My Sweet Romance

My Sweet Romance
Bab 14


__ADS_3

Leona tampak melamun, pikirannya melayang ke segala hal. Shin yang melihatnya mengernyit heran "Kau baik-baik saja?".


Leona mengangguk, ia menatap Shin lalu bertanya ragu. "Shin, sebenarnya bagaimana hubungan Darren dan Jay? Aku tak terlalu memperhatikan."


Shin berpikir sebelum menjawabnya "Setahuku, mereka sudah seperti musuh sejak kecil. Tepatnya setelah Tuan Kim membawa Jay dan Ibunya ke kediaman Keluarga Kim. Sejak saat itu, tak ada Darren yang hangat. Ia terkesan dingin terhadap orang-orang."


Leona mengolah setiap kata yang diucapkan Shin, "Apakah Jay dan Darren bukan saudara kandung?".


Shin mengangguk "Ya, Ibu Tuan Darren meninggal sejak ia masih kecil. Tapi ngomong-ngomong, kenapa kau bertanya? Bukankah kau sudah tau?".


Leona menggaruk kepalanya canggung "Ya, sebenarnya akhir-akhir ini aku agak banyak pikiran. Makanya hal yang sudah kutahu saja, seolah hilang."


Shin mengangguk mengerti, ia kembali melanjutkan pekerjaannya memisahkan berkas. Leona menatap jam tangannya, masih sisa dua jam sebelum waktu istirahat tiba. Ia membuka Laptopnya, lalu mulai pencariannya tentang silsilah keluarga Kim. Namun yang ia dapati adalah hal yang ia ketahui, lalu tanpa sengaja ia menekan satu file.


Dibukanya file tersebut, ia mengernyit heran menemukan kalimat dengan foto yang terasa tak asing. Pertama ada foto seorang wanita cantik. Berdasarkan keterangannya, Nama wanita itu adalah Jane Lee, Wanita keturunan Turki dan Korea. Foto itu terlihat usang, namun entah mengapa hanya dengan menatapnya ia seolah merasakan perasaan rindu.


Diusapnya foto tersebut walau lewat layar Laptop, ia tersenyum lembut. Dibukanya file kedua yang ternyata sama berisi foto, hanya saja foto tersebut adalah foto seorang bayi. Keterangan difoto nama bayi tersebut adalah Leona Lee, ia tersenyum. Ah ternyata ini foto bayi Leona Lee, lucunya batinnya.


Leona kembali melanjutkan membacanya, namun ia tertegun saat menemukan tanggal lahir bayi tersebut. 20 Desember, sama sepertinya. Ia terkekeh pelan, ada apa sebenarnya? Siapa sebenarnya Leona Lee?


"Leo, ada data yang harus kau cek. Aku sudah mengirimnya di Email" Suara Shin mengejutkannya, ia memandang Shin lalu mengangguk kaku "Ah ya, akan ku cek."


Leona keluar dari file tersebut dan beralih menuju email, dalam benaknya ia bertanya-tanya namun kemudian menggeleng. Ia masih bisa mencaritahu nya saat diluar jam kerja, saat ini ia harus fokus terhadap pekerjaan. Bagiamana pun ia sekarang adalah Leona Lee.


-


-


Ditengah kesibukannya, pintu ruangan terbuka dan menampakkan Darren yang tersenyum hangat padanya. Leona berdiri lalu menghampiri Darren dan memeluknya, "Akhirnya kau menjemputku. Aku sangat lapar."


Darren tertawa geli mendengarnya, ia melepaskan pelukannya lalu menggenggam tangan Istrinya tersebut "Yasudah, ayo kita makan! Kau ingin makan apa?".


Leona menyentuh dagunya dengan telunjuk, bergaya seolah sedang berpikir. "Aku ingin makan belut panggang dan Es krim saus kacang merah, bagaimana?".


"Baiklah, aku ikut saja. Ayo!" Keduanya berjalan keluar kantor menuju restoran dengan menu pilihan mereka.


-


-


"Apakah enak?" Tanya Darren begitu melihat Leona yang lahap memakan belut panggang yang telah baru saja datang.


Mereka tiba sekitar 15 menit yang lalu, Restoran yang tak terlalu jauh dari kantor menjadi pilihan mereka.


Leona mengangguk tanpa menjawab, mulutnya terlihat penuh dengan pipi menggembung. Darren mencoba menahan tawanya, ia membuka aplikasi foto di ponselnya lalu mengarahkannya pada Leona. Perempuan itu masih tak sadar jika ia sedang direkam, Darren akhirnya tertawa karena tak bisa menahannya.


Leona menghentikan makannya, ia menatap Darren. Begitu tau sedang direkam, ia merubah wajahnya menjadi kesal. "Darren! Jangan merekam atau memfoto ku saat sedang jelek!".


