My Lovely Driver

My Lovely Driver
16


__ADS_3

Akhirya Nata keluar setelah mengurung diri selama belasan menit di kamar mandi. Tak ada jejak muram di wajahnya, seakan tak terjadi apa-apa sebelum ini. Tapi Radit tau, ada yang disembunyikan.


 “Dia suka sama kamu?”


Nata merapatkan blazernya, padahal cuaca tidak begitu dingin. 


Radit memilih duduk di sofa, dihadapannya ada kaca besar yang menampilkan pemandangan ibu kota jelang petang. Menuju jeda dari setiap peluh manusia.


“Gak ada pembahasan lain?”


Nata menarik cangkir dengan pinggiran emas yang baru dibawakan seorang office girl, lalu menyesap lemon tea kesukaannya.


“Contohnya?”


“Share ilmu, kamu baru pulang kajian kan?”


Satu minggu ini Radit memutuskan tak ikut adik dan ibunya kembali ke Palembang. Ada beberapa majelis Ustadz yang sering ia ikuti kajiannya selama ini dari channel dakwah, yang ingin ia hadiri langsung selama di sini. 


Dan entah apa yang menggerakkan kaki Radit ke tempat Nata, padahal perempuan itu sedang membatasi pertemuan mereka. Menurutnya, aneh saja mau lamaran tapi masih ketemuan.


'Biar aku tau rasanya merinduimu'


Jawab Nata pekan lalu, membuat Radit senang bukan main mengikuti permintaan ini.


“Hei, kok bengong! Kamu ngaji apa hari ini?”


Nata mengulang permintaannya. Agar lelaki itu lupa akan topik tentang Lukman.


Radit duduk mematung diri dengan muka tertunduk, dua tangannya mengepal di depan bibir yang tampak bergetar. 


“Radit, kamu kenapa?”


“To.. long...”


Radit tampak kepayahan berbicara, pucat dan kesulitan bernafas.


Nata langsung menelpon Pak Amar agar mengantarnya mereka ke Rumah Sakit.


Sepanjang jalan Radit hanya memegang dadanya sambil sesekali berusaha bernafas. Sementara Nata tampak panik menyusuri jalan dengan wajah tak tenang.


Baru beberapa hari lalu melawati terapi kejut di IGD, siapa sangka kini giliran Radit harus merasakan tubuhnya pasrah di tangan tim medis. Akibat penyempitan saluran pernafasan, ia sesak.


Nata duduk disisinya tak bisa membendung rasa cemas. Sudah satu tahun mengenal Radit, ia tak pernah tahu bahwa lelaki itu punya masalah dengan pernafasannya yang sewaktu-waktu bisa kambuh bila kelelahan atau stress.


Sudah beberapa jam alat bantu pernafasan terpasang. Tubuh itu tampak masih kepayahan bernafas. Namun sudah sanggup berbicara walaupun sepatah dua patah kata.


“Kamu udah baikan?”


Radit mengangkat kedua jempol tangannya, seraya tersenyum.


“Aku telepon ibumu?”


Radit menggoyangkan pergelangan tangan. Ibunya baru berapa hari bernafas lega dan pulang, ia tak akan cukup tega menyusahkannya kembali.


“Kata Dokter kamu harus nginap, tekanan darahmu pun rendah. Malam ini Pak Amar akan jagain. Aku pulang dulu ya, gerah banget. Aku butuh mandi. Insyaallah besok pagi-pagi sekali aku kesini”

__ADS_1


“Makasih Nata”


Radit melepaskan kepergian Nata dengan mata tak beralih sampai perempuan itu berlalu dari pandangan. Sudah tiga jam ia menjagai lelaki itu disana penuh perhatian. Tak sedikit beranjak kecuali untuk shalat. 


Sementara Nata, menyusuri koridor Rumah Sakit dengan langkah gontai. Banyak hal menyesaki pikirannya.  Baru minggu lalu dia mengatakan iya untuk membuka hati, baru satu minggu menyemai cinta yang baru. Siapa sangka Lukman kembali, dan menghempaskannya ke ruang bernama gamang.


