My Lovely Driver

My Lovely Driver
13


__ADS_3

"Maafin aku Tante...”


Rasa bersalah belum hilang dari raut Nata.


Sukma meraih kedua pundak perempuan itu, lalu menariknya dalam pelukan. Sudah dua tahun ini Salisa melewati tahun terbaiknya tanpa keluar-masuk rumah sakit. Siapa sangka  malam ini harus kembali merasakan sensasi dingin IGD.


 “Tak apa, Insyaallah Salisa akan baik-baik saja..”


Sukma menyeka air bening yang mengalir dari pelupuk mata Nata, dan sebaliknya. Keduanya saling menyeka air mata satu sama lain, kemudian mencoba tersenyum meski dengan mata berkabut.


Radit masih berada di dalam ruang darurat usai menyetujui beberapa tindakan yang akan dilakukan dokter. Sementara Sukma, Retno, Audrey, dan Nata menunggu diluar; merapal doa  dalam cemas. Berharap tak terjadi hal yang buruk menimpa Salisa. Mereka telah melalui pertengahan malam di sana.


“Pulanglah Nata, kamu tampak kelelahan. Salisa sudah melewati masa kritisnya” 


Radit keluar dengan wajah yang tampak amat letih. Berjam-jam dirumah sakit dengan baju basah, lelaki itu memang sangat menyayangi keluarganya. Sekalipun Salisa sama sekali tidak ada hubungan darah dengannya.


“Tidak, aku tetap akan di sini sampai Salisa keluar dari ruang itu” 


“Tapi ada kami disini. Toh dia masih di sana dan kita gak bisa berbuat banyak disini” 


“Kumohon Radit, jangan usir aku.. Biar Ibuku saja yang pulang”


Nata menoleh ke arah Retno yang memang telah minta izin pamit untuk pulang, ia khawatir dengan keadaan sang suami dirumah.


****


 


Pagi hari, keadaan Salisa sedikit membaik. Setidaknya tidak ada keadaan darurat lagi yang membuat dia harus dimonitor seperti semalam.


Seorang perawat disana menyebutkan ini 'mukjizat’.


Jelang jam sembilan Salisa dipindahkan ke kamar rawat inap walau beberapa alat medis masih melekat ditubuhnya. Perlahan mendung di wajah Nata pun berkurang, walau tak seluruhnya.


“Kakak suapin ya”


Nata sambil menarik bubur ayam yang baru diletakkan petugas diatas meja. Salisa mengangguk lemah. Gadis itu masih belum selera makan, ia hanya sanggup menghabiskan tiga sendok saja lalu memilih tidur.


“Maafin kakak ya, udah ngajakin kamu ke kolam hingga bisa begini..”


Nata mengusap pundak Salisa, ia nyaris saja mengeluarkan airmatanya lagi kalau tidak datang Radit menyahut dibelakang.


“Dari semalam minta maaf terus kamu. Wong udah dimaafin semua, masih aja minta maaf.. Minta yang lain kek..!” Sahut Radit tertawa renyah.


Ia membawakan beberapa botol air mineral, lalu meletakkannya di dalam lemari kecil di sudut kamar sambil tertawa. Seolah tak terjadi apa-apa tadi malam.


“Jadi seharusnya menurutmu, aku harus minta apa?” Tanya Nata memicingkan matanya.


“Hm....Apa ya? Minta mahar misalnya, ke aku”


Radit mengulum senyumnya, sedangkan  Audrey tampak cekikan sambil memainkan game cacing di smartponenya.


“Nata, tinggal disini dulu sama Radit ya.. Tante sama Audrey pulang ganti baju dulu. Sambil ngambil beberapa pakaian Salisa dulu di apartment. Mana tau nanti Radit ngurus ini itu, jadi Salisa gak sendirian” 


Sukma baru saja kembali dari kantin, mencari sesuatu untuk dimakan bersama.


 


“Eh iya Tante..”


Perempuan paruh baya itu tampak sedikit pucat, tapi garis bibir yang ditarik lebar menyamarkan segalanya. Pembawaannya sungguh tenang, menutupi segala kelelahan dan kecemasan.


“Itu ibu belikan bubur ayam sama ketoprak, kalian makan dulu. Cuma itu makanan terakhir yang ada di kantin. Akhir pekan gak banyak makanan disana"


Sukma meletakkan satu kantong plastik berisi tiga kotak makanan. Audrey segera memilih satu styrofoam berisi  bubur ayam dan memakannya dengan terburu. Lalu bergegas mengantar ibunya ke apartment.


