My Lovely Driver

My Lovely Driver
10


__ADS_3

"Lukman?"


Nata nyaris saja menaikkan volume suara kalau tak ingat ada Radit di dekatnya. Beruntung ia berhasil membekap mulutnya sendiri saat nama itu tersebut.


"Itu yang mau antarin kamu?"


Radit melongok ke dalam mobil. Perempuan itu mengangguk dengan dahi yang mengerut.


“Yaudah, kenapa masih bengong. Katanya udah telat?”


Dengan terpaksa perempuan itu mengangkat tubuhnya dari mobil, waktu sudah mendesaknya untuk segera keluar.


Pria di atas motor pun tak kalah kaget melihat siapa yang akan diboncengnya ke studio. Netranya sedikit membesar mendapati wujud itu nyata dihadapannya. Perempuan yang telah dirinduinya hampir dua tahun lebih.


"Nata? Jadi Tasha yang dibilang Bang Rian itu Nata-sha?"


Perempuan dihadapannya kini mulai bisa menetralisir keadaan hati seolah tak ada yang luar biasa. Nata melangkah kearah Lukman yang masih tak bergergak, mematung melihatnya yang terlihat sangat menawan dalam balutan hijab.


"Kalian kenal?" tanya Radit tak bisa menahan rasa ingin tahu.


"Nanti aja ceritanya. Aku telat.." pangkas Nata kemudian beralih ke belakang motor. Mulanya tampak kepayahan hingga akhirnya menemukan dudukan yang nyaman.


"Oke. Hati-hati ya Mas, jangan sampai kenapa-napa sama calon istri saya"


Kalimat itu terdengar menyakitkan bagi Lukman. Namun ia berusaha keras menangguk dan membalas senyuman, walau hasilnya malah tampak amat aneh. Segera ia menyalakan kembali kuda mesin itu, meninggalkan Radit yang sedang berusaha memikirkan jalan keluar permasalahan mobilnya seorang diri.


Lukman dan Nata; keduanya melaju membelah jalanan dengan sederet tanda tanya di kepala masing-masing. Apa saja yang telah terjadi selama mereka terpisah dua tahun lamanya.


Tak ada perbincangan apapun hingga sampai disebuah stasiun TV yang dituju. Sebuah gedung berlantai lima dengan lambang bewarna biru di sudut atasnya.


"Nata..." sapa Lukman seolah menggantung, ragu.


"Tumben kamu gak banyak ngobrol, gak kayak dulu?"


Nata memberikan helm, lalu merapikan jilbabnya yang sedikit berantakan usai melawan angin jalanan. Wajahnya tampak lebih mungil dalam balutan kain penutup kepala tersebut --selaras dengan bentuk bibir-- namun kontras dengan mata yang membesar. Tatapan penuh rasa ingin tahu, Lukman masih hafal panah mata itu.


"Hanya mengikuti saranmu dulu. Aku belajar banyak setelah malam itu.."


Lukman menatap perempuannya dihadapannya, canggung.


"Baiklah. Aku sudah telat. Dimana ruangnya?"


Lelaki itu berjalan didepan dengan cepat, memandu Nata ke studio 6 tempat acara akan segera berlangsung.


"Terimakasih" ucap Nata.


"Sama-sama"


"Nata.."


"Ya?"


"Kamu cantik dengan jilbab itu ..."

__ADS_1


Nata hanya tersenyum lalu mengikuti crew yang mengarahkannya ke seorang pelaksana acara.


***


"Masih tunggu jemputan?"


Rian mendekati kursi dimana Nata mematut, lelaki asal Medan itu pernah beberapa kali mengambil mata kuliah yang sama dengan Nata saat kuliah dulu.


"Iya Bang, katanya lagi di jalan" ucapnya sambil meletakkan gawainya kedalam tas.


"Eh, Lukman itu bagian apa?" Tanya Nata tak ingin menutupi rasa ingin tahunya.


"Kenal Lukman?"


"Satu SMA dulu"


"Owh.. dia hampir tiga bulanan disini, sebelumya di daerah. Ia bagian dari tim Floor Director tapi kayaknya mau di loker lagi karena di bagian lain kurang personel. Karirnya kayaknya bakalan cepat naik disini.


"Kenapa?"


"Anaknya pekerja keras. Profesional walau kerjaan sampingannya banyak”


“Udah nikah dia?”


“Setau aku sih belum. Yang suka banyak”


Entah kenapa Nata malah lega mendengar kalimatnya pertama itu.


"Nah ini dia, si pekerja keras. Pejuang mahar!”


