
"Eeeehh~~ Apa yang aku lakukan kah?" Tanya Ryuuji dingin.
Tatapan dingin dan tajam menusuk Kazuya. Sebenarnya, kali ini lebih intens daripada saat Chizuru marah tanpa alasan yang jelas kepada Ryuuji sebelumya. Ada alasan pribadi yang terlibat saat ini.
Kinoshita Kazuya, nenek yang dirawat di rumah sakit yang sama dengan kakek Ryuuji dan nenek Chizuru, nenek Chizuru yang heboh saat di rumah sakit mengumumkan kalau cucunya sudah memiliki pacar. Tentu saja semuanya bisa terlihat jelas.
"J-Jawab!" Tegas Kazuya.
"Sebelum aku menjawab, Kinoshita Kazuya, kau siapa?" Tatapan Ryuuji masih sedingin es.
Kazuya tentu saja tidak akan menyangka bahwa pria menyeramkan di depannya akan mengetahui namanya. Jadi dia terkejut dan semakin ketakutan.
Chizuru yang diam di belakangnya juga tersentak. Bukan karena Ryuuji yang mengetahui nama Kazuya, tapi ada suatu hal lain.
"Senpa-" Chizuru berinisiatif menjawab, tetapi..
"Aku kekasihnya!!" Kazuya langsung memotongnya.
Sebelum Chizuru menjawab, Kazuya memotongnya dan mengatakan dengan lantang bahwa Chizuru adalah pacarnya. Ryuuji menatapnya sejenak dan melihat keduanya.
"Ano, Senpai, dia adala-" Chizuru bermaksud mengklarifikasi.
"Oh, jadi ini adalah pacarmu ya, Ichinose?" Tanya Ryuuji tenang.
"Ah itu-"
"Iya, dia adalah pacarku!" Potong Kazuya.
Ryuuji hanya menghela napas dan menghilangkan tatapan kematiannya. Ia kemudian tersenyum dan berjalan mendekat ke Kazuya.
"Ichinose maafkan aku, tapi aku harus memberi beberapa nasehat kepada pacarmu ini. Kinoshita Kazuya, aku Shinjo Ryuuji. Tetangganya Ichinose. Aku tinggal tepat di sampingnya. Aku tahu tadi kau ingin melindungi pacarmu, ya itu bagus tapi, tolong sedikit perbaiki tingkahmu yang langsung menghakimi seseorang."
Kazuya yang sekarang agak menciut karena Ryuuji yang mendatanginya menjadi terkejut dengan apa yang dikatakan Ryuuji.
Ryuuji menepuk ringan pundak Kazuya dua kali dan kemudian berjalan melewatinya dan menghampiri Chizuru.
"Well, semoga lancar dengan kencannya. Kalau begitu aku akan masuk dulu, selamat sore!"
Ryuuji berkata seperti itu dengan senyuman yang terlihat sangat ramah. Tidak tahu apakah itu palsu atau tidak. Setelah mengatakan itu, Ryuuji tidak mengatakan apa-apa lagi dan menutup pintunya tanpa melihat kebelakang.
Chizuru memiliki wajah agak sedih sekarang. Karena sepertinya ia membuat Ryuuji tidak nyaman lagi. Meskipun ia tahu, Kazuya adalah sumber dari sikap dinginnya tadi. Tapi Chizuru tidak akan hanya menutup mata, karena ia tidak mencoba dengan keras untuk mencegah Kazuya. Jadi, ia merasa bersalah lagi. Akhirnya ia hanya menghela napas dan menyeret Kazuya ke depan.
"Huff, Kazuya-kun. Ayo ke depan dulu."
Kazuya yang membeku hanya mengangguk dan mengikuti Chizuru turun dari lantai dua dan menuju ke depan.
"Apa yang kau lakukan tadi bertindak gegabah seperti itu?"
Chizuru menanyainya tanpa ada nada marah, hanya saja wajahnya sangat serius saat ini.
"A-Apa orang tadi b-berbahaya?" Tanya Kazuya panik.
__ADS_1
Chizuru hanya menghela napas menyerah melihat Kazuya panik.
