My Lovely Driver

My Lovely Driver
6


__ADS_3

Drrrt...'


Getar smartphone dari saku Nata menyelamatkan mereka dari perdebatan lebih panjang. Panggilan dari Retno, ibunya. Alunan musik sedikit mengganggu pendengaran, Nata menghidupkan pengeras suara.


"Assalamualaikum sayang. Kamu apa kabarnya?"


"Waalaikumsalam Bu, Alhamdulillah baik. Ibu cuma tanya kabar aku ni? Gak tanya kabar perusahaan?"


"Gak, ibu tadi udah tanya sama Lastri. Dia pasti lebih tau daripada kamu yang cuma numpang ngantor aja"


Terdengar tawa kecil dari balik layar. Perempuan paruh baya itu paham betul watak anaknya, ia mau melanjutkan usaha ibunya saja sudah syukur. Toh ada orang kepercayaannya disana yang bisa memantau kerja Nata, Lastri sudah menjadi kaki tangan Retno dari awal perusahaan itu berdiri.


"Hahaha. Ternyata ibu duluan tanya kabar perusahaan daripada kabar anak sendiri! Aku cemburu tau! Ibu sama Ayah gimana, sehat?"


"Alhamdulillah, Ibu sehat. Ayah pun makin segar selama pindah kesini"


"Ibu, aku kangen.. Aku kesana boleh gak Bu.." Ucapnya seperti seorang bocah merengek minta ikut ibunya. Sebenarnya minggu depan ulang tahun perusahaan, Nata ragu sang ibu setuju.


"Ya Nak, kesini aja. Kamu emang harus pulang besok ya. Dua hari aja juga boleh. Masalah persiapan ulang tahun perusahaan, biar di handle Rani dan Lastri aja"


"Tumben?" Nata memicingkan matanya, ibu biasanya melarang nya pulang saat ada agenda penting di perusahaan.


"Itu, yang ibu bilang kemarin lo Nak... Radit, anaknya Bu Sukma, pengen kenalan sama kamu. Pulanglah, mereka lagi liburan di puncak. Kalian kenalan dulu, mana tau jodoh...”


Mendengar pembicaraan itu, Lukman yang sedang minum, hampir saja menyemburkan airnya mengenai Nata.


Sedang perempuan itu langsung mematikan tombol speakernya. Nata meninggalkan Lukman di meja. Lalu berjalan ke bagian keluar Caffe, melanjutkan perbincangan dengan sang ibu.


Beberapa menit kemudian ia kembali dengan wajah dengan ekspresi yang tak biasa.


"Kamu mau dijodohkan?" Lukman seakan tak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.


"Kamu nguping?"


"Lha, siapa suruh nyalain speaker!"


Nata mendadak menyesal akan kebiasaannya menghidupkan pengeras suara.


"Emang kalau iya kenapa? Toh gakda lelaki yang patah hati"


"Dion pasti patah hati!"


"Iya, seharusnya aku paham, kalau cuma Dion, gak ada yang lain.."


Lukman tak mampu membaca wajah Nata saat itu, raut yang membuat lelaki itu tampak tak tenang. Namun keduanya memilih diam, lalu pulang dalam senyap.


Ada gumpalan benang kusut yang amat besar seolah memenuhi kepala Lukman, belum hilang dari ingatannya ucapan Nazim malam kemarin. Sebuah peringatan yang memang tak semestinya diabaikan oleh seorang pria beda kelas sepertinya. Yang ia ketahui, Ibunya pergi meninggalkan mereka, karena tak bisa berdamai dengan keadaan sang ayah.


Dan ia yang tak punya apa-apa, seharusnya tau diri. Tidak berdiri mematut rasa disana, kalau akhirnya belum bisa melakukan apapun.


"Besok malam ibu suruh aku diantar ke Bogor. Mungkin itu rute terakhir kita!" Ucap Nata sebelum menutup pintu mobil dan berlalu memasuki rumahnya. Meninggalkan Lukman dengan pikirannya yang makin tak bisa diajak tenang.


****


Atas permintaan Nata, Lukman tak menunggu dikantor seharian tadi. Perempuan itu sedang tak ingin kemana-mana. Lukman hanya harus kembali usai Isya, mengantarnya pulang kerumah. Untuk mengambil barang, kemudian berangkat lagi ke Bogor.


"Berapa hari kamu disana?" Tanya Lukman berusaha memecah keheningan saat mobil keluar dari pelataran parkir kantor.


