My Sweet Romance

My Sweet Romance
Bab 9


__ADS_3

Sekitar 25 menit kemudian, mereka tiba di Kim Company. Keduanya berjalan menuju ruang rapat yang sebelumnya telah disediakan oleh Sekretaris Darren, para karyawan yang berada di sana saling menatap heran. Mereka heran dengan kedatangan Darren dan Isterinya, pasalnya Darren hanya ke Kim Company saat ada masalah serius saja.


Begitu memasuki ruang rapat, di sana telah ada tiga orang diantaranya 2 Pria dan 1 Wanita.


Suasana tegang menyelimuti ruang rapat, mereka yang ada di sana sama-sama terdiam.


Darren menatap satu persatu orang yang ada duduk dihadapannya dengan datar, ia berdeham membuat 3 orang yang menunduk itu langsung menatapnya.


"Mungkin kalian heran ada apa gerangan dipanggil kemari, ada yang ingin saya tanyakan dan itu mungkin berkaitan dengan kalian." Darren memulai percakapan.


"Sebelumnya, masalah ini saya rahasiakan karena mungkin tak ada kaitannya dengan karyawan saya. Tetapi kemudian, saya harus mencari tau kembali alasan mengapa masalah ini bisa terjadi."


"Saya ingin bertanya sesuatu pada kalian, apa kalian pernah cuti pada tanggal 8 Mei?" Pertanyaan Darren dijawab anggukan mereka walau dengan durasi agak lama.


Darren melanjutkan, "Bolehkah saya tau alasan kalian Cuti? Saya sudah mendapatkan datanya tetapi lebih real jika mendengar langsung."


"Saya, Yamada Teuchi dari Divisi keuangan. Alasan saya cuti adalah untuk menemani Isteri saya yang melahirkan." Seorang Pria berusia sekitar 30 tahunan memulai pembicaraan.


Dilanjut Wanita yang terlihat berusia sekitar 39 tahunan, "Saya, Yeo jin Han dari bagian Resepsionis. Alasan saya cuti adalah menemani anak saya Operasi."


"Saya, Seno Jung dari bagian Gudang. Alasan saya cuti adalah untuk menengok Ibu saya yang sakit di desa."


Darren mengangguk mengerti, pandangannya menelisik satu persatu wajah di sana. Matanya lalu beralih ke berkas berisi data dan bukti masalah ini, kemudian ia mendongkakan kepala lalu berkata "Saya ingin berbicara dengan kalian satu persatu, karena itu bisakah kalian keluar terlebih dahulu? Akan saya panggil nanti."


Mereka mengangguk sebelum keluar meninggalkan Leona dan Darren dalam keheningan, "Kau baik-baik saja?" Tanya Leona dijawab anggukan Darren "Ya, kurasa. Bisa kau panggilkan mereka sesuai urutan di berkas?".


Leona mengangguk dan mulai memanggil 3 karyawan itu sesuai dengan list di berkas.


-


-


Setelah satu jam yang menguras pikiran, kini tibalah orang yang menjadi penyebab utama masalah terjadi mendapat giliran untuk berbicara.


"Apa ada yang ingin kau katakan?" Tanya Darren pada wanita didepannya.


Wanita didepannya terlihat tertawa sinis "Saya rasa, Tuan Darren Kim yang terhormat sudah tau jawabannya kan?".


Darren memandang tak suka Yeo Jin Han, yang merupakan Resepsionis di perusahaan ini. "Ya, tetapi saya ingin mendengar langsung dari mulutmu."


"Kau itu tak pantas menjadi seorang Pemimpin, kau tak pernah mendengarkan apa kata orang. Kau orang yang selalu meremehkan kami, walau kau Atasanku tetapi kau tak pernah menghargai orang kecil sepertiku." Ujar Nyonya Han, Darren masih menatapnya dengan ekspresi datar. Sementara Leona yang sedari tadi berada disampingnya, menatap Wanita itu yang terlihat kesal.


"Aku mempunyai anak berusia 15 tahun, sejak kecil ia punya penyakit bawaan. Saat itu adalah puncaknya, dan Dokter berkata harus segera dilakukan operasi. Aku yang kekurangan biaya tak tau harus meminjam pada siapa, sampai akhirnya aku mencoba meminta bantuan pada Perusahaan. Tapi apa yang kudapat? Aku mendapat penolakan ditambah penghinaan, kau menghinaku sebagai Karyawan rendahan bahkan kau menatapku seolah aku adalah kotoran. Saat aku begitu terpuruk datanglah seorang Pria, dia akan membantuku dengan syarat. Dan syaratnya adalah dia bersedia membantu jika aku berhasil mendapatkan data perusahaan yang dia inginkan, malam itu sebelum anakku melakukan operasi. Aku mengambil data itu dengan cukup mudah, karena saat itu kantor begitu sepi dan kau tak ada di sana saat itu. Aku berhasil mendapatkan data itu dan ditukar dengan uang yang jumlahnya lebih dari cukup untuk operasi." Jelas Nyonya Han panjang lebar.


"Ku rasa kau tidak pantas menjadi Pemimpin, karena kutahu selama ini kau hanya berada dibawah bayang Tuan Kim." Lanjutnya yang membuat Darren mengepalkan kedua tangannya erat, ia mengeram marah. Leona yang melihatnya langsung menyentuh tangan Darren lembut, Pria itu menatapnya "Biar aku saja, bisa kau tunggu diluar?".

__ADS_1


Darren menghela napas, ia mengangguk sebelum berlalu keluar dari ruangan itu.


Leona berdeham sejenak, ia menyodorkan gelas berisi minum kepada Wanita itu. "Minumlah dulu, Nyonya Han."


Wanita itu mengangguk sebelum meneguk habis air itu, ia lalu menatap Leona dengan sinis "Kau, Isterinya kan?".


Leona mengangguk, "Ya. Maaf jika aku menyinggung, tetapi bukankah apa yang kau lakukan itu salah?".


Wanita itu terkekeh sinis "Saat seseorang berada pada sesuatu yang mendesak, ia tak bisa berpikir jernih. Tapi aku rasa apa yang kulakukan benar, kau lihatlah kini Pria itu terlihat stress sama sepertiku dulu."


Leona menghela napas sebelum bertanya "Lalu bagaimana keadaan anakmu sekarang?".


"