
Saat ini Ryuuji sudah berada di salah satu cafe yang biasa dia kunjungi hingga pelayan dan pemilik cukup mengenalnya.
Ryuuji sudah tertidur selama 1 jam di sini. Dan sembari menunggu sahabatnya datang, saat ini dia sedang mengerjakan naskah cerita untuk novelnya sambil menikmati red velvet latte dan beberapa tusuk yakitori. Dia juga beberapa kali menghisap pod nya.
Dia melihat jam di laptopnya. Sudah hampir pukul 6. Seharusnya tidak lama lagi mereka akan datang. Jadi Ryuuji memutuskan untuk memesan cappuccino mengganti red velvet lattenya yang habis sambil menunggu.
.
.
.
*Kling*
Lonceng di pintu kafe berbunyi. Ryuuji menengok ke arahnya dan melihat Keiji masuk. Dia terlihat bertanya dengan pelayan yang kebetulan ada di dekat pintu.
"Apakah ada yang memesan meja atas nama Shinjo Ryuuji?"
"Ah, Shinjo-san sudah menunggu di meja panjang nomor 12 sebelah sana."
Percakapan ini tidak didengar oleh Ryuuji.
Ryuuji melihat Keiji yang terlihat sedang bercakap-cakap dengan pelayan dan kemudian melihat ke arahnya. Saat tatapan mereka bertemu, Ryuuji hanya mengangkat salah satu tangannya. Keiji melihat kebelakang seakan mengajak yang lain masuk.
Sahabatnya sudah datang. Tapi ada tiga orang lagi di belakang kedua sahabatnya. Ryuuji tahu salah satunya yang merupakan pacar Yoshio dari jurusan desain grafis, Mikazuki Aiko. Namun yang lain? Dia tidak mengenalnya.
Mengamati mereka, tatapan Ryuuji jatuh ke gadis dengan penampilan yang menonjol. Gadis itu memiliki rambut pirang pendek dengan highlight berwarna merah muda di ujungnya. Tubuhnya ramping dan terlihat mungil walaupun tingginya hampir mirip dengan gadis berkepang pagi tadi. Meski terasa mungil, sepertinya tonjolan di bagian dadanya tidaklah mungil. Itu sedang, sedikit condong ke besar. Wajahnya cantiknya memiliki kesan imut dengan mata biru kehijauan yang indah. Seluruh penampilan luarnya mengeluarkan aura imut dan menggemaskan.
Selagi pandangannya mengikuti kelompok sahabatnya, mereka sudah sampai di meja Ryuuji. Ryuuji segera berdiri dan melakukan salam tinju dengan Keiji dan Yoshio. Setelah itu dia melihat pacar Yoshio dan tersenyum lembut. Yoshio agak merinding dengan senyuman Ryuuji yang membuatnya waspada.
"Bagaimana kabarmu, Mikazuki?" Tanya Ryuuji.
"Seperti biasa, lelah karena dikejar deadline." Jawab Mikazuki dengan ekspresi lelah.
"Bagaimana denganmu, Shinjo-san?" Lanjut Mikazuki.
"Yah, kau bisa melihatnya."
Ryuuji menjawab sambil menunjuk laptopnya dengan ibu jarinya. Mikazuki tertawa kecil melihat dan mendengar jawaban Ryuuji.
"Kita selalu di kapal yang sama, Shinjo-san." Kata Mikazuki.
"Ya, selalu."
Ryuuji tersenyum dan mengangguk dengan respons menyenangkan Mikazuki. Dia melihat sahabatnya, Yoshio yang terlihat seperti melindungi pacarnya dari binatang buas. Ryuuji terkekeh melihat tindakan sahabatnya. Bukannya karena apa, pesona Ryuuji secara alami keluar yang bahkan Keiji harus mengakuinya. Jujur saja Keiji juga agak merinding. Kemudian dia melihat dua gadis sisanya.
"Dan siapa ini?" Tanya Ryuuji seakan penasaran.
"Ah, mereka berdua dari tahun pertama..."
Saat Keiji memberikan jeda, mereka berdua mengerti.
"Saya, Yamori Chika dari jurusan Ilmu Komunikasi. Senang bertemu denganmu, senpai."
