My Lovely Driver

My Lovely Driver
7


__ADS_3

"Mati aku, kirain minyaknya cukup sampai ke villa. Rupanya cuma sampai sini..” Lukman tampak panik.


“Lukman jangan bercanda! Ini tengah malam, tengah hutan! Itu diatas tanjakan semua...!”


“Maaf.. gimana ini jadi? Kita telepon supir ibumu saja gimana?”


Lukman merasa bersalah.


“Dia lagi cuti pulang kampung dua hari. Ibu juga gak bisa mengemudikan mobil kalau malam gini, jarak pandang terbatas. Ayah apa lagi, kalau penyakitnya kambuh tengah jalan gimana!” Keduanya tampak berpikir keras beberapa saat.


“Yaudah, gak jauh lagi kan? Kita jalan kaki aja, mana tau di depan ada kios minyak eceran. Mana tau lagi jalan, gak terasa tau-tau udah nyampe villla” Lukman nyengir.


Nata mencerna saran itu beberapa saat. Benar kata Lukman, villa tak jauh lagi. Tapi jalan akan sedikit menanjak, pasti akan lebih melelahkan. Tapi berada ditengah perkebunan tanpa ada bantuan, juga bukan sebuah jalan keluar.


“Yaudah, bawain tas aku tapi ya..”


Nata keluar dari mobilnya lalu merenggangkan sedikit otot. Merasakan semilir angin malam nan sejuk dari atas puncak, sensasi dingin mulai meyapa permukaan kulit.


“Kamu didepanya aja. Aku gak hafal medan” Lukman mempersilahkan Nata berjalan duluan.


“Biasanya laki-laki yang didepan melindungi perempuan. Nah ini aku yang disuruh mimpin kamu”


“Lha, aku kan gaktau tempatnya. Lagian kalau kamu dibelakang, trus tiba-tiba ada yang nyulik kamu gimana? Trus kamu hilang tanpa aku tau, mau?"


“Siapa yang mau nyulik aku memangnya?”


“Ya mana tau, Dion, Gendrowo, atau alien”


“Kenapa gak sejalian Thor hang nyulik. Trus aku dibawa ke Asgard. Pasti asik"


"Thor itu fiktif Nata, khayalan.. "


"Sama kayak rayuanmu, fiktif"


"Siapa bilang itu fiktif?"


"Kalau gak fiktif seharusnya kamu gak biasa saja seperti ini, saat tau aku dijodohin.." Nata menendang sebuah kerikil didekat kakinya.


Lalu Lukman maju, memilih jalan berdampingan.


"Lalu menurutmu aku harus tak biasa, seperti apa?"


"Entah" Nata tak ingin melanjutkan topik ini. Ia terus berjalan tanpa menoleh ke sisi.


"Nata.. Aku sadar diri. Bukankah yang kamu bilang dulu itu benar, menghidupi diri sendiri saja masih payah. Dan yang dikatakan Nazim beberapa hari lalu juga tak mungkin kuabaikan, kita beda kelas. Bahkan aku dituduh memanfaatkan kamu.


Aku tak akan memaksa keadaan Nata. Kalau kamu tak cinta, aku bisa apa.."


"Memangnya kalau aku cinta, kamu bisa apa?"


Lukman mendadak kehilangan kata-kata. Berbicara saat Nata mengarahkan panah matanya tepat mengenai hati Lukman, ternyata tak semudah bermonolog tadi. Saat tanpa teror sorot mata yang mengunci itu.


Aku....? Nggg.. Aku....."


Bagaimanapun diusia yang sudah matang maka menjawab cinta saja, tak akan cukup.


Ia memang tak pernah ragu akan persaannya sendiri. Tapi kepastian apa yang akan dilakukan dengan cinta (saja) itu? Lukman bahkan belum mampu menjawab.


"Kok diam? Kamu juga gak tau mau apa juga kan! Karena dari awal niatmu cuma bercanda.." Nata memalingkan mukanya.


"Tak seperti itu!"


"Tapi yang tampak seperti itu.."


"Nata.. Aku minta maaf.."


Perempuan itu menoleh sebentar, lalu berjalan kembali ke arah jalan bebatuan yang menanjak didepannya.


Nata masih ingat jalan pintas menuju villa walau dalam remang, didepan akan sedikit curam.


Is terus melaju cepat, bahkan tak lagi peduli peringatan Lukman agar jangan jalan terburu. Perempuan itu seolah tak lagi berjalan menggunakan tenaga dari kakinya, tapi dari kekesalannya. Lelaki itu malah makin tertinggal sedikit jauh karena sebuah pesan masuk ke gawainya.


