My Lovely Driver

My Lovely Driver
8


__ADS_3

2 tahun kemudian.


“Maaf, Saya tak akan menikah kembali dalam waktu satu atau dua tahun ini. Masih terlalu cepat untuk memulihkan sebuah trauma pernikahan”


Ucapan yang dilontarkan Nata hampir dua tahun lamanya kembali berkelebat mengacau pikirannya sendiri. Saat itu padahal ia hanya berharap Radit atau ibunya mundur dari perjodohan itu. Ternyata keduanya malah menganggap waktu dua tahun bukanlah waktu yang lama untuk menunggu.


Terhitung sejak pertemuan di puncak kala itu, Nata dan Radit memang sepakat meminta waktu dua tahun untuk mengenal satu sama lain. Domisili Radit yang di Palembang -mengurusi bisnisnya- membuat mereka akan sangat jarang bertemu. Sehingga Nata berharap bisa mengulur-ngulur perjodohan ini. Mengulurnya entah demi maksud apa.


Lukman? Setelah malam itu, ia bak hilang ditelan bumi. Tak tau apa yang terjadi. Pak Amar hanya mengatakan anaknya sedang fokus kerja dan tak pernah kembali ke Jakarta.


Dan sekarang, disinilah Nata berada. Di waktu sekarang; mendekati tenggang waktu yang dijanjikan.


“Cinta bisa muncul sendiri kalau udah nikah nanti Nak. Ibu sama ayahmu aja dulu gitu kok”


Ucap Bu Retno berulang kali membujuk putrinya. Maka jika tahun pertama hanya dipakai untuk melarikan diri, dengan mencari-cari alasan saat Radit datang ke Jakarta. Kini beberapa bulan belakangan Nata mencoba memberi kesempatan dirinya sendiri, membuka hati untuk lelaki lain.


Sukma, ibunya Radit adalah sahabat sang ibu di bangku kuliah. Mereka bersama lima perempuan lainnya yang dari kalangan berada -bila tak mau disebut sosialita- tergabung dalam satu gank yang dinamai 66, tahun kelahiran keseluruh anggotanya.


Di kelompok itu hanya Retno yang berasal dari keluarga sederhana, dan hanya Sukma yang sama sekali tak membeda-bedakan dalam berteman, sangat low profile. Mereka berdua lebih dekat dibanding anggotanya lainnya yang punyai gaya hidup jetset.


Usai wisuda Retno sempat kehilangan jejak sahabatnya, Sukma kala itu pindah ke Surabaya dengan keluarga kecil mereka. Hingga tiga tahun lalu kemudian mereka bertemu di Palembang, saat Retno menghadiri pesta anak pamannya disana.


“Ya ampun Sukma, aku kehilangan kamu puluhan tahun. Kamu kemana saja..."


Kalimat pertama dalam perjumpaan kembali mereka, di hotel milik almarhum suami Sukma. Mereka berpelukan lama sekali.


"Aku sudah melewati banyak hal, hingga terdampar disini.." Perempuan itu tersenyum. Disampingnya berdiri seorang lelaki seumuran dengan Wahyu, abangnya Nata.


"Ini siapa? Anak lelakimu?”


Lalu mengalirlah kisah panjang keduanya, walau Retno lebih dominan. Tapi tentang ajakan menjodohkan anak-anak mereka, Sukma juga belum lupa.


“Kadang aku mikir ya Sukma. Anak perempuan ku itu kok bisa cerai sama suaminya. Padahal keduanya serasi. Trus aku tiba-tiba ingat dengan janji perjodohan anak kita, waktu kuliah dulu. Apa malaikat mencatatnya ya?”


Sukma hanya tertawa mendengar perkataan sahabatnya. Jodoh adalah mutlak perkara takdir bukan karena ucapan tanpa pikir panjang seperti itu, menurutnya.


Namun saat ditawari melanjutkan perjodohan itu, Sukma juga tak menolak. Karena memang sudah lama ia mencari pendamping buat anak sambungnya itu.


****


Seiring jalannya waktu, Radit mulai menaruh harapan besar akan perjodohan tersebut.


Semantara Nata, baginya sudah cukup dua kali jatuh cinta dengan lelaki pilihannya sendiri, dan keduanya berakhir menyakitkan. Lalu perempuan itu seakan memilih menyerah dengan keadaan, terserah takdir akan membawanya kemana.


"Kamu mau makan apa?"


Pertanyaan Radit memutuskan lamunan Nata yang sedari tadi asik memandang seorang anak kecil bermain ayunan, didorong pelan oleh ayahnya. Keduanya tengah berada di sebuah cafe berkonsep outdoor yang meleburkan suasana pantai pada setiap detailnya, tak terkecuali pasir dipermukaannya.


"Oh, apa aja. Aku omnivora, pemakan segala" Perempuan itu mengembangkan senyuman sembari membenarkan letak pinggiran pasminanya. Sudah tiga bulan ini ia mencoba istiqamah menggunakan hijab.


"Yaudah, pesanannya sama kayak aku aja ya. Milkshake Vanila dan Pecel Lele" Lelaki itu menyebutkan masakan favoritnya, lalu memanggill pelayan demi memberikan daftar menu yang akan dipesan.


Satu tahun mengenal Radit, memang tak ada cela pada pria berumur 32 tahun itu. Ia berwawasan luas, pekerja keras dan penyayang keluarga.


Anak sulung itu mampu menggantikan peran almarhum ayahnya dengan sempurna. Ia mampu mengelola bisnis dengan sangat baik, tanpa mengabaikan sang ibu dan kedua adik perempuannya yang sakit dan harus mendapatkan donor darah seumur hidup mereka.

__ADS_1


Sementara kepergian istri Radit beserta anaknya menyisakan pilu di hati.


Menurut cerita ibu, hari itu semestinya menjadikan hari yang paling ditunggu-tunggu bagi Radit. Ia akan menjadi seorang ayah setelah penantian dua tahun lamanya.


Na’as bayinya terlahir dalam keadaan membiru, dan hanya mampu bertahan satu jam lamanya. Sementara setelah itu, sang Istri mengalami pendarahan parah hingga tak sadarkan diri selama tiga hari. Lalu perempuan yang amat sangat dicintainya itu menyusul putranya pergi. Meninggalkan Radit dalam luka yang mendalam bertahun-tahun lamanya. Lelaki yang kelak menjadikan pekerjaan, sebagai pelarian dari kesedihan.


Sang ibu yang khawatir dengan keadaan Radit sebenarnya telah beberapa kali mencarikannya pendamping lagi, selalu ditolak. Dengan alasan, ia semacam memiliki trauma tak siap akan sebuah kehilangan. Ia menjadi takut untuk jatuh cinta, takut merasa memiliki, lalu malah ditinggal pergi begitu saja.


Saat Nata mengulur hingga dua tahun lamanya, Radit malah bersukur pada mulanya. Setidaknya dalam jangka waktu itu sang ibu tak akan lagi menghantuinya dengan perjodohan.


Dan siapa sangka lelaki itu malah benar-benar jatuh hati kemudian.


Dan ini sudah kali ke enam mereka berdua saja, tak ada ragu dihatinya bahwa ia mulai jatuh hati akan kecantikan, kesederhanaan, hingga kecerdasan sosok Nata.


Suara lagu dari pengeras suara bergantian menghibur pengunjung cafe itu. Lalu sebuah nada pembuka perlahan mulai mengusik telinga Nata. Sebuah lagu milik Dewa 19 yang pernah dinyanyikan dengan penuh penghayatan oleh seorang lelaki, pada malam terakhir mereka bersama. Sebelum lelaki itu menghilang begitu saja.


"... Aku tak mengerti apa yang kurasa


Rindu yang tak pernah begitu hebatnya


Aku mencintaimu lebih dari yang kau tahu


Meski kau takkan pernah tahu


Aku persembahkan hidupku untukmu


Telah kurelakan hatiku padamu


Namun kau masih bisu diam seribu bahasa


Baru kusadari


Cintaku bertepuk sebelah tangan


Kau buat remuk seluruh hatiku


Semoga waktu akan mengilhami


Sisi hatimu yang beku


Semoga akan datang keajaiban


Hingga akhirnya kau pun mau


Aku mencintaimu lebih dari yang kau tahu


Meski kau takkan pernah tahu..."


Nata menghabiskan waktu mendengar lagu pilu itu dengan sensasi menyebalkan. Ia memutar-mutar sedotan pada minumannya dengan pandangan kosong.


"Lelaki sialan" ucapnya dengan suara yang hampir tak terdengar.


"Apaan?" Radit tak tau apa yang Nata bicarakan.


"Eh bukan, ini semut gigit kaki aku" Ucapnya sambil mengibas celana panjang pisketnya, kesamping. Radit memicingkan matanya melihat tingkah perempuan dihadapannya yang tampak tak seperti biasa.

__ADS_1


"Kamu gak nyaman disini?"


"Kenapa mesti gak nyaman?"


"Kayaknya kemarin waktu ketemu ibu kamu malah lebih leluasa. Lebih santai. Jangan-jangan ibu lebih memikat perhatianmu daripada anaknya ini"


"Iya.. ibumu asik banget. Gak sebawel ibuku.."


Tak ada yang bisa menyangkal kharisma yang dimiliki perempuan yang tampak begitu tenang pembawaannya, seperti Bu Sukma.


Ia merawat ketiga anaknya seorang diri, kedua anak perempuannya mengidap Thalasemia.


Perempuan tangguh itu memang tak banyak bicara, agaknya kepahitan hidup telah menempanya menjadi pribadi yang irit bicara. Walaupun dari keluarga berada, tapi kata ibu, sahabatnya pernah mengalami fase terpuruk.


Anak kandungnya yang divonis cacat seumur hidup, salah satunya.


Sosoknya memang tetap ramah dengan siapapun. Namun untuk membicarakan remeh temeh, hal tak bermanfaat, atau mengeluarkan omelan seperti ibunya, Nata tak pernah melihat Bu Sukma melakukan hal serupa.


Setidaknya itu dari apa yang dilihatnya selama dua malam menginap dirumah mereka bulan lalu. Waktu itu ibu dan ayah berhasil membuat putrinya itu ikut liburan ke Palembang dalam keadaan terpaksa.


"Iya, aku sangat beruntung mempunyai ibu tiri seperti beliau, setelah sebelumnya memiliki ibu tiri yang menyisakan banyak luka bila dikenang" Radit mulai meneguk minumannya pesanannya.


"Maksudmu? Kamu udah punya 3 ibu?"


"Bila dua diantaranya ibu tiri, iya! Setelah Ummi -ibu kandungku- meninggal dunia, ayah menikahi sekretarisnya. Setelah melahirkan Audrey, perempuan genit itu malah kabur dengan selingkuhannya. Dan ibu datang dengan Salisa yang sakit-sakitan, namun beliau masih mau merawat kami dengan baik; kedua anak sambungnya"


Nata terpaku mendengar penuturan pria dihadapannya. Tak dipungkiri kalau bukan karena pengaruh Bu Sukma, tak mungkin ia masih bertahan pada perjodohan ini. Perempuan itu mampu membesarkan anaknya luar biasa. Salisa -anak kandungnya dari pernikahan terdahulu- yang mengalami down syndrome bahkan mampu diajarkannya hingga bisa mengaji. Gadis itu terlihat suka memakai selendang untuk menutupi kepalanya. Dari Salisa lah ia belajar banyak, dan makin termotivasi untuk memperbaiki diri.


Nata begitu asik membicarakan Bu Sukma, tanpa sadar sepasang Mata tengah menatap mereka dari salah satu sudut cafe. Setelah tanpa sengaja menyaksikan keduanya dari kejauhan, sosok itu memilih bangkit dari mejanya dan menyapa Nata.


"Hai.. Ketemu lagi.." Suara seorang lelaki dari samping mereka mengejutkan keduanya.


"Astaghfirullah!" Ucap Nata setelah mendapati seorang lelaki yang sudah lama tak mengganggumu hidupnya, akhirnya muncul kembali. Dion.


"Siapa Nata?" Tanya Radit.


"Hai, perkenalkan, aku mantan suami perempuan disampingmu" Ucapnya mengulurkan tangannya ke Radit.


"O.." Radit menyambut tangan pria itu, dengan mata yang masih menoleh ke Nata berharap penjelesan.


"Lukman mana? Udah kamu ceraikan lagi?" Dion menyeringai Nata, seolah akhirnya ia tau kalau selama ini mereka hanya bersandiwara.


"Siapa Lukman?" Radit kembali menatap Nata dengan penuh rasa ingin tahu. Tapi tak ada penjelasan apapun dari sana. Nata mendadak jengah dengan skema berulang semacam ini. Lalu memilih masa bodoh.


"Tanya sendiri sama mantan istriku. Kayaknya dia masih marah kalau melihat aku lama-lama disini"


Lalu Dion berlalu kembali kemejanya.


"Oia Nata" Dion berbalik. Nata hanya mellihat dengan malas.


"In case kamu pengen tau kabar gebetanmu.. Bulan lalu saat aku ke Jogja. Aku lihat Lukman, dia bonceng perempuan cantik dan balita.. Sepertinya sih, anak dan istrinya..."


Lalu Dion benar-benar kembali ke mejanya. Disana seorang wanita cantik menunggunya, perempuan yang sama dengan yang dipergoki Nata hampir 5 tahun lalu, saat keduanya chek in di hotel.


"Kita pulang sekarang!" Nata meraih tasnya dengan kesal. Kedatangan lelaki itu dan ucapannya tentang Lukman benar-benar akan merusak moodnya sepanjang hari.

__ADS_1


__ADS_2