My Lovely Driver

My Lovely Driver
1


__ADS_3

"Bu, Pak Amar belum datang juga. Apa kita pesankan ojek online saja?"


Seorang sekretaris melirik ke arah jam tangannnya dan sang atasan bergantian. Tapi orang nomor satu dikantor tempat ia bekerja malah tampak tak peduli sambil terus menyeruput tehnya dari balik meja. Tak biasanya Pak Amar, supir pribadi Natasha seperti ini. Lelaki berusia 50 tahun itu biasanya selalu disiplin dan memberi kabar. Dan dua hari ini ponsel lelaki itu tak bisa dihubungi.


"Yaudah Ran, pesan driver online aja. Tapi jangan motor, panas ini" Perintah gadis bertubuh mungil itu salah satu orang kepercayaannya.


"Tapi Bu, acaranya hampir mulai di sana"


"Gak apa-apalah Ran. Ada Mbak Lastri disana. Everything is oke"


Jika bukan karena paksaan Ibu mungkin Natasha tak akan ada di gedung perkantoran sudah satu tahun ini. Retno, Ibunya ingin berhenti mengurusi brand kosmetik yang telah 8 tahun dibesarkannya, karena ingin lebih bersama sang suami yang di vonis kanker getah bening tahun lalu.


Natasha adalah anak perempuan satu-satunya. Sementara abang kandungnya telah lebih dulu punya perusahaan Travel sendiri.


Status pernikahan Nata yang baru bercerai tanpa anak di usia yang ke 28 kala itu, membuat Retno mengalihkan kekuasaan kepadanya. Agar sang putri punya kesibukan baru, tak lagi meratapi pernikahannya yang karam akibat sang suami yang tega berselingkuh.


Sebuah mobil minibus masuk ke parkiran kantor, driver online yang ditunggu.


"Tak biasanya Pak Amar tak memberikan kabar. Apa Ibu tak berencana mencari supir lain ?” Ucap Rani usai meletakkan beberapa dokumen, agar lebih leluasa didalam mobil.


"Kita tunggu sampai besok Ran, kalau tak ada kabar ya harus cari yang lain. Tapi.... Kayaknya bakal sulit cari yang seperti Pak Amar. Beliau itu disiplin, ramah, dan kadang suka ngobrol singkat tapi isinya ngena. Suka kasih nasehat tanpa menggurui. Kayak yang ngantar ayah sendiri"


Nata menyaksikan Vidio berisi iklan yang baru digarap oleh bagian marketing yang dikirimkan ke aplikasi massangernya. Tiba-tiba ada panggilan masuk dari nomor baru. Dengan ragu mengangkat panggilan itu dengan menyalakan speaker karena suara musik didepan kemudi yang sedikit mengganggu.


"Assalamualaikum Bu Nata"


"Pak Amar? Ini Pak Amar?


“Iya Bu”


“Ya Allah. Bapak kemana saja?"


"Saya kena musibah Bu, kemarin kecelakaan. HP saya rusak"


"Innalilahi. Bapak Gimana kabarnya sekarang"


"Alhamdulillah. Ini baru dioperasi. Sayangnya


saya harus berhenti beraktivitas, minimal satu bulan" Lelaki dibalik layar itu terdengar kepayahan saat berbicara panjang.


"Bapak dirumah sakit mana?"


"Gak usah dijenguk dulu Bu. Saya tau jadwal ibu Minggu ini padat. Makanya saya nelpon, kasihan ibu gak ada yang antarin kemana-mana"


"Gak apa-apa Pak, saya bisa pesan driver online dulu untuk 1 bulan ini. Saya tetap maunya sama Bapak kalau bapak sembuh nanti. Insyaallah cepat sembuh Pak ya!'


"Iya buk. Besok saya kirim anak saya kesana"


"Maksudnya?"


"Untuk satu bulan ini biar dia aja yang gantiin saya. Dia baru pulang kesini, baru siap kuliah. Lagi nunggu panggilan kerja"

__ADS_1


"O.. oke Pak. Boleh. Maaf ya belum bisa jenguk kesana"


"Iya. Gak apa-apa"


Panggilan dimatikan saat mereka tiba disebuah hotel berlantai enam dimana launching produk baru sedang berlangsung hingga malam hari.


***


"Bu. Mobil ibu kayaknya udah dibawah. Tapi saya gak lihat orang didalamnya"


Ujar Rani sambil melirik ke parkiran dari atas jendela kaca pagi ini.


