My Lovely Driver

My Lovely Driver
12


__ADS_3

[ Aku ingin ketemu. Kapan ada waktu?


-Natasha- ]


Sebuah pesan dikirim melalui sebuah aplikasi messenger usai Nata mendapatkan nomor Lukman dari Rian. Sebenarnya ragu pesannya akan berbalas. Ia tak berani berharap banyak, selain bertemu dan mengurai kata maaf.


Melihat raut ketika di lobi stasiun TV tadi, tampak jelas Lukman tak ingin melakukan usaha keras atau apapun untuk sekedar menarik perhatian Nata kembali.


Radit datang menjemputnya sambil membawakan karangan mawar dengan selembar kartu ucapan persegi empat yang bertuliskan “Selamat ulang Tahun” dalam  lambang hati merah menyala, dengan huruf I dan U mengapit di kiri dan kanannya.


Lukman menoleh sesaat dengan wajah entah, lalu melenggang begitu saja.


Saat perjalanan pulang tadi Nata memilih berpura-pura tidur di mobil. Pasalnya ia tak sengaja melihat sebuah kotak merah kecil menyembul dari saku celana Radit saat menunduk memasuki mobil. Entah kenapa Nata punya firasat Radit akan melamarnya dengan sesuatu dibalik kotak itu. Hari ini hanya hitungan hari sebelum dua tahun yang dijanjikan. Setidaknya pura-pura tidur berhasil menyelamatkannya siang tadi. Tapi entah dengan makan malam nanti, yang hanya tinggal beberapa jam lagi.


Nata kembali melirik benda pipih itu, namun belum ada balasan dari sana. Lalu berusaha memejamkan matanya diatas ranjang, Nata tak bersemangat untuk kembali ke kantor hari ini. 


“Oh Tuhan, apa yang harus kulakukan”


Perempuan itu menggumam dengan bantal yang menutupi wajahnya. Hingga dimenit ke 30, sebuah bunyi singkat berasal dari gawainya.


[ Tak perlu kasih tau siapa, aku masih menyimpan nomormu untuk kupandangi sewaktu-waktu ]


Alih-alih berharap ada kalimat selanjutnya yang dikirimkan, sudah selang belasan menit kemudian bahkan “Lukman is typing”  tak juga muncul.


Sebelum berpisah siang tadi, ia tau gurat kekecewaan di wajah Lukman lebih dominan.  Kedatangan Radit membuat pembicaraan mereka bahkan harus berakhir sebelum kata maaf sempat terurai.


[ Kamu belum jawab pertanyaanku, kapan bisa ketemu? ]


[ Untuk apa? Mau kasih undangan? ]


Lukman melempar gawainya ke kasur. Setelah rentetan kejadian yang buatnya amat sibuk di kantor dan pertemuannya dengan  Nata. Kini beberapa pesan malah mulai mengacaukan pikirannya.


Bagaimanapun Lukman pernah berjanji tak akan menemui Nata selama 3 tahun ini, atau Retno mengancam tak akan memberikan kesempatan sama sekali. Tapi mendapati seorang lelaki yang mengaku calon suami Nata, Lukman merasa kalah telak. Tak ada guna lagi mengikuti aturan main Retno, toh ia sudah kalah.


Ucapan sang ayah memenuhi ruang kepalanya --dua tahun lalu--


'Kamu jangan main-main Lukman. Apa kamu tidak belajar dari ayah dan ibumu. Jangan terlalu memaksa keadaan!'


'Semua orang punya kisah berbeda Yah. Siapa tau justru Tuhan mengirimkan kami untuk memperbaiki kisah terdahulu. Mungkin endingnya kan berbeda' 

__ADS_1


'Pokoknya kamu jangan macam-macam. Semua biaya pengobatan saat Ayah sakit atas kebaikan Pak Idris dan Retno. Kehidupan kita membaik saat bertemu keluarga mereka. Kamu itu ngaca dulu sebelumnya jatuh cinta'


'Memangnya saat ayah jatuh cinta sama ibu dulu, ayah juga melakukannya? Ngaca sebelum jatuh cinta?'


'Karena itulah, Ayah ingin itu kembali menimpa anak ayah! Pokonya jauhi Nata, kalau kau masih menganggap aku ini ayahmu!'


Perdebatan malam itu berakhir saat Lukman melihat mata sang ayah mulai memerah, lalu  air bening itu turun dari pelupuk matanya. Ia tak pernah melihat sang ayah menangis sudah puluhan tahun lamanya, terakhir saat ibu pergi dan surat gugatan cerai itu datang kerumah.


Setelah perdebatan hari itu Lukman berjanji, ia bekerja keras merubah keadaan. Tak menemui ayah sampai keadaannya lebih baik. Ia hanya menelponnya sehari sekali. Tapi bagaimana kerasnya dia berusaha, Lukman memilih tak menceritakan apapapun. 


Lelaki itu nyaris tak punya waktu luang demi mencari uang tambahan. Menjadi driver ojol untuk menambah modal usaha. Bahkan ia sempat di opname beberapa kali akibat kelelahan, Lukman memendam segalanya seorang diri.


Dalam benaknya ia hanya ingin ayahnya berhenti menjadi supir, lalu mendanai sang  ayah untuk melanjutkan bisnis kembang biak jamur yang baru satu tahun digelutinya. Kelak, bila bisnis ini berhasil ia ingin mengajak ayah melanjutkannya. Dan berhenti menjadi supir dari keluarga Nata.


[ Mungkin masih ada yang bisa kita bicarakan. Jam 8 aku tunggu taman biasa. Atau tidak sama sekali! ]


Ajakan itu terpaksa berubah menjadi ancaman.


