
“Jangan sampai masa lalu mengacaukan hari ini. Apalagi sampai mengacaukan masa depanmu, Natasha..”
Ucapan Radit akhiri kebisuan, setelah beberapa saat sebelumnya mobil melaju tanpa terdengar sepatah katapun didalamya.
“Its okay.. aku sudah biasa menghadap lelaki itu”
Nata memeriksa lagi isi handbagnya takut ada yang ketinggalan di Cafe tadi. Ia menarik gawainya keluar, lalu membuka beberapa aplikasi. Berharap tak diajak bicara.
Setidaknya sedikit berhasil, hingga beberapa menit lamanya.
“Boleh aku tau... Lukman itu siapa?”
Akhirnya pertayaan itu muncul juga. Namun Radit tampak hati-hati memilih kata dan intonasi, agar tak terkesan memaksa.
Nata meletakkan gawainya, membenarkan posisi duduk. Lalu memasangkan sabuk pengaman yang terlupa sedari tadi akibat kadung emosi. Pandangannya beralih melihat jalanan yang penuh lalu-lalang kendaraan.
“Lukman itu, anak Pak Amar. Dia ngebantuin bikin Dion gak ngusik hidupku lagi. Kami berpura-pura udah nikah sirri. Agar Dion berhenti mengacau”
Nata tiba-tiba membayangkan kembali ide konyolnya itu yang muncul disaat darurat.
“Hm...”
Radit bergumam seakan sedang bersiap dengan beberapa kebingungan lainnya, yang ingin ditanyakan.
“Ah lupakan tentang Lukman atau Dion. Ceritakan aku tentangmu..”
Nata sekan ingin mencegah munculnya pertayaan baru. Ia menoleh ke Radit, menatap lelaki yang sedang memacu kemudi itu, sedikit lebih fokus.
Berbeda dengan Lukman, pria itu sangat klimis, tampak dewasa. Dengan tampilan seperti umumnya para pebisnis muda. Dalam balutan jas, dan kacamata yang membingkai bola matanya yang coklat dan alis yang hampir menyatu. Dengan harta, perilaku, maupun dengan rupanya, sebenarnya ia bisa saja dengan gampang memikat wanita manapun.
“Tentang aku?” Radit memutar bola matanya, seperti tak tau apa yang harus ia ceritakan.
“Eh. Atau tentang Sadiqa aja deh..”
Nata mengubah permintaan, ia ingat Radit pernah menyebutkan nama almarhumah istrinya.
Ternyata butuh beberapa helaan nafas sebelum Radit menjawab tentang perempuan yang sangat di cintainya.
“Walau secara tahun lahir kami sama, tapi dia kakak letingku saat SMA dulu.."
Sebuah kalimat pembuka yang berhasil buat Nata malah teringat akan sosok yang juga menyukai kakak letingnya; Lukman.
“First love?”
“Hmm.. Gak juga, first love aku di SMA sebelum itu. Aku itu dulu murid nakal, asik pindah-pindah sekolah. Setelah ummi meninggal aku jadi tak terkendali. Belum lagi kehadiran ibu tiri yang kerap bikin rumah penuh suara teriakan. Di sekolah, aku melampiaskan semua. Suka bolos, tawuran, pacaran. Sadiqa itu yang kesekian. Sebelum ibu datang dan membawa banyak perubahan dirumah, tak terkecuali aku..”
“Lalu?”
“Ayahnya Sadiqa penjaga sekolah. Mereka tinggal masih dalam komplek sekolah kami. Ia pernah nolongin aku saat dikeroyok anak sekolah lain. Saat murid lain menghindar karena takut dikeroyok juga, dia malah mendekat dan bikin lawan segan bila harus menghadapi perempuan. Disaat itu pertama kali aku jatuh cinta padanya.
Pertama dengan kebaikannya, lalu senyumnya, kemudian salah tingkahnya, hingga ngambeknya, perhatiannya, lalu akhirnya semuanya..”
“Pasti orangnya ayu dan keibuan banget ya?”
“Pastinya, andai ia sempat beneran jadi ibu sampai sekarang. Anak kami pasti akan jadi anak yang paling beruntung. Dan aku akan menjadi suami sekaligus ayah yang paling bahagia”
__ADS_1
Radit berusaha keras menahan kelenjar matanya agar tak bekerja. Berbicara tentang Sadiqa akan selalu membuatnya berakhir gugu.
“Maaf. Sudah membuat kamu harus mengingat apa yang telah susah payah kamu lupakan”
Nata mendadak merasa salah memilih pertanyaan.
“Tak apa, aku tak akan pernah mau melupakan dia kok. Dia selalu disini” Ucapnya menunjuk bagian dada sebelah kanan.