“Ngarang” Lukman membela diri.


“Lha iya, kan katamu mau cari uang banya biar bisa sekalian ngelamar anak konglomerat. Gitu kan yang ku dengar curhatanmu. Baru juga kemarin pria galau curhat, masak iya aku lupa!" Balas Rian merundungi Lukman, terkekeh.


"Pacarku hampir nikah Bang, gak jadi. Tadi aku ketemu dia dijalan sama calon suaminya." Lukman berbicara seolah tak ada Nata disana.


"Hampir mah itu, belum nikah juga. Orang nikah aja bisa cerai. Ya kan Natasha?" Rian melirik perempuan disebelahnya seakan minta persetujuan. Nata hampir saja menjatuhkan gawai yang baru dipegangnya.


"Eh iya" jawabnya gagap, kemudian bangkit dari tempat duduk demi menerima sebuah panggilan masuk ke ponselnya, menjauh untuk beberapa saat. Lalu kembali ketempat Rian berada.


"Kenapa Tasha?"


"Ini, yang mau jemput katanya suruh tunggu sebentar”


"Pacar atau tunangan?" Tanya Rian ingin tau.


"Hmm.. pacar bukan, tunangan juga bukan.." Nata tak tau harus memasuki Radit dalam klasifikasi mana.


"Calon suami maksudnya Bang, itu aja gak paham" jawab Lukman kemudian manyerahkan flashdisk ke salah satu karyawan disampingnya.


"O... Cerdas juga kau Luk!" Seloroh Rian.


Nata hanya diam melihat Lukman dengan sudut matanya. Kesal.

__ADS_1


"Aku ada urusan bentar. Kau tinggalllah sama kawan SMA mu ini kalau perlu teman ngobrol. Dia ini baik dan lucu, tapi sayang gak laku-laku” ucap Rian sambil tertawa lalu pergi dengan menepuk bahu Lukman.


Hening mengambil waktunya beberapa saat. Keduanya tak menyangka akan bertemu seperti ini. Tak ada yang bernyali memulai percakapan.


"Apa kabarmu?" Akhirnya Lukman memecah kebekuan.


"Baik. Ayahmu tak pernah bercerita kalau kamu sudah kembali kesini"


"Ayah? Ia tau aku mencintai atasannya. Ayah memarahiku habis-habisan setelah ibumu menelponnya menceritakan tentang kita. Jadi untuk apa bercerita? Ayahku tak suka cari masalah”


“Ibu? Menelpon untuk apa?”


“Menurutmu?”


“Aku tak pernah mengatakan apapun tentangmu pada Ibu, jadi kenapa ia harus menelpon ayahmu?” Nata tak mampu mengurai kebingungan setelah Lukman seakan menyuruhnya menarik kesimpulan sendiri.


“Kau yang punya ibu, malah tak sadar kekuatan insting seorang ibu.. Lucu!”


“Maksudmu?”


“Ah lupakan, bukankah kau akan segera menikah? Pria tadi sepertinya baik. Tak menyebalkan seperti aku”


“Iya, dia sangat baik. Dan tak menyebalkan seperti kamu! Kamu lelaki menyebalkan yang pernah aku tau. Pria yang bisanya berpangku nasib, tanpa ingin mengubah apapun”


“Keadaan mana yang kau maksud tak ingin ku ubah?” Lukman mendelik.


“Menurutmu?”


“Kau kira aku sudah di titik ini untuk apa?”


“Entah, yang jelas sepertinya gak ada hubungannya denganku..”


Keduanya kembali hening, menatap bebrapa crew yang lalu lalang untuk mencari sedikit alasan untuk tak saling berpandangan.


“Kamu bahagia?” Lukman kembali membuka percakapan.


“Menurutmu?”


“Kau tampak tambah cantik, aku rasa kau bahagia..”


Nata terlihat kesal mendengar jawaban itu. Ini bukan gaya Lukman yang dikenalnya dulu. Entah apa yang mebuatnya seakan berbeda.


“Lukman, Ibu bilang apa saat kamu kembali malam itu?”


“Kenapa tak tanya ibumu saja?”


“Ibu tak bilang apapun. Katanya kamu pergi begitu saja..”


“Ibumu baik.. Ia hanya mengatakan yang baik. Setidaknya yang ia rasa baik buat anaknya..”


“Jangan bertele-tele. Katakan apa yang terjadi sampai kamu seperti menghilang!”


“Jika aku menceritakan, apa manfaatnya lagi untuk kita?”

__ADS_1


__ADS_2