My Lovely Driver

My Lovely Driver
14


__ADS_3

Nata merasa kepalanya masih pusing hingga tak mampu melihat dengan jelas siapa lelaki di bagian depan. Sesaat ia mendapati diri didalam sebuah mobil, lalu terpejam kembali sepanjang jalan.


Kendaraan itu kini perlahan terasa berhenti melaju. Suara pintu terbuka, cahaya matahari siang menyeruap masuk kedalam dimana Nata masih kepayahan membuka mata. Perempuan itu merasakan tubuhnya seperti terangkat.


Ia ingat, dulu pernah merasakan hal serupa dalam keadaan setengah sadar. Apa kali ini sedang bermimpi? Apakah tangan pria yang sama lagi?


Nata berusaha membuka matanya sekuat mungkin.


"Radit?"


Nata kaget setengah mati mendapati dirinya dalam kedua tangan pria itu. Melihat Radit tengah membopongnya, reflek tubuhnya melakukan lompatan.


"Aw.."


Nata terjatuh ke lantai, mengusap pinggangnya  lalu meringis kesakitan. Melihat sekitar ke depan ada beberapa orang berpakaian seragam hijau dengan lambang bewarna merah berbentuk palang di dinding belakang mereka. Ia lalu tersadar Radit membawanya ke sebuah klinik.


"Nata? Kamu gak apa-apa?"


Radit melongo, tak percaya perempuan yang tadi pingsan kini malah punya kekuatan untuk melompat.


Beberapa perawat malah tak bisa menahan tawa, lalu berusaha membantu Nata berdiri. Radit segera melakukan registrasi sementara seorang perawat membantu memapah Nata yang kepayahan berjalan akibat nyeri terjatuh tadi. Mereka menuju ruang Dokter, lalu seorang perawat lainnya menyambut Nata dengan sebuah alat tensi darah.


"Kenapa pasien ini?"


Sapa seorang lelaki bertubuh tambun duduk dibalik meja, menanyai pasien terakhirnya.


"Tadi dia pingsan, Dok. Di mobil kayaknya sempat sadar, lalu saya lihat pingsan lagi. Ini tiba-tiba malah bisa koprol" Radit bingung tak tau cara menjelaskan tanpa mengulumkan senyum.


Nata yang sadar jadi objek tertawaan malah mulai mengerucutkan bibirnya melihat Radit, dengan wajah tak terima.


Sebelumnya Radit sempat bingung harus membawa Nata kemana. Setelah meraba denyut nadi perempuan itu, entah kenapa insting Radit mengatakan ini hanya pingsan akibat kelelahan. Tak perlu menempuh jauh ke Rumah Sakit untuk kasus ini, pikirnya.


Hingga tampak sebuah  gedung putih bertuliskan klinik Medika Utama. Pria itu langsung memutar balik mobil pada sebuah fasilitas kesehatan yang tampak baru diresmikan beberapa hari saja. Sebuah papan bunga masih berdiri disana, dan tak tampak begitu banyak pasien di dalamnya.


Dokter melakukan sedikit pemeriksaan dengan sedikit tanya jawab tentang apa yang dilakukan terakhir kali, makanan terakhir, kualitas tidur, dsb.


"Ini cuma sedikit beban pikiran, kecapean, juga kurang tidur. Jangan-jangan dia itu tadi lagi berkolaborasi, intro sama chrouss nya pingsan, lalu sisanya sedikit tidur. Makanya dapat bonus kejutan bisa melompat sampai tergelincir...." kelakar sang Dokter.


Pria paruh baya itu melemparkan senyum ke arah Nata yang kini dibuat jadi salah tingkah. Yang dikatakan dokter itu seakan benar adanya, tak terkecuali tentang ketiduran di mobil. Perempuan ini selera tidurnya memang diatas rata-rata. Ia takjub bisa tahan  bergadang semalam, itu prestasi yang luar biasa. Meski harus dibayar dengan adegan pingsan sesaat.


"Insyaallah gak ada masalah berarti, tapi tensinya memang sedikit rendah. Kalau mau rebahan disini bentar boleh, mungkin masih pusing. Karena kayaknya pinggangya pun masih sakit" Sang dokter menuliskan nama obat-obatan pada secarik kertas resep.


Nata punya riwayat Mialgia. Dengan terjatuh seperti tadi, ia harus berbaring dulu minimal setengah jam untuk membuat pinggangya lebih nyaman.


"Makasih Dok" Radit dan Nata kompak.


"Oia. Bapak bisa beli sesuatu yang manis di Cafee depan, untuk mempercepat menaikkan gula darah. Saya harus balik ke Rumah Sakit"


Sang Dokter pamit, dan berlalu meninggalkan mereka. Berdua saja.


