
Suasana hening begitu terasa di kediaman Darren dan Leona, sunyi dan suram adalah gambaran tepat untuk suasana hari ini.
Leona membuka kedua matanya, hal pertama yang ia lihat adalah suasana kamar yang sepi. Ia mencoba duduk dengan tangan memegang kepala yang terasa berat, matanya sakit dan membengkak efek terlalu lama menangis. Ia baru saja tidur satu jam lalu, pikirannya terus tertuju pada Darren yang sudah ditunggunya namun sampai pagi datang, Pria itu tak pulang.
Leona berjalan menuju kamar mandi, membersihkan dirinya sebentar kemudian berdiam diri menatap cermin rias didepannya. Matanya terlihat lebih sayu dari biasanya, wajahnya pun terlihat pucat. Leona meringis saat mendapati wajahnya yang terlihat seperti mayat hidup, ia mulai mengambil peralatan makeup nya lalu mulai merias wajahnya.
Ia rasa perlu ke rumah sakit, sejak awal musim dingin ini dirinya mulai merasa tak enak badan. Setelah selesai dengan penampilannya, ia berjalan keluar sambil mengenakan mantelnya.
Di dapur, Ana terlihat sibuk dengan peralatan dapur. "Apakah Darren pulang?".
Ana menatapnya khawatir "Tuan tidak pulang. Leo, apakah kau baik-baik saja?".
Leona tersenyum tipis "Aku baik-baik saja, ah ya aku akan pergi keluar dulu. Jika Darren pulang, tolong masakan sesuatu yang hangat untuknya. Aku pergi."
Ana mengangguk, ia menatap kepergian Leona dengan sendu. Meskipun Perempuan itu menutupi wajahnya dengan makeup, tetapi masih terlihat jelas jika ia sedang sakit terlebih matanya yang membengkak.
-
-
Rumah sakit Seoul adalah tujuan utama Leona sebelum ke perusahaan Darren, ia akan meminta resep dokter.
20 menit kemudian, ia keluar dari ruang dokter dengan plastik berisi obat. Kelelahan, stress, dan makan yang tidak teratur membuatnya harus terkena demam. Kini ia pergi menuju LK Group dengan supirnya, rencananya Leona akan meminta maaf pada Darren. Padahal Ia sudah tau jika Darren kesulitan dalam mengontrol emosi, tapi ia malah memancing emosi Pria itu.
Selama di perjalanan, ia sudah menghubungi Darren namun tak mendapat jawaban darinya. Sampai akhirnya ia memutuskan meminta maaf secara langsung, lagipula ia tak mau membuat Darren banyak pikiran.
-
-
"Shin!" Panggilnya ketika ia tiba di perusahaan dan menemukan Shin, yang dipanggil menoleh padanya "Leo! Apa kabar? Ada apa kesini?".
"Aku baik, ah ya apa kau melihat Darren?".
Shin terlihat berpikir lalu menjawab "Dia sedang rapat, mungkin sebentar lagi keluar. Kau benar baik-baik saja? Kau terlihat pucat."
Leona tersenyum tipis "Tak apa, baiklah kau akan menunggunya di ruangan."
__ADS_1
Shin mengangguk kemudian berlalu dari sana, Leona sendiri berjalan menuju ruangan Darren yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Namun baru beberapa langkah ia berdiri, dirinya berpapasan dengan Irene. Ia memandangnya sekilas sebelum berlalu begitu saja, tetapi Irene mengejarnya lalu menahan tangannya.
"Bisa kita bicara?".
Leona mendengus "Apa?".
"Apa yang kau lakukan pada Darren? Sedari pagi ia menjauhiku, wajahnya terlihat murung. Kau pasti melakukan sesuatu yang membuatnya seperti itu." Tuduh Wanita itu.
"Apapun yang ku lakukan padanya, bukanlah urusanmu." Leona berbalik namun ucapan Irene mulai memancing emosinya.
"Kalau kau tak bisa membahagiakannya, berikan dia padaku. Kau lihat kan foto-foto itu, dia tertawa dan bahagia bersamaku."
Leona kembali menatap tajam Irene "Foto? Apa kau yang ada di balik semua kekacauan ini?".
Irene membulatkan matanya namun kembali seperti biasa beberapa detik kemudian, "Apa.. Apa yang kau bicarakan?".
"Ah terima kasih sudah memberitahuku. Dan untuk masalah Darren, itu adalah privasi rumah tanggaku. Kasihan sekali, kau hanya dia anggap seperti adiknya sendiri. Bye, adik." Leona hendak pergi, namun sebuah dorongan membuatnya jatuh ke depan.
Ia menoleh ke belakang dan menemukan Irene dengan wajah memerah dan napas yang terengah-engah, "Apa yang kau lakukan?".
"Aku bukan adiknya! Aku akan gantikan peranmu sebagai Istri!".
Irene yang tak terima, menjambak rambut Leona hingga mau tak mau Leona ikut membalas. Mereka menjadi tontonan mendadak orang-orang yang ada di sana, beberapa orang mencoba memisahkan namun malah mereka yang terdorong.
Sampai suara Darren terdengar membuat mereka memberi jalan untuk Pria itu mencapai Leona dan Irene, "Hentikan! Apa yang kalian berdua lakukan?".