"Bukan itu. Ryuuji-senpai adalah orang yang baik, sangat baik." Kata Chizuru.
"Ryuuji-....senpai?"
"Dia mahasiswa tahun kedua di universitas kita." Jelas Chizuru.
"B-Bukan itu yang aku maksud." Kazuya mengalihkan pandangannya.
"Lalu? Ah lupakan. Ini kedua kalinya aku melihat ekspresinya yang seperti itu. Kacau." Kata Chizuru dengan nada pasrah.
"Kedua kalinya?"
Chizuru tidak menjawab rangkaian pertanyaan bingung Kazuya dan hanya menatapnya sambil menghela napas sekali lagi.
'Aku mengacau.' Pikir Chizuru sambil melihat apartemennya. Ekspresinya terlihat sedih.
***
Keesokan harinya, pukul 8 pagi setelah insiden perang mental di depan ruangan. Ryuuji sedang berada di tempat parkir, bersiap-siap untuk menyalakan sepeda motornya untuk menepati janji 'kencan' hari ini bersama Mami.
Namun, karena kemarin, mood Ryuuji cukup berantakan hari ini. Tapi bagaimana lagi, janji adalah janji. Ryuuji tidak akan menarik kata-katanya kecuali mendesak.
Beruntung ia tidak menemui Chizuru hari ini. Karena ia mungkin tidak tahu bagaimana menghadapinya setelah kemarin.
'Kita menjauh lagi ya setelah terakhir kali.'
***
Sekarang Ryuuji sudah duduk di kafe favoritnya dan meminum minuman favoritnya juga, Red Velvet Latte. Mami belum terlihat dari sudut mata memandang. Bukannya ia terlambat, tapi Ryuuji lah yang datang lebih awal yang merupakan kebiasaannya.
Tidak menunggu lama, dalam 10 menit, Mami datang dengan pakaian yang imut. Ia memakai mini dress yang tidak terlalu ketat dan tidak terlalu menonjolkan bentuk tubuhnya. Jujur saja itu terlihat imut dipakainya. Ryuuji pun setuju dengan hal ini.
"Apakah kamu menunggu lama, senpai?" Tanya Mami.
"Tidak, hanya sekitar 20 menit, aku juga menikmati diriku sendiri di sini. Duduklah!" Jawab Ryuuji santai.
"Berarti kamu menunggu lama, senpai! Maaf aku terlambat!" Bantah Mami sambil duduk dan membungkukkan badannya.
"Kau datang lebih awal, hanya saja aku yang datang duluan, jadi tidak perlu meminta maaf." Kata Ryuuji.
"Baiklah kalau itu maumu, senpai."
Mami menegakkan badannya dan tersenyum manis. Senyumannya terlihat indah dan lucu. Jujur saja Ryuuji mengapresiasi betapa cantik dan imutnya gadis di depannya. Berdasarkan penampilan luarnya, memang pantas untuk memiliki diehard fans yang membelanya.
"Jadi, ingin memesan dulu atau, langsung membeli laptopmu?" Tanya Ryuuji sambil menyedot minumannya.
"Bagaimana menurutmu, senpai?" Mami bertanya balik sambil tersenyum.
"Hmmm, mungkin memesan dulu. Istirahat sebentar dari perjalananmu ke sini. Pesanlah apa saja, aku yang traktir." Jawab Ryuuji.
__ADS_1
"Ya, sepertinya aku akan menuruti saranmu, senpai." Mami merespons dan mengambil buku menu. Ia memesan cokelat dingin dan strawberry cake yang terkenal di sini.
Setelah selesai dengan apa yang mereka lakukan di cafe, keduanya membayar dan berangkat untuk mencari laptop yang akan dibeli Mami. Keluar dari cafe, Ryuuji dan Mami berjalan berdampingan.
"Kita kemana, senpai?" Tanya Mami penasaran.
"Toko pakaian." Jawab Ryuuji santai.
"Hmm?" Mami memiringkan kepalanya.
Reaksinya sederhana tapi terlihat imut. Orang cantik memang berbeda. Dengan perbedaan tinggi yang lumayan jauh, Ryuuji menoleh ke samping kanan bawah di mana Mami berjalan.
