My Lovely Driver

My Lovely Driver
5


__ADS_3

Setelah kejadian Lukman sakit, Nata sedikit lebih perhatian akan jam makan lelaki itu.


Nata kini acapkali mengajaknya sarapan dirumah sebelum berangkat ke kantor. Entah kenapa, setelah melihat pria itu meringkuk kesakitan, Nata amat terasa amat iba. Dari kecil hidup tanpa perhatian seorang ibu, kuliah jauh dari keluarga, jam makan kacau balau, juga pekerjaan yang belum tetap.


Nata juga tak yakin akan perasaanya, hanya sekedar kasihan atau sayang.


Sebelum pulang kantor tiba-tiba Nata memberitahu bahwa ada undangan usai Magrib. Mulanya Lukman sempat menolak karena merasa dalam keadaan tak layak ikut pesta dengan pakaian seadanya. Nata berusaha meyakinkannya bahwa konsep acara dibuat amat sederhana, yang punya hajatan hanya ingin berkumpul dengan sahabat-sahabat dekatnya sebelum pindah ke Inggris. Tak akan ada banyak tamu.


Rumah acara tak jauh dari lokasi kantor, hanya menghabiskan beberapa belas menit perjalanan hingga menemukan sebuah bangunan sedikit besar dengan konsep hunian industrial, yang punyai halaman samping yang amat luas.


Sang pemilik hajatan tampak melambaikan tangannya kearah Nata. Lalu mendekat untuk menyambutnya dengan sedikit pelukan.


"Maaf telat, Natalie.. Aku hampir aja lupa, ini aja kami dari kantor gak sempat tukar kostum lagi" Nata berusaha menjelaskan keadaan sebenarnya.


"Salah aku juga bikin acara dadakan, kamu datang aja udah syukur banget akunya. Eh ini siapa? Kok gak pernah cerita udah punya yang baru..." Natalie mengarahkan pandangannya pada lelaki dia belakang Nata, tersenyum menggodamu Nata.


"Hehehe.. panjang ceritanya"


"Yang penting kalau nikah lagi jangan lupa kasih tau. Ayo langsung dicicipi apa yang ada, aku cek Berbequenya dulu"


Natalie berlalu usai mempersilahkan keduanya menikmati acara sembari di mempersiapkan menu utama. Lalu Lukman yang memang sedang dalam keadaan lapar, mulai mencicipi banyak hidangan disana


"Eh, Nata, Lukman?" Seorang pria bertubuh gempal mengunakan kemeja magenta mendekat menyapa.


"Bang Nazim?" Nata tersenyum setengah hati, diliputi heran kenapa lelaki itu juga mengenal Lukman.


Nazim adalah senior yang kini menjadi dosen di kampus Lukman menyelesaikan S1nya. Walau hubungan tak baik, tapi mereka tau banyak hal terkait satu sama lain.


Sementara Nata, pernah diperkenalkan Dion kepadanya. Nazim salah satu teman dekat mantan suaminya.


"Jadi kamu pria yang dimaksud Dion itu?" Tanyanya seakan tak percaya lalu menggeleng-gelengkan kepala.


"Pria itu emangnya bilang apa?" Cecar Nata ingin tau.


"Dia bilang, mantan istrinya udah punya pasangan lagi. Awalnya Dion minta bantu selidiki karena katanya orang yang kamu akui sebagai suami, satu almamater sama aku di kampus. Dia bilang namanya Lukman tapi gaktau nama lengkapnya. Sama sekali gak terbesit Lukman yang ini karena dia dulu penampilannya menyedihkan. Trus gak sepadan lah sama kamu. Gak mungkin Lukman yang ini lah, pikirku. Toh nama Lukman itu banyak. Gak mungkin yang ini..." Lalu tertawa dengan nada merendahkan.


"Kenapa gak mungkin?" Balas Nata.


"Pria nyaris Drop Out, kelas bawah seperti dia? Gak akan mungkin sepadan sama wanita berkelas kayak kamu!" Lalu meneguk minuman yang berada ditangannya.


Lukman tampak tak tertarik meladeni ucapan Lelaki yang dari dulu sering cari gara-gara dengannya. Ia memilih mengambil segelas jus segar, menambahkan es yang banyak. Berharap bisa mendinginkan hatinya yang mulai memanas. Ia membiarkan dulu Nata bertarung sendirian.


"Cinta tak memandang kelas. Kamu itu dosen kan? Masak orang berpendidikan masing ngomongin kelas sosial" ucap perempuan itu membela diri.


"Ya terserah kamulah, tar kamu juga yang nyesal. Tuh coba aja tanya sama pacarmu yang itu. Kenapa ibunya pergi ninggalin ayahnya, ninggalin dia sampai jadi anak gak berguna seperti itu? Ya, kelas sosial jawabannya..! Jadi anak kok gak belajar dari pengalaman menyedihkan ayahnya! Atau jangan-jangan... kamu justru memanfaatkan Nata?" Nazim menyeringai.