"Saya, Nanami Mami dari jurusan Hubungan Internasional. Senang bertemu denganmu, Shinjo-senpai."
__ADS_1
Mereka berdua sedikit membungkuk saat mengenalkan namanya.
"Senang bertemu dengan kalian juga. Aku Shinjo Ryuuji dari jurusan Animasi. Tidak perlu terlalu formal denganku."
Setelah perkenalan, tatapan Mami dan Ryuuji terikat. Mami tersenyum manis sambil sedikit memiringkan kepalanya. Ryuuji berpikir itu adalah gerakan kecil yang imut. Ryuuji membalas dengan senyuman.
"Oke, mari kita duduk dan memesan." Keiji mendadak menjadi host acara.
Ryuuji kembali duduk di tempatnya. Saat itu Mami berdiri di sampingnya dan bertanya.
"Bolehkah aku duduk di sampingmu, Senpai?" Mami bertanya dengan nada dan senyuman lembut.
Ryuuji melirik yang lain. Sahabatnya sudah duduk berdampingan ditambah dengan Mikazuki duduk di samping pacarnya. Hanya tersisa dua tempat duduk di samping Ryuuji. Dia menatap tajam kedua sahabatnya yang tidak memperhatikannya. Kemudian dia menoleh ke atas, ke arah Mami dengan senyuman tipis.
"Iya, silakan."
Setelah mereka semua duduk, Keiji bertanya kepada Ryuuji.
"Sangat sulit untuk menemukan kafe ini. Aku bertanya-tanya dari mana kau menemukannya?"
"Suasana dan interiornya juga bagus. Meskipun menunya agak mahal." Yoshio menambahkan.
Dengan pertanyaan Keiji dan Yoshio, yang lainnya juga tertarik. Mereka menatap Ryuuji dengan mata penasaran. Ryuuji dengan tenang meminum cappuccinonya dan menjawab.
"Yah, aku menemukannya saat jalan-jalan sendirian saat tahun pertama."
Jawaban yang sangat biasa keluar dari mulut Ryuuji. Dia kemudian menyesap cappuccino nya lagi.
"Untuk menunya, pesan saja. Aku yang akan membayarnya."
Mendengar ini, mata Keiji bersinar. Namun dia merasa merinding dengan tindakan Ryuuji. Yoshio juga merasakan hal yang sama. Setiap kali pesona misterius Ryuuji keluar, entah itu sengaja atau tidak, mereka selalu merasa ngeri.
"Iya, senpai. Tidak usah repot-repot." Mami yang duduk di samping juga mengajukan penolakan. Sedangkan temannya, Chika, mengangguk setuju dengan Mami.
Keiji dan Yoshio hanya diam. Melihat penolakan, Ryuuji menghela napas.
"Jangan sungkan. Aku bersikeras. Lagi pula aku yang bertanggung jawab untuk memilih kafe ini."
Mereka semua akhirnya mengikuti Ryuuji dan mulai memesan. Setelah menekan menu yang dipilih di tablet menu, tidak lama pelayan datang membawa pesanan mereka. Saat itu Ryuuji memberi tahu pelayan, kalau semua yang dipesan di mejanya berada di tagihannya.
...
Mereka berenam telah berbincang cukup lama, dan sekarang sudah sangat larut. Mami dan Chika berbisik pelan. Mami kemudian melihat jam tangan kecilnya.
"Senpai, sepertinya kami akan pulang duluan karena sudah larut. Terima kasih atas ajakannya." Mami angkat bicara.
"Ah, benar juga. Aku akan mengantar kalian" Kata Keiji.
"Tidak perlu repot-repot, Senpai. Setelah melihat maps, ternyata apartemen kami berada di dekat sini." Mami menolak dengan sopan.
"Baiklah kalau begitu, hati-hati."
Kedua gadis itu berdiri dan membungkuk untuk salam. Mereka lalu mengarahkan tubuh mereka ke Ryuuji.
"Terima kasih atas traktirannya hari ini, Senpai." Chika membungkuk lagi, kali ini sendirian.
__ADS_1
"Terima kasih sudah mentraktir kami, Shinjo-senpai." Mami membungkuk setelahnya.