Nata mengambil satu kotak sarapan tanpa melihat dulu isinya. Lalu melahap dengan semangat menu yang rupanya sama dengan milik Audrey. Ia memang sudah sangat lapar, hingga tak lagi peduli dengan tatapan Radit yang menyaksikan Nata seperti sudah tiga hari tak makan.


Lelaki itu takjub, jika kebanyakan rekan bisnisnya yang perempuan makan dengan anggun. Nata malah seakan tak peduli keadaan misuhnya setiap kali makan.


Tapi justru itu daya tariknya. Radit selalu betah menyaksikan kerakusan Nata berlama-lama. Sambil tersenyum.


Lelaki itu meraih satu-satunya kotak yang tersisa. Melihat hanya ada Ketoprak disana, ia meletakkan kembali wadah makanan putih tersebut.


“Kenapa gak makan? Kamu gak suka?”


Nata menjeda makannya sesaat, penasaran. Sedangkan Radit tampak mengusap tengkuknya, bingung harus menjawab apa.


“Aku gak bisa makan itu “


Radit memang punya riwayat alergi yang mengakibatkan sesak nafas bila mengkonsumsi kacang.


“Kamu alergi kacang? Kenapa gak bilang. Maunya kan tadi aku gak ambil bubur...” 


Nata mendadak kehilangan selera makan. Ia merasa bersalah membiarkan Radit kelaparan. Sementara matahari sudah hampir menjulang, sedang laki-laki itu belum sarapan apapun.


“Gak apa-apa. Lihat kamu makan aku udah kenyang kok” Sahutnya tertawa.

__ADS_1


Hingga sebuah suara dari rongga perut Radit mengejutkan mereka. Bunyi sinyal dari perut yang lapar. Nata makin merasa tak enak.


“Kamu bohong, itu bunyi tanda kamu lapar! Gimana dong kantinnya udah kosong, mana mobil gak ada! Apa aku telepon Pak Amar bawain makanan?”


Lalu Nata malah menepuk jidatnya sendiri, ia lupa bawa ponsel.


“Aku makan punyamu aja deh” Akhirnya Radit menyerah terus berpura seakan tak lapar. Ia menarik sendok dari tangan Nata.


“Gak jijik?” Nata kaget melihat pria sebersih Radit memakan dari wadah miliknya.


“Gak apa, anggap aja latihan sebelum beneran semuanya berdua”


Ucap Radit usai membiarkan makanan lunak itu turun ke rongga perutnya.


“Maksudnya?” 


“Iya, sepiring berdua, serumah berdua, sekamar berdua. Bukannya kalau udah nikah begitu semua?”


Nata hampir saja menyemburkan air yang masih dimulutnya. Lalu jeda mengambil waktu antara keduanya.


“Kamu mau kan, jadi istriku?”


Pertanyaan Radit kali ini benar-benar buatnya serba salah. Nata bahkan nyaris lupa tentang deadline perjodohan.


“Astaghfirullah!” Nata mendaratkan kedua telapak tangannya ke atas kepala. Ia nyaris melupakan sesuatu.


“Loh, pertanyaanku salah ya!” Tanya Radit kaget dengan respon Nata.


Nata ingat akan pesan terakhir yang ia kirimkan ke Lukman, bahkan ia tak tau Lukman membalas apa. Ini sudah hampir jam 9, sementara butuh hampir satu jam lagi agar ia mencapai lokasi, itupun tanpa mandi pagi.


“Bu--bukan. Aku lupa ada janji sama teman di taman pagi ini. Mana  gakbawa Hape. Jangan-jangan dia udah nungguin aku disana” Nata mulai tampak tak tenang.


“Jadi gimana? Telepon ibumu saja suruh kabari dia?


“Ibu? Jangan!”


Tentu ini hanya akan mengundang masalah. Radit bingung melihat kepanikan perempuan dihadapannya.


“Jadi?"


"Aku keluar bentar ya, boleh gak?"


Radit mengangguk sembari menarik lebar garis bibirnya, sangat manis. 


"Aku pesanin Go Car?"


Radit mengeluarkan beberapa lembaran rupiah berwarna merah dan satu ATM, tapi Nata menolak kartu itu. Ia hanya mengambil uang saja.


Nata melihat jam di dinding kamar rumah sakit, memperkirakan waktu tempuh. Ia sudah amat sangat terlambat.


“Oke, udah. Aku bilang kamu pakai baju warna hitam, jilbab warna maroon. Tunggu dipekarangan rumah sakit.