***


Sesuai janjinya, hari ini Nata kembali pagi-pagi sekali untuk melihat keadaan Radit. Perempuan itu menggunakan blouse ungu pastel yang dimasukkan kedalam rok putih kembang bermotif bunga-bunga kecil berwarna senada dengan bajunya. Di balut pasmina instan, Nata memang sama sekali tak menyampaikan kelas sosialnya dalam berpakaian. Tapi tetap memukau meski tampil sederhana.


 “Coba ya kalau aku udah nikah. Pasti ada istri yang rawat 24 jam”


Radit mulai berandai-andai, saat Nata mengambil kursi duduk di dekatnya.


“Makanya, ngapain juga nungguin sampai dua tahun. Padahal kalau kamu gak nungguin aku mungkin sekarang udah ada perempuan lain yang mau jagain kamu setulus hati”


Nata meraih sebilah pisau kecil lalu mengambil apel dari keranjang buah, mengupasnya dengan hati-hati.


“Padahal tadi itu aku mau merayumu loh. Kok ya dihempas pula.”


Radit duduk dan tidurnya sambil menggelengkan kepala, tersenyum. Sesaat ia melihat infus terakhirnya yang hampir habis.


“Lha.. Salahku dimana coba ”


“Iya, iya, salahmu itu cuma terlalu cantik, terlalu baik, lain gak ada yang salah.”


“Awas, kamu rayu lagi aku isi infusmu cairan minyak kayu putih!”


Radit tertawa geli melihat mimik Nata yang sengaja mengembang kempiskan hidungnya. 


Radit meraih remote TV Di dekat bantalnya, lalu menekan-nekan tombol  channel sedikit lama. Hanya sebuah upaya agar menghindari tatap mata Nata yang mulai  memandanginya dengan perasaan entah.


“Padahal lelaki sepertimu bisa dapatin gadis kinyis-kinyis lo. Lah kok mesti banget duda maunya janda?”


“Iya. Iya.. perempuan sepertimu juga bisa dapatin lelaki brondong. Makanya setengah hati mau sama duda. Ya kan?”


“Gak tuh, brondongnya gak jelas!”


Nata meletakkan sepiring apel yang sudah terpotong sedikit keras membentur meja. Entah kenapa wajah Lukman amat mengganggunya hari ini. 


“Kamu lagi kesal sama siapa?”


Selidik Radit sambil mengambil sepotong Apel, lalu mengunyah dengan perlahan. 


“Gak ada!”


Lalu perempuan itu malah menyasar potongan apel, tanpa menyisakan satu pun. Dan melahapnya dengan mulut penuh.


Radit selalu suka adegan ini, saat Nata makan dengan hebohnya.


“Jadi kalau gak, kenapa kesal gitu? sampai makan dua potong apel sekali telan.”


Radit tertawa, matanya hanya menyisakan satu garis saja.


“Eh, jadi gimana ceritanya sakitmu ini bisa kambuh lagi? Kayaknya satu minggu ini kamu justru gak kecapean”

__ADS_1


Seperti biasa, Nata selalu punya cara untuk mengalihkan topik. Ia mulai memperhatikan Radit sedikit lebih intens. Sementara laki-laki itu malah tampak terkejut dengan pertanyaan yang diajukan Nata.


Sesuatu yang memang ingin ia utarakan, terkait beban pikiran yang menghantuinya. Radit seketika ingat menit sebelum kesulitan bernafas. Usai pengajian, mendatangi Nata,  dan mendadak ia tak bisa mengontrol suasana hatinya. Lalu sesak sebelum sempat menyampaikan apapun.


“Nata.. Menurutmu, apakah seseorang yang berdosa besar kemudian taubat nasuha, apa ia berhak hidup bahagia dan menyembunyikan dosanya. Karena khawatir akan ditinggalkan oleh orang yang dicintainya?” 


Nata merasa aneh dengan kalimat pembuka Radit kali ini. Manik mata lelaki itu seakan mencari iba, sedang Nata masih mencerna kalimat itu dengan hati-hati.


“Tergantung. Karena dibeberapa kasus Allah justru melarang kita mengumbar aib sendiri. Kalau tidak menimbulkan mudharat bagi orang yang dicintai, kurasa it is ok”


Nata tak bernyali menanyakan dosa siapa, dan dosa apa yang membuat Radit seakan tampak tak tenang hatinya. 


“Natasha.. Jika aku punya masa lalu yang buruk, apa kamu masih akan mau melanjutkan perjodohan ini?”