“Empat atau Lima hari" jawabnya malas.


"Ngapain selama itu, gak bosan?"


“Ngadapin kamu lebih membosankan!”


“Mau aku temenin disana?”

__ADS_1


“Aku itu mau dijodohin, masih aja mau nemenin. Kamu mau ngapain emangnya? Mau jadi obat nyamuk?"


“Kalau pria itu yang jadi nyamuknya. Kenapa gak?”


“Menyebalkan!”


“Siapa menyebalkan? Dia?"


“Terserah”


Bila kebanyakan orang mengekspresikan patah hati dengan ratapan, keduanya malah seakan mengekspresikannya dengan omelan. Tapi didalam hati, hakikatnya sama saja; merutuki keadaan.


Sejak awal Lukman sudah merasa kacau dalam dalam membahasakan rasa. Nata tak jauh berbeda, dari yang mulanya menyangkal hingga kemudian suka. Lalu saat kemarin merasa tak diperjuangkan, ia tak lagi mau peduli. Toh laki-laki itu tak serius, pikirnya.


Tiba dirumah, Nata memilih istirahat terlebih dahulu berapa puluh menit lamanya. Bangkit dengan rasa malas, ia kemudian menuju kamar mandi lalu berkemas. Dibalut blazer navy dan celana katun panjang bercorak kotak-kotak, perempuan itu siap berangkat sambil menenteng sebuah tas berukuran sedang.


“Aku tidur gak apa-apa kan ya? Ngantuk!"


Ucap Nata sambil menguap saat baru beberapa kilometer mobil kembali melaju.


“Ini hampir jam sebelas malam, kita baru tengah malam masuk wilayah puncak. Trus kalau kamu tidur, di jalan aku sendirian. Kalau aku lihat penampakan gimana?”


“Bilang aku kirim salam” jawabnya asal.


“Salam apa? Salamualaikum atau Salam sejahtera?”


“Salam Pancasila!” Nata mencebik dari belakang. Lukman malah tergelak.


“Aku salah apa sih sampai kamu dongkol gitu?”


Lukman menoleh kebelakang, berharap bisa menerka sedikit air muka Nata, tapi ia nyaris tak melihat apapun tanpa penerangan dalam mobil.


“Kan, kalau aku gak tidur takutnya kita berantam terus!" balas Nata.


"Gak janji"


Nata mulai memejamkan matanya tanpa ragu.


Sementara Lukman terus berkendara sambil menyanyi demi membunuh bosan selama puluhan kilometer jauhnya. Berharap melodi bisa mengusir segenap tanda tanya yang menyumbat kepala.


Masing-masing memilih penawar sendiri. Lukman memilih bernyanyi, saat Nata memilih tidur.


Benar agaknya bila lelaki ini mewarisi bakat ayahnya, semua lagu dinyanyikan dengan bagus. Nata terjaga mendengarkan moment langka itu. Tapi tetap dengan mata terpejam, ia pura-pura tidur lagi.


Well, you only need the light when it's burning low


Only miss the sun when it starts to snow


Only know you love her when you let her go


Only know you've been high when you're feeling low


Only hate the road when you're missing home


Only know you love her when you let her go


And you let itu go


Nyanyian itu bahkan terdengar lebih baik daripada penyanyi aslinya, Passanger. Lagu yang dinyanyikan dari hati.


Walau mengantuk, Nata tetap memaksa diri agar bisa mendengarkan lagu itu hingga akhir dengan hati yang berdesir. Sejenak larut, lalu kembali berusaha tidur, berharap bisa melupakan segalanya.


“Nata..”


Tak ada jawaban apapun dari balik badannya.

__ADS_1


“Nata... Aku tak tau kamu tidur, atau pura-pura tidur. Tapi yang aku tau kamu kesal padaku..”


Lukman sekejap menoleh kebelakang tapi tak mendapatkan sorot mata disana. Ia merasa tak ada ruginya bermonolog. Kalaupun tak didengarkan setidaknya ia bisa mengeluarkan sedikit beban dihatinya.


“Kalau kamu tak mendengarku, tak apa. Tapi bila kamu dengar ini, aku akan sedikit lega. Karena aku tak punya banyak waktu lagi. Ini memasuki jam terakhir kita sebelum kamu sampai kerumahmu, lalu kita mungkin tak akan bertemu lagi dalam waktu yang lama...”


Lukman menarik nafasnya, seakan sedang mengumpulkan oksigen agar membantunya berkata-kata.