"Apa maksudmu?" Lukman sudah mulai tak bisa menahan diri. Nata berusaha menarik lengan lelaki itu berharap bisa menenangkannya.


"Ya, mana tau kamu pengen dipelihara janda kaya, biar bisa morotin"


Ucapan Nazim sudah keterlaluan, Lukman bersiap melayangkan sebuah pukulan ke pipi lelaki dihadapannya.


"Bug!" Nazim tersungkur.

__ADS_1


Pria itu mencoba bangkit melakukan pukulan balik. Lukman menangkis lengannya, lalu memutarnya kebelakang hingga Nazim mengaduh sakit.


"Pria sialan! Pantas saja dulu Fadia lebih memilihku daripada pria bermulut comberan kayak kamu! Cih!" Lukman membuang ludah kesampingnya.


Para tetamu mulai mengerubuti kedua lelaki yang sedang emosi itu. Lalu Lukman berlalu, meninggalkan keramaian tanpa sepatah katapun.


Nata yang kebingungan akhirnya minta izin pamit lebih awal lalu menyusul Lukman sambil berlari. Keduanya memasuki mobil tanpa kata.


Nata menunggu emosi pria disisinya stabil, membiarkan saja Lukman menyetir dengan kecepatan tinggi.


"Maaf sudah merusak acaramu..." ucap Lukman saat membukakan pintu untuk Nata, setibanya dipekarangan rumah.


"Tak apa.. Nanti aku akan menjelaskannya pada Natalie. Kamu jangan ngebut kayak tadi lagi ya..." Pinta Nata dengan wajah memelas dan sedikit tampak pucat ketakutan.


"Iya gak ngebut mobil lagi, aku ngebutnya pakai motor aja." ucapnya kemudian meraih helm yang terkait di spion motor. Ia bersiap hendak pulang.


"Jangan ngebut Lukman, dengan motor pun jangan..."


"Kenapa? Kan gak boncengin kamu"


"Ya jangan! Nanti kamu kenapa-kenapa, trus aku gakda yang antarin lagi" jawab Nata mencari alasan, menutupi kekhawatiran sebenarnya.


"Tenang.. Ayahku hampir sembuh. Kamu gak akan butuh aku lagi..." ucapnya tersenyum getir, kemudian menutup kaca pelindung kepala. Lalu berlalu dari pandangan perempuan itu. Meninggalkan sebongkah batu yang seolah menyesaki rongga dada keduanya.


****


Natasha sebenarnya sudah mulai berada di titik jenuh terus berada di kantor. Menjalankan bisnis produk kecantikan bukanlah passionnya.


Kanal YouTube yang sempat dikelolanya 3 tahun lalu awalnya sedikit mengobati patah hati, akan kecintaannya terhadap sinematografi. Ia berhasil membuat banyak content menarik selama sering berpelisiran ke berbagai objek wisata, baik dalam ataupun luar negeri.


Vlog travel itu kini bak rumah yang ditinggal pergi pemiliknya tanpa tau kapan akan kembali.


Rasa bersalah karena tak mencintai perusahaan sang ibu setidaknya sedikit berkurang saat melihat Lastri dan Rani. Kaki tangan ibu itu bisa menyelesaikan semua masalah apapun di perusahaan.


Bosan di kantor, Nata mengajak Lukman off lebih cepat. Tiga hari lagi Pak Amar akan kembali bekerja. Dan entah kenapa sudah seharian ini selera berkelakar lelaki itu menguap tak tau kemana. Entah tertinggal di kekacauan pesta semalam, perempuan itu hanya bisa menduga-duga.


Nata menunjuk sebuah Cafe dipinggiran kota untuk menikmati hari-hari terakhir bersama supir penggantinya itu. Sebuah Cafee dengan konsep Bohemian, tempat santai favorit Nata yang selalu menyajikan penampilan musik menarik dua kali dalam sepekan. Berharap melodi bisa memperbaiki suasana hati mereka hari ini.


Tak ada topik serius, hanya perbincangan singkat disela menikmati sepotong pizza dan beberapa menu ringan lainnya.


"Kamu mau ngapain setelah ayahmu kembali kerja nanti?”


“Kembali ke Jogja. Kerja di stasiun TV lokal, bagian Production Switcher"


"Kok bisa?"


"Gantiin teman yang lanjut S2 keluar negeri. Dia kepercayaan bos, jadi bosnya yakin aja waktu rekom aku ke TV dia kerja. Pun dulu aku pernah magang disitu ”


“Asik banget kamu. Aku jangankan kerja di bidang itu, kuliah di jurusan komunikasi aja dulu ditentang sama Ayah”


“Iya, kamu memang payah. Padahal gara-gara dulu kamu bilang suka bidang itu, aku juga ikutan suka!”