“Trus kalau nanti kamu punya istri lagi. Dimana letaknya?” Nata seperti tak sadar dengan perkataan ya sendiri. Pertanyaan yang membuat Radit kikuk, lalu tersenyum sambil mengusap-usap belakang lehernya.
“Emang kamu maunya diletakin dimana?”
Kini malah Nata yang salah tingkah. Lalu menoleh ke luar jendela sambil menggigit bibir bawahnya. Syukurlah lokasi kantor tak jauh lagi untuk membuang malu.
Tak lama mobil berhenti di pelataran parkir. Nata turun keluar dan menatap lelaki itu dari kaca jendela yang sengaja Radit buka.
" Nanti aku pulang sama Pak Amar aja. Kamu jangan repot kemari lagi"
Nata tau petang nanti ada agenda pertemuan bersama para anggota Indonesian Hotel and Restaurant Association. Sebuah organisasi yang menaungi para pengusaha hotel dan restoran seluruh Indonesia.
"Oke, tapi janji besok aku yang ngantar kamu seharian"
Nata tersenyum sambil mengaitkan telunjuknya dan jempolnya membentuk lingkaran. Tanda setuju.
Mobil berlalu, sepanjang perjalanan menuju apartment Radit seakan terhipnotis menyebutkan nama Natasha beberapa kali. Jika awalnya ini hanya sebuah perjodohan yang tak melibatkan hati. Perlahan hal itu berubah saat ia menyaksikan sendiri bagaimana kedekatan Nata dengan adik-adik perempuannya, saat ia ke Palembang.
Ia bahkan minta tidur di kamar Salisa. Jika orang lain memandang adiknya sebagai sosok tak normal. Nata malah asik mengajak Salisa bercanda seperti layaknya seorang teman. Saling bermain tutorial hijab koleksi adiknya. Lalu tergelak melihat hasilnya yang jauh beda dengan apa yang mereka lihat di Chanel YouTube.
Nata pernah berkata bahwa ia belajar banyak dari Salisa dan ibunya. Bagaimana menjadi perempuan tangguh, bagaimana menjadi perempuan bersyukur, dan mentaati Sang Pencipta dalam keadaan bagaimanapun. Salisa lah yang secara tidak langsung mengajarkannya bagaimana menjadi lebih taat. Jika seorang gadis penyintas Down Syndrome saja tau cara taat dan bersyukur, menutup aurat, maka Nata seolah merasa tertampar dengan nikmatnya sendiri.
Lalu Radit itu memilih ikut duduk diruang keluarga, menemani seorang perempuan yang tengah menanti ngantuk. Ditemani secangkir teh hangat dan sebuah talk show komedi di sebuah channel TV swasta, ngobrol dan tertawa bersama.
Hingga perlahan mata Nata meredup, lalu tertidur di sofa. Radit menatapnya, jatuh hati.
Sosok yang asik, periang, dan apa adanya. Hanya saja respon Nata yang kemudian terkadang cuek, membuat Radit paham bahwa ia tak seharusnya berharap banyak. Meski ini hampir memasuki bulan terakhir mereka sebelum Nata memberikan keputusan; menerima atau menolak Radit.
******
Jarum jam sudah menunjukkan angka delapan.
Matahari sekan masih enggan menampakkan diri setelah sedari subuh tadi rintik hujan membasahi ibu kota.
Rumah terlihat sibuk oleh para pelayan yang mulai menyelesaikan tugas masing-masing. Hampir dua minggu ini rumah sedikit ramai oleh kepulangan orang tua Nata.
“Kalian rencana kemana lagi habis dari TV? Kalau gak, ibu mau ajak keluarga mereka makan siang disini. Atau makan malam aja kali ya?”
Retno meraih segelas jus di meja makan lalu menghabiskan setengahnya.
“Hari ini cuma ke TV aja kok sama Radit. Terus langsung ke kantor. Terserah ibu ajalah masalah kapan, masih ada sisa dua hari mereka disini. Tapi Radit kayaknya sih lama.." jawab Nata sambil mengunyah sandwichnya lalu memilih berpindah tempat duduk ke ruang keluarga, disisinya ayahnya.
"Ayah, gimana? Enakan disini atau di Bogor?"
Nata tau betapa sepinya Bogor bagi sang Ayah, tanpa anak dan cucunya. Lelaki awal 60an itu telah menanti lama untuk sebuah kata pensiun, untuk lebih taat beribadah, lebih dekat dengan keluarga. Namun setelah mendapatkannya ia malah jatuh sakit dan tak bisa mewujudkan bucket list nya tersebut.
"Suasananya enak di Bogor. Tapi kalau disini ada kamu, abangmu dan anak-anaknya. Jadi rame" Sang Ayah membaik setelah menjalani beberapa rangkaian kemoterapi dan pengobatan alternatif.