Ryuuji melihat kedua gadis itu. Tatapan jatuh ke Mami dan terikat sekali lagi. Mami menunjukkan tatapan dan senyuman yang terlihat penuh arti. Mengabaikan itu, Ryuuji membalas mereka.
"Ya, hati-hati di jalan. Meskipun dekat, ini sudah malam." Jawab Ryuuji sambil mengangguk.
"Kalau begitu, kami duluan."
Setelah Mami menjawab, keduanya berjalan menuju pintu, dan melambai saat mereka keluar.
"Bagaimana? Mereka cantik bukan?" Keiji berpindah tempat dan menyandarkan tangannya di bahu Ryuuji.
"Ya, mereka cantik. Tapi kau tidak bilang kepadaku kalau mengajak mereka."
"Hm? Yaa, kau tidak bertanya."
Ryuuji mendecakkan lidahnya dan meminum red velvet latte yang baru.
"Man, kau sangat keren tadi." Keiji tiba-tiba memuji.
"Fyuh, bahkan aku juga sampai merinding. Kau lihat Nanami tadi? Tatapannya sering jatuh kepadamu." Timpal Yoshio.
"Geh, dasar tampan sialan. Bagaimana rasanya duduk di samping Kouhai cantik dan mendapat perhatiannya?" Keiji menambahkan sambil menyodok bahu Ryuuji.
Jujur saja Ryuuji tidak terlalu memperhatikannya. Lagi pula mereka baru berkenalan. Tapi bohong jika Ryuuji tidak tertarik dengan penampilan keduanya. Ya, mereka cantik. Terutama, Mami. Dari sekilas saja kau akan mengetahui kalau dia adalah top-tier.
"Aku tidak akan menolak mendapatkan perhatian gadis secantik dia. Aku bukan orang munafik. Tapi bukan berarti aku akan kegirangan dengan itu." Jawab Ryuuji dengan santai sambil mengangkat bahu. Kemudian senyum liciknya terlihat. "Lagi pula aku adalah pria yang tampan."
"Dasar bajingan." Keiji terkekeh mendengar tanggapan percaya diri temannya.
"Bukankah begitu Mikazuki?" Tambah Ryuuji sambil melihat Mikazuki dan beralih tatapan menggoda ke Yoshio.
Mikazuki terkejut, sedangkan Yoshio melayangkan jari tengahnya.
"Yah, Shinjo-san pasti sudah masuk ke standar pria tampan. Tapi pacarku di sini lebih tampan."
Mendengar tanggapan pacarnya, Yoshio menatap Mikazuki dengan tangan menutupi mulutnya.
Lalu dia memeluk Mikazuki.
"Aikooo!!!!" Yoshio memeluk Mikazuki sambil merengek.
"Yosh, yosh, yosh." Mikazuki mengelus kepala Yoshio dengan senyum manis di wajahnya.
Ryuuji dan Keiji yang melihat pemandangan ini mengernyit.
"Riajuu sialan." Ryuuji dan Keiji mencibir bersamaan.
...
Setelah pulang dari coffee hangout, Ryuuji tidur beberapa jam dan terbangun di pagi hari lebih awal. Matahari belum sepenuhnya terbit. Bangun dari tempat tidurnya, dia menyikat gigi dan berganti dengan setelan olahraga yang mengekspos otot lengannya dan betisnya.
Setelah memakai sepatu lari, dia keluar apartemen dan mengunci pintu. Dia membawa tas berisi air putih, protein dan beberapa sandwich. Dia berbalik dan melihat pintu apartemen sebelahnya terbuka. Seorang gadis keluar dari ruangan. Rambut cokelat panjangnya dikuncir kuda. Fitur wajahnya jelas menunjukkan bahwa dia cantik dan anggun. Tubuhnya ditutupi dengan jaket olahraga putih yang resletingnya tidak tertutup, menunjukkan setelan olahraga tanpa lengannya. Lekuk tubuh dan tonjolan besar di dadanya terlihat jelas namun agak samar.
Saat Ryuuji melihat wajahnya, dia teringat seseorang. Dia terkejut bukan main dalam hatinya.
__ADS_1
"Eh, kamu?" Jeda pada suara Ryuuji menarik perhatian gadis itu.
"Gadis yang kemarin??"