"Aku mengendarai sepeda motor." Jawab Ryuuji.
"Oohh, sepeda motor. Tapi aku tidak membawa helm dan memakai mini dress." Mami bereaksi khawatir.
"Yah, aku sudah menduga itu, jadi aku akan membelikanmu baju. Dan aku membawa dua helm. Jadi jangan khawatir." Ryuuji tersenyum lembut.
Skenario ini mirip saat Ryuuji berkencan dengan Chizuru. Tentu saja ini akan mengingatkannya meskipun tidak terlukis di wajahnya.
Setelah perdebatan kecil ya dan tidak antara Ryuuji dan Mami, akhirnya mereka bergelantungan di toko baju untuk membeli set pakaian untuk Mami. Begitu menemukan baju yang cocok, jeans dan kaos, Mami bersikeras untuk menggantinya, lagipula semua ini berada di luar ekspetasi Mami. Tapi kalian tahu bagaimana Ryuuji, dia menolak dengan keras sehingga usaha Mami gagal.
Kalian tahu, karena inilah Ryuuji menjadi magnet wanita. Bukan bagi wanita tidak dikenal, tapi bagi wanita yang kenal Ryuuji. Level perhatiannya cukup tinggi. Hanya saja yang membuat sakit hati adalah Ryuuji melakukan ini kepada semua temannya tidak terkecuali. Entah itu pria atau wanita. Mungkin akan berbeda setelah ia memiliki pacar? Siapa yang tahu?
Setelah tur toko baju, mereka akhirnya berangkat ke pusat perbelanjaan dalam 30 menit perjalanan. Saat ini Ryuuji dan Mami sudah di dalam mall dan berada di lantai 2. Ada toko komputer yang cukup bagus dan lengkap di sana. Langganan Ryuuji.
"Ei boss!" Sapa Ryuuji.
Saat itu salah satu dari 3 orang resepsionis menengok. Orang itu berkulit gelap dengan rambut gimbal yang keren. Ia membenarkan kacamatanya dan sedikit menyipit, melihat ke arah Ryuuji datang.
"Ohhh, ma boi, Ryuu!!" Jawab 'boss' dengan antusias.
'Boss' berdiri dan membentangkan kedua tangannya. Ryuuji mengangkat kedua tangannya ke atas dan mendekati boss. Setelah itu mereka melakukan salam tinju yang khas. Mami yang berdiri di belakang Ryuuji hanya terdiam dan tersenyum tipis melihat interaksi mereka.
"Sudah lama kau tidak kesini. Tidak ada klien yang meminta untuk merakit PC mereka?" Boss bertanya sambil duduk.
"Begitulah. Aku sibuk akhir-akhir ini. Jadi hanya bisa menutup komisi." Jawab Ryuuji sambil mengambil kursi seperti barstool di dekatnya dan duduk dengan santai. Ia juga mengambilkannya untuk Mami. Menyeret kursi ke sampingnya dan menepuk permukaan kursi bersamaan dengan menengok ke Mami. Menyadari kode gestur Ryuuji, Mami akhirnya duduk.
Sudah mendengar jawaban pelanggan setianya, Boss mengangguk dan sekali lagi membenarkan kacamatanya. Pandangannya beralih ke Mami dan melirik Ryuuji sambil tersenyum tipis.
"Ah, boss ini Nanami Mami. Dan Mami, ini boss Dante Masato. Panggil saja bos, dia suka itu." Ryuuji memperkenalkan keduanya.
"Senang berkenalan dengan anda, boss!" Mami berdiri dan membungkuk.
"Oh, senang juga bisa melihat teman Ryuu mampir ke sini." Dante menganggukkan kepalanya.
Mami tersenyum dan duduk kembali.
"Jadi aku berasumsi, PC atau laptop untuk nona muda ini?" Tebak Dante.
"Ya, tolong carikan untuk budget yang terjangkau dengan spek kantoran yang agak tinggi." Jawab Ryuuji. Ryuuji menengok ke Mami untuk konfirmasi. Dan Mami mengangguk menunjukkan konfirmasinya.
__ADS_1