
"Eh, kamu?" Jeda pada suara Ryuuji menarik perhatian gadis itu.
"Gadis yang kemarin??"
Gadis itu berbalik melihat pemuda tinggi yang menyapanya. Saat tatapan mereka bertemu gadis itu terkejut dengan apa yang dilihatnya. Dia menyadari kalau pemuda tinggi di depannya adalah pemuda yang membantu memungut barangnya kemarin. Dia bertanya-tanya bagaimana pemuda ini mengenalinya dengan cepat meskipun perubahan penampilannya cukup drastis. Hari ini dia tidak memakai kacamata. Begitu pula Ryuuji.
'Sungguh suatu kebetulan.' Pikir keduanya.
"Selamat pagi!" Gadis itu membungkuk menyapanya.
"Terima kasih atas bantuannya kemarin."
Ryuuji yang sedikit tertegun dengan penampilannya tersadar.
"Ah...Selamat pagi! Yah itu bukan apa-apa. Aku yakin akan ada seseorang yang menolongmu jika menemui situasi yang sama."
Bertemu secara mendadak, Ryuuji tiba-tiba bingung untuk berbicara. Tatapan Ryuuji beralih ke pinggang gadis itu. Itu adalah tas yang sama yang dipakai Ryuuji sekarang. Hanya saja berbeda warna. Milik Ryuuji berwarna hitam, dan milik gadis itu berwarna putih.
"Berangkat untuk olahraga pagi?" Tanya Ryuuji dengan sesantai mungkin, menyembunyikan kebingungannya.
Gadis itu melihat Ryuuji dan tersenyum.
"Iya. Kamu juga?"
"Yap. Aku akan berolahraga di taman dekat sini."
"Ah, aku juga akan ke sana."
Gadis itu mengangkat alis sedikit terkejut. Ryuuji tertawa kecil saat mengalami kebetulan ini. Bagaimana tidak, bertemu kemarin, gedung apartemen yang sama, keluar di jam yang sama, dan akan berolahraga di tempat yang sama.
"Mau berangkat bersama?" Ryuuji bertanya menaruh tangan kanannya di pinggang.
"Tentu saja, mengapa tidak." Gadis itu tersenyum.
Setelah mengunci pintu, mereka berdua berjalan bersama menuju taman.
"Aku sungguh tidak menyangka gadis kemarin adalah tetanggaku." Ryuuji membuka pembicaraan sambil terkekeh.
"Aku juga tidak menyangkanya sama sekali. Kebetulan yang aneh."
Suasananya agak canggung karena mereka baru saja bertemu. Setelah jeda canggung yang singkat, Ryuuji angkat bicara.
"Karena kita bertetangga, lebih baik mungkin kita berkenalan satu sama lain?"
"Bukankah biasanya begitu?" Gadis itu sedikit tertawa sambil melihat ke atas ke wajah Ryuuji.
Ryuuji membalas tatapannya dan terkekeh. Dia berpikir gadis ini cukup menyenangkan, seolah mengkode untuk ia mengenalkan diri terlebih dahulu.
"Aku Shinjo Ryuuji, mahasiswa tahun kedua jurusan animasi. Senang berkenalan denganmu." Ryuuji mengulurkan tangan kanannya untuk berjabat tangan.
Melihat respons cepat Ryuuji terhadap kodenya, gadis itu tertawa kecil.
"Saya Ichinose Chizuru, mahasiswa tahun pertama jurusan sastra. Senang berkenalan denganmu juga, senpai." Chizuru menjabat tangan Ryuuji dengan senyuman ramah.
"Jangan terlalu formal kepadaku. Dan Chizuru? Itu nama yang lucu." Ryuuji tersenyum dan Chizuru tiba-tiba melepaskan tangannya. Ryuuji melanjutkan berjalan.
"E-eh??" Chizuru sedikit tergagap, dia membeku dan tersipu. Dia menatap Ryuuji yang sudah berjalan.
Ryuuji berhenti dan melihat ke belakang.
"Apa yang kamu tunggu?"
Ketika Ryuuji berbalik, Chizuru tersadar. Dan berlari kecil menuju samping Ryuuji.
"Omong-omong senpai, bagaimana kamu mengenaliku?"
Pertanyaan Chizuru membuat Ryuuji menatapnya dengan heran. Bagaimana mengenalinya?
"Hmm. Dari wajahmu."
Chizuru mengernyit.
