My Lovely Driver

My Lovely Driver
3


__ADS_3

"Eh, Bu Natasha" Pak Amar sedikit terkejut melihat kehadiran sang anak membawa atasannya serta dari balik pintu.


"Jangan panggil Ibu kali Pak, udah berulang kali saya bilang.."


Nata meletakkan satu keranjang berisi buah dan dua kotak brownies di atas lemari kecil disisi ranjang. Kemudian menyalami Pak Amar dengan senyum bagai seorang anak untuk ayahnya.


"Gak enak Bu. Masak atasan sendiri panggil nama"


"Anak Bapak yang baru kerja 4 hari aja panggil saya nama kali Pak. Masak ayahnya yang udah kerja 5 tahun bareng, dan udah saya anggap kayak saudara sendiri, manggil Bu.. Ketuaan saya mah.." Perempuan itu menarik sebuah kursi lalu duduk diatasnya.


"Lukman, kamu panggil bosmu dengan namanya!?" Tanya sang ayah dengan netra yang membesar.


"Kan cuma sebulan jadi supirnya Yah. Gak usah formal-formal kali lah.." Lalu ikut duduk diatas ranjang disisi sang ayah, nyengir.


"Tapi kan dia atasan ayah"


"Atasan ayah, tapi temanku di SMA dulu"


"Dia gak macam-macam kan Bu?" Tanya Pak Amar penuh selidik.


"Macam-macam sih Pak, tapi masih bisa ditanggulangi. Masih mau bekerjasama walau banyak sekali tingkahnya" Nata tertawa kecil.


"Eh ada tamu rupanya" Seorang perempuan menyapa dari belakang.


Nata berpaling mendapati sosok berjilbab biru yang punyai wajah persis dengan supir sementaranya, tapi dalam versi perempuan.


"Pasti ini kembaran Lukman?" Tanya Nata dengan intonasi seakan tak butuh jawaban.


"Iya... Na'as sekali aku kembaran sama dia Mbak" Mariam tersenyum, mengulurkan tangannya.


"Iya, aku bisa membayangkannya" Nata menyalaminya, keduanya tertawa seperti bertemu rekan sepenanggungan.


"Halah Na'as? Waktu ibu pergi mau bawa kamu serta, kamu nangis kok malah meluk aku..! Perempuan semua gitu kali ya, sayang tapi gengsi!" ucap Lukman dengan penuh percaya diri.


"Pak Dion masih menyusahkan Ibu?" Pak Amar buru-buru mengalihkan topik pembicaraan


"Masih Pak. Dion akan terus ngejar sama selama saya belum jadi istri orang lain. Jadi kemarin saya ngaku udah jadi istri orang aja, karena sudah kehabisan cara mengusir dia"


"Istri orang?"


"Hehehe. Saya ngaku aja jadi istrinya Lukman. Ceritanya kami pura-pura kami nikah Sirri gitu pak. Biar Dion tak mengganggu lagi" Nata nyengir.


"Ooo..Pantas anak dekil ini mendadak ganteng. Bapak aja semalam kirain itu yang datang dokter muda. Tau-tau anak sendiri! Oalah...”


“Gak takut kebongkar dramanya Mbak?" tanya Mariam ingin terlibat pembicaraan.


"Gak apa-apa. Kalau kebongkar ntar kita nikah beneran aja langsung.." cecar Lukman sambil kemudian mencomot sebuah pisang.


"Lukman! Mulutnya dijaga..!" Pak Amar mendarat kan sebuah pukulan diatas paha puteranya.


Selanjutnya ada saja ucapan Pak Amar yang dibalas lelucon oleh sang anak. Nata menyaksikan lakon ketiganya yang sangat dekat, tampak bahagia, begitu hangat meski tanpa seorang ibu ditengah mereka.


"Pak, saya harus balik ke kantor dulu. Cepat sembuh ya" ucap Nata setelah menghabiskan beberapa puluh menit menyaksikan kehebohan keluarga itu.


"Oh iya Bu.. Makasih banyak udah dikunjungi. Nanti kalau anak saya bikin tingkah, di gebukin aja sampai minta ampun"


"Sip Pak. Kalau udah dapat izin dari bapak mah saya lebih semangat gebukinnya" lalu menoleh ke arah objek pembicaraan dengan penuh kemenangan.


"Ciyee... Yang belum juga jadi mertua dan menantu aja, tapi udah kompak gitu mau gebukin orang.. Ciyeee..." Lukman kemudian berlalu tak peduli, meninggalkan muka melongo orang-orang dibelakangnya.

__ADS_1


****


Matahari telah beberapa saat kembali ke peraduan, namun masih saja banyak manusia memenuhi jalanan. Entah apa yang begitu dikejar hingga rela menghabiskan sebagian usia menghilang di kemacetan jalan raya. Lalu Lukman sadar, ia malah mendapati dirinya sendiri juga bagian dari manusia yang masih belum kembali kerumah. Sama saja seperti lainnya.


Ia membuka kaca sambil melirik ke lensa cembung yang ada disisi luar mobil, setelah beberapa kali melihat ke pantulan dari spion cabin seperti ada yang mengikuti mereka. Walaupun terlihat acuh, nyatanya Lukman mempunya penglihatan yang tajam.


"Nata, kayaknya ada yang membuntuti kita"


Nata menoleh ke kebelakang mobil. Butuh beberapa saat untuk perempuan itu menebak.


"Itu Dion, Ampun deh itu orang!" Nata memijit pelipisnya.


"Yang udah-udah kan dia malah mepet, terus hadang! Ni kok kayak maling?"


"Kayaknya dia lagi menyelidiki seseuatu"


"Maksudmu, ia belum yakin kita nikah?"


"Iya, apalagi. Dia tau aku tetap akan pulang kerumah usai magrib. Dia pasti pengen tau kamu pulang kemana!"


"Segitunya?"


"Aku tau watak dia dengan baik Lukman"


"Jadi harus gimana?"


"Ya, pulang lah. Kan aku memang lagi mau pulang. Minimal kamu duduk barang satu jam dulu dirumah sampai dia berhenti mengintai"


"Yakin ni, cuma satu jam? Ntar minta nambah pula.. keenakan!" ucap Lukman sedikit menggoda.


"Iya satu jam. Bisa jadi cuma setengah jam kalau dia langsung pulang!" Nata mengomel sendiri.


"Berapa pembantu dirumah ini?" Tanya Lukman saat memasuki ruang tamu yang dipenuhi furniture mewah dan kristal unik didalamya.


"Sebelumnya lima, tapi sejak Ayah dan Ibu pindah ke Bogor, tinggal tiga saja. Satu untuk bagian masak, satu untuk bagian laundry, satu lagi bersih-bersih. Yang dua lagi dibawa ke Bogor sama ibu. Oia kamu mau minum apa? Minta ke yang tadi buka pintu aja ya. Namanya Bi Ikom. Aku mau mandi dulu"


Pemilik rumah berlalu meninggalkan Lukman yang mulai asik menikmati aneka pajangan dinding, mulai dari lukisan mahal, piagam, hingga foto keluarga. Ternyata Nata sangat mirip dengan ibunya.


"Kata Pak Dirman, mobil Dion masih tampak di dekat rumah kita" ucap Nata menuruni tangga saat kembali usai berganti pakaian.


Ia baru saja menelpon securitnya, pak Dirman baru bekerja satu minggu disana. Petugas keamanan itu diminta Nata untuk keluar dari pagar belakang dan mengintai balik sang pengintai. Penampilannya yang tak berseragam memudahkan melihat Dion yang asik menatap rumah Nata dari kejauhan, terutama ke arah bagian kamar mereka dulu.


"Jadi aku harus ngapain disini? Bengong?"


"Mungkin kamu bisa bantu ngepel rumah, ngosek kamar mandi, membangun candi, mempersiapkan diri kalau alien menyerang bumi, atau apapun itu" jawab Nata asal bikin Lukman menatap kesal sambil memonyong-monyongkan bibirnya


Lalu ia mulai meraih gawai, mengecek beberapa platform.


"Eh, aku lihat asistenmu yang bagian masak-masak itu sepertinya flu berat. Setelah bikinin aku Lemon tea dia ngacir ke kamar. Padahal mau mintain dibikinin makanan panas apa, gitu" Lukman memegang perutnya isyarat lapar.


"Aku pesanin daring ya? Aku juga lapar "


Nata ingat bahwa tadi pagi sudah terlanjur memberitahu Bi Ikom agar tak menyajikan makan malam karena rencananya Nata mau bertemu dengan teman lama. Tapi ia lupa memberitahu kembali kalau ternyata makan malam di luarnya batal.


"Kelamaaan. Rumah orang kaya biasanya biasanya isi kulkas pasti lengkap. Biar aku masak saja. Mana dapurnya?'


Nata mengarahkan Lukman ke arah bagian kanan belakang, melewati ruang keluarga. Tak seperti dirumahnya, dapur itu kelihatan lebih layak dari ruang tamu sekalipun.


Tidak sempit, tidak tampak tumpukan piringan kotor belum tercuci, tak ada wajan yang bagian bawahnya menghitam, semua tampak bersih dan terjaga.

__ADS_1


Lukman lalu membuka lemari pendingin yang berukuran hampir tiga kali lipat badannya , kemudian mengecek beberapa bahan. Ada beberapa bolu dan puding, tapi kali ini Lukman tak tertarik makanan manis.


"Ada nyetok Mie atau Spageti atau sejenisnya?"


Nata membuka lemari tempat menyimpan aneka mie. Lukman memilih mengambil sebungkus mie telur.


Sang empunya rumah kemudian mulai duduk santai menyaksikan pria itu sibuk mengupas bawang, kemudian memblendernya bersama beberapa bumbu lain. Nata selalu suka bila melihat pria lihai didapur, ia amat menikmati Lukman lalu-lalang bersama pisaunya.


"Kamu pandai memasak?"


"Sejak ibu pergi, aku dan Mariam bergantian memasak dirumah. Setelah meninggalkan anaknya sampai kami terbiasa sakit Magh, akhirnya kami bisa masak sendiri" jawabnya kemudian menumis bawang dan udang, lalu memasukkan bumbu yang telah dihaluskan tadi.


"Kamu pasti gak bisa masak? orang kaya biasanya malas masak" ucap Lukman menuduh.


"Waktu SMA aku juga pernah beberapa kali masak kok, kehidupan kami sedikit membaik waktu aku kuliah. Dulu pembantu juga gak ada. Ya, tapi kemudian udah jarang masak juga sih. Selama menikah pun aku sering diajak Dion makan diluar terus. Kami sering jajan diluar"


"Ya mantan suami mu itu memang bakat jajan diluar, baik secara makna denotasi atau konotasi"


"Kamu menyebalkan, lagi enak aku cerita malah ada aja cari celah bikin mukaku masam"


"Menurutmu, kenapa ia selingkuh?" Tanya Lukman kemudian memunggungi masakannya, melihat Nata yang asik mengupas buah.


"Mungkin karena badanku kurang bohay dan kurang binal, tak seperti wanita murahan yang aku pergoki di hotel itu" Jawab Nata sambil mengembang-kempiskan hidungnya,disambut gelak tawa Lukman. Lalu ia kembali fokus memasak , aroma kelezatan sudah menguar menggugah selera.


"Eh aku ada ide"


"Apa?"


"Di kamarku ada balkon bagian luarnya. Dulu waktu masih sama Dion, kami suka duduk disana kalau malam sambil minum teh bareng. Kalau kita makan mie-nya disana.... Kurasa dari titik Setan itu mengintai, kita akan nampak kesana" Lelaki itu hanya manggut-manggut mencerna maksud Nata sambil menuangkan mie kedalam dua piring. Lalu berjalan dibelakang mengikutinya ke lantai dua.


"Kamarmu besar sekali, tapi sayang tidurnya sendiri. Kasian ranjang sebagus ini gak ada amalan asmara diatasnya"


Kalau tak mengingat ada Mie di kedua tangan Lukman, sudah pasti Nata akan melemparinya dengan apa saja.


"Eh, dia masih disana. Kita mulai ya!" ucap Nata melirik kesebelah utara rumah lalu menyuapkan satu sendok mie ke pria dihadapannya.


"Kamu aja akting. Aku mau makan, beneran lapar ini" lalu meletakkan masakan olahannya diatas sebuah meja bulat kecil di balkon, Nata kemudian ikut duduk mencicipinya.


"Ih enak banget ini mah. Kalau gak kamu melamar jadi Tukang masak aja disini" ucap Nata dengan dengan mulut penuh.


"Kalau melamar yang lain?" Balasnya sambil meraih segelas lalu, nyengir. Nata tak tertarik membahas 'lamaran' yang dimaksud.


"Lukman aku ngelap mulut kamu ya" pinta Nata ingin melakuakan sebuah scene seperti di FTV. Menggunakan ibu jarinya, ia mengusap permukaan bibir Lukman amat perlahan. Sama-sama mengembangkan senyum terindah, membuat keduanya seakan lupa sedang berpura-pura.


"Eh, itu... kayaknya mobil Dion langsung tancap gas"


"Yang betul?" Nata langsung menoleh ke belakang.


Benar saja tak ada lagi pengintaian dibawah pohon depan rumahnya itu, lalu keduanya tertawa terpingkal-pingkal. Tiba-tiba Nata mengeluarkan suara dari rongga perutnya yang amat besar.


"Dih kamu ini! Badan kecil, sendawanya besar! "


Keduanya tertawa lagi.


"Eh, kamu pulang sana. Kasian Mariam dirumah jagain Ayahmu. Sedang kamu asik makan disini, ditemani gadis cantik pula"


"Gadis?! Janda kali yang benar...!"


Lalu Lukman tertawa lagi, disambut sekotak tisu yang melayang ke mukanya.

__ADS_1


"Lukmaaaaan....!!!"


__ADS_2