sekarang ia bernyanyi. Lagu yang mainkannya adalah When I Was Your Man dari Bruno Mars.


Permainan gitarnya yang bagus dan suaranya yang indah tentu saja akan menarik perhatian tetangga. Karena musik dan suaranya yang indah tetangga tidak keberatan dengan Ryuuji memainkan musik selama tidak berlebihan.


"Permainan gitar dan suaramu bagus, senpai."


Suara lembut seorang gadis terdengar begitu seluruh lagu selesai. Ryuuji agak kaget. Dia terlalu terbawa suasana oleh lagu yang dimainkannya. Ia melihat ke arah sumber suara. Ia melihat gadis yang memakai baju tidur imut bersandar di tepi balkon dengan tangan.


"Ichinose?"


"Ya, ini aku."


Ryuuji meletakkan gitarnya dan berjalan mendekat.


"Kapan kamu pulang?"


"Sekitar 30 menit yang lalu. Aku mengetuk pintumu, dan kamu tidak keluar. Aku kira kamu tidur atau pergi keluar. Dan saat aku bersantai, aku mendengar seseorang memainkan gitar dan bernyanyi di balkon."


Ryuuji mengingat-ingat. Sekitar 30 menit. Dia sedang mengerjakan pekerjaan dan tugas sambil mendengarkan musik dan tidak mendengar ketukan pintu.


"Ah, aku sedang bekerja sambil mendengarkan musik tadi. Maafkan aku."


"Tidak apa-apa." Chizuru tersenyum.


"Omong-omong, ada apa mencariku tadi?"


"Ah aku membeli beberapa jajanan sebelum aku pulang, sebentar."


Chizuru masuk ke ruangannya.


"Tada!! Ini untukmu."


Chizuru menyerahkan kantong plastik putih dengan senyuman yang menghangatkan.


"Hmmm, mari kita lihat. Cheesecake dan... yakitori?"


Ryuuji sedikit mengangkat alisnya dan berhenti berbicara. Ia menatap Chizuru.


"Yap."


Ryuujii melihat lagi isi kantong plastik yang dibawanya. Ia tersenyum hangat.


"Mengejutkan melihat seorang tetangga yang baru aku kenal membawakan makanan yang aku suka ada di sini. Terima kasih."


Tatapan hangat jatuh ke Chizuru. Chizuru sedikit tersipu. Ia tidak menyembunyikannya dan langsung menenangkan diri.


"Senang kamu berkata begitu, senpai."


Melihat Chizuru tersenyum manis, Ryuuji tertegun. Ia berpikir senyumannya hari ini sangat indah. Ia menghela napas dan terkekeh.


"Jadi bagaimana kencanmu hari ini?"


Saat itu, wajah Chizuru terdistorsi. Ryuuji tahu setelah mengetahui wajah itu. Dia mengacaukannya lagi. Ia menghela napas lagi. Dia akan mengalihkan topik ke yang lain setelah Chizuru menjawab.


Chizuru menatapnya seolah akan mengatakan sesuatu yang penting.


"Itu..."


Chizuru mengalihkan pandangannya.


"Yah, biasa saja. Tidak ada yang spesial."

__ADS_1


__ADS_2