"Tidak, maksudku, aku kemarin berpenampilan berbeda. Bagaimana kamu mengenaliku pada pandangan pertama? Karena orang-orang di sekitarku tidak menyadari perubahan penampilanku sama sekali."
__ADS_1
Ryuuji tersadar begitu penjelasan keluar dari mulut Chizuru. Dia juga sedikit terkejut.
'Orang-orang tidak menyadarinya? Mereka buta atau bagaimana?'
"Ah, kalau dipikir-pikir benar juga. Ingin jawaban jujur atau jawaban bohong?"
"Tentu saja jawaban jujur."
"Mungkin kesannya agak tidak sopan, bolehkah?"
Chizuru mengangguk.
"Ahem, karena..kamu cantik." Ryuuji berkata agak canggung dan menghindari tatapan Chizuru.
Chizuru juga langsung menghindari tatapannya. Dia agak tersipu, pipinya menunjukkan rona merah muda.
"C-Cantik?" Chizuru bergumam pelan sambil menenangkan diri.
"A-Ah maafkan aku. Kemarin aku terlalu memperhatikanmu. Karena itu wajah canti- ugh."
Tidak butuh waktu lama sebelum tinjuan Chizuru menahrak perut Ryuuji. Chizuru menunduk untuk menyembunyikan wajahnya.
"I-Itu sudah cukup, senpai!"
Wajah Chizuru masih merona merah. Sebelumnya dia tidak pernah mendapatkan pujian atas penampilan kutu bukunya. Baru kali ini ia mendapatkan pujian langsung dari orang lain, terutama pria. Begitu ia meninju Ryuuji, Chizuru langsung menoleh ke arah berlawanan dari Ryuuji.
Ryuuji menatapnya, ia bisa melihat samar rona merah muda yang mempesona di wajah cantiknya.
Perjalanan mereka ketaman bisa dikatakan cukup canggung.
Begitu sampai di taman mereka meletakkan tas di meja piknik di taman dan melakukan pemanasan bersama. Setelah pemanasan selesai, Chizuru bertanya ke Ryuuji.
"Ah aku lupa menanyakannya tadi, karena senpai sudah menjawab jawaban jujur, apa jawaban bohongnya?"
Ryuuji melirik Chizuru.
"Kamu benar-benar ingin mendengarnya? Meskipun agak mengganggumu?"
Chizuru berpikir sejenak.
"Kamu yakin? Kamu tidak akan menyalahkanku?" Ekspresi Ryuuji sudah menunjukkan keengganan.
Chizuru mengangguk dengan keras atas pertanyaan Ryuuji. Ryuuji yang melihat Chizuru dari atas ke bawah dengan cepat. Ia menghela napas berat sebelum menjawab.
"Itu karena tubuh indahmu." Jawab Ryuuji dengan wajah datar.
Wajah Chizuru langsung merona merah. Ia dengan refleks menjauh dari Ryuuji dan langsung menutup bagian dadanya dengan kedua tangannya. Kemudian tatapan tajam jatuh ke arah Ryuuji.
"Bukankah senpai cabul berat??"
Ryuuji menghela napas lagi menghiraukan Chizuru. Saat itu Chizuru tersadar. Rona merahnya menghilang.
"Eh? Kamu berkata itu jawaban bohong kan?"
Ryuuji hanya mengangkat bahu dan memutar matanya.
"Itu? Berarti tubuhku tidak indah??"
Tatapan Chizuru tajam. Ryuuji menatap gadis di depannya dengan penuh arti. Wajah Ryuuji menampilkan senyuman menggoda.
"Siapa yang bilang begitu?"
"Kamu bilang itu tadi jawaban bohong."
"Yaah, itu adalah kebohongan yang jujur."
Wajah Chizuru merona sekali lagi. Sedangkan Ryuuji tersenyum lembut.
"K-Kamuuu!!!!"
Saat itu Ryuuji sudah kabur untuk jogging. Chizuru mengejarnya. Dan mereka berakhir jogging bersama.
Setelah jogging, Ryuuji menuju lapangan basket untuk melakukan satu set latihan otot. Push up, back up, sit up dan pull up. Sedangkan Chizuru melakukan latihan kebugaran dan kelenturan tubuh ringan di dekat meja tempat mereka menaruh tas. Chizuru selesai lebih dulu. Setelah melakukan pendinginan, ia duduk dan membuka tasnya, mengambil handuk untuk mengelap keringatnya. Dia juga mengambil botol untuk minum dan mengambil sandwich untuk sarapan.
