
Satu hal yang ia benci adalah Pengkhianatan, karena itu ia begitu kesal dengan alur Novel yang dibacanya saat ini.
Beberapa bungkus makanan ringan berserakan dimana-mana, membuat yang melihatnya pasti mengira Apato ini adalah Tempat pembuangan. Gadis yang hidupnya terlalu santai itu masih asik dengan dunianya, rambut hitam keritingnya terlihat kusut, pakaian dengan kaos oversize ditambah celana kain yang sama lusuhnya seolah tak membuatnya tak nyaman.
(Apato : Apartemen di Jepang, sejenis Kosan di Indonesia)
Bahkan tempat yang harus menjadi kamar itu, malah terlihat seperti sebuah kandang.
Leona, Gadis berusia 24 tahun itu baru saja menyelesaikan kuliahnya setahun lalu. Ia harus berhenti ditengah semester karena faktor keuangan, dirinya bukanlah seseorang yang Pintar yang mampu mendapat beasiswa. Ia hanya seorang gadis yang beruntung pernah hidup berkecukupan, hingga setahun lalu Sang Ayah meninggal hingga meninggalkan hutang yang membuatnya harus menjual rumah mewah peninggalan beliau.
Kini dirinya hidup pas-pasan disebuah Apato dengan Sahabatnya.
Pintu terbuka dan memperlihatkan raut lelah Seorang wanita, ia berjalan hati-hati agar tak menginjak sampah yang berceceran.
"Lagi-lagi seperti ini, bisa tidak sih sehari saja kamu itu hidup bersih?" kesalnya membuat Leona memutar bola matanya malas, menyimpan Novel nya lalu menatap Irene dengan balutan pakaian kantor.
Tak seperti Irene yang mendapatkan pekerjaan langsung setelah selesai kuliah, dirinya harus bersabar menunggu panggilan perusahaan setelah dirinya mengirim surat lamaran kerja.
"Bisa kok, tapi berikan aku kerja dulu. Kamu tau, aku juga lelah hidup berleha-leha seperti ini. Bahkan uang tabunganku hanya cukup untuk membeli makan sebulan," Kesal Leona.
Irene tampak menghela napas lalu menghampiri Sahabatnya itu, ia tau mungkin semua ini begitu sulit untuk Leona.
"Baiklah, aku akan membantumu lagi. Jangan sedih lagi, ya." Leona mengangguk ia hendak membaca Novelnya lagi, tetapi Irene merebutnya dan menjauhkannya.
"Berikan! Aku masih belum menyelesaikan beberapa bab lagi," pintanya dibalas gelengan Irene yang kemudian berkata "Bereskan dulu kamarmu, setelah itu pergi ke pasar dan beli bahan makanan!".
Leona menggembungkan pipinya sebelum berdiri dan mulai membersihkan segala kekacauan yang ia buat, Irene duduk memperhatikan lalu matanya beralih pada Novel yang ada ditangannya.
Ia mengernyit saat mendapati cover Novel hanya berwarna Hitam dengan bagian bawah berwarna merah, aneh padahal judulnya My Sweet Romance. Tetapi kenapa kesan yang dibuat Novel itu seperti horor.
"Leo, kenapa kamu suka baca Novel ini? Dan lagi, kamu dapat darimana Novel ini? Tak ada Pengarangnya atau pun keterangan Terbit, hanya Judulnya." Tanyanya.
Leona menghentikan aktivitas menyapunya lalu memasang pose berpikir, lalu menjawabnya "Aku mendapatkan Novel itu dari mendiang Ibuku, beliau memberikannya sebelum meninggal. Namun aku hanya boleh membukanya saat usiaku sudah dewasa, awalnya aku pikir Novel itu berisi Adegan dewasa. Tapi nyatanya hanya berisi Kisah Romansa Dewasa.."
Irene menatap kaget Sahabatnya, melihat reaksi Irene membuat Leona melanjutkan dengan cepat ucapannya.
"Maksudku walau berisi Kisah Romansa Dewasa, tetapi isinya hanya memperlihatkan Cinta penuh ambisi dan Dendam. Kau tau, aku begitu membenci sosok Pria itu. Dia yang membuat si pemeran wanita menderita, rasanya aku memiliki dendam padanya."
__ADS_1
"Jika tentang pengarang atau penerbitnya, aku pun tidak tau. Aku sudah pernah mencarinya di internet, namun tak ada satupun yang menjelaskan asal-usul Novel itu," ujarnya.
Irene mengangguk mengerti lalu menatap Jam dinding yang menunjukkan pukul 3 sore, sebentar lagi memasuki waktu makan malam.