__ADS_1
Rumah memang hanya berjarak beberapa kilometer saja dengan rumah Wahyu, abangnya. Satu Minggu di Jakarta, Pak Idris sudah merasa senang dikunjungi kedua cucunya yang sering main kerumah selama sang kakek disana.
Nata menoleh ke jam tangannya, seharusnya ia sudah harus berangkat dari tadi. Namun barusan Radit mengabari akan telat beberapa menit saja karena harus membeli obat Salisa terlebih dahulu.
"Tu, kayaknya Radit dah datang" Bu Retno menyeruput tehnya sambil menengok ke luar jendela ruang makan, yang mengarah ke halaman samping.
"Aku pamit dulu Ayah ya, Bu. Gak usah diantar keluar lagi. Telat ini"
Nata buru-buru meraih tas diatas meja, lalu keluar dengan setengah berlari. Penanggung jawab program sudah menelponnya agar berada di studio setengah jam sebelum acara dimulai. Ia diundang bersama dua narasumber lainnya terkait membahas tentang produk kecantikan sebagai bisnis yang menguntungkan.
Radit baru saja keluar dan berdiri didepan pintu mobil. Lelaki itu sudah seminggu lebih di Jakarta demi upaya kerjasama dengan beberapa mitra usaha, dan hari ini dia free.
Tampilannya saat ini sedikit lebih santai. Dengan bawahan denim, berpadu kaus putih polos berlambang satu centang biru, tampak tak menyisakan ruang longgar dibadannya yang kokoh.
Ternyata Nata lebih tertarik melihatnya dengan penampilannya lebih casual seperti ini.
“Loh, aku gak perlu minta izin sama orang tuamu dulu?” Tanya Radit melihat Nata langsung memasuki mobil.
"Gak, ibu udah aku bilang kita lagi buru-buru" jawab Nata sambil memasang sabuk pengaman. Lalu Radit terpaksa kembali ke dalam mobil.
"Eh Pak Amar udah kamu bilang gak usah ke kantor hari ini?"
Nata mengangguk sambil melihat isi tasnya takut ada yang ketinggalan.
Sadar akan keterlambatannya, Radit memilih memacu mobil dengan kecepatan sedikit tinggi. Sementara Nata tak berpaling dari gawainya demi mengabari posisinya pada Rian, temannya di stasiun TV.
Traffic lamp baru saja beralih dari hijau ke warna kuning. Mobil itu harus berhenti sejenak, Radit mengalihkan pandangan ke mahluk manis disampingnya, terpesona dengan penampilan Nata hari ini yang tampak anggun dibalut pasmina bewarna peach.
“Aku pasti akan menjadi lelaki yang sangat beruntung, bila memiliki istri sepertimu...”
Sebenarnya Nata agak kaget mendengar ucapan lelaki disampingnya, baru kali ini ucapannya sedikit lebih berani. Tapi Nata berusaha menyembunyikan ekspresinya, biasa saja.
“Jangan merayu pagi-pagi, aku udah telat ini..”
Biasanya dulu perbincangan hanya seputaran kabar keluarga, bisnis, dan topik berat lainnya. Bagaimanapun Radit adalah sosok yang asik diajak bertukar pikiran. Namun sebagai teman, ia seakan bukan tipe manusia yang asik diajak hora-hore.
Lampu kembali menjadi hijau.
Naas, baru beberapa menit melaju, ban mobil bermasalah. Mereka berhenti di pinggir jalan, Radit keluar mencari bengkel terdekat disekitarnya. Hasilnya nihil.
"Gimana ini, kita cari driver online? Kamu udah telat" Tawar Radit sambil menyeka keringatnya dari luar mobil.
"Kata Rian ada rekan mereka yang baru siap observasi tempat, didekat lokasi kita. Dia bawa motor mau jemput kesini. Katanya disuruh bareng dia aja daripada nunggu driver online lagi. Acara 25 menit lagi akan live"
Dari dalam mobil, Nata tak melepaskan gawai pada bagian luar telinganya. Ia baru saja mencari solusi pada temannya diseberang panggilan.
"O yaudah, mana orangnya?" Tanya Radit sembari mengedarkan pandangan ke sekitar.
"Entah, katanya lelaki pakai baju seragam merah, celana hitam, rambut panjang. Lagi kesini naik motor sedikit gedek.." Dari balik kaca mobil pandangan Nata mulai menyisir jalanan sekitar, hingga akhirnya menemukan sosok dengan deskripsi serupa menghampiri mobil mereka.
Lelaki yang wajahnya tertutup kaca helm itu mulai memberhentikan motornya. Lalu melepaskan benda pelindung kepala tersebut, hingga tampaklah sebuah wajah yang tak asing.
Lelaki bermata elang, dengan rambut sebahu yang diikat asal. Lelaki yang selama ini bak hilang di telan bumi tiba-tiba muncul tak terduga, dihadapannya.
"Lukman?"
__ADS_1