
Lukman melempar ranselnya ke atas lantai kamar yang berukuran tak lebih dari 4×4m saja. Akhirnya ia kembali ke kosan usai satu pekan ditugaskan ke Jogja dan Surabaya, menggantikan seorang crew yang sakit.
Sebenarnya ia agak bingung dengan desk job nya di stasiun TV baru itu, ia kerap berpindah kedua bidang. Namanya tertera dalam tim Floor director, tapi kenyataannya ia sering berada di lapangan bersama crew acara traveling. Para tim tau jejak Lukman sebagai mahasiwa pecinta alam yang sering berkelana dan juga pernah berdomisili di Jogja. Maka ia acapkali dilibatkan pada program bertema advanture bila berlokasi seputaran pulau Jawa.
Lukman membuka tasnya, mengeluarkan satu persatu isi dari dalam sana. Semua baju kotor ditumpuk di satu sudut kamar, bersiap dibawa ke Laundry. Tak ada waktu istirahat baginya, besok harus segera kembali bertugas di kantor. Semua perihal domestik harus diselesaikan sore ini.
Di salah satu bagian sisi tas, ada ruang kecil berdiameter 10. Lukman menarik sebuah kotak kecil yang berlapis kain beldu berwarna hitam dari sana, mengeluarkan isinya.
Sebuah kalung cantik kini ia biarkan menggantung di jemari. Liontin berupa batu Ruby berwarna Fuchisia menjadi pusat pesonanya.
Sebuah barang berharga peninggalan almarhumah neneknya. Batu itu ditemukan saat kakek masih menjadi penambang di Kalimantan. Kakek menjadikannya perhiasan, satu berupa cincin, dan satunya lagi kalung.
Perhiasan yang sebenarnya bisa saja di jual saat beberapa kali keadaan mendesak menghampiri keluarga Lukman. Tapi tak pernah terjadi. Bukan kerena keadaan tidak mendesak, tapi itu terlalu berharga untuk berpindah ke orang lain. Selain anak, cucu atau menantu, ayah rasa tak ada yang pantas memakainya.
Dan baru tiga tahun kalung itu berpindah tangan kepada Lukman. Pak Amar memberikan usai putranya bergelar sarjana. Sementara Maryam --kembarannya-- lebih dulu memilih cincin.
"Suatu hari nanti, berikan untuk calon mantu ayah"
Dan minggu lalu ia memilih mengganti rantai kalung itu dengan emas putih bermotif rope, agar tampak baru dan lebih mewah. Perpaduan warna platinum dan batu ruby berwarna pink kemerahan; liontin itu tampak sangat cantik saat bertemu pasangan barunya.
“Kalung yang malang”
Lukman meletakkannya kembali pada kotak semula. Kemudian merogoh kembali bagian tas tadi. Ada setangkai bunga mawar yang sudah layu, tampak tak berbentuk lagi.
“Syukurlah, cuma setangkai”
Kalung dan bunga itu seharusnya ia berikan kepada perempuan yang dicintainya minggu lalu, Natasha.
Tapi hampir dua jam dia menunggu, perempuan itu tak jua datang. Pada hitungan jam pertama Ia memilih menanti dengan sabar. Tapi kemudian Lukman mulai diburu waktu; jadwal penerbangan ke Jogjakarta sudah menunggunya. Lalu ia berulang kali menekan tombol panggilan pada nomor Nata.
Di hitungan ke tujuh panggilan di angkat, oleh salah seorang pembantu Nata.
“Non Nata sama keluarga mas Radit, belum pulang”
Akhirya Lukman bangkit dari duduknya, dengan wajah kecewa yang tak bisa ia tahan lagi. Lelaki itu keluar dari taman dengan berlari sepanjang jalan. Seakan kekecewaan adalah kekuatannya, untuk segera bangkit dan berlari sejauh dan secepat mungkin.
****
“Luk, lo gue pindahin ke Talent di My Advanture aja ya? Kasian hobby petualang lo, sama muka ya -lumayanlah- itu. Kalau asik dibalik layar aja”
Bang Wisnu memanggil Lukman ke ruangannya sebelum jam kantor berakhir, ia adalah orang pertama yang bertanggung atas beberapa program kuliner dan traveling. Dan My Advanture adalah salah satu program andalan di stasiun TV di tempat mereka berkarir.
“Gak lah Bang. Gak bakat gue depan layar..”
“Luk, honornya lumayan lo. Yakin nolak? Katanya mau kawin..”
Gara-gara keisengan Bang Rian yang bermulut ember, sekarang seisi TV memanggilnya Pejuang Mahar.
“Gak Bang, gak kawin dulu. Ayang bebebku udah berpaling ke lain hati”
Lukman menertawai kisahnya sendiri dengan lakon meringis menahan pedih. Sebuah candaan yang melibatkan perasaan.
“Udah kawin dia?”
“Tunangan kayaknya”
“Ah baru juga tunangan. Kenapa ditinggalin? Selingkuh lo?”
“Gak tau juga bang. Padahal yang ajak ketemuan dia. Yang gak datang juga dia. Trus tau-tau udah tunangan aja. Apa jangan-jangan dia ajak ketemu untuk kasih tau udah tunangan kali ya?”
Lukman malah seakan numpang konsultasi asmara di ruang seniornya.
“Mending temuin dia. Tanya yang jelas, salah lo apa. Jangan kayak gue dulu. Hampir aja gak berjodoh sama istri, karena biarin dia dalam kesalahpahaman. Kirain kenapa minta putus. Rupanya dia kira gue gak cinta lagi gara-gara lupa ulang tahun dia, padahal ulang tahun sendiri aja gue suka lupa. Bahkan kolor nih, kadang udah pake tiga hari gak ganti-ganti, lupa gue. Baru sadar pas ************ dah gatal-gatal”
“Jorok lo Bang”
“Jorok gini, bini gue tetap sayang Luk. Pantang suaminya bilang penat, langsung dipijitin. Walau setelah itu pasti minta belanja sesuatu, online. Pokoknya berbinilah kau segera. Biar tau rasanya repetan perempuan kalau lo narok handuk sembarangan”
“Haha. Emang semua perempuan gitu ya bang?”
“Kayaknya gitu sih. Bini gue baru satu, tar kalau dapat tiga lagi baru bisa gue pastiin lagi"
__ADS_1
Lelaki dibalik meja itu malah ikut menertawai nasib gender mereka yang sering dikerjai keabsurdan gender bernama perempuan.
"Mau kemanapun kita cari perempuan, itu memang bawaan mereka Luk. Eh terima ya tawaran tadi. Kita lagi kurang personel ini, si Darwin gak mau perpanjang kontrak dia mau lanjut S2 ke Singapore”
Bang Wisnu kembali ke misi utamanya.
“Ogah. Kecuali kalau gue dibolehin tetap di balik layar part time nya”
“Ambil deh dua-dua, asal lo senang! Toh kami bisa irit pengeluaran karena cuma pakai artis pendatang baru ..”
“Awas aja. Tar kalau jadi artis beneran, gue pamer saldo. Nangis lo”
"Nangis, karena kasihan lihat saldo lo gak ada, cewek juga gak ada. Tragis banget..!"
Bang Wisnu masih tertawa saat tubuh juniornya berlalu di belakang pintu.
Lukman berjalan menelusuri koridor, mengingat kembali kalimat yang disampaikan sosok penting di kantor itu. Tentang keharusan mencari sebuah kejelasan pada sebuah permasalahan. Lukman tiba-tiba merasa perlu melakukannya. Agar bisa melanjutkan hidup tanpa kata 'why' segalanya terkait Nata, jika memang tak ada jalannya lagi.
Ia ingat beberapa tahun lalu, ayah pernah bercerita tentang kepergian ibu. Kalimat yang kini bermain di kepalanya.
‘Kau tau penyesalan ayah? Bahwa ayah tak sempat melihat ibumu pergi, selayaknya sebuah perpisahan. Kami berdua sama-sama salah, tapi tak punya kesempatan untuk mencari titik temu untuk memperbaiki keadaan'
****
“Buk, ada tamu maksa pengen masuk..”
Rani membuka pintu Direktur, lalu menyodorkan badannya dari balik sana.
“Siapa?”
Rani, membuka pintu lebih lebar. Membiarkan sosok itu menampilkan diri.
“Aku”
Lelaki itu kini muncul dari sana. Dengan penampilan yang sama seperti dua tahun lalu, saat masih mengantarnya kemanapun. Rambut yang kembali dipangkas rapi dibalik topi hitam bercentang satu, pemberian Nata. Membuat mereka seolah terdampar kembali ke masa itu.
“Apa kabarmu duhai calon caleg.. Yang bikin janji.. Malah gak ditepati..”
Lelaki itu memainkan sebuah bandul di atas meja kerjanya yang berbentuk oval, dengan sudut yang sama dimana netra saling beradu.
Nata masih belum menghilangkan rasa kagetnya. Mencerna maksud kedatangan, senyuman, dan ucapan Lukman secara bersamaan.
“Jadi kamu datang hari itu?”
Nata seakan belum yakin bahwa Lukman benar-benar memenuhi janjinya.
“Ya.. Ini buktinya. Fosil bukti kesia-siaanku"
Lukman meletakkan satu plastik bening yang berisi bunga mawar yang tak berbentuk lagi.
"Apa ini?"
"Gak kayak pria yang sanggup beli banyak bunga itu sih. Tapi syukur juga cuma satu tangkai. Satu aja rugi gini. Kasihan duitku.. Padahal itu pakai uang jatah beli shampoo satu tahun"
Lukman mengusap-ngusap kepalanya. Sementara Nata merasa bersalah. Keduanya hanya bertatap lama seakan sangat berharap miliki kemampuan untuk bisa menelanjangi perasaan mahluk dihadapan mereka, namun gagal.
“Aku datang hari itu Lukman.. Tapi....”
“Tapi, nemenin pria itu dulu..”
Lukman memotong pembelaan Nata. Pria itu tak bisa menahan rasa cemburunya jika mengingat Radit saat memberikan karangan bunga --walau sudah berminggu lamanya-- masih saja menyiksa.
“Lalu kenapa kamu gak telepon?”
“Sudah. Pembantu dirumahmu bilang kamu keluar sama keluarga pria itu”
“Jadi kenapa panggilanmu gak ada di log?”
“Minikitihi..”
Lukman bangkit menuju jendela yang mengarah ke pusat kota. Memberikan Nata waktu untuk mengurai kebingungannya sendiri. Benar-benar aneh, tak satupun pembantu dirumahnya mengabari tentang panggilan dari nomor Lukman. Hanya ada ibu tersangka tunggal.
__ADS_1
“Jadi kamu kesini, mau minta ganti rugi dalam bentuk apa?”
Ada keheningan yang panjang setelah dia berkata. Nata menduga maksud kedatangan Lukman.
“Emang kalau aku minta ganti rugi, berupa... Kamu aja. Boleh?”
“Jangan bercanda”
Nata tau tak sepatutnya lagi mengharapkan lebih dari Lukman saat ia sendiri sudah terlanjur membuat keputusan. Tapi entah kenapa ia masih tak bisa menyembunyikan Rona wajahnya yang tak biasa saat Lukman merayu.
“Aku hanya ingin tahu, kenapa kamu ajak bertemu saat itu, dan kenapa gagal? Aku hanya ingin menghalau buruk sangka, konon buruk sangka itu bikin buruk muka.. Aku gak mau kadar kegantenganku turun.."
Lukman memanahkan matanya pada Nata, minta sebuah penjelasan.
“Kenapa sekarang baru tanya, kenapa gak dari kemarin-kemarin saat aku masih nungguin kabar kamu..!”
Nata mulai mendongakkan kepalanya, dengan kedua tangan bertumpu di pinggang. Seakan kekesalannya semua terkait lelaki itu, terakumulasi saat ini.
“Astaga Nata.. Seharusnya kamu yang klarifikasi sendiri. Aku sudah menelpon untuk bertanya. Kenapa kamu pula nyalahin aku? Benar kata Bang Wisnu. Perempuan emang bawaannya nyalahin pria..”
“Kan aku gak tau kamu nelpon. Padahal hari itu aku ingin minta maaf atas sikap ibu. Aku ingin berbicara denganmu, mungkin masih ada yang bisa kita lakukan untuk hubungan ini. Kamu gak balas pesanku, kamu gak ada di taman itu!
Aku kira kamu gak peduli lagi!”
Nata amat menyesali keterlambatan menyelesaikan kesalahpahaman ini.
Baru minggu lalu ia memberikan kepastian pada perjodohannya dengan Radit. Lamaran akan dilangsungkan dua minggu lagi. Siapa sangka ceritanya jadi begini.
“Gak peduli sama kamu? Sampai perjanjian konyol dari ibumu pun aku ikutin sudah dua tahun ini. Tapi hatiku gak bisa gak peduli kalau kamu jatuh cinta sama selain aku..!”
Panah mata lelaki itu menembus jauh hingga ke hati Nata yang mulai nelangsa. Butuh beberapa saat hingga perempuan itu mengumpulkan kekuatan untuk berkata-kata.
“Aku minta maaf.. Aku tak tau keadaannya seperti ini. Aku kira kamu benar-benar menyerah dengan keadaan. Seharusnya dari dua tahun lalu kamu buat aku yakin kalau kamu mau berusaha sampai titik ini, agar aku bisa menunggu dan bersikeras menolak perjodohan. Kenapa baru sekarang. Saat acara lamaran sudah di depan mata..”
Air mata pun luruh satu-satu. Menyaksikan
hal itu, Lukman sejenak tidak berkutik. Hening mengambil alih waktu mereka, lagi.
“Apakah kau cinta pria itu?”
Pertanyaan Lukman terdengar sangat lembut dan hati-hati, tapi mampu membuat Nata tersudutkan.
Suara ketukan pintu mengakhiri pembicaraan mereka. Sesosok pria kini muncul di tengah mereka. Radit bingung, mendapati wajah asing di kantor Nata.
Semuanya mematung diri, menunggu siapa yang bernyali membuka percakapan saat bertiga seperti ini.
"Calon suaminya Nata ya?”
Lukman akhirnya mengulurkan tangannya ke Radit dengan senyum setengah hati.
Radit mengangguk kemudian menerima uluran itu sembari berpikir keras, merasa pernah melihat sosok dihadapannya sebelum ini.
“Saya Lukman. Teman SMA Nata dulu”
Nata memilih beranjak ke kamar mandi, ingin mengeringkan matanya yang basah. Meninggalkan dua lelaki itu yang sedang berbasa-basi entah.
“Jadi ini orangnya.. Kamu yang janjian ketemu dia minggu lalu kan? Udah capek-capek kesana, kena hujan, kelelahan, eh kamunya malah gak ada. Sampai dia pingsan di taman”
Lukman menoleh, mencari Nata untuk minta penjelasan. Tapi perempuan itu masih di kamar mandi. Mengetahui Nata pingsan hari itu -- karenanya-- Lukman merasa bersalah. Tapi disisi lain entah kenapa ia senang mengetahui ternyata Nata berusaha untuk menemuinya dengan susah payah, walau terlambat.
“Saya udah nunggu dia hampir dua jam disana..”
Lukman menoleh lagi ke pintu kamar mandi.
“Saya mohon maaf. Situasi malam itu sangat darurat, adik kami tenggelam di rumah Nata. Jadi Nata ikut menjaga sampai ia dikeluarkan dari IGD”
“Oh iya.. Dia calon kakak ipar yang baik..”
Melihat Nata sekakan sengaja menghindari mereka berdua, Lukman memikirkan cara bagaimana membuatnya keluar menghadapi kenyataan. Lelaki itu berdeham, lalu siap menaikkan volume agar suaranya terdengar ke tempat perempuan itu bersembunyi.
“Nata De Coco..! Buruan keluar, kasihan ini calon suaminya pengen ketemu. Dua pula calonnya! Yang satu ganteng, yang satunya lagi, ganteng banget. Nah yang ganteng banget mau pulang dulu ya. Kasian yang baru datang, tar saingannya berat. Biar aku ngalah bentar, biasanya di pilem-pilem India mah gitu. Anak muda menangnya belakangan!”
__ADS_1
Kemudian Lukman melenggang pergi, begitu saja.