
"Hai, kamu tidur?"
Ucapan Nata berhasil membangunkan Lukman yang terlelap beberapa saat didalam mobil, saat menungguinya di hotel.
"Eh udah siap?" Pria itu mengusap matanya. Ia segera membukakan kunci pintu mobil lalu membiarkan perempuan itu masuk.
"Udah! Sekarang jenguk ayahmu saja ya!"
"Jangan, ayah butuh istirahat dulu. 3 hari ini dia kurang tidur. Aku aja sampai ngantuk gini, jagain ayah yang bergadang karena nahan ngilu ditulangnya"
"Lalu sekarang siapa yang jagain ayah selama kamu disini?" Nata tau Pak Amar tak mempunyai istri lagi.
"Adik perempuanku. Kami kembar"
Mobil mulai berjalan tak terburu.
"Oia. Aku baru ingat dulu Pak Amar bilang punya satu orang anak perempuan. Emang dia gak kerja? Atau kuliah?"
"Dia nikah, anaknya udah masuk TK. Jadi gantian sama suaminya jagain anak"
"Lha kembaranmu anaknya udah satu, kamunya malah belum kawin!" Nata menemukan alasan untuk menertawai lelaki itu.
"Daripada kamu, udah kawin malah cerai. Masih mending akulah!" Lukman balas menertawainya, membuat Nata kesal setengah mati.
"Udah dibilang sama aku aja. Pasti hidupmu bahagia" lanjutnya lagi
"Kita udah dewasa Lukman, rayuan konyol tak akan berguna. Perempuan butuhkan kepastian dan kenyamanan. Lah kamu aja baru siap kuliah, menghidupi diri saja masih payah"
"Memangnya lelaki yang melukaimu itu, bukankah menghidupi satu kampung pun ia bisa? Tapi nyatanya dia selingkuh"
Ucapan Lukman sering benar walaupun terdengar menyakitkan. Hasil menguping rumpian ibu-ibu selama satu jam di kantor membuatnya seperti tau akan banyak hal. Selama ini disana memang sedikit heboh akibat kedatangan Dion, mantan suaminya yang berhasil buat keributan. Ia kerap mengirimi Nata bunga dan menunggunya usai jam kantor. Walau selalu ditolak, mantan suaminya tak tampak ingin menyerah sekalipun para security mengusirnya dengan kasar.
"Ayahmu sangat baik, kata-katanya sopan. Kenapa anaknya sangat menyebalkan!" Nata mendengkus dari bangku penumpang.
"Bisa jadi darah ibu lebih dominan"
Nata ingat bahwa Pak Amar pernah bercerita digugat cerai istrinya. Tapi ia tak pernah berani bertanya penyebabnya kepada orang tua itu.
"Kalau boleh tau, kenapa ibumu pergi?"
"Ibuku? Ia keras kepala dan sedikit menyebalkan!"
"Tak semenyebalkan kamu pastinya!"
"Aku memang menyebalkan, tapi aku tak akan kabur dari rumah dan meninggalkan anak-anak yang masih kecil begitu saja!"
"Maksudmu?"
"Saat aku masuk SD ibu pergi setelah acapkali mendebat ayah. Malam itu terakhir kali kami melihat ibu dengan sebuah tas jinjing. Tanpa air mata, meninggalkan kami begitu saja. Awalnya Ibu ingin mengambil Mariam, adikku. Tapi gadis itu malah tak mau meninggalkanku. Kami memeluk ketakutan, melepas ibu dalam kesedihan. Lalu setelah itu kehidupan kami sedikit kacau. Ibu tak pernah kembali. Hanya surat cerai yang setahun kemudian sampai ke rumah kami"
"Maaf..." Nata merasa menyesal telah menanyakan hal yang terasa pasti terasa pilu bila diungkit lagi.
"Kenapa harus minta maaf, bukankah kau tak akan meninggalkanku dan anak kita kalau kita menikah nanti?" Lalu Lukman tertawa.
"Kamu ini, aku hampir menangis mendengar ceritamu. Kamu malah sempatnya bercanda!"
"Haha. Itu sudah lama Nata. Aku sudah berdamai dengan hidupku"
"Yaudah. Cepat antarin ke Coffeshop kawanku di jalan Teuku Umar. Aku mau duduk didepan aja. Lupa-lupa ingat caffeshopnya yang mana, baru satu kali kesana. Ntar biar aku lihat dulu ya. Mana tau ditengah jalan kepincut makanan lain. Makanan di hotel tadi gak cocok di lidah" ucapnya menjelaskan panjang lebar agar Lukman tak salah sangka saat ia duduk disamping kemudi.
"Bilang aja mau duduk dekat aku"
"Terserah"
"Yang kudengar dari orang kantor kamu ini ramah, asik, sopan. Sama aku kok jutek gitu?"
"Karena kamu gak seperti orang baik kebanyakan"
"Ya kebanyakan baiknya cuma didepan. Aku dibelakang" jawabnya dengan penuh percaya diri.
