
Nata memasuki rumah dengan terburu usai Radit berlalu.
Jangankan memintanya mampir, bahkan perempuan itu lupa bagaimana caranya berterima kasih atas bantuan orang lain. Ada yang lebih penting yang ingin dia selesaikan.
“Loh, Raditnya mana?”
Retno mencuci tangan lalu melepaskan apron yang terikat dilehernya. Ia melangkah mendekati Nata ke ruang keluarga.
“Dia sudah pulang. Ada urusan”
“Jadi, gak bisa kesini nanti malam?” Nata bahkan lupa menyampaikan undangan makan malam itu secara personal. Ia berusaha mengatur nafasnya. Berharap bisa tetap bertutur dengan lembut, walau apapun yang akan muncul setelah ini.
“Bu, ibu ngomong apa ke Lukman sebelum ia pergi, dua tahun lalu?” Nata merebahkan badannya ke sofa, merenggangkan kedua otot kakinya, lalu mengusap wajahnya pelan.
Retno terkejut mendengar satu nama yang disebutkan Nata.
“Kenapa tiba-tiba kamu ingat dia lagi?” Retno mengambil posisi tepat disampingnya putrinya duduk.
“Aku ketemu dia!”
“Dia dikota ini? Apa dia yang datang menemui?”
Nata menaikkan satu sudut bibirnya sambil medekapkan kedua tangan, berharap bisa menutup celah yang bisa saja membuat tekanan ucapannya meninggi.
“Ibu tenang saja, dia menepati janjinya. Lukman hanya pindah kerja, dan aku mendatangi stasiun TV dimana dia bekerja. Ia tak berusaha menemuiku sama sekali. Seperti yang ibu minta, kan?”
Nata tersenyum lirih lalu memejamkan matanya sesaat. Hening mengambil waktu beberapa saat diantaranya keduanya.
“Maaf.. Ibu melakukan ini demi kebaikanmu Nak..”
Retno mengusap pundak putrinya pelan.
“Dengan memberi harapan palsu kepadanya? Apa tak ada cara lain?”
Nata menahan kelenjar air matanya agar tak bekerja. Ia tak mungkin akan bisa marah dengan ibu yang telah melahirkan dan membesarkan ya dengan sepenuh cinta. Tetapi menyembunyikan hal yang harus diketahuinya, Nata kecewa.
“Bu, dia itu kerja mati-matian demi menuhi persyaratan ibu..! Dia menjauhi aku, membiarkan aku berburuk sangka kepadanya. Demi bisa menuhi permintaan ibu. Sementara ibu tak menyampaikan apapun padaku..! Ibu sama saja seperti mempermainkan dia!”
Akhirnya luruh juga air mata itu, satu satu. Retno diam menyaksikan Nata dalam pilu, putri kesayangannya itu sangat jarang menangis. Hanya saat mengetahui Dion berselingkuh dan saat ayahnya di vonis kanker, selebihnya tak pernah Retno mendapati putrinya menitikkan air mata.
__ADS_1
Lalu Retno ingat akan malam itu --dua tahun lalu--
Sang ibu tau bahwa putrinya memendam rasa pada Lukman bahkan di menit pertama ia menyaksikan keduanya berangkulan.
Tapi membiarkan putrinya jatuh cinta pada anak dari supirnya sendiri, Retno tentu sulit untuk berbesar hati.
Sebenarnya bukan itu saja. Perjodohan dengan anak sahabatnya, adalah impian terbesar yang diharapkannya jadi nyata, selain kesembuhan sang suami.
Ia yakin sahabatnya akan menjadi mertua yang baik bagi Nata. Dan Radit adalah kriteria suami ideal; tampan, baik, kaya, tak bercela.
Konyol bila Nata harus mengesampingkan Radit demi pria yang tak jelas masa depannya.
Mungkin akan beda cerita jika Retno belum bertemu Sukma. Tapi bisa menemukan kembali sahabatnya yang begitu baik, Retno tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini begitu saja.
“Apa kamu mencintai anakku?”
Introgasi Retno malam itu kepada Lukman. Butuh beberapa saat hingga ia sadar akan maksud pertanyaan Retno, hingga akhirnya berani menggangguk.
“Maaf sudah lancang mencintai anak ibu“
Lukman membayangkan mungkin dulu ayahnya pernah dalam keadaan yang sama dengan ini. Tak berani menegakkan sepenuh badannya dengan percaya diri.
"Saya tak berniat menggagalkan mimpi ibu sekeluarga, tapi perkara takdir bukankah tak ada yang tau?" Pria itu mencoba mengumpulkan kepingan keberaniannya.
"Jadi kamu berharap perjodohan ini gagal?"
Lukman memilih diam, tak ingin merusak penilaian pertama untuknya; dari seorang ibu dari wanita yang dicintainya.
"Saya tak ingin memperpanjang masalah, Lukman. Tolong dengarkan saya dengan baik"
Retno bangkit dari duduknya di beranda, menoleh ke bagian dalam rumah yang tembus hingga ruang tengah. Ia hanya ingin memastikan bahwa Nata masih tertidur, lalu kembali ke tempat semula.