“Makasih Radit”


Nata keluar ruang dengan setengah berlari. Ia menunggu beberapa saat di parkiran, hingga seorang driver menghampirinya.


Seorang perempuan berhijab mengembangkan senyuman, didepannya tampak seorang balita dalam gendongan kangguru sedang pulas tertidur. Lalu ia mengulurkan sebuah helm berwarna hijau kepada Nata.


Nata memaku sejenak, iba. Lalu naik ke bagian belakang motornya.


“Tinggal dimana Mbak?” Sapa Nata dibalik sang driver saat perjalanan sudah sedikit jauh.


“Dekat Rumah Sakit tadi, dibelakang SMA Sukma Nusa”


“Wah, dekat sama sekolah saya dulu rupanya. Alhamdulillah si adeknya anteng ya, tau ibunya lagi kerja..” 


Nata memilih basa-basi dengan kalimat yang tak terkesan iba.


“Iya.. Alhamdulillah, masih bayi sudah pandai bekerja sama. Biasanya sabtu-minggu dijagain kakaknya. Tapi ini si kakak ada try out”


Perempuan itu tampak mengusap bagian punggung putranya.


“Ayahnya?”


Entah kenapa Nata tak bisa menahan diri untuk tidak menanyakan sumber permasalahan ini.


“Ayahnya. Nikah lagi Mbak... Saya baru dicerai satu tahun lalu”


Nata terdiam mendengar pengakuan itu. Ia membayangkan betapa sulitnya sang ibu membesarkan kedua anaknya. Bahkan balita sekecil itu diajak membelah jalanan, melawan angin, demi bisa menyambung hidup.


“Yang sabar ya Mbak..” Nata tampak menarik nafas panjang. Perceraiannnya dengan Dion tentu tak sepelik ini imbasnya, mereka tak punya anak.


“Makasih Mbak. Mungkin ujian ini juga penggugur dosa saya dimasa lalu. Insyaallah saya ikhlas..”


Nata takjub dengan jawaban wanita didepannya. Tak ada sedikitpun upayanya untuk membela diri dengan menjelekkan sang lelaki durjana. Sepanjang jalan Nata terpekur, betapa Allah begitu banyak memberikan nikmat kepadanya.


“Ini Mbak.. Diambil aja semuanya”

__ADS_1


Nata memberikan sepuluh lembar rupiah yang diberikan Radit kepadanya, semuanya. Ia menyesal selama ini tak sering menggunakannya jasa driver online, padahal mungkin ada banyak orang yang bisa ia bantu. Sialnya itu malah bukan duitnya sendiri, ia berjanji akan mengganti uang Radit.


“Jangan Mbak.. Saya gak enak terima ini” 


Perempuan itu menolak dengan halus lembaran merah itu lalu memaksanya kembali ke tangan Nata. Ia tak ingin merasa menjadikan anaknya sendiri sebagai pemancing rezekinya.


Keduanya tampak saling tolak-ulur untuk beberapa saat. Tidak ada yang mau mengalah.


“Oke gini aja, saya kasihnya bukan buat Mbak, tapi buat anak Mbak. Kalau dia nolak, baru saya ambil  kembali”


Nata memindahkan uang itu ke kantong yang melekat gendongan bagian depan.


Ia ingat neneknya dulu sering memakai cara tersebut bila ingin berderma orang yang 'gak enakan' semacam ini


Wanita itu diam, lalu mulai menitikkan air mata. Lalu menatap sang putra yang sudah bangun  sembari memamerkan giginya yang baru berjumlah empat.


“Makasih Mbak. Allah memang tak pernah ninggalin saya, sampai ngirim malaikat kayak Mbak..”


Perempuan itu menyeka setitik bening dari pelupuk matanya.


“Sama-sama. Doakan saya saja Mbak biar dikasih kesehatan"


“Nama Mbak siapa? Saya mau mendoakan Mbak..”


“Hm.. Doakan saja agar Salisa sembuh. Sebut nama adik saya,  Salisa ya Mbak!”


Nata menyerahkan helmnya kembali, lalu berlari meninggalkan perempuan itu bersama anaknya. Ia telat hampir dua jam. Andai saja tak memasang janji mungkin ia akan betah ngobrol lama, belajar akan kehidupan dari seorang ibu tangguh sepertinya.


Nata memasuki area taman seluas dua hektar itu dengan terburu. Sebuah taman kota yang tawarkan sedikit kesejukan di sekeliling jalanan yang berpolusi.


Kombinasi tanaman Chalatea dan Asoka tampak sejajar mengapit jalanan setapak, sementara aneka pohon berukuran sedang sedikit berjarak dibelakangnya. Hijau, rindang, menenangkan.


Sebuah kolam berbentuk lingkaran dengan bangku mengelililinginya adalah tempat Nata acapkali melarikan diri bila jenuh dikantor.


Beberapa bangku terlihat kosong, pengunjung tak seramai biasa. Pagi dan sore hari adalah waktu yang disukai banyak orang mendatangi tempat ini untuk sekedar mengajak anak bermain, atau menghilangkan kejenuhan dari segenap rutinitas.


Nata menoleh ke beberapa bangku, mencari sosok yang mungkin saja datang atau menunggu untuk memenuhi janji yang ia putuskan sepihak.


Beberapa saat mengulang kembali edaran pandangannya, namun hasilnya sama. Tak ada wujud yang dicari. Hanya tampak tiga keluarga, dengan anak kecil. Dan sepasang remaja yang tampak sedang dimabuk asmara.


'Apa mungkin dia udah pulang karena nunggu kelamaan, atau jangan-jangan ia gak datang sama sekali...' Nata membatin.


Ia melihat kesamping, pada remaja yang asik bergenggaman tangan.


“Dek, Ada nampak pria berambut sepundak gak selama di sini?” ucap Nata tanpa sungkan, setidaknya pertanyaannya bisa membuat sepasang remaja itu berhenti mesra-mesraan ditempat umum.


Yang ditanyai tampak mengeritkan dahi, seakan minta waktu sejenak untuk mengingat sosok yang ditanyakan.


“Gak tau kak. Kalau disamping kami kayaknya gak ada. Tapi kan taman ini luas. Mungkin yang kakak tanyakan, ada di bagian lain..”


Sang gadis lalu menoleh kesekeliling, setiap sudut taman memang juga disediakan bangku  lainnya dalam bentuk sederhana, hanya terbuat dari semen. Berbentuk persegi panjang. 


“Yaudah, makasih ya...”


Nata kembali berjalan mengitari taman yang luas itu dengan langkah gontai. Ia merasa amat kelelahan, semalam ia hanya tertidur satu jam saja. Belum lagi begitu banyak yang harus mengacau pikirannya, tentang insiden semalam, tentang ucapan Radit tadi pagi, dan tentang keberadaan Lukman.


Perlahan gerimis jatuh satu satu mengenai jilbab hingga tuniknya. 


“Hujan?”


Nata mengadahkan kedua tangan. Lalu malah mematung sendirian. Berharap hujan mampu mengguguyur segenap suasana hatinya.


Kalau bukan kerena tatapan aneh orang kepadanya, mungkin ia akan benar-benar bermain hujan atau membiarkan hujan mempermainkan dirinya, barangkali.


Akhirnya ia ikut berhamburan menuju satu ke bagian samping taman seperti yang dilakukan orang-orang di sekitarnya. Sebuah bangunan dengan beberapa pilar tanpa dinding. Ada sedikit atap untuk berteduh, walau tak seberapa luas.


Semua yang di taman berkumpul dititik itu, ada belasan jumlahnya. Namun tak ada Lukman diantaranya. Nata menduga sepertinya lelaki itu memang tak pernah datang.


Bayangan tentang Lukman seakan menyesaki ruang pikirannya. Tawanya, leluconnya, kejailannya, hingga perpisahan di malam itu. Lalu siapa sangka bertemu kembali kemarin, dengan keadaan yang amat rumit. 


Hujan semakin deras hingga satu jam lamanya. Semua di sana dengan teman berbicara, atau ditemani layar 4 inch mereka. Kecuali Nata, ia tak bisa melakukan apapun kecuali merutuki keadaan, bahkan selembar uang-pun ia tak punya. Bagaimana mungkin ia bisa lupa bahwa untuk pulang ia juga membutuhkannya beberapa.


Kepalanya makin terasa berat saja.


 “Nata”


Sayup-sayup terdengar seseorang memanggil namanya dari belakang. Tapi kini untuk berpaling saja dia sudah kepayahan. Matanya mulai berkunang-kunang tak mampu melihat siapa yang berdiri di hadapannya kini.


“Lukman?”


Nata mencoba mengedipkan lagi matanya, kabur.


'Bruk..'


Nata terjatuh ke lantai lalu tak sadarkan diri. Lelaki yang memanggilnya tadi tampak amat panik, ia segera menarik tubuh itu kedalam pangkuannya, menepuk-nepuk pipinya, berharap sosok yang dicintainya itu bangun.


“Nata..! Nata, kumohon sadarlah..!"

__ADS_1


__ADS_2