“Kapan kita ngomongin itu?” Nata lupa sama sekali tentang obrolan mereka di bangku SMA dulu.

__ADS_1


“Dasar direktur pikun. Udah buat orang jatuh cinta malah gak ingat. Na'as sekali nasib aku bisa suka sama kamu!” pungkas Lukman lalu meneguk espressonya.


Suasana hening untuk beberapa saat.


"Lukman..”


“Ya?”


“Mana tau nanti, nanti nih ceritanya, bukan sekarang ya! Mana tau....” Nata menggantung sementara kalimatnya, demi menggeser sepiring kentang goreng lebih dekat kearahnya, lalu mencomot satu.


Lukman yang sedari tadi khusyuk mendengarkan lagu Unconditionally yang dinyanyikan seorang vokalis pria dihadapan mereka, mulai menoleh serius ke perempuan dihadapannya.


“Apaan sih?”


“Mana tau... Nanti kamu beneran suka sama satu cewek. Upgrade caramu yang kadaluarsa itu” saran Nata sambil mengunyah kentang goreng untuk hitungan kesekian kalinya.


“Maksudnya?”


“Perempuan ingin diseriusi bukan diajak bercanda mulu. Nanti tidak ada cewek akan nangkap sinyal kamu. Kasian ceweknya terus menduga, kamu bercanda atau serius. Syukur kalau perempuannya cuek gak nyimpan rasa, nah kalau dia beneran suka sama kamu?"


Nata memilih kata-katanya dengan hati-hati, ia tak mau disalah artikan. Lukman tampak berusaha mencerna kalimat Nata untuk beberapa saat.


"Oke. Jadi kalau kamu yang mana dulu ini, yang suka cuek, atau yang suka sama aku? Biar aku klarifikasi" Balas Lukman dengan tatapan elangnya, yang seolah ingin menelanjangi pikiran Nata.


Perempuan itu tak ingin menjawab, hanya menarik sedikit sudut bibirnya keatas, lalu menggeleng-gelengkan kepala. Seakan tak siap untuk respon Lukman.


"Kalau nanti aku gak nganterin kamu lagi, kira-kira kamu rinduin aku gak?" Tanya Lukman kembali tanpa menunggu pertanyaan sebelumnya terjawab. Nata menghela nafas panjang.


"Gak!" Balasnya kemudian lekas menarik gelas, dan meneguk jus pesanannya. Lalu mulai menikmati live music lagi, seolah tak terjadi perbincangan apapun sebelum ini.


"Oh, yaudah! Gak ada yang perlu klarifikasi lagi berarti terkait saran kamu tadi diatas"


Lukman juga beralih menyaksikan gitaris yang mulai memainkan nada pembuka pada lagu Mungkin Nanti, milik Noah.


Nata mendadak menyesal menjawab demikian, padahal ada sesuatu yang ingin diketahuinya. Pun Lukman tak jauh berbeda. Mereka sadar ingin mengungkap seseuatu, tapi dengan cara yang keliru. Dan hasilnya? Gagal!


"Yaudah, kita pulang!" Nata yang kepalanya bak disumbat kekesalan, ingin segera mengakhiri kekakuan mereka.


"Ya, pulang terus sana! Nih kuncinya! Kamu nyetir sesekali!" Sambil meletakkan kunci di atas meja.


"Lukman....!" Nata merengek seperti anak kecil.


Lelaki itu pura-pura lupa bahwa Nata tak lihai mengendarai transportasi apapun. Setelah dulu sempat dikerubuti massa usai menabrak seorang anak sekolahan, Nata tak berani lagi duduk dibelakang kemudi. Dan perempuan itu seakan sudah siap bila harus bergantung pada seorang supir seumur hidupnya.


“Aku mau ajarin kamu nyetir, kamu harus bisa mengemudikan mobil lagi!”


“Harus katamu? Kan aku punya Supir!”


“Tak selamanya kamu bisa mengandalkan supir. Kalu keadaan mendesak atau darurat masak iya harus nungguin supir lagi. Kalau ayahku pensiun, trus cari pengganti lagi. Yang lebih muda. Gitu?”


“Memangnya gak boleh?!" perempuan itu mulai berkacak pinggang sambil mendongakkan kepala, kesal.


“Gak, suatu saat, yang boleh nganterin kamu kemana-mana itu, cuma aku!”

__ADS_1


Nata ingin menemukan raut di bercanda diwajah Lukman, tapi tak ditemukannya. Dia tak suka disuruh mengemudi, tapi mendengar jawaban Lukman malah membuat dia salah tingkah.


__ADS_2