"Kau sama sekali tak jelek, malah semakin imut saat sedang makan." Darren kembali tertawa membuat Leona dengan kesal memukul lengannya, "Auch.. sakit!" ringisan Darren terdengar.


Kini giliran Leona yang tertawa, Darren yang melihatnya ikut tertawa. Sampai suara seseorang mengejutkan mereka, "Hai! Boleh aku gabung?".

__ADS_1


Leona menatap malas Irene yang kini berdiri didepan meja mereka, "Tentu." Jawaban Darren membuat ia menatap Pria itu kesal, Darren ikut menatapnya.


"Mengganggu saja, banyak meja kosong kenapa disini?" Tanyanya ketus begitu Irene duduk di kursi antara ia dan Darren.


Irene tersenyum anggun "Ah maaf jika aku mengganggu, tapi daripada sendiri lebih baik ikutan kan? Lagipula Darren kan sahabatku, dia juga sudah mengijinkan."


Leona diam, ia kembali melanjutkan makannya dengan mata yang enggan menatap ke arah Irene. Melahapnya dengan rakus seolah makanan itu adalah Wanita itu, dasar pengganggu.


"Hati-hati, pelan saja makannya. Nanti kau tersedak." Nasihat Darren namun tak diindahkannya, sampai akhirnya ucapan Darren terbukti.


"Uhuk.. Uhuk.. Uhuk.." Leona terbatuk-batuk saat potongan belut tersangkut di tenggorokannya, Darren yang melihatnya segera memberinya minum. Leona dengan cepat meneguknya sampai habis, napasnya terengah-engah. Ia memandang Darren "Aku mau pulang."


"Tapi kau belum menghabiskan makananmu."


Leona menggeleng, ia menunduk lalu berucap pelan "Perutku sakit."


Darren tersentak, Pria itu berdiri lalu berdiri di sisi Leona. "Yasudah, ayo kita pulang. Kau bisa jalan?".


Leona menggeleng lemah, kedua tangannya terulur "Gendong." Pintanya manja. Darren terkekeh geli sebelum menggendongnya ala bridal, ia mengeluarkan uang beberapa lembar dengan nominal besar. Lalu menatap Irene yang sejak tadi diam memperhatikan "Maaf, aku harus pulang. Sepertinya Leona terlalu banyak makan, bye."


Irene tersenyum tipis begitu Darren berlalu, wajahnya berubah datar saat mendapati Leona yang tersenyum mengejek kearahnya. Ia mengeram kesal, kedua tangannya terkepal kuat.


-


-


"Masih sakit?" Tanya Darren dalam perjalanan menuju rumah. Leona menggeleng "Sudah tidak, sepertinya ini efek terlalu lama mencium parfum yang terlalu berlebihan."


Darren mengangguk mengerti "Tidurlah dulu, setelah sampai akan ku bangunkan."


Darren menoleh sekilas "Ya?".


"Tadi Ayah meneleponku, ia memberikan cuti. Dan perusahaan akan diurus oleh Shin." Lanjutnya. Darren mengernyit heran "Untuk apa Ayah memberimu cuti?".


"En.. Entahlah, dia tak mengatakannya." Jawab Leona gugup. "Ah ya. Selagi aku cuti, jangan pernah dekat dengan wanita lain terutama Wanita ular itu." Ujarnya.


"Wanita ular? Siapa?".


"Sahabatmu, sepertinya dia menyukaimu."


Darren tersenyum tipis "Apa kau cemburu? Tenang saja, lagipula aku sudah menganggapnya seperti adikku sendiri. Kita kan sudah bersahabat sejak kecil, kau ingatkan? Dulu kau dan aku selalu bermain bersama, namun Irene datang dan kau selalu bertengkar dengannya."


"Hn," gumam Leona. Darren tersenyum maklum, ia mengelus lembut rambut Leona. Mobil berhenti saat lampu merah, ia menatap Leona "Kau tak perlu khawatir. Karena hatiku akan terus menjadi milikmu, dan aku janji akan menghindari para wanita yang kau takutkan itu."


Leona balas menatapnya "Benarkah?". Darren mengangguk pasti "Tentu. Ah ya, mulai Minggu depan mungkin aku akan sibuk dan pulang malam. Dua bulan lagi akan ada penentuan Penerus Perusahaan utama, dan aku akan begitu fokus untuk memenangkannya."


"Semangat! Aku yakin kau mampu mengalahkannya."


"Terima kasih, aku sungguh beruntung memilikimu." Keduanya saling tersenyum, menyalurkan cinta lewat tatapan.


-

__ADS_1


-


Seminggu berlalu Leona lewati di rumah sendirian, cutinya mulai berlaku sejak kepulangannya setelah makan siang bersama Darren. Bicara tentang Darren, sesuai ucapannya waktu itu. Dia begitu sibuk di perusahaan, bahkan tak jarang dia pulang malam ataupun dini hari.