Klinik itu berbentuk ruko empat pintu yang telah disulap menjadi klinik pengobatan yang jauh dari kesan medis.


Memasuki perkarangan klinik, pengunjung disambut sebuah Cafee Sehat yang menjorok kedepan. Sementara bagian dalam klinik, dilantai dasar terkesan luas dengan beberapa pilar tanpa banyak sekat dinding.


Hanya ada ruang tindakan darurat dan ruang konsultasi tiga bidang medis. 


Dinding yang di cat berwarna hijau pastel dipadu padankan dengan beberapa wallpaper bercorak bunga lili, membuat suasana terasa nyaman. 


Dilengkapi aneka tanaman hidup disetiap sudut ruangan dan aroma pengharum ruang yang beraroma flora. Membuat pasien kadang lupa bahwa ini semacam rumah sakit.


"Ini Hapenya"


Radit meletakkan benda milik Nata di atas ranjang, di dekat tangan pemiliknya.


"Kok bisa sama kamu?"


Sebenarnya ia heran kenapa Radit bisa menyusulnya ke taman. Mahluk itu sekonyong-konyong menjadi malaikat penyelamatnya hari ini.


"Sejam yang lalu ibumu datang ke Rumah sakit. Gak tau kamu udah keluar. Seorang ibu panik berkata bahwa putrinya gak terbiasa keluar tanpa yang antarin. Apa lagi hujan dan kamu gak bawa HP. Kepanikan ibumu ditularkan ke ibuku."


"Jadi ini kemauan dua ibu-ibu itu?" 


"Tiga sama aku.. Oia, Aku cari minum sebentar buat kamu"


Radit meninggalkan ruang itu dengan terburu.

__ADS_1


Nata menarik HP nya, menelusuri panggilan masuk, pesan masuk. Tak tertera nama Lukman di log manapun.


"Menyebalkan!"


Nata melempar HP nya kembali. Ingin rasanya menangis atas kekonyolan yang dikakukannya pagi ini. Tanpa istirahat cukup, tanpa mandi, tanpa HP, tanpa uang, ia nekat ke taman untuk akhir yang menyedihkan. Alih-alih bertemu Lukman, ia malah ditemukan Radit.


Dan kini melihat tak ada pemberitahuan, balasan, apalagi permintaan maaf dalam bentuk apapun. Maka lengkaplah sudah alasan dia untuk merasa patut untuk menangisi tingkah Lukman.


Nata buru-buru memejamkan matanya saat melihat Radit kembali, berusaha menekan kembali cairan dimatanya agar tak jadi tumpah.


Lelaki itu membawa satu cup teh manis hangat, buah-buahan, dan beberapa cracker manis ditangannya.


"Bangun! Dimakan, kalau udah kenyang dan enakan baru kita pulang. Aku udah melapor numpang istirahat sebentar" 


Radit memilih tidur di ranjang sebelah Nata. Hanya ada dua ranjang dalam ruang itu. Tampak wajah kelelahan pada keduanya.


"Maaf, udah merepotkan"


Nata sebenarnya sadar, lelaki yang sedang melipat tangannya diatas dahi itu sedang amat lelah. Radit membalikkan tubuhnya menyamping, menghadap ranjang dimana Nata berada. Lalu mengangguk sembari menampilkan senyum yang isyaratkan bahwa 'its okay'.


Nata malah mengalihkan pandangannya, takut  panah mata itu mengenai hatinya. Ia bangkit untuk duduk demi menghabiskan beberapa makanan. Lalu berbaring kembali, nyeri dipinggangya membuat ia tak nyaman bila duduk lama.


"Jadi kamu ke taman untuk ketemu Lukman?"


Radit tak bisa membendung rasa ingin tahunya saat Nata menyebutkan nama itu sebelum pingsan. 


"Gak, aku gak ketemu siapapun kok disana"


"Maksudmu gak jadi ketemu Lukman? Dia gak datang?"


"Udah, gak usah dibahas. Yang penting aku gak ketemu siapapun. Yang penting kamu ketemu aku. Jadi aku bisa selamat. Alhamdulillah"


"Oke baiklah, kalau gak mau cerita gak masalah. Yang penting kamu gak kenapa-napa" Radit kembali memandang langit-langit. Jeda mengambil waktu mereka beberapa saat.


"Bukan gak mau cerita, cuma gak penting untuk diceritain.. Eh, belum juga duitmu tadi ku bayar, udah nambah lagi tagihannya"


Nata mencoba mengalihkan topik.


