My Lovely Driver

My Lovely Driver
4


__ADS_3

Hari ini ada peresmian cabang baru di lokasi yang sedikit jauh diperbatasan kota, membuat Lukman harus bangun pagi-pagi sekali menempuh lintasan yang sedikit lebih panjang dari biasanya.


Lama berada di lokasi acara membuat ia tampak bosan, tak bisa melakukan banyak hal dikelilingi mahluk aneh bernama wanita. Mahluk yang rela menahan sakitnya jarum suntik atau pisau bedah, hanya demi tampil menarik.


Tapi Natasha berbeda, ia bisa saja melakukan semua terapi kecantikan. Perempuan itu memilih hanya menjaga pemberian Tuhan kepadanya tanpa berniat mengubah apapun.


Beberapa kali Lukman tak bisa menahan diri untuk menguap saat pulang memasuki wilayah mereka kembali, hingga suara azan terdengar perlahan menyusup kedalam mobil.


“Nah itu sudah udah Magrib. Aku mau shalat bentar biar hilang ngantuk!"


Pria itu kemudian mulai menghidupkan lampu sign sebelum mendekati sebuah Mesjid, tanpa merasa perlu mendengarkan jawaban dari lawan bicaranya yang sedang dalam siklus bulanan wanita.


Dari mobil Nata menatap punggung Lukman memasuki mesjid berarsitektur khas timur tengah itu. Pria yang dulu kerap menungguinya saat jam istirahat hanya untuk menawarinya sebuah permen dengan aneka tulisan singkat diatasnya seperti ; I love you, Be mine, You are Sweet, Awesome.


Adik leting yang ternyata tak seburuk dibayangkan. Lukman pernah membantu temannya yang kecelakaan, ia suka bermain dengan anak-anak pengamen diseputaran sekolah, selain itu Nata juga sering mendapatkan Lukman sedang membantu petugas sekolah menyapu.


"Kemana lagi kita sekarang?" Tanya Lukman ketika kembali kedalam mobil.


Kali ini Nata yang agak ragu menjawab pertanyaan terkait rute selanjutnya. Ia sebenarnya ingin berbelanja disalah satu toko yang yang terkenal menjual pakaian dalam wanita terbesar di tengah kota.


"Mm... ke Ladies ya" ucapnya ragu, takut ditertawakan.


"Hah? Tempat yang penuh manekin dipakein lingerie itu?" Tanya Lukman tertawa membayangkan tempat yang menjadi magnet bagi para perempuan di sana.


"Udah tau tanya! Kan aku bukan mau beli barang seperti yang dipajang itu. Aku mau cari celana pendek atau atau sesuatu yang enak dipakai untuk tidur" Nata mengerucutkan bibirnya dibalik Lukman yang sedang menertawai wajah salah tingkah Nata.


***


Duduk satu jam lebih didalam mobil, menunggui perempuan belanja itu amat membosankan bagi lelaki. Lukman kelaparan, namun merasa tanggung keluar mencari makan, takut Nata tiba-tiba sudah selesai.


Tenyata benar kata orang, waktu yang dipakai untuk menemani perempuan shoping itu terasa sangat lama. Konon bisa dipakai untuk tidur, dan tau-tau bangun saat rambut sudah putih.


Akhirnya Lukman lega melihat Nata kembali dengan satu tas berukuran sedang ditangan kirinya.


"Astaga! Selama hampir dua jam disana cuma satu tas kecil itu yang kamu beli? Aku kira, kamu keluar sambil manggul dua karung goni!" Seloroh Lukman sambil menghidupkan mobilnya.


"Kamu ini jadi supir cerewet sekali. Untuk apa aku beli sebanyak itu?"


"Ya, kali aja mau dijadikan sovenir pernikahan. Kan lucu juga underwear dijadikan Sovenir"


"Lukmaaan...!" Ia memukul bahu pria itu dengan handbagnya. Disambut cekikikan dari bangku depan.


Mobil melaju dengan cepat, Lukman berencana mampir ke Warung Nasi Pasang kesukaannya sepulang dari mengantarkan Nata. Tiba didepan rumah, ternyata ada sesosok pria yang telah menunggu mereka didepan pagar, Dion.


"Aduh, dia lagi...! Nata cepat kamu pindah ke depan, biar dia gak curiga!" perintah Lukman agar peremuan itu melangkah dari sela dua bangku depan. Tubuh Nata yang mungil tidak begitu menyulitkannya berpindah tempat.

__ADS_1


"Ngapain lagi kamu kesini?" Nata membuka kaca depan mobil.


"Sepertinya aku ketinggalan beberapa baju disini" Ucapnya sambil mengalihkan pandangan ke Lukman. Menatapnya penuh ketidaksukaan.


"Jangan mengada-ada. Kamu udah satu tahun lebih gak tinggal disini. Barang-barangmu sudah dikirimkan semua ke apartemen, tak bersisa!"


"Kamu lupa, sejak kita bertengkar aku pindah ke kamar tamu? Kayaknya aku ingat menempatkan dua baju Jersey kesayanganku disana"


Yang dikatakan Dion memang benar. Sebelum menggugat cerai Dion bersikukuh bertahan dirumah itu walaupun Nata mengusirnya. Ia berharap bisa memperbaiki keadaan, namun gagal.


Nata tak tau bila ada sebagian barangnya di kamar tamu. Para asisten rumah tangga tak pernah memberitahunya apapun tentang isi kamar yang memang sudah lama kosong. Tak ada yang menginap disana sudah setahun ini.


"Biar aku yang ambilkan, kamu tunggu disini saja sama dia" Ucapnya menatap Lukman.


"Di sana ada underwear dan beberapa barang pribadi juga. Cukup biarkan aku masuk sebentar saja. Janji, ini yang terakhir kalinya. Setelah ini aku tak akan menggangu kehidupan kalian lagi"


Dion tampak sungguh-sungguh dengan ucapannya. Apalagi janji itu, tak pernah ada janji serupa selama ini. Itu yang sangat Nata inginkan.


"Masuklah. Dan janjimu itu harus kau tepati, ini terakhir kali!" perintah Nata sambil memberikan isyarat kepada penjaga rumah untuk membukakan gerbang agar kedua mobil itu bisa masuk.


Pintu rumah di buka Tina, Nata membisikkan sesuatu ke telinga perempuan itu agar tak satupun keluar kamar selagi mantan suaminya dirumah. Nata takut Dion akan mengintrogasi mereka tentang pernikahan fiktif ini.


Lelaki itu masuk dengan mata yang terus menyisir tiap jengkal rumah, seolah ingin mencari sesuatu.


"Kenapa tak ada foto nikah kalian dirumah ini?" Tanya Dion penuh selidik.


Lelaki itu melangkah ke lantai dua dan mengambil dua helai pakaian, tak ada yang lainnya seperti yang diakuinya tadi. Lalu Lukman dan Nata sadar bahwa lelaki ini bukan sedang ingin mengambil baju saja, ia ingin tau yang lainnya. Dion mulai menatap aneh kedua orang dihadapannya, yang tak tampak seperti suami istri.


Lukman kemudian seperti tau apa yang dipikirkan lelaki itu, lalu mulai berpikir sesuatu yang lainnya.


"Dion, cepatlah sedikit. Jangan rusak agenda kami berdua malam ini. Kami masih pengantin baru.. Kami tak bisa menunggu lebih lama..." ucap Lukman kemudian merangkul pundak Nata.


"Sayang, belanjaan yang tadi di Ladies udah diambil dari mobil kan? Aku tak sabar.." goda Lukman yang kini mulai menyugar ujung rambut Nata.


"Udah sayang..." Jawab Nata tak kalah menggoda, sambil mengangkat tas belanjaanya tadi.


Melihat tas yang bertulis nama toko underwear paling hits dikota itu membuat Dion tak lagi bisa menyembunyikan kekalahannya.


"Aku pamit dulu" ucap Dion seperti orang yang kalah perang.


"Oke, silahkan" Nata mempersilahkan.


"Nata, maafkan aku. Mengkhianatimu adalah kesalahan terbesar dalam hidupku.." ucapnya sebelum melangkah keluar dari rumah yang pernah mereka huni bersama.


Nata menutup pintu, duduk tersungkur dilantai mulai menitikkan air mata mengingat saat indah bersama Dion. Ia yang amat romantis, amat peduli, membuat Nata merasa mempunyai kehidupan pernikahan yang sempurna walau belum dikaruniai anak.

__ADS_1


Tak ada yang mencurigakan pada mulanya, hingga sang suami yang tiba-tiba mulai mengunci smartphonenya. Nata mencoba mengintip pola garis kunci dari pantulan cermin, saat ia merias diri dikamar. Lalu dengan cepat mengkloning aplikasi messenger disana. Ada banyak pesan dari mantan cinta pertama sang suami. Betapa terkejutnya ia melihat begitu banyak Vidio menjijikkan mereka.


Pada selingkuhannya, Dion mengaku Nata tak selihai peremuan ****** itu bermain diatas ranjang.


"Tak ada yang perlu ditangisi Nata. Tak ada gunanya." Lukman berdiri tak jauh darinya tersungkur. Nata mencoba bangkit, tak ingin terlihat bagai perempuan bodoh.


Saat hendak berjalan melewati Lukman yang bersiap untuk pulang, Nata mendapati lelaki itu memegang kuat kedua perutnya. Seperti menahan sakit yang amat sangat.


"Lukman, kamu kenapa?" Nata tampak sedikit ketakutan melihat peluh mulai membasahi dahi Lukman.


"Nata, tolong, ambil obatku di dalam tas. Cepat.." Pria itu hampir saja terjatuh bila tak segera ditahan oleh Nata.


"Tina! Bi Ikom, Tolong...!!" Kedua assiten rumah tangga berlari menuju sumber suara.


Mereka merangkul Lukman ke kamar tamu dilantai satu. Ikom menemukan obat yang diminta tadi, lalu Nata membantu meminumkannya dengan sangat hati-hati. Ia tetap duduk disana mengamati Lukman yang tampak masih kesakitan meski sudah minum obat.


"Aku tak apa-apa. Asam lambungku kambuh. Biasanya juga mendingan satu atau dua jam setelah minum obat" ucap Lukman berusaha meyakinkan Nata dengan sisa kekuatan yang ia punya.


"Aku minta maaf. Kamu kelamaan nahan lapar gara-gara aku.. Kita ke rumah sakit?" Nata merasa amat bersalah dengan mata yang sedikit berembun.


"Gak apa-apa. Aku udah biasa kok gini. Nanti hilang sendiri"


Sejak ibunya pergi dari rumah, jam makan Lukman memang sedikit kacau. Awalnya ia cuma Magh biasa, tapi sejak kuliah perutnya semakin bermasalah. Lukman pernah kedapatan pingsan dikosannya. Setelah kejadian itu ia sering takut bila ditinggal sendirian saat penyakitnya kambuh. Ia seolah merasa hampir mati.


"Aku suapin bubur ya" Nata mengambil semangkuk bubur ayam yang terletak di meja, Bi Ikom baru saja memasaknya atas permintaan Nata.


Nata memasukkan suapan pertama kedalam mulut lelaki itu. Lukman tersenyum mendapati Nata yang tampak begitu tulus menyuapinya hingga sendokan terakhir.


"Tidurlah disini, ini sudah tengah malam. Aku takut bila kamu pulang kenapa-kenapa di jalan. Diluar gerimis" ucap Nata sebelum melangkah keluar hendak menutup pintu.


Ingin menolak, tapi Lukman tau badannya belum begitu pulih untuk pulang sendirian. Ingin bertahan, tapi ia tak pernah tidur sendirian bila penyakitnya kambuh.


"Nata. Boleh kamu buka saja pintunya? Jangan ditutup" Pintanya.


"Kenapa?" Nata menautkan kedua alisnya.


"Aku takut rumah sebesar ini biasanya ada hantunya" ucapnya berusaha bergurau meski tampak pucat.


Nata tau itu hanya alasan mengada-ngada. Seketika ia ingat ayahnya yang takut ditinggal sendirian bila sedang sakit. Ibu selalu tidur disisi ayah saat penyakit itu kambuh. Sepertinya Lukman mengalami ketakutan serupa.


"Baiklah. Aku tidur di sofa dikamar ini saja. Kalau kamu gak tahan, kita bisa kerumah sakit" Nata kembali memasuki kamar dengan pintu tetap terbuka.


"Jangan, aku gak enak menyusahkan kamu..."


"Udah jangan komplain, atau kamu aku seret keluar lalu tidur di kolam!" Lalu perempuan itu merebahkan tubuhnya atas sofa putih disudut kamar, menarik selimut menutupi seluruh badannya. Lalu tidur memunggungi Lukman.

__ADS_1


"Terima Kasih, Nata..” Perempuan itu menoleh kembali kepada Lukman. Kedua manik mata mereka beradu lama, lalu sama-sama melemparkan senyuman. Sampai tak lama kemudian Lukman tertidur, dan Nata sibuk dengan pikirannya sendiri.


__ADS_2