"Begini.. Untuk membatalkan niat saya menjodohkan Nata, agaknya tidak mungkin. Tapi sama sepertimu, saya juga percaya takdir. Tak ada yang tau siapa jodoh anak saya sebenarnya. Kamu disana dengan usahamu sendiri mengupayakan takdir harapanmu, saya disini dengan usaha saya mengupayakan takdir harapan saya; untuk Nata.
Tapi saya minta, untuk tiga tahun ini kamu jangan pernah mendekati putri kami dulu. Jika kamu memang takdirnya dia, sekuat apapun saya memaksa Nata perjodohan ini tetap tak akan berakhir pernikahan.
Tiga tahun ini saya akan mengupayakan Nata bersama calon yang saya punya. Bila setelah itu Nata tidak menemukan jodohnya, saya ikhlas merelakannya untukmu. Namun bila sebelum waktu itu dia memilih laki-laki lain, maka jangan salahkan saya. Berarti itu pilihannya sendiri.
Permintaan saya cuma satu, jauhi Nata selama tiga tahun!"
__ADS_1
Retno tampak serius dengan waktu yang ditentukannya. Namun Lukman menganggap waktu selama itu tidak masuk akal. Itu hanya cara untuk mendepaknya secara tidak langsung.
"Tapi... Tiga tahun?"
"Oke. Dengarkan penjelasan saya dulu. Atau kamu tak akan punya kesempatan sama sekali untuk didengarkan"
Mendengar intimidasi itu, Lukman menahan kembali kata yang hendak dikeluarkannya.
"Anggaplah tiga tahun yang saya berikan adalah waktu bagi kamu untuk memantaskan diri untuk bersanding dengan anak saya. Ya... Walaupun tak berharap punya menantu yang kaya, minimal punyailah pekerjaan tetap agar kamu bisa menghidupi anak saya dengan layak... Jangan sampai mengikuti jejak ayahmu yang cuma seorang supir...."
Akhirnya Lukman mendengarkan kata yang sudah diduganya sejak dulu, kenyataan yang terdengar menyakitkan.
"Ini saya lakukan demi kebaikan putri kami. Kamu tak perlu khawatir, saya dan ayahnya Nata tak akan sampai pura-pura sakit apalagi mengancam bunuh diri agar Nata mau menikah dengan pria itu.
Biarkan tiga tahun ini jadi milik saya. Bila kami gagal, maka datanglah kembali dengan keadaan yang lebih pantas.. Oiya satu lagi. Tolong jangan buat rumit hubungan saya dengan ayahmu, dia sudah 5 tahun bersama kami tanpa masalah apapun. Jangan sampai masalah ini membuat ayahmu kehilangan mata pencahariannya.."
Ancaman itu, Retno sengaja tempatkan di akhir demi menggenapi peringatannya.
Lukman kehilangan kekuatanya, ia tak ingin mendebat apapun lagi. Perempuan dihadapannya bahkan telah mematahkan segala penolakannya jauh sebelum itu dilontarkan. Yang ia pikirkan hanya bagaimana caranya bisa melihat Nata terakhir kali.
"Saya terima tantangan ini. Akan saya buktikan saya mampu. Kalau Nata itu terbuat dari tulang rusuk saya, ia pasti tak akan berjodoh dengan siapapun kecuali selain saya. Dan sekalipun tak punya ibu, saya paham apa yang anda lakukan adalah wujud cinta seorang ibu kepada anaknya.."
Lukman tetap berusaha tinggalkan kenangan baik kepada Retno, sekalipun telah dihempaskan segenap cintanya.
"Kami bisa pegang janji saya terkait batas waktu itu, sejauh kamu juga menepati janji agar tak menjalin komunikasi dengan anak saya selama tiga tahun"
Ia tahu Lukman adalah pria yang baik tapi untuk menerimanya dengan lapang dada, Retno belum mampu.
"Bu, bolehkah saya memindahkan Nata ke kamarnya, kasihan dia tertidur diluar sana.. Karena saya tau dia masih kepayahan berjalan, Dan sepertinya tidak ada yang bisa dimintai bantuan disini untuk memindahkannya ke kasur"
Lukman memilih kalimat yang sangat masuk diakal, agar perempuan itu menerima permintaannya. Retno berpikir berapa saat hingga akhirnya mengganggukkan kepala. Ia tau kebiasaan tidur putrinya yang amat mustahil terbangun bila baru tertidur pulas. Toh pria itu tak akan bisa membuatnya terjaga.
"Masuklah.."
Lukman akhirnya bisa menghela nafas panjang, setelah rangkaian kalimat panjang perempuan itu menyesaki dadanya. Setidaknya ia masih bisa melihat sosok itu sebagai penawar segala ucapan perih tadi.
Ia melangkah ke dalam, menatap Nata untuk terakhir kalinya. Retno mengawasi dari belakang, saat Lukman memindahkan tubuh kecil itu kedalam rengkuhan kedua kedua tangannya. Lalu lelaki itu melangkah ke salah satu kamar yang ditunjuk Retno.
Lukman menatap perempuan dalam tangannya lekat, seakan tak ingin berpisah. Lalu berbisik pelan.
__ADS_1
'Aku sungguh mencintaimu. Kamu jangan mencintai siapapun lagi. Tunggu aku, kembali..'