"Awww...!!" Suara Nata terdengar sangat keras. Perempuan itu tak bisa menahan keseimbangnnya, hingga terperosok jatuh kebawah. Nata tersungkur dengan kaki menekuk kesamping.

__ADS_1


"Nata...!" Lukman berlari menuju perempuan yang mulai meringis kesakitan dibawah sana.


Ia segera menghidupkan penerangan dari smartphone lalu mengarahkannya ke kaki Nata.


"Astaghfirullah. Kamu berdarah"


Lukman segera merogoh saku jaketnya, menarik sebuah sapu tangan dari sana. Dengan cepat ia menggunakannya untuk ditempelkan ke pusat luka, demi menekan lajur darah.


Saat cairan berwarna merah itu tampak sedikit berkurang, lalu Lukman menggunakan kain yang sama untuk mengikatkannya pada pergelangan kaki kanan Nata yang terluka.


"Villanya gak jauh lagi kan? Kita gak bawa obat-obatan" Tanya Lukman tampak panik.


"Gak, itu didepan sana.. " Nata menunjuk ke arah kiri depan mereka sambil meringis kesakitan. Tampak cahaya lebih terang dari bangunan bercat putih-coklat arah Nata menunjuk. Memang tak lebih dari satu kilometer lagi, tapi itu tanjakan.


"Kamu bisa jalan?" Tanya Lukman ragu, lalu mengarahkan penerangan ke luka lecet disekitar ikatan tadi.


Baru hendak bangkit dengan berpegangan pada pohon disisinya, Nata mulai mengaduh kesakitan.


"Aw! Sakit Lukman...!" Nata mulai terduduk kembali, lalu menangis disana.


Lukman segera meraih tas yang mempersulit langkah mereka, lalu meletakkannya dibelakang sebuah pohon.


"Oke, Aku sembunyikan dulu tas bajumu dibelakang pohon ini. Ayo sekarang naik ke punggungku"


Lukman mulai berjongkok dihadapan Nata. Nata menatap ragu.


"Udah jangan kelamaan mikir. Apa kamu mau tidur disini semalaman? Itu lukamu harus segera dikasih antiseptik!"


"Apa kamu bisa?"


"Kamu itu kecil Nata. Aku pasti bisa, makanku banyak tadi malam" Ucap Lukman menepuk perutnya. Lelaki itu kini mengulurkan rangannya, sembari mengembangkan senyum. Berharap bisa meyakinkan Nata.


Kali ini tak ada pilihan lain. Perempuan itu mencoba mengulurkan kedua tangannya pada pundak Lukman. Dengan kepayahan, akhirnya ia berhasil naik ke belakang punggungnya.


Hening beberapa lama. Hanya terdengar tapak kaki Lukman yang melangkah berat, dengan sengal nafas yang memburu. Entah karena kelelahan oleh beban dipundak, atau karena beban dihatinya.


"Maaf sudah merepotkanmu.."


Kini tak ada lagi raut kekesalan seperti yang meliputi Nata beberapa saat lalu. Perempuan itu terdengar lirih.


Lalu kembali senyap beberapa saat, Lukman terus berjalan dan membiarkan diam membahasakan perasaan hati mereka.


"Lukman, apa kamu tak pernah berjuang mempertahankan apa yang kamu cintai?"


"Seperti?"


"Saat ibumu pergi, apa kamu menahannya agar jangan meninggalkanmu?"


"Tidak..."


"Apa kamu menyesal akan itu?"


"Tidak"


"Dan kamu akan mengulangnya pada perempuan yang kau cintai?"


"Tidak.."


Lukman menghentikan langkahnya. Lalu menoleh kesamping bahu dimana wajah Nata mematut, kecut. Ia berusaha memahami arah pembicaraan perempuan itu.


"Nata, kau percaya takdir?"


"Kau kira aku atheis?"


"Lalu jika perempuan itu memang takdirku, bukankah seharusnya dia tak akan kemana-mana?"


"Misalnnya dengan membiarkan orang yang kamu cintai dijodohkan, lalu nanti tiba-tiba dia jatuh cinta sama lelaki lain. Kamu menunggu takdir jatuh dari langit, begitu saja?"


"Bukan sperti itu..".


"Jadi?"


"Andai saja kamu dengar curhatku tadi didalam mobil..."

__ADS_1


"Emang kamu curhat apa?"


"Lupakan. Diamlah dulu, aku kepayahan menggendongmu sambil mengobrol. Mana topiknya lebih berat dari beratnya badanmu..."


Akhirnya keduanya membiarkan hening kembali menguasai keadaan untuk beberapa lama. Tiba dihadapan pagar putih yang mengelilingi sebuah bangunan berasiktektur perpaduan etnik-modern. Kemudian Nata merogoh saku celananya, menelpon sang ibu.