Irene melepaskan tangannya dari rambut Leona, Perempuan itu meringis merasakan kepalanya semakin pusing. Ia beralih menatap Darren dan menemukan Wanita ular itu tengah memeluk lengan Suaminya, "Kau tak tau malu ternyata. Lepaskan! Dia Suamiku!".
"Darren, Istrimu itu menyerang ku. Dia mendorong tubuhku lalu menjambak rambutku, sakit sekali." Adu Irene membuat Leona mendengus kesal.
Sementara itu Darren masih diam memperhatikan Leona, wajahnya terlihat pucat dengan mata yang bengkak. Ia menghela napas sejenak lalu melepaskan paksa tangan Irene yang menggandengnya. "Ada apa kesini? Kau sakit?".
Leona tersenyum tipis, akhirnya Darren mau bicara dengannya. "Bisakah kita bicara di ruangan mu?".
Darren diam sejenak lalu mengangguk "Ayo, kalian kembali lanjutkan pekerjaan! Dan kau, kembalilah ke ruangan mu." Ujarnya berlalu begitu saja diikuti Leona yang tertawa mengejek pada Irene yang kesal karena diusir Darren, Leona menatap punggung kekar Darren. Rasanya ia rindu dengan aroma khas Pria itu, padahal mereka baru berjauhan kemarin.
-
__ADS_1
-
Leona duduk di sofa yang disediakan di ruangan Darren, ia tersenyum saat Darren membawakannya Teh Hijau hangat.
Darren duduk disampingnya "Bicaralah." Meski terkesan datar namun Leona memakluminya, ia menghela napas sejenak kemudian berbicara "Aku minta maaf. Seharusnya aku memberitahumu semuanya, tapi aku tak mau membebani mu."
"Sebulan belakangan ini, Jay selalu menghubungiku. Aku tak tau ia mendapat kontak ku dari siapa, tetapi setiap harinya ia selalu mengirimkan kotak yang isinya bunga dengan kalimat yang membuatku jijik. Lalu kemarin, ia mengirimkan ku foto." Leona memberi jeda ucapannya untuk melihat ekspresi Darren, "Ia mengirimkan foto kau dan Irene yang selalu bersama saat di kantor."
Darren menghembuskan napas kasar, jadi semua ini ulah Jay. "Aku juga minta maaf karena tak memberitahumu, tetapi dia hanya membantuku mengurus beberapa masalah kantor yang sering terjadi akhir-akhir ini."
Leona mengangguk mengerti, hening beberapa saat membuatnya menatap Darren ragu "Apa kau masih marah?".
"Ya, aku marah. Tapi yang membuatku sangat marah adalah tanda di lehermu itu, bisa kau jelaskan?" tanya Darren datar.
Leona tersentak, ia baru ingat jika alasan pertengkaran mereka semakin hebat adalah karena tanda dilehernya itu.
"Aku tak tau bagaimana tanda ini bisa ada di leherku, karena pertama aku bertemu dengannya adalah saat aku meminta penjelasan di cafe kemarin." jelas Leona.
Melihat Darren yang diam, membuat Leona menatapnya sendu "Kau tidak percaya padaku?".
Darren menunduk "Maaf, aku hanya terlalu terkejut."
Bibir bawahnya bergetar, Leona berdiri "Aku akan membuktikannya, aku pergi."
Tubuhnya oleng saat pusing di kepalanya kembali datang, Darren dengan cepat menahannya agar tak jatuh. Ia membawa Leona duduk di sofa lagi, tangannya menyentuh kening Leona. "Kau demam, kenapa keluar dengan pakaian seperti ini?" kesal Darren, pasalnya Leona hanya mengenakan mantel satu lapis dengan dalaman kaos.
Ia membaringkan tubuh Leona di sofa, lalu berjalan ke arah laci dan mengambil Selimut yang selalu ia gunakan untuk beristirahat di sini. Ia membentangkan selimut tersebut untuk menghangatkan tubuh Istrinya, "Aku akan membeli obat dulu."
Leona menggeleng "Tak perlu, aku sudah ke dokter. Di tas ada obatnya." Darren membuka tas Leona yang disimpan di meja, diambilnya plastik berisi obat itu lalu menyimpannya di atas meja. "Kau sudah makan?" tanyanya dijawab gelengan Leona.
"Shin, pesankan nasi dan sup hangat. Antar kan ke ruangan ku." ujar Darren pada Shin lewat telepon, ia hendak pergi namun Leona menahannya "Jangan pergi."
Darren menoleh padanya lalu duduk kembali di lantai "Baiklah, aku di sini."
Leona tersenyum lembut "Terima kasih. Darren, jangan lupakan aku."
Darren mengernyit heran namun ia mengangguk sebagai jawaban.
__ADS_1
Leona menunduk, sebenarnya ia merasa senang karena mereka tak bertengkar lagi. Namun ia juga sedih jika ingat Darren yang masih belum sepenuhnya percaya padanya, akhir-akhir ini juga ia merasa jika dirinya akan kembali menjadi Leona dulu.
Ada sedikit perasaan tak rela jika mengingatnya, tapi takdir hanya Tuhan yang tau, kan.