Pertanyaan Radit makin membuatnya bingung. Keluarga besarnya mereka sudah mempersiapkan sebuah lamaran. Walaupun akan digelar sederhana, tapi  undangan telah mencapai ratusan.


Retno yang paling antusias. Bahkan sudah memilih tanggal pernikahan yang bagus disaat lamaran saja belum berlangsung. Ibunya sudah mulai menceritakan tentang Radit dan Nata ke semua teman arisannya. 


“Maksudmu kamunya dulu bos mafia gitu?”


Nata masih coba hadirkan segurat senyum meski hatinya mulai merasa curiga. Radit membalas senyum itu, namun kelihatan getir.


 “Nata. Bukankah aku pernah bercerita, masa SMA ku amat kacau tanpa kehadiran sosok ibu. Pergaulan yang bebas bikin aku tak bisa menguasai diri.. Dan kemarin, saat pulang dari pengajian kamu tanya apa yang kupelajari disana. Kamu tau Nata, ustadz baru saja menjelaskan salah satu dari tiga dosa besar yang amat berat hukumannya.. Dan aku masuk salah satunya...”


Mata Radit tampak berkaca-kaca. Sedang Nata makin bingung apa yang akan Radit ceritakan. Ada jeda yang lama sebelum Radit berani melanjutkan ucapannya.


 “Nata... Aku pernah meniduri perempuan tanpa ikatan pernikahan.. Aku khilaf...”


Radit tampak tak bisa membendung pedihnya, air mata tumpah satu-satu. Dosa belasan tahun lalu kembali menghantuinya. Bahwa Tuhan akan menghukumnya dunia akhirat. Bahkan kepergian Sadiqa dan buah hatinya, kini dipahaminya sebagai hukuman atas dosa dimasa lalu.


Sementara Nata, masih tak percaya dengan yang dia dengarkan. Radit memang pernah bercerita terkait ke playboyannya. Namun tak menyangka akan sejauh itu, karena bayang masa lalu tak menyisakan jejak sedikit pun di masa kini. Ia lelaki baik-baik seutuhnya. Nata menyembunyikan wajahnya ke balik telapak tangan. Butuh waktu hingga beberapa menit hingga Nata bisa menetralisir rasanya, dan berani bertanya.


“Seberapa sering kamu melakukannya?”


“Sekali Nata. Wallahi cuma sekali saja. Itu sebelum ayah menikah ibu Sukma, dan sebelum aku mengenal Sadiqa ..”


“Lalu Sadiqa tau tentang ini?”


Radit terisak kembali, dari raut penyesalan Nata tau Radit menyembunyikan ini dari mendiang istrinya. Lalu terisak.


“Tuhan menghukumku Nata...”


“Radit.. Aku memang bukan manusia suci. Aku juga punya kesalahan. Tapi, berzina...”


Nata menahan lisannya tak ingin menghakimi lagi, bagaimanapun Radit sudah bertaubat. Tak ada jejak dusta di matanya. Lelaki itu benar-benar menyesali perbuatannya. Bahkan seakan Tuhan telah menghukum dan menebus dosanya, dengan kehilangan dua orang yang dicintai, sekaligus.


“Nata. Aku minta maaf. Bila kau tak berkenan melanjutkan perjodohan ini. Kumohon sembunyikan alasan ini dari siapapun...”


Radit tampak pasrah, ia sadar diri. Teringat ayat yang menjelaskan tentang para pezina hanya akan menikah golongan yang sama. Sebesar apapun cinta untuk perempuan dihadapannya, ia sudah rela jika kemungkinan buruk mengambil bahagianya.


Sementara Nata, sejenak mengingat seorang temannya seorang perempuan yang baik agama dan rupanya, di sunting lelaki yang terlihat sempurna. Di tahun ke sepuluh pernikahan baru terbongkar bahwa dulu sang suami suka mencari hiburan di lokalisasi, dan punya dua orang anak diluar pernikahan. Dan ajaibnya, sang istri memaafkan.


Sementara Radit? Haruskah ia berbesar hati sebelum gelar Qawwamnya bagi Nata sah secara agama.


Entah kenapa tiba-tiba ia membayangkan Lukman yang membuat pengakuan serupa, akankah akan sama reaksinya. 

__ADS_1


__ADS_2