
[ Apapun keputusannya akan aku terima. Tapi kumohon sisa hari sebelum aku bertolak ke Palembang biarkan kita tetap menjalin hubungan baik. Setidaknya jika kelak kamu memilih tidak, aku punya hari-hari terakhir yang menyenangkan ]
Nata terpekur menyusuri kalimat yang dikirimkan Radit. Sudah dua hari mereka tak berkomunikasi, Nata butuh waktu memahami segalanya.
Namun kesiapan lelaki itu atas apapun keadaan yang akan terjadi, seakan menunjukkan betapa ikhlas adalah bagian dari pribadinya kini.
[ Iya, beri aku waktu untuk berpikir. Insyaallah sebelum kamu pulang aku sudah memutuskan ]
Nata membiarkan gawainya berpendar hingga padam dengan sendirinya. Konsentrasinya sedang fokus mengumpulkan kekuatan untuk berbicara dengan sang ibu. Ia bangkit menuju balkon, menarik nafas panjang sambil merentangkan sebelah tangan. Merasakan sapaan semilir malam.
Hingga derit pintu, hadirkan sosok ibu yang melangkah melangkah ke dalam kamar. Nata kembali masuk, lalu mendekati ibu yang kini duduk ditepi ranjang dengan wajah tak bersahabat.
“Lukman masih ke kantor rupanya! Ngapain dia?”
Tatapan mata Retno isyaratkan ketidaksukaan. Nata seharusnya tak kaget, banyak mata titipan ibu disana yang bisa mengabarkan apapun.
“Dia cuma bentar Bu. Cuma masalah TV. Mau ajak buat program gitu”
Nata berbohong. Memang ada tawaran untuk buat program khusus perempuan, tapi bukan dari Lukman melainkan dari Bang Rian.
“Syukurlah. Toh kamu sendiri juga udah milih Radit kan, tak mungkin lagi macam-macam”
Retno memilih menggeser duduk lebih dekat. Mentap putrinya lekat, seakan baru kemarin Nata kecil baru bisa berjalan. Sang ibu mendapati manik mata Nata yang tampak gundah.
“Bu.. Kalau penyebabnya bukan Lukman. Tapi aku membatalkan lamaran, gimana?”
Nata tak bisa mengulurkan waktu. Hanya belasan hari lagi sebelum semuanya takkan bisa dipikirkan kembali.
“Jangan macam-macam kamu. Itu semua sepupumu sudah ibu kasih tau. Katering udah dipesan. Tidak ada alasan apapun yang masuk akal untuk menolak sosok sesempurna Radit. Apalagi si Lukman itu!”
Sia-sia mendebat ibunya. Retno sudah kadung menempatkan Lukman sebagai satu-satunya penyebab. Tanpa mau tau perkara lainnya.
“Bu, aku merasa gak cocok sama dia”
Nata memilih satu saja alasan yang mungkin bisa di terima ibunya. Ia sudah berjanji tak akan membongkar rahasia Radit.
“Ingat cinta pertamamu dulu? Ingat Dion? Dua-duanya pilihanmu. Dua-dua nya cocok menurutmu. Lalu apa akhirnya? Sudah dua pilihanmu salah. Sekarang giliran ibu, dan ibu akan buktikan bahwa pilihan orang tua gak akan pernah salah!”
“Bu.. Tapi...”
“Gak ada tapi-tapi, bila Lukman saja bisa ingkar janji atas perjanjiannya. Ibu juga bisa”
“Bu, dengar dulu!”
“Tidak ada yang perlu di dengarkan. Tidak ada yang bisa membatalkan pertunangan ini kecuali pihak Radit sendiri yang mundur!”
Retno keluar dan tak ingin mendengar apapun lagi. Tinggallah Nata memaku diri, ia kalah sebelum bertanding.
***
“Luk, kalau lo gait si Natasha ke program baru kita. Mau gak ya dia. Soalnya waktu aku hubungi kayak gak berespon. Padahal kan pas banget itu, dia punya ratusan ribu subscriber dulu di vlog traveler dia”
“Dia sama kayak aku Bang, sukanya di balik layar sebenarnya. Itu karena dulu gak ada kesempatan di balik layar, makanya sekalian di balik dan di depan layar sekaligus. Tapi gak salah juga sih Abang coba, kasihan dia di kantor terus. Mana tau bosan lalu pengen cari yang segar-segar disini. Macam aku”
Lukman mulai berpose bak model senior.