"Ya ampun, duit segitu juga"


"Walau segitu, tapi aku merasa beruntung banget bisa memanfaatkannya untuk dimanfaatkan orang lain. Makanya harus diganti"


"Aku jarang banget bisa sedekah langsung ke orang yang membutuhkan, biasanya selama ini ke Baitul Mal, atau Lembaga Sosial. Tapi tadi aku di ojekin sama seorang single parent. Kasian banget, dia itu sambil bawa anaknya yang masih balita lo.


Aku kasih deh semua uang kamu tadi. kalau langsung melihat binar kebahagiaan dari orang yang kita bantu, sensasinya itu beda ya?"


Mengingat raut perempuan yang dibantunya tadi, Nata mulai melupakan kekecewaanya akan drama hari ini.


"Iya. Beda banget emang. Double bahagianya"


"Tapi anehnya, biasa orang habis sedekah ada keberuntungan atau keajaiban yang menghampirinya setelah itu. Kok aku malah kehujanan, pingsan pula"


Nata mulai bisa menertawai nasibnya. Diikuti Radit yang melanjutkan gelaknya.


"Nata, kamu mau dengar cerita aku tentang sedekah juga?"


Nata mengubah posisi tidurnya menyamping, kemudian mengangguk yakin. Pun Radit melakukan hal yang sama hingga kedua netra mereka beradu.


Ranjang itu terpisah dua meter jauhnya. Tapi entah kenapa seolah hanya berjarak sejengkal saja.


"Aku selalu percaya akan keajaiban sedekah. Karena setiap bersedekah, ada saja kebaikan atau kemudahan akan segala hal setelahnya. Dengan cara yang tak diduga-duga.


Mulai dari mendapatkan proyek, menemukan barang hilang, sembuh dari sakit, hingga Sadiqa pun kudapatkan setelah bersedekah.


Kala itu aku mengumrahkan beberapa karyawan, dan rupanya salah satunya adalah walinya Sadiqa, ia sudah yatim piatu saat itu. Setelah itu kayaknya dimudahkan segala jalan untuk aku berjodoh dengan perempuan sebaik dia. Padahal sebelumnya sempat menolak karena jejak palyboy ku di masa lalu.. Tau-tau dia luluh, dan aku merasa memiliki dunia ini segenap isinya.. "


Nata mendapati raut Radit acapkali redup saat menyebutkan nama almarhumah istrinya. 


Namun membayangkan jejak playboy di wajah Radit, Nata benar-benar kesulitan. Pria itu sangat baik selama ini, bahkan nyaris tak pernah berbicara dengan perempuan cantik manapun selama di Jakarta.


"Lalu?" Nata ingin mendengar kelanjutan cerita Radit.


"Lalu saat tak diberikan keturunan, aku juga bersedekah lagi, menghajikan salah satu kerabat. Alhamdulillah dua tahun pernikahan, Sadiqa hamil. Aku selalu menjadikan sedekah sebagai alat merayu Tuhan.


Kemudian saat anak kami terlahir dalam keadaan tak bernyawa... Aku benar-benar patah hati. Dan Sadiqa koma! Lengkap sudah.

__ADS_1


Saat ia masih di ICCU aku menyedekahkan uang yang begitu banyak, hampir menyentuh milyaran. Berharap istriku selamat, bagaimanapun caranya. 


Lalu ternyatata, istri yang amat kucintai malah Allah ambil kembali.."


Kali ini Radit tak bisa menyembunyikan lagi kesedihan, ada setitik bening yang disekanya sambil mengatup mata. Nata tak bisa berbuat apa-apa, tak pun sebuah sentuhan untuk sekedar menenangkan pria malang dihadapannya. Nata tak bisa melakukannya lagi atas dasar Syara' yang sedikit demi sedikit mulai dipahaminya.


"Yang sabar ya.. Bukankah kita gak akan hidup selamanya di dunia ini? Setidaknya di kehidupan setelah ini, sudah ada dua bidadari yang sedang Allah siapkan untukmu. Nah aku, belum punya siapa-siapa yang bakal menunggu disana.."


Nata menarik lebar garis bibirnya, berharap dapat menceriakan suasana.


"Terimakasih Nata.. Tapi, aku belajar banyak dari cara Tuhan menolak rayuanku kala itu.."  Radit mulai bisa melanjutkan ceritanya saat sudah mampu menetralisir suasana hati.


"Apa itu?"


"Pertama, sedekah itu bukan semata tentang merayu Tuhan..


Aku ingat pernah membaca tentang matematik sedekah. Dimana ada hitung-hitungannya, kalau kamu sedekah segini, hasilnya segini. Pokoknya sudah pasti untung berkali lipat, di dunia.


Banyak orang yang berbagi pengalaman bahwa mereka dapat balasan berkali lipat usai bersedekah. Tak ada yang salah sebenarnya, karena bisa memotivasi orang lain untuk ikut bersedekah.