"Bu, Aku diluar..." dari seberang ibunya menjawab bahwa akan membuka sendiri pintu untuk anak kesayangannya. Nata menutup panggilan itu, kemudian keduanya menunggu.


"Kamu nginap disini dulu?"


"Gak bisa. Tadi aku di hubungi teman kalau besok harus sudah di Jogja untuk sedikit pembekalan sebelum temanku berangkat. Setelah mengambil tasmu dan menemukan bensin, aku akan langsung pulang”


Kemudian keduanya tersadar bahwa ini akan jadi menit-menit terakir bagi mereka. Terpisah sementara waktu, atau bisa jadi selamanya.


"Kamu akan merindukanku?"


"Bukankah aku juga pernah menanyakan itu. Tapi kamu jawab enggak? Menurutmu aku harus menjawab apa?" Lukman membalas pertayaan dengan pertayaan.


“Dasar lelaki pendendam!” Nata memukul pundak Lukman. Lelaki itu meringis kesakitan.


"Udah ditolongin, dipukul pula! Apa semua perempuan seperti ini?"


Lukman tampak berusaha menyeka keringat yang sudah mengalir kepipinya dengan bahu. Namun kepayahan, karena keberadaan Nata menguasai bagian punggung dan lengannya.


Nata berusaha membantu, ia menjulurkan permukaan blazer bagian lengan yang sedikit kepanjangan. Lalu mengusapkannya pada cairan bening itu, perlahan.


Ternyata menggendong manusia dengan medan terjal, tak menyisakan rasa dingin lagi sama sekali di daerah puncak.


Suara pintu terbuka memutuskan lamunan singkat mereka. Seorang perempuan paruh baya dengan rambut tersanggul, tampak berjalan terburu. Gurat cantik dimasa muda masih bersisa dari wajahnya.


"Kenapa ini?" Retno tampak panik melihat putrinya digendong lelaki yang belum pernah dilihatnya sebelum ini.


Lukman tersenyum lalu sedikit menunduk, berharap bisa mewakili uluran tangannya.


"Panjang ceritanya Bu.. Biarkan kami masuk dulu ya..." Pinta Nata dengan wajah lelah.


"Eh iya, iya. Masuk dulu!" Bu Retno mengarahkan Lukman melalui jalan setapak yang dikelilingi Anggrek dan Lili. Dengan sisa kekuatan yang dimilikinya akhirnya ia memasuki villa itu.


Matanya mencari tempat yang nyaman untuk merebahkan Nata. Sebuah sofa diruang keluarga tampak memenuhi kriteria.


"Aku ambil tas dulu ya, gak lama" ucapnya usai memastikan Nata nyaman.


"Hati-hati..." Nata tersenyum amat tulus. Menatap punggung lelaki itu dengan perasaan yang campur aduk.


But Retno bergegas mengambil kotak P3K di sudut ruangan itu. Lalu mulai membersihkan luka putrinya dengan amat hati-hati.


“Kok bisa gini sih Nat”


“Mobil kehabisan bensin Bu, kami haru jalan kaki. Karena gak hati-hati, Aku kepleset” Ucapnya menjelaskan sesingkat mungkin.


“itu anaknya Amar ya?”


“Iya.. “


“Apa dia baik?”


“Baik, tapi kadang-kadang menyebalkan. Aww...!”


Nata reflek berteriak saat bagian pergelangan kakinya disentuh. Kini muncul lebam disana.


“Muni... Kemari sebentar!”


Retno memanggil salah satu pembantunya yang miliki tangan piawai dalam mengurut.


Setelah luka diperban, Retno minta kaki putrinya dipegangi Muni. Beberapa kali terdengar teriakan kesakitan, namun setelah itu Nata merasakan kakinya lebih baik setelah di sentuh Muni. Kini ia malah minta perempuan awal 40an sekalian memijat kepalanya yang terasa pusing.


Pijatan yang begitu nikmat. Terasa menembus hingga titik-titik utama walau ditekan dengan tenaga tak berlebihan. Kelihaian Muni memijat malah berhasil membuat Nata tertidur.


Saat terjaga jelang subuh, ia mendapatkan diri sudah tertidur di kamar. Ada ibu disisinya.


“Bu, Lukman kemana? Siapa yang pindahin aku kesini?” Nata seperti orang kebingungan, matanya menyisir kamar itu dengan lingkaran penuh.


“Udah tidur aja lagi. Kamu kan masih sakit. Lukmannya udah pulang” Retno membuka matanya berat.

__ADS_1


“Dia gak bilang apapun?”


Sang ibu menggelengkan kepala. Lalu bangkit meninggalkan Nata yang seakan tak percaya Lukman meninggalkannya begitu saja.


__ADS_2