Sebuah sedan hitam keluaran terbaru tampak berusaha memepet mereka dari samping. Kemudian melaju lebih cepat kedepan mereka lalu berhenti mendadak. Sang pengemudi kini keluar menghadang mobil mereka. Seorang lelaki berjas hitam dan berkacamata dengan warna senada.
"Astaga. Pria itu lagi!" ujar Nata nampak kesal.
__ADS_1
"Siapa?"
"Mantan suamiku"
"Minggir kami mau lewat!" perintah Lukman mendongakkan kepalanya dari jendela mobil.
"Tidak, aku mau bicara sama Natasha" ucapnya mulai menggedor kaca mobil disisi Nata berada.
"Hai, jangan maksa seperti itu" kini Lukman keluar dan berjalan menuju Dion.
"Kamu siapa?" Tanya Dion menatap Lukman dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Aku, aku yang nanti mampu menggeser posisi mu. Silahkan menjauh, Nata tak ingin melihatmu lagi!" Lukman mengibaskan tangan seperti mengusir.
"Nata, buka! Aku ingin bicara" lelaki itu terus menggedor kaca mobil.
"Hai, bisa gak sih hargai keputusan perempuan. Udah buat salah masih aja nyusahin orang!"
"Kamu jangan ikut campur ya!" Dion mulai kesal. Ia mengarahkan pandangannya kepada pria lelaki berambut gondrong itu dengan tatapan ingin mengajak berduel. Lalu mulai maju menarik kerah bajunya.
"Hai.. santai bro santai..." Ucap Lukman merentangkan kedua tangannya.
"Kalian ini apaan sih!" Nata akhirnya keluar dari mobilnya, khawatir dengan tingkah kedua pria keras kepala itu.
"Kamu Dion. Berulang kali sudah ku ingatkan. Jangan ganggu hidupku lagi. Ini sudah kesekian kali kamu cegat aku ditengah jalan. Belum lagi mendatangi kantor dan bikin aku malu. Mau kamu apa sih?!"
"Pliz Nata, aku ingin kita rujuk. Aku janji akan memperbaiki diri. Aku masih mencintaimu.. Perempuan itu terus menggodaku.. aku khilaf..."
Lukman sedikit memberi jarak agar kedua mahluk yang pernah mencintai itu bisa menyelesaikan masalah mereka.
"Tidak! Menikah denganmu adalah satu kesalahan, aku tak akan mengulang kesalahan yang sama. Ini terakhir kali ku ingatkan jangan kejar aku lagi..!"
Nata mengacungkan telunjuk, tanda ia tak main-main akan peringatannya.
"Tidak! Bukankah aku sudah bilang? Sebelum kamu menikah lagi, maka kamu tetap milikku! Dan aku akan terus mengikutimu kemanapun sampai kau kembali ke pelukanku lagi!"
Lelaki itu tak mau kalah, ancaman Dion kini terdengar lebih menakutkan. Ia paham watak pantang menyerah yang dimiliki lelaki itu. Nata sudah jengah dengan kelakuan mantan suaminya yang mengikuti kemanapun dia pergi. Dan sekarang dia siap menghantui selama Nata masih sendiri dan belum menikah lagi, ia tak akan akan berhenti. Nata harus melakukan sesuatu, pikirnya. Kemudian mengalihkan pandangan sejenak ke supir penggantinya.
"Maksudmu?"
"Kami sudah menikah..."
Mendengar ucapan itu, Lukman sadar bahwa Nata sedang mempersiapkan sebuah drama dengan mereka berdua pelaku utamanya. Lalu sejenak paham bahwa dia harus berakting sesuatu demi mendukung kesuksesan cerita tersebut.
"Dibilangin gak percaya!" Ucap Lukman mendekat, mulai berusaha melibatkan diri dalam perdebatan itu.
"Kalau kamu nikah pasti orang kantor tau. Seorang Retno Muliasari tak mungkin membiarkan putrinya menikah tanpa resepsi mewah" Dion terlalu pintar untuk mempercayai apapun begitu saja.
"Resepsi pernikahan kita amat mewah Dion. Lalu apa hasilnya? Aku trauma dengan selebrasi besar-besaran lalu karam kemudian. Kami memutuskan menikah Sirri. Menikah secara negara terlalu ribet, terlebih bila ingin bercerai kemudian dan pasangannya merepotkan macam kamu. Kami memilih menikah diam-diam bahkan pegawaiku pun tak tau"
Dion seakan tak percaya dengan apa yang diakui mantan istrinya.
"Lelaki awut-awutan seperti ini, suami mu?"
"Jadi menurutmu siapa juga lelaki manis ini?" Nata mendekati Lukman sambil merangkul lengannya dari samping. Kemudian menyandarkan kepala di bahu lelaki itu.
"Bisa saja dia bodyguardmu. Atau supirmu" jawabnya sambil menoleh sedikit lama ke arah Lukman yang sedang merapikan kerah bajunya.
"Apa menurutmu aku akan mengganti Pak Amar begitu saja sementara beliau supir terbaik yang kami punya?"
Nata lalu lebih erat lagi merangkul Lukman, sambil menatapnya tak berkedip bak seorang yang tengah kasmaran. Dan Lukman membalasnya dengan tatapan serupa. Lalu Nata mendaratkan kecupan kilat di pipi lelaki itu.
"Aku mencintai pria ini" ucapnya dengan amat meyakinkan.
"Kamu?" Ucapan Dion seakan tercekat di tenggorokan. Ia mengepalkan sebelah tangan menekan mulutnya seakan tak percaya. Berbalik menuju mobilnya kemudian membanting pintunya dengan keras. Lelaki itu pun berlalu dari pandangan mereka, bersama mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi.
Nata buru-buru melepas tangannya dari lengan Lukman.
"Dih. Asin banget pipimu!" lalu menepuk mulutnya dengan jemari tangannya.
"Siapa suruh ganjen"
"Padahal suka"
__ADS_1
"Astaghfirullahaladziem... Kalau gak ingat dosa mah, iya banget!" lelaki itu kembali ke dalam mobil diikuti Nata mengerucutkan mulutnya di bagian belakang.
"Udah keburu lapar kayaknya, keacapean main drama. Tempat temanku itu masih jauh, kita ke didepan sana aja ya, ada ada Restoran Nasi Padang!" Nata berubah pikiran.
Keduanya makan seperti kesetanan. Kedua mahluk itu punya keanehan yang sama, hobi makan banyak tapi gendut enggak.
"Aktingmu tadi bagus" puji Lukman sambil mengacungkan kedua jempol nya.
"Kamu juga. Dia sampai kesal gitu. Udah belasan kali mengacau, baru kali ini sepertinya dia amat kesal tanpa banyak perlawanan. Dan aku cukup menatapmu saja sambil membayangkan itu Lee min Ho, dia sudah pergi!" lalu perempuan itu tertawa lepas.
"Menurutmu dia akan kembali?"
"Itu dia..! Sepertinya aku harus minta bantuanmu. Aku sudah mengenal Dion selama 6 tahun dan hafal betul wataknya yang tak cepat percaya atas apa yang dilihatnya. Ia pasti akan kembali untuk menghilangkan keraguannya"
"Jadi?"
"Sekarang aku akan menemanimu mengubah penampilan agar sedikit meyakinkan, rambutmu harus dipotong!"
"Tidak! Aku suka penampilan seperti ini" ucapnya dengan mulut penuh.
"Jangan banyak komplain. Ayahmu pasti sedih kalau kamu gak mau membantuku!"
"Dasar perempuan. Selalu mau menang sendiri!"
"Tapi bukannya kamu ada urusan dan harus kembali ke kantor?"
"Gampang. Ada Rani disana"
****
Pagi ini Lukman datang dengan penampilan amat berbeda. Rambut yang telah dipangkas rapi dengan janggut dan kumis telah dicukur, hanya tersisa sedikit jambang dan bulu tipis di dagunya, lelaki itu tampak lebih segar. Garis hidung dan rahang yang kokoh semakin tampak jelas, menyempurnakan matanya yang tajam.
Selain itu Nata telah membelikan beberapa pasang baju mahal untuk mendukung penampilan suami pura-puranya tampak sangat menawan. Hari ini ia menggunakan celana cream coklat berbahan denim, dipadukan kemeja panjang berwarna dongker, dengan lengan dilipat hingga siku.
Mereka sepakat tetap biasa saja di kantor seperti layaknya supir dan atasan. Tapi akan berubah jika tiba-tiba Dion muncul tiba-tiba. Dari belakang kemudi Nata tampak tak bisa menahan matanya memandangi Lukman dari kaca depan mobil.
"Hai, aku tau kamu sedang memandangiku"
Ucapan Lukman membuat Nata panik bak seorang yang kedapatan mengutil.
"Kegeeran"
"Bilang aja aku ganteng"
"Suka-suka kamu aja"
"Kenapa sih jawabanmu kalau gak Terserah, Suka-suka kamu. Tar aku ajak nikah beneran kamu jawab gitu pula"
"Terserah"
"Hahaha. Kamu itu menggemaskan Nata dengan Coco"
"Jangan pernah panggil nama itu didepan karyawan lain!"
"Iya, gak akan. Paling cuma akan panggil, Sayang"
"Lukmaaaaan!!!!" Nata memukul pundak supir itu dari belakang.
"Kita kemana hari ini?"
"Mampir jenguk ayahmu dulu. Rapat hari ini diundur sampai sore, jadi aku kosong sampai siang"
"Baiklah, kita lihat ayah mertuamu!"
Nata tak memberi respon apapun kali ini. Pasti Pak Amar akan menjadi ayah mertua yang baik. Tapi tidak dengan anaknya, pasti ia akan jadi suami menyebalkan. Lalu mulai bergidik ngeri membayangkannya.
"Eh. Ayahmu suka dibawakan apa?"
"Menantu! Ayahku selalu minta menantu! Jadi kamu cukup bawa diri saja"
"Lukmaaaaan....! Aku serius!"
"Aku juga serius!" lalu tertawa singkat dan kembali fokus mengemudi.
__ADS_1