“Bah. Macam kenal kali ku tengok gayamu. Kamu suka sama dia? Ku tengok saat dia ke studio. Kalian macam beda aja..”
“Haha. Lambemu Bang. Kemarin habis aku curhat habis aku dirundung sama warga se TV. Gak akan lagi ku ceritakan apapun. Tar ke pelosok Timbukthu pun Abang sebar”
__ADS_1
Hal yang membuat Lukman betah di kantor adalah teman kerja yang begitu nyaman. Ia juga tak menyangka karirnya akan berlanjut ke stasiun TV yang baru merayakan ulang tahunnya yang ke lima ini. Semua berkat Bang Wisnu, seniornya dulu di orgnisasi pecinta alam.
“Atau kau sama si Utta saja. Ku tengok macam kesemsem aja dia sama kau. Cak lihat arah pukul 9, dia asik lirik kau terus”
Lukman menoleh sekilas, mendapati perempuan bertubuh sintal dengan rambut di kuncir kuda itu dengan senyum dimanis-maniskan. Make up bersaturasi tinggi, sungguh bukan kriteria Lukman. Melihat wajahnya seakan bukan melihat karya Tuhan, tapi karya aplikasi 360.
“Dia bukan seleraku Bang”
“Jadi apa juga seleramu?”
“Indomie Soto Medan”
Bang Rian tergelak, lalu melihat gawainya berpendar dengan nama Nata di salah satu aplikasi messenger.
“Natasha ajak ketemuan bentar lagi untuk bahas lebih detail tentang program baru kita”
Bang Rian sumringah, Nata adalah salah satu dari tiga perempuan yang rencananya membawa program Hikayat Perempuan, yang akan segera syuting untuk program Ramadhan.
“Aku ikut ketemuannya ya!”
“Hah? Yakin kau. Gak ada kerjaan emang?”
“Gak! Udah kelar, paling jam 3 baru harus standby di studio Lima”
Setelah memastikan semuanya telah terselesaikan, keduanya bangkit dari cubicle masing-masing. Keluar menuju sebuah cafee yang berada beberapa kilometer dari stasiun TV.
Tiba di lokasi, dari kejauhan Lukman malah mendapati seorang lelaki paruh baya, tampak menunggui mobil di parkiran. Pria yang amat kesal bila mengetahui ia bertemu Nata. Ialah Amar Hasan, ayah Lukman.
“Mati gue”
Ucapnya dengan suara nyaris tak terdengar.
Di sebuah sudut Cafe seorang perempuan barbalut Cardigan cream dengan jilbab senada sedang sibuk menekuri gawainya.
“Hai, kami udah di sini. Gak perlu telepon lagi”
Sapaan Bang Rian membuat Nata kini tampak kaget bukan kepalang. Bukan karena ucapan seniornya, tapi karena sosok yang ikutan datang di sampingnya.
“Hai, biasa aja lihatnya. Jangan terpesona gitu..”
Seringai itu berhasil membuat Nata mengganti kagetnya, dengan kesal.
“Terpesona? Aku cuma kaget kok dimana-mana ada kamu. Udah macam iklan penawaran pinjaman aja!” Nata bersungut.
“Karena aku tau kamu butuh pinjaman; bahuku untuk bersandar”
Nata mulai menggelengkan kepalanya, menarik salah satu sudut bibirnya ke atas. Tak akan selamat bila melawan kemampuan Lukman menyasarkan godaannya yang receh itu.
“Udah lepas kangennya! Pesan makan dulu yang banyak. Aku lapar”
Bang Rian mengelus perutnya yang sangat jauh dari kriteria sickpack. Ciri khas pria ini ada pada siasatnya nya yang pantang bernegosiasi sebelum perut kenyang.
“Jadi ini bayangan programnya. Dari lokasi, jadwal, formatnya”
Bang Rian mengulurkan beberapa lembar kertas yang ia ringkas dari komputer tim kreatif. Nata menekuri kalimat demi kalimat.
“Coba Lukman, dampingi adik letingku yang manis ini lihat-lihat dulu. Kalau tak paham tar siap aku dari kamar mandi kita bahas. Sesak berak pula aku! Karena kelamaan lihat muka si Lukman ni kayak nya!”