__ADS_1
Sambil makan, Chizuru melihat Ryuuji yang sedang melakukan sprint dari jauh.
'Sungguh, pria yang blak-blakan.'
Satu sandwich sudah habis, ia berniat untuk mengambil sandwich lain. Ia memutuskan untuk mengeluarkan kotak sandwichnya. Begitu Chizuru mengeluarkan kotak sandwich, tatapannya fokus ke tas dan jaket hitam di samping tasnya.
'Tas dan jaket itu benar-benar sama dengan milikku. Hitam dan putih. Kebetulan yang gila.'
Ketika pikiran Chizuru fokus ke tas dan jaket, suara seorang pria masuk ke telinganya.
"Sandwich untuk sarapan?"
Begitu Chizuru menengok ke sumber suara, Ryuuji sudah berdiri di tas hitam. Sambil mengunyah, Chizuru melihat sosok tinggi berotot penuh keringat di depannya. Ia mengangkat pakaiannya untuk mengelap wajahnya sehingga abs yang terbentuk di perutnya terlihat jelas. Chizuru segera melirik ke arah lain, dengan pipi agak merona.
"Kamu mau?" Tanya Chizuru.
Ryuuji melirik sambil mengelap keringatnya dengan handuk. Melihat dari atas, ia bisa melihat belahan dadanya lebih jelas. Ryuuji langsung mengalihkan pandangannya dan mengeluarkan kotak penuh sandwich.
"Sungguh kebetulan, aku juga membawa sandwich."
Mau tidak mau mereka heran. Bagaimana bisa banyak kebetulan terjadi dalam satu waktu.
"Geh, apakah kau diam-diam mengawasiku dari balkon, senpai?"
Nada dan wajah Chizuru berubah jijik. Ryuuji tahu kalau itu bercanda jadi dia tidak mengambil hati karenanya. Sebaliknya dia hanya duduk dan terkekeh.
"Kecurigaan yang cukup mendasar, tapi tidak. Atau jangan-jangan kamu yang mengawasiku diam-diam, kouhai?"
"Ugh, kamu benar-benar mengatakan itu kepada seorang wanita, senpai?"
"Dan kamu benar-benar mengatakan itu kepada seorang pria baik ini, kouhai? Lagi pula aku adalah orang yang mendukung kesetaraan."
"Geh, menyebalkan."
Mata Chizuru menyipit melihat Ryuuji membalasnya dengan wajah datar yang menyebalkan. Chizuru menghela napas.
"Jadi? Mau coba punyaku?" Chizuru mengulurkan kotak sandwichnya ke Ryuuji.
Ryuuji menoleh ke arah Chizuru. Dia melihat kotak sandwich miliknya dan milik Chizuru bergantian.
"Terima kasih. Kamu juga mau coba?"
Ryuuji mengambil sandwich di kotak Chizuru sambil mengulurkan kotak miliknya sendiri.
"Tentu saja, terima kasih."
Chizuru melihat isi kotak Ryuuji yang dipenuhi sandwich ukuran besar dan mengambil secara acak. Mereka melihat secara detail sandwich yang mereka ambil.
"Sepertinya kamu sangat suka daging, senpai. Lihat ada 5 lembar ham di dalam sandwichmu. Aku akan langsung gemuk setelah memakan ini."
Chizuru berkomentar dengan senyuman. Ryuuji hanya terkekeh mendengarnya.
"Lalu makan lebih banyak punyaku."
"Geh, tidak akan."
Ryuuji melihat sandwich milik Chizuru.
"Kamu membuat ini sendiri, Ichinose?"
"Iya, ada apa?"
"Terlihat lebih hidup dan berwarna. Ini imut."
Chizuru tertegun. Sekali lagi pipinya merona. Berapa kali dia dibuat malu-malu oleh pria ini?
"Ah, terima kasih." Chizuru mengalihkan pandangannya ke sandwich. "Baiklah, ayo kita makan."
Ryuuji tersenyum lembut.
"Itadakimasu!!"
"Itadakimasu!!"
__ADS_1
...
Setelah sarapan dan mengobrol, mereka berdua pulang bersama ke apartemen. Mereka juga sepakat untuk berangkat bersama ke kampus hari ini. Bisa dibilang hubungan mereka cukup cepat berkembang.