Selama dirumah yang ia lakukan diantaranya, membaca buku tentang bisnis, bermain internet, dan terakhir adalah membaca buku-buku masakan. Bagaimanapun ia ingin menjadi istri yang baik, menyambut suaminya dengan masakannya.


Seperti saat ini, ditengah asiknya membaca buku, ponsel pemberian Darren tiga hari lalu yang tersimpan dimeja berdering. Leona menghentikan aktivitas membacanya, diambilnya ponsel tersebut lalu mengeceknya. Nomor asing, mengingat ucapan Darren. Leona menolak panggilan tersebut, ia kembali membaca buku tanpa menghiraukan ponsel yang terus berdering.


Ia menguap lalu menatap jam dinding yang menunjukkan pukul enam sore, menyimpan bukunya di sofa lalu ia berjalan menuju dapur. Menyiapkan bahan bersiap memasak untuk makan malam, ditengah asiknya memasak. Suara bel berbunyi menghentikannya, ia menoleh bingung namun kemudian memutuskan untuk mengeceknya.


Pintu terbuka dan tak menampakkan siapapun di baliknya, ia hanya menemukan sebuah kotak dengan bunga rose di atasnya. Leona membawanya masuk, ia mengecek ke segala sisi untuk menemukan sang pengirim. Namun tak kunjung menemukannya, tangannya perlahan membuka kotak itu.


Sebuah Dress berwarna merah gelap terlihat begitu kotak terbuka, ia memandang heran gaun tersebut. Gaun berpotongan rendah dengan segala sisi terlihat seksi, sebuah kertas jatuh saat ia melebarkan gaun itu.


Untuk Wanita seksi yang membuatku mabuk. Kenakanlah ini, maka kau semakin terlihat indah.


Leona mengernyit tak suka, ia menyimpan kembali barang-barang itu lalu berjalan menuju dapur dan melemparkannya menuju tempat sampah.


"Menjijikkan." Geramnya lalu melanjutkan memasaknya.


Satu jam lebih akhirnya masakan yang ia buat tersaji indah di meja makan, Leona menatap puas hasil masakannya. Walau belum sempurna setidaknya ia sudah memastikan jika rasanya pas, ia menutup makanan itu dengan tudung saji. Melihat jam sejenak sebelum berlalu menuju kamar, ia harus terlihat memukau begitu Darren pulang.


Leona telah siap dalam beberapa menit, ia juga telah menyiapkan air hangat untuk Suaminya. Ia kembali berjalan menuju ruang makan, menunggu Darren dengan sesekali melirik ponsel.


Pintu terbuka, akhirnya orang yang ia tunggu datang. Leona tersenyum lalu menghampiri Darren yang terlihat lelah, "Aku pulang." Lalu


Pria itu mengecup keningnya.


"Selamat datang, biar aku ambilkan tasnya." Leona mengambil alih tas kerja Darren dilanjut membantu membuka jasnya, "Ingin makan dulu atau mandi?".


"Makan dulu saja, aku sudah lapar." Ujar Darren sambil menggandeng Leona menuju dapur "Sepertinya enak."


Leona tersenyum geli "Tentu saja, aku membuatnya dengan cinta."


Darren ikut tersenyum lalu memulai makannya "Enak, rasanya pas. Terima kasih."


Leona mengikuti jejak Darren, ia mencicipi masakannya dan benar jika rasanya pas.


"Bagaimana hari ini? Apakah begitu melelahkan?" Tanya Leona setelah lauk di piring Darren habis.


"Lumayan, tapi aku masih bisa mengatasinya. Aku akan mandi dulu, terima kasih makanannya."


Leona mengangguk, ia menatap kepergian Darren sebelum merapikan bekas makan. Beberapa menit kemudian semuanya sudah selesai, ia mengunci pintu utama lalu mematikan lampunya kemudian berjalan menuju kamar.


-


Begitu tiba di kamar, ia mulai menyiapkan pakaian tidur Darren. Menyimpannya di ranjang lalu ia mulai berbaring di sana, tak berapa lama Darren keluar dari kamar mandi dengan keadaan lebih segar. Ia memakai pakaian yang telah disiapkan, lalu berbaring di samping Leona.


Ia memeluk Istrinya erat "Aku sungguh merindukanmu, berurusan dengan gadget membuat kepalaku pusing."


Leona yang mendengar keluhan Darren, membawa kedua tangannya ke pelipis Darren. Kemudian mulai memijatnya lembut, sehingga membuat Darren merasa nyaman sampai tertidur.

__ADS_1


Leona menatap wajah damai Darren yang tertidur, sebenarnya ia ingin membicarakan tentang kejadian kotak tadi. Tapi melihat wajah lelah Sang Suami, membuatnya tak tega.


Tak apa, ia masih dapat mengatasi semua ini.


__ADS_2