Yang salah, jika kita menjadikan sedekah serupa monopoli, yang harus dapat labanya di dunia. Menjadi seorang hamba yang bangkrut karena laba dari sedekah, tak didapatkan. Seperti yang sempat aku alami.


Padahal bicara balasan Tuhan, kan tidak di dunia. Balasan sebenarnya itu di akhirat, di dunia itu cuma bonus secuil"


Penjelasan Radit sadarkan Nata akan kemalangan yang menimpanya hari ini. 


"Dan hikmah yang kedua..


Setelah kepergian Sadiqa dan anak kami, aku belajar banyak tentang ikhlas. Meski tak gampang, butuh bilangan tahun.


Selama ini aku mengukur sayangnya Tuhan dari keadaan baik yang aku dapatkan.


Hidup bergelilmang harta, karir cemerlang, badan sehat, istri cantik. Allah sayang sekali sama hambanya satu ini, sampai semua kebahagiaan hidup dikasihNya.


Lalu saat Sadiqa Allah ambil kembali,


bagaimana sebenaranya pasal sayangnya Allah itu? Jika Allah sayang, kenapa Ia mengambil apa yang sangat aku sayangi.


Lalu tersadar.


Bila benar kenikmatan hidup adalah tanda sayangnya Tuhan. Maka, Nabi Muhammad nyatanya tak diberikan segenap nikmat yang kita pandang tanda sayang Tuhan, nikmat yang seperti tadi aku sebutkan.


Nabi Muhammad, tak punyai harta, istri tercinta meninggal saat baru berdakwah. Anak-anak beliau yang berjumlah sangat banyak semua meninggal, Allah menyisakan hanya satu saja.


Padahal ialah manusia yang paling dicintai Allah dari seluruh mahluk ciptaannya di langit dan di bumi. Nyatanya, hanya 'kepedihan' yang harus dilalui.


Cinta adalah penerimaan.


Mencintai Tuhan berarti, menerima apapun ketentuanNya, Qadha baik dan Qadha buruk. Bahwa segalanya bersumber dari Allah. Dan sang Pencipta pasti tau yang terbaik untuk ciptaanNya. Mungkin ujian ini untuk menghapus dosa dimasa lalu. Atau untuk menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik lagi.." 


Radit mulai bisa tersenyum kembali, menghibur dirinya sendiri dengan segenap keyakinan yang ia miliki tentang keikhlasan. Ia tampak memejamkan matanya usai bercerita; entah kantuk sebabnya, atau hanya sedang berupaya menyembunyikan rasa.


Sementara Nata di ajak berpikir oleh kalimat Radit. Selama ini hanya kenikmatan yang ia peroleh, dan ternyata ia terjebak di pola pikir yang sama dengan Radit sebelumnya. Bahwa nikmat hidup tanda  sayangnya Allah.


Hingga lupa, mau itu kaya atau miskin, cantik atau jelek, sehat atau sakit; itu semua juga berpangkal pada sayangya Allah. 


Nata menatap wajah Radit sedikit lebih lama. Sekalipun sedang memejamkan mata, tapi tak bisa menyembunyikan aura lelaki itu yang menentramkan. Radit benar-benar terlelap akibat tidak tidur semalaman. 


Setika Nata teringat pernah menikmati pemandangan serupa sebelum ini; menemani seorang pria terbaring didekatnya, mengantarkan matanya hingga mengatup perlahan, dengan hati yang entah.


"Hai, aku tau kamu lagi merhatiin aku"


Nata kaget, sosok yang dipandanginya kini membuka mata dan menyudutkannya dengan kalimat itu. Nata merasa bak seorang yang kedapatan mencuri. Berusaha menutupi perubahan rona wajahnya, dengan kembali merubah posisi tidur.


"Aku cuma takut kamu pingsan juga, sebenarnya yang kelelahan benar-benar itu kan kamu.." 


Pembelaan diri Nata malah mengingatkan dirinya kembali kembali akan insiden tenggelamnya Salisa semalam, dan pingsannya hari ini, adalah ia penyebabnya; hingga Radit pasti amat  kelelahan hari ini. 


"Nata.."


"Iya?"


"Apakah kamu pernah patah hati?"


Nata bingung harus menjawab apa, saat bercerai dengan Dion yang dirasakannya hanya lega. Tapi saat kehilangan jejak Lukman, apakah cukup layak dikatakan patah hati?

__ADS_1


"Pernah kayaknya" jawab Nata seakan tak tak percaya ia bisa patah hati. Lalu menoleh ke Radit, menerka arah pertanyaan selanjutnya.


"Kira-kira.. Apakah aku dan kamu --kita-- akan bisa, menyembuhkan patah hati satu sama lain?"


__ADS_2