Lukman melemparkan topi miliknya ke arah Bang Rian yang tergelak, namun meleset. Pria tambun itu tampak gesit menghindar, menjulurkan lidahnya.
__ADS_1
Sementara Nata masih menekuri gambaran acara yang ditawarkan kepadanya.
“Terima aja deh. Kan lumayan bisa sering ketemu aku nanti disana”
Nata bergeming. Seberapa kuat usaha Lukman menarik perhatiannya, tapi ucapan ibu tadi malam masih lebih kuat meneror pikiran. Ia tak mau menyemai harapan baru dengan pria dihadapannya, kalau tahu hasilnya akan sia-sia.
“Bisa diam gak sih. Aku lagi baca juga!”
Nata mulai menaikkan volume suaranya.
“Gak bisa diam. Aku pernah diam dua tahun tapi hasilnya malah menyakitkan. Cewek yang aku suka malah suka orang lain. Kan nganu banget”
Nata menaikkan kedua bola matanya. Sebuah tatapan khas miliknya bila sedang mencerna satu ucapan.
“Sudahlah. Jangan berharap aku mengasihanimu, aku aja gak ada yang kasihani”
Nata meraih Milkshake pesananya, lalu meminum porsi gelas besar itu hanya dalam dua helaan nafas. Ciri khasnya kalau sedang merasa kesal.
“Kamu gak suka dengan perjodohan itu?”
Lukman menatap manik mata Nata yang seolah tak bahagia. Tapi perempuan itu tak memberikan jawaban apapun.
“Nata, kalau ku ajak kawin lari. Kamu mau gak?”
Lukman mengusap-usap bagian belakang lehernya, isyarat ragu akan ucapannya sendiri.
“Lariku gak cepat. Aku suka kawin sambil rebahan”
Nata kini kembali membaca halaman kertas pemberian Bang Rian tadi. Membuat Lukman kesal merasa di abaikan.
“Kamu marah ya sama aku? Padahal aku udah ceritain semua. Salahku dimana sih?”
“Kamu emang gak salah. Tapi dibanding harus marah sama Radit, apalagi sama ibu. Aku lebih suka marah-marah sama kamu. Feel nya lebih dapat”
Nata sama sekali tak memindahkan tatapannya dari kertas-kertas itu. Lukman kehabisan cara menjinakkan perempuan dihadapannya.
“Nata, aku tahu kamu lagi gak fine. You can tell me anything”
“Jangan sok tau”
Nata mulai menoleh ke kaca disebelah kirinya, menyaksikan lalu lalang mobil dengan tatapan kosong. Hanya sebuah upaya untuk menghindari panah mata Lukman, juga untuk menyembunyikan netranya yang sedikit basah. Ia butuh sesuatu untuk meluapkan emosinya.
“Nata. Hey.. Kalau mau nangis ya nangis aja. Gak usah ditahan-tahan. Lega enggak, sesak iya! Sini aku pinjamin bahuku. Kasian bahu ini nganggur udah hampir 30 tahun. Mau coba gak? Tester boleh lah...”
Lukman bangkit ingin menggeser kursinya agar lebih dekat dengan Nata. Hingga sebuah tepukan menghentakkan bahunya dengan kuat, dari arah belakang. Lalu ada dehaman keras yang ia hafal pasti siapa lelaki pemilik nada peringatan itu.
Lukman menoleh, lalu nyengir sambil mengusap-ngusap kepalanya.
“Duh, ayah paling baik se galaksi Bima Sakti. Di sini rupanya”
Dengan raut serba salah, Lukman bangkit menyalami ayahnya. Lalu berusaha menampilkan senyum ekstra lebar, ekstra mohon ampunan.
“Jadi kalau gak di sini, dimana juga menurutmu?”
Pak Amar berkacak pinggang dengan tatapan seakan ingin ******* anaknya sendiri.
“Ya mana tau lagi study banding ke planet lain, gimana cara tetap menjadi ayah yang baik walau anaknya gak baik. Hehe.. ”
“Sini biar kamu sekalian ayah bawa ke planet lain. Sekalian study banding. Gimana caranya memahami istilah Bagai pungguk merindukan bulan”
__ADS_1
Pak Amar menarik telinga putranya hingga terdengar aduhan minta ampun. Nata malah cekikan melihat lakon ayah dan anak itu.