Nata sudah bertekad tetap akan datang besok -Sabtu- ke tempat yang ia pilihkan. Jika Lukman datang, mungkin ia bisa membicarakan apa yang sebenarnya mereka inginkan.


Namun jika tidak, Nata sedang mempersiapkan diri untuk lelaki sebaik Radit.


***


Nata masih melirik gawainya dari balik meja makan saat sang ibu asik ngobrol dengan Bu Sukma. Tapi hingga dua jam setelah pesan terakhir yang dikirimkannya, Lukman belum merespon apapun. 


“Aku gak tau kami bisa memasak seenak ini..” Puji Sukma usai mencicipi soto Banjar dimeja makan. Ada begitu banyak hidangan nusantara yang disajikan Retno untuk menyambut mereka malam ini.


“Tapi ini tak ada apa-apanya dibanding Soto Banjar masakan ibumu dulu” Retno kemudian tampak bersemangat bernostalgia, menceritakan betapa indahnya masa muda mereka dulu.


Audrey mencicipi segala yang ada di meja dengan lahap. Sementara Nata akhirnya memilih mengajak Salisa  duduk di pinggiran kolam renang belakang, usai menyantap menu utama. 


Berharap tak ada perbincangan serius yang harus dihadapinya dengan menahan diri di ruang makan. Syukurlah, Radit belum juga menampakkan batang hidungnya. Ia akan datang sedikit telat menyusul ibu dan adik-adiknya yang sampai lebih awal.


 “Kamu suka main kolam?”


Nata mendapati Salisa asik memainkan kakinya didalamya air. Gadis itu mengangguk dengan senyum yang mengembang, lalu menepuk kedua tangannya. Isyarat senang.


Perempuan yang berusia baru awal 20 tahun itu memiliki rupa seperti pengidap Down Syndrome kebanyakan. Hidung yang kecil, mata menyipit, pipi gembil, bertumbuh pendek, bahkan Salisa nampak kepayahan dalam berjalan karena posture kakinya yang tidak seimbang.

__ADS_1


Konon dulu kata Sukma, anak perempuannya ini divonis cacat sejak dalam kandungan. Saat hamil Salisa, ia mengalami kelelahan hingga stress berat. Berulang kali muncul flek,  bidan yang didatangi Sukma menyarankan untuk digugurkan. Karena setelah pemeriksaan, janin diketahui tidak berkembang dengan normal. Salisa akan terlahir cacat.


20 tahun lalu, alat medis memang tak secanggih sekarang. Sukma tak tau harus mempercayai  dari sudut mana, karena masyarakat sekitar mengenal sang ahli sebagai  cenayang, selain profesi utamanya sebagai bidan.


Akhirnya Sukma memilih mempercayai Tuhan yang memberikan Salisa dirahimnya; karena percaya bahwa ia mampu merawatnya. Sama sekali tak ingin mendahului keinginan Tuhan dengan menyetujui permintaan suaminya untuk luruhkan janin itu, sekalipun ia akan melahirkan seorang cacat.


Siapa sangka, Salisa berhasil dilahirkan tanpa cacat fisik seperti yang divonis, tapi malah cacat kromosom. Belum lagi  kelainan anatomis jantung  makin membuatnya lemah diawal kehidupannya.


Dan Sukma berhasil melalui tahun-tahun terberatnya dengan baik hingga detik ini, melihat Salisa tumbuh dewasa melampaui harapannya. Hanya saja ia tetap kesulitan berkomunikasi dengan lancar, seperti yang dialami semua penderita Down Syndrome.


Dan penyakit jantung bawaan yang diidapnya, Salisa kerap merasakan nyeri di dada, sesak nafas, cepat lelah, bahkan pernah beberapa kali pingsan bila banyak beraktivitas.


“Aku ambil minum dulu ya. Bentar aja”


Nata bangkit dari sisi Salisa. Meninggalkan gadis itu yang masih sibuk dengan percikan air.


Ia melihat Sukma dari jarak lebih dekat saat berdampingan dengan ibunya.


Keduanya sangat cantik untuk perempuan seumur mereka.  Tapi ibu sambungnya Radit punya aura yang berbeda, tetap tampak anggun meski diusianya yang sudah melebihi setengah abad.


Wajahnya mengingatkan Nata akan seorang artis senior 80an, yang kini jadi anggota parlemen. 


Nata mendengar deru mobil memasuki halaman rumahnya. Radit akhirnya datang. Nata mempercepat langkahnya kembali ke belakang, dengan dua gelas jus ditangannya. Namun Salisa tak ada ditempat semula.


“Salisa?”


Tidak ada sahutan.


Nata memutar pandangan dengan sudut 360°, hingga mendapati satu sudut kolam. Ada gelembung dipermukaan airnya.


“Astaghfirullah Salisa!! Bu, Salisa Bu...!! Tolooong....!"


Radit yang baru saja datang, langsung berlari menuju sumber teriakan. Mendapati adiknya tenggelam ia langsung melompat dengan cepat menemukan tubuh Salisa yang hampir saja menyerah dibawah sana.


Pertolongan pertama tak banyak membantu. Salisa dilarikan ke Rumah Sakit.


Dan disanalah mereka berada, untuk jangka waktu yang belum diketahui.


Nata tak semenitpun beranjak dari ruang darurat, ia merasa semua ini karena salahnya meninggalkan Salisa tanpa penjagaan, hingga berakibat fatal seperti ini. Gadis itu mengalami hipoksia parah dan segenap dugaaan lainnya yang masih tim medis kaji.

__ADS_1


“Maafkan Nata, Tante..”


Nata terisak didekat pintu masuk. Ia berjanji tak akan kemana-mana sampai Salisa keluar dari ruang darurat itu dengan keadaan selamat.


__ADS_2