“Nata, kamu kesal aku tau. Aku sudah mengganggumu dari SMA. Setelah 10 tahun berpisah, Tuhan mempertemukan kita lagi. Awalnya aku senang, mungkin Tuhan sedang merencanankan sesuatu. Tapi teryata rasa senang berbanding lurus dengan cemas, saat mengetahui kita tak sepadan” Lukman memutar kemudi ke arah kiri dengan perlahan.


“Kamu kesal aku sering menggodamu. Kata-kata itu bisa saja orang anggap candaan, tak terkecuali kamu. Tapi percayalah, aku justru berharap malaikat akan mencatatnya sebagai doa.


Tentang perasaan, aku sama sekali tak bercanda seperti yang kamu tuduhkan kemarin.


Kadang aku bergurau hanya untuk menghibur diri, berharap kepercayaan diri untuk mencintaimu muncul dalam tawa. Sebenarnya.. kalau boleh jujur aku ingin kamu meresponnya.


Tapi bisa jadi seperti katamu, caraku salah. Sampai kemarin aku tanya serius, kamu mungkin menganggap itu candaan. Padahal sebenarnya aku pengen tau, apakah aku akan dirindukan atau tidak.


Lalu setelah mendengar kemarin ibumu sedang merencanankan sesuatu untukmu, dengan anak temannya.


Aku bisa apa Nata?


Katakan, lelaki payah, lelaki yang hidup susah ini bisa apa?”


Lukman menekuk sikunya ke pintu mobil, lalu menggunakan gempalan tangannya untuk menopang kepala. Pandangnya nanar.


“Rencananya, aku baru saja akan kerja keras setelah ini. Aku akan bekerja di televisi, lalu mencari sampingan sambil menunggu karirku menanjak. Tapi belum pun aku mulai, sesorang sudah menunggu disana.


Apa yang bisa kujanjikan untukmu.


Nyaliku menciut Nata. Ingin memintamu menolak perintah ibu, lalu aku tak berani menawarkan apapun.


Tapi kamu tau Nata?


Aku yakin perkara jodoh itu mutlak takdir. Ibumu bisa saja mengatur apapun, tapi Tuhan punya skenario sendiri.


Ya mana tau, nanti kamu gak suka sama lelaki itu. Atau lelaki itu malah gak suka sama perempuan kayak kamu. Tau-tau dia sukanya sama laki-laki juga..”


Lukman menertawai leluconnya gubahannya sendiri, lalu menoleh kebelakang. Mata Nata Masih mengatup.


“Nata, aku tak akan memintamu melawan ibumu. Aku tak akan memintamu melawan takdir, Karena kita juga tak tau takdir akan menggariskan apa. Aku hanya minta ikuti kata hatimu. Toh kamu kan baru juga diajak ketemu dulu. Belum tentu jadian, belum tentu lamaran, belum tentu nikah..


Hatiku gak akan kemana-mana.. Aku bukan tak mau memperjuankanmu, aku hanya takut memaksa keadaan. Dulu ayah dan ibu memaksa keadaan, lalu hasillnya mengecewakan...”


Lukman, memejamkan matanya sekejap saja melepaskan nafas panjang. Menoleh lagi kebelakang untuk kesekian kalinya dengan hasil yang sama.


Ia memutuskan menghentikan mobil sejenak, menghidupkan penerangan bagian dalamnya. Lalu memandang perempuan yang tampak terlelap itu sedikit lebih lama.


Rambut tergerai hampir menutup sebagian pipinya yang merona. Bibir tipis berpadu dagu yang lancip. Persona itu tak hilang sekalipun ia pulas tertidur tanpa riasan apapun.


“Setelah ini, aku tak tau bisa melihatmu lagi atau tidak...” lirihnya pelan. Mendadak matanya terasa pedih, Lukman mengerjap.


“Kenapa berhenti?”


“Astaghfirullah! Bikin kaget aja kamu!”


Lukman terkejut melihat mahluk dihadapannya kini bangun dengan mata melotot.


“Kamu yang bikin kaget aku, tiba-tiba mobil berhenti ditengah hutan. Lampu menyala. Jangan-jangan benar, kamu lihat setan?”


Nata menoleh kekiri dan kekanan dengan wajah penasaran.


“Iya setannya cantik, tapi janda..”


Lalu kembali menghadap kemudi. Membiarkan Nata dengan muka masam. Sial, mobil tak mau melaju kembali padahal jarak tujuan cuma tinggal satu kilometer lagi.

__ADS_1


__ADS_2