"Baiklah sekarang cepat mandi lalu pergi ke pasar, uang dan daftar belanjaan nya ada di meja. Aku akan mandi dulu."
Leona mengangguk sebelum membuang sampah yang berceceran "Astaga, aku ternyata begitu jorok. Pantas saja tidak ada Pria yang tertarik padaku," gumamnya.
Beberapa menit kemudian ia selesai dengan segala urusan di kamarnya, bahkan kini ia sudah memakai mantelnya bersiap untuk pergi belanja.
-
-
Suasana jalanan Kota Tokyo sore ini begitu sibuk, hanya 20 menit lagi ia tiba di Pasar.
Pikirannya melayang memikirkan bagaimana nasib si pemeran wanita dalam Novel yang ia baca, dan lucunya lagi Pemeran wanita itu memiliki nama Leona seperti dirinya hanya nama akhir yang berbeda.
Ia menghembuskan napas kasar saat ingatannya melayang pada Sosok Pria yang menjadi Karakter Pria dalam Novel itu, rasanya begitu kesal saat ia mengingat kembali sikap Pria itu yang Keterlaluan.
Tanpa sadar ia mencak-mencak sendiri memikirkannya, bahkan orang-orang dijalan yang melihatnya memandang ia aneh. Mereka mungkin berpikir jika Leona adalah orang gila, mereka berpikir begitu karena dandanannya yang terlihat urakan.
Bruk.
Hingga ia terjatuh karena tak memperhatikan jalan "Aduh" ia meringis sambil mengusap bokongnya yang jatuh duluan di aspal.
Sebuah benda berkilau yang ia lihat tadi, kini berada di depan kakinya. Tangannya perlahan mengambil benda seukuran kuku jempol tangannya, memperhatikan benda itu dengan seksama.
Senyumnya mengembang "Indahnya," gumamnya lalu memasukkan benda itu ke dalam saku mantelnya dan kembali melanjutkan perjalanannya yang tertunda.
-
-
Waktu menunjukkan pukul 5 sore begitu ia tiba di Apato nya, Irene yang sedang menonton TV menatap Leona yang langsung pergi menuju kamarnya setelah beres berbelanja.
Keningnya berkerut heran, mematikan TV lalu berjalan menghampiri Leona.
__ADS_1
Ia duduk disisi Leona yang bergelung dengan selimutnya "Ada apa?".
"Tidak ada, aku hanya mengantuk" jawab Leona tanpa membuka selimutnya.
"Kamu tidak mau makan malam dulu? Atau mandi?".
Selimut bergerak saat Leona menggeleng, "Tidak, aku malas."
Irene menghela napas sebelum akhirnya berdiri lalu keluar dari kamar Leona, setelah sebelumnya mengusap lembut kepalanya.
-
-
-
Malam kini datang, Selimut putih itu bergerak diikuti tubuhnya yang terduduk.
Leona menggaruk tengkuknya yang gatal, lalu menguap sambil mengusap wajahnya. Tangannya lalu menyentuh selimut yang dikenakannya, terasa lembut dan nyaman. Sama seperti selimut saat ia kecil, ia tersenyum lalu membaringkan tubuhnya lagi tanpa membuka matanya.
Ah, nyaman dan wangi. Kasur ini terasa begitu lembut, wanginya bahkan menenangkannya. Tak seperti biasanya yang tak nyaman, bahkan aromanya begitu berbeda dari kemarin.
Perlahan kesadarannya mulai kembali ke alam mimpi, sebelum sebuah suara mengusik Indera pendengarnya.
Ia menggeliat mencoba kembali tertidur, namun usapan lembut di kepalanya membuat ia mau tak mau membuka kedua matanya. Usapan lembut sama seperti mendiang Ibunya, dan hal pertama yang ia lihat adalah wajah seorang Wanita paruh baya yang berusia sekitar 40 tahun-an.
Leona mengerutkan keningnya heran siapa Wanita didepannya ini?
"Nona Leona, sebentar lagi waktu makan malam. Saya kesini karena tak mau jika Tuan Darren yang membangunkan Anda," ujarnya lembut.
Leona terdiam sejenak, nama itu terdengar tak asing ditelinga nya. Seketika matanya membulat terkejut saat ingat siapa itu Darren.
"A.. Apa maksud Anda, Darren Kim?".
Wanita didepannya terlihat heran sebelum mengangguk "Iya, Suami Anda."
"Apa?" Otaknya seketika lemot saat mendengar ucapan Wanita itu.
__ADS_1
Hening beberapa saat hingga suara teriakan Leona mengejutkan mereka yang ada disana.
"Tidak!!!"