"Gak apa Ran. Kan masih ada satu jam lagi ini. Kalau supirnya datang bilang saya dibawah mau kontrol keadaan karyawan"


"Baik Bu"


Perempuan berkulit putih langsat dengan rambut tergerai menutup pundak itu berjalan kearah lift. Secara fashion Natasha memang terlihat biasa saja untuk seorang Direktur Brand Kosmetik. Tapi kecantikan alami yang dimilikinya, bibir merona tanpa polesan pewarna bibir berarti, mata bulat nan tajam, alis yang alami terlihat begitu rapi, membuat apapun yang dikenakannya tetap tampak menawan. Walau hanya berbalut kemeja Maroon yang dibelinya tak lebih dari harga dua kotak besar pizza, yang dikenakannya hari ini.


Nata memang sering diprotes ibunya tentang image Direktur yang dirusak putrinya; baju tak bermerek, make up ala kadar, sering naik driver online. Tapi Nata tak peduli, toh brand itu sudah punya pangsanya sendiri walau tak sebesar brand senior produk lokal.


Setelah mengawasi keadaan di lantai dua Nata berniat langsung turun ke lantai dasar. Hingga tiba-tiba menemukan seorang lelaki didalam lift menatapnya aneh.


Dengan rambut panjang dikuncir kebelakang dan jambang yang menutupi pinggiran mukanya, pria itu sedikit tampak menakutkan. Apalagi dengan posturenya yang tegap, bermata elang, membuat Nata seolah melihat seorang residivis yang berniat menculiknya.


"Nata de Coco?" Ucap lelaki itu tiba-tiba mengembangkan senyumnya. Nata bingung untuk siapa kata itu dialamatkan, hanya ada mereka berdua di lift ini.


"Kamu Nata de Coco kan? Yang dulu sekolah di SMA Sukma Nusa!"


"Kamu, bocah ingusan itu? Lukman?"


Nata kaget bukan main mendapati mahluk yang hampir 10 tahun tak dilihatnya.


"Astaga kakak cantik. Demikianlah takdir bekerja. Asam di gunung garam di laut. Ketemu di lift ini" ucapnya cengengesan.


"Ngapain kamu disini?"


"Aku gak janjian sama perempuan manapun kok. Jangan khawatir" ia mengangkat kedua jari tangannya tanda serius.


"Masih saja seperti dulu tidak tingkahmu" Lift pun terbuka. Nata keluar lebih dahulu disusul Lukman yang terus saja mengekor dibelakangnya.


Perempuan itu melirik arloji berkali-kali lalu berganti melihat ke arah parkiran, ia hampir telat. Karena risih oleh keberadaan Lukman ia lalu pindah ke bawah pohon disamping mobilnya berada. Lukman malah menyusul lagi dibelakang. Pria itu lalu menekan remote mobil, dan masuk kedalamnya. Nata hanya bisa melongo melihat pria itu sembarangan memasuki mobilnya.


"Ngapain kamu disana!"


"Lagi nungguin bos, entah yang mana perempuan itu"


"Maksudmu?"


"Tadi aku naik ke atas, katanya bos udah kebawah. Kamu kenal gak yang punya kantor ini siapa? Udah satu jam aku disini nungguin dia" Tanyanya sedikit kebingungan.


"Kamu anak Pak Amar?”Tanya Nata curiga.

__ADS_1


“Iya” jawabnya yakin.


"****** aku!" Nata menepuk jidatnya sedikit keras.


"Jangan-jangan kamu Ibu Direktur itu?" Lukman mulai menyeringai penuh kemenangan.


"Dosa apa aku Tuhan...?!" Nata mendengkus, lalu membuka pintu mobilnya kasar. Perempuan itu menghempaskan badannya ke bangku belakang mobil.


"Bukankah ini skenario Tuhan terbaik Bos? Kita dipertemukan macam ini. Hari ini kamu duduk di belakangku, tak lama lagi akan disampingku. Apalagi dengan statusmu yang baru cerai, bukankah takdir sedang berpihak pada kita?" ia terseyum menjalankan mobil, keluar dari area kantor sambil melirik bosnya dari kaca depan mobil.


"Tau dari mana aku cerai?"


"Dari rumpian ibu-ibu di kantor. Aku mendengar semuanya. Tentang mantan suamimu yang bikin tingkah, juga”


"Kamu tau kita kemana?" Tanya Nata ingin mengalihkan topik.


"Ke hotel Chandra Kirana?"


"Bagus, jangan banyak bicara tak penting anak muda!" Dengkusnya sambil menatap keluar jendela mobil.


Terjadi kemacetan amat parah di jalan Thamrin, ada kecelakaan tunggal yang membuat mereka terjebak dalam mobil lebih lama. Nata mulai bosan bermain dengan gadgetnya, entah kenapa hanya postingan kemesraan di yang muncul di lamannya. Semua pasangan seolah berbondong memamerkan pasangan mereka yang baik, sementara ia malah dikhianati di tahun ke 3 pernikahannya.


"Kamu lebih cantik saat Aliyah Nata"


Mendengar ucapan itu membuat ia mengernyit. Selama ini orang memujinya cantik dan awet muda, tapi tidak dengan lelaki ini. Ia tak berniat menanyakan alasannya.


"Maksudnya kau lebih manis dengan Jilbab yang diwajibkan sekolah"


Seketika Nata paham maksud ucapan tadi. Iya, selain sekolah belum ada yang berhasil memaksanya memakai jilbab. Tapi ia merasa pakaiannya selalu dalam batas sopan, dengan bawahan selalu dibawah lutut, dan baju yang selalu tertutup.


"Nanti kalau kau menikah denganku aku akan membuatmu memakai jilbab lagi" ucapnya sambil tertawa lalu sedikit merapikan rambutnya yang berantakannya.


"Penampilanmu tak lebih menyedihkan anak muda. Rambut acak-acakan, baju lusuh, kau baru umur 27 tahun dapat gelar sarjana S1. Ngapain aja kamu? Asik merayu perempuan?"


"Aku kuliah sambil bekerja, buat melamarmu..." ucapnya asal sambil memarkirkan mobil didepan hotel.


"Tunggu disini, ini bisa jadi 1 jam!" Perintah Nata sebelum menutup pintu mobil.


"Baik bos!"


Lukman menatap punggung Nata yang berlalu dari pandangannya. Perempuan itu, Lukman kerap menggoda kakak letingnya selama di bangku sekolah. Awalnya hanya sekedar iseng karena teman-temannya mengejek Lukman tak berani menggoda wanita. Lalu ia malah nekat menggoda senior karena tau Nata cuek, jadi godaannya tak akan berdampak apapun, pikirnya.


“Kakak Nata De Coco cantik” ia kerap memanggil perempuan itu saat lewat depan kelasnya.


Lama kelamaan benar suka karena ia kerap mendapati Nata tidak seperti gadis kebanyakan, sangat sederhana. Tak seperti siswi dikelasnya yang di tahun pertama saja hampir semuanya sudah bermake-up dan genit menggoda senior.


Pernah Lukman berhasil mengajaknya makan diluar satu kali, menjelang UN. Saat itu salah satu teman dekat Nata diserempet sepeda motor, kala itu hanya ada Lukman yang bisa dimintainya mencarikan sepeda motor untuk membawa temannya ke Puskesmas terdekat.


Setelah teman Nata dijemput orang tua disana, mereka lalu mampir ke warung Bakmie karena kelaparan. Saat itu mereka ngobrol selayaknya seorang teman. Lukman menceritakan tentang teman kelasnya, dan Nata juga. Nata bercita-cita menjadi pekerja di balik layar, semacam menjadi Produser Acara, sutradara, atau apapun yang bisa menciptakan tayangan berkualitas untuk layar kaca. Karena ia kerap kesal menghidupkan TV dan hanya menghadirkan sampah didalamnya. Padahal seharusnya TV bertanggung jawab akan pesan moral yang didapatkan penonton dari tayangan mereka.


Impian yang membuat Lukman sadar bahwa ia juga menyukai apa yang Nata sukai. Saat akhir kelas 3 ia mulai menciptakan target bisa kuliah di jurusan Komunikasi Penyiaran. Tapi sayang, keadaan ekonomi ayahnya terpuruk. Lukman harus berhenti selama 2 tahun sebelum melanjutkan test di jurusan yang disukai dan dinyatakan lulus. Ia kuliah sambil bekerja serabutan.

__ADS_1


Hanya satu kali mereka mengobrol berdua, lalu Nata tamat dan tak ada kabarnya sama sekali.


__ADS_2