My Lovely Driver

My Lovely Driver
18


__ADS_3

"Dasar tengil. Udah di ingatin juga jangan dekatin Natasha lagi!”


Amar terus menyasar setiap jengkal tubuh putranya. Tak peduli ada banyak mata memandang di pelataran parkir.


“Aduh! Ayah, malu ini dilihatin orang”


“Biarin malu sekarang, daripada nangis belakangan! Dia itu mau tunangan beberapa hari lagi. Akal sehatmu kebentur dimana sih Lukmaaan...!”


“Gak kebentur Yah. Cuma bawaan lahir udah begini. Kan Ayah yang bikin aku, sama ibu”


“Lukmaaan...!”


Pak Amar baru saja hendak mencubit anaknya, lagi. Hingga terdengar sebuah suara dari mesjid, tepat di depan Cafe itu berada. Kumandang azan mulai menggema ke seluruh penjuru.


“Sst ... Ayah. Masak mukul anak lagi azan? Shalat yuk?”


Lukman menempelkan telunjuk di depan bibirnya. Kemudian mengembang senyum selebar mungkin dengan mimik minta belas kasihan. Akhirnya Pak Amar menyudahi luapan kekesalannya. 


Lukman menggamit tangan ayahnya untuk melangkah meyebrangi jalan, menuju mesjid.


Seakan tak ada pertikaian apa-apa sebelum ini.


Waktu shalat telah menyelamatkan mereka.


Mesjid yang berlokasi ditengah kepadatan penduduk ini memang selalu ramai oleh jamaah. Baru usai direnovasi bulan lalu. Anak tangga yang berbilang 17 membuat Pak Amar harus harus menjeda langkahya. Lukman memijati ayahnya hati-hati. Bekas operasi dua tahun lalu masih timbulkan nyeri sesekali.


Lalu melanjutkan anak tangga yang tersisa, melangkah memasuki mesjid yang selalu menjadi tempat terbaik untuk menenangkan jiwa.


Kaligrafi di sekeliling relief bangunan dengan perpaduan warna menawan, pilar-pilar putih besar berjumlah lima, dan sebuah lampu bundar gantung serupa milik mesjid Aya Sophia dalam bentuk lebih kecil, menyempurnakan tampilan mesjid ini. Gradasi keseluruhan warna sungguh hadirkan suasana yang tak biasa.


Lukman berdiri di sisi ayahnya pada shaf pertama. Sudah lama mereka tak shalat bersama. Dulu saat  masih SMA, ini adalah rutinitas sakral keduanya, selain makan malam keluarga. Lalu Lukman pindah ke Jogja untuk kuliah, Pak Amar kian merasa larut dalam sepi. Apalagi setelah Maryam menikah dan tinggal terpisah, lelaki itu harus melewati masa senjanya seorang diri.


Berulang kali anak-anak meminta sang Ayah menikah kembali, tapi tak pernah terjadi. Entah sekuat ibu menggenggam hati ayah mereka, hingga belum bisa membuka hati kembali.


Usai shalat dan memanjatkan doa, keduanya memilih duduk sejenak. Pak Amar menoleh ke jam bundar berukuran besar di dinding mesjid, ada waktu setengah jam lagi sebelum Nata selesai dengan urusannya. Ia menatap putranya lekat, mata dan hidung Lukman sangat mirip dengan ibunya. Bayangan sang mantan istri memenuhi pikirannya kini.


“Entah gimana dua atau tiga tahun lagi. Ayah mungkin akan meringkuk kesepian di rumah kecil itu, tanpa anak, tanpa istri..”


Pak Amar mengusap wajahnya, lalu mengubah posisi duduk sedikit lebih enak dengan menjulurkan kedua kalinya ke depan. Garis di wajah itu menampakkan begitu banyak tahun yang telah dilaluinya. Rambutnya sebagian telah memutih, tak ingin disembunyikan lagi.


Betapa Lukman telah membiarkan ayahnya seorang diri sekian lama. Ia merasa bersalah tak tinggal bersama ayahnya. Tapi lokasi rumah dan kantor amat jauh, melalui tiga pusat kemacetan sekaligus. Hingga ketika ada yang menawarinya kos-kosan dengan harga miring, Lukman langsung setuju. Pemiliknya yang seorang guru, merasa pernah hutang budi saat Lukman membantunya saat sertifikasi guru, beberapa tahun lalu.


Jika di hitung dari sejak kuliah, sudah hampir sepuluh tahun ia terpisah jauh dari ayahnya. Seharusnya kini ayah bisa beristirahat dan hidup bersamanya. 

__ADS_1


“Nanti aku nikah. Ayah tinggal sama aku ya”


Lukman menatap ayahnya lekat.  Berusaha sedikit menanangkan sang ayah yang sedang mencemasi hidupnya. 


“Lalu apa menurutmu dengan menikahi orang kaya, dia mau tinggal di rumah kecil dan ada ayahmu di dalamya?”


Hening. Lukman tak tau harus membual apa kali ini. Ia membayangkan mengajak Nata tinggal di rumah kecil, rasanya tidak mungkin. 


“Ayah percaya keajaiban?”


Lukman berusaha menghibur diri sambil memijiti kaki ayahnya kembali.


“Keajaiban?”


“Iya”


“Dulu ayah pernah berharap keajaiban saat ibumu pergi. Berharap ia kembali, dan kami bisa memperbaiki semuanya. Tapi nyatanya, keajaiban itu tidak ada...”


Lukman mengehela nafas panjang, menyaksikan manik mata ayahnya yang tampak nelangsa. 


“Yah, apa yang kira-kira sedang ibu lakukan sekarang ya? Apa  sudah bahagia dengan keluarga barunya”


Sudah lama sekali rasanya tak sekalipun ia memikirkan ibu. Tapi melihat raut rindu di mata ayah, mau tak mau Lukman harus mencoba mengingat lagi sosok yang ingin ia lupakan saja.


“Entahlah ... sudah 22 tahun sejak kamu baru kelas dua Sekolah Dasar. Ayah tak bisa menelusuri lagi jejak ibumu. Kata kakekmu dia sudah tinggal di luar negeri. Ini bukan sepenuhnya salah ibu, ayah tak bisa membahagiakannya.. Ayah salah..”


Ada sembab di mata Pak Amar. Ia mengeluarkan dompet dari saku celana, lalu menarik selembar foto dari dalamnya. Mengulurkannya ke tangan Lukman.


Sebuah foto lama yang ayah laminasi, seorang perempuan dengan rambut tergerai masai nampak tersenyum menyentuh perutnya yang kian membesar. Perempuan itu berdiri di depan rumah pertama yang mereka tinggali di Surabaya. Rumah sederhana yang dibeli dari sisa tabungan sang ibu saat kuliah, setelah benar-benar terusir dari rumah karena memilih menikah dengan Amar, ayah Lukman.


Kala itu ia masih di dalam rahim sang ibu.


“Ibu? Bahkan aku hampir lupa wajahnya..”


Lukman menarik gambar itu, berusaha tersenyum meski getir. Konon anak lelaki akan selamanya milik ibunya, tapi hal itu seakan tidak berlaku bagi Lukman.


“Yah, kenapa ibu mau sama ayah, padahal ibu kan kaya?”


Lukman bermaksud alihkan pilu dengan menggodai masa muda ayahnya.


“Entahlah. Mungkin dulu kepala ibumu  kebentur tembok Berlin”


****** 

__ADS_1


Radit mengajak Nata menemaninya berbelanja  perabotan di sebuah peritel furnitur milik Swedia yang berlokasi di Tanggerang. Ia butuh beberapa alat masak dan sofa untuk merefresh suasana apartmentnya. Tiga hari lagi, Radit akan pulang. Namun Nata belum juga memberi kepastian.


Hidup adalah tentang masa kini, dan masa depan. Tapi entah kenapa sulit melaju tanpa perlu dibayangi masa lalu. Radit terlalu baik di masa kini, tapi Nata takut penggalan masa lalu akan menyusulnya ke masa depan.


“Maaf, bila aku ingin tahun sesuatu. Kamu berhak tak menjawab bila merasa ini privasi”


Nata memindai Radit  yang tengah fokus dibalik kemudi.


“Tanya apa?”


Radit menoleh sebentar, lalu menurunkan kecepatan. Jalanan sedikit sepi malam ini.


“Apakah sekarang perempuan itu sudah menikah?”


Radit mencoba memahami siapa perempuan yang di maksud Nata. Lalu menarik nafas panjang, seakan berusaha mengumpulkan oksigen agar membantunya berbicara.


“Pernah beberapa kali aku mencarinya. Dia menghilang begitu saja. Padahal aku ingin minta maaf, dan ingin menebus rasa bersalah ini. Tapi keluarganya pindah, ayahnya seorang tentara, jadi memang jarang menetap di satu wilayah”


“Apa dia cinta pertamamu?”


Nata masih ingat Radit pernah berkata almarhumah istrinya bukan perempuan pertama yang mengisi hatinya.


“Iya.. Tapi bukankah tidak penting pertama atau bukan? Yang penting terakhir?"


“Jadi kamu gak tau dia udah berkeluarga atau tidak, punya anak atau tidak?”


Pertanyaan Nata sedikit mengejutkan. Pernah Radit khawatir akan akibat dosanya kala itu. Apakah menyemai benih atau tidak, tapi ia merasa yakin melakukan cara yang tepat untuk mencegah hal itu terjadi. Kalau perempuan itu hamil pasti ia minta tanggung jawab. Lalu ia sedikit lega, toh perempuan itu tak pernah berusaha menemuinya lagi.


“Entahlah. Andai saja aku bisa mencari tahu..”


Nata memandang raut Radit yang tengah menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, merenggangkan sedikit otot leher. 


“Radit.. Aku tak tahu harus mengambil keputusan apa. Ibu sangat antusias dengan lamaran ini. Sedang aku, entahlah. Masih mengganjal karena ada penggalan dari masa lalumu yang belum tuntas”


“Istikharahlah Nata ... aku akan sangat bersyukur bila jawabannya iya. Dan Aku tak perlu lagi memulai pernikahan dengan kebohongan. Namun bila jawabannya tidak, kamu jangan khawatir. Nanti aku cari janda yang lain. Yang suka makan dua belah apel sekali telan”


Radit melengkungkan senyuman, mencoba mencairkan suasana. Keduanya tampak tegang dengan topik seberat ini.


Nata menoleh ke luar kaca mobil. Melihat suasana malam di pinggiran jalan yang sudah dipenuhi  aneka kuliner rakyat. Banyak pasangan muda-mudi memenuhi bahu jalanan yang selalu hidup sampai tengah malam itu.


Mata Nata menangkap satu sosok yang tak asing. Pria berkaus hitam dengan jeans belel, tampak duduk di sebuah angkringan. Seorang perempuan tampak menangis, dengan dahi menempel bahu lelaki itu.


Buru-buru Nata membuka aplikasi messengernya, lalu mengetikkan sebuah pesan.

__ADS_1


“SELAMAT, BAHUNYA GAK NGANGGUR LAGI..”


Terkirim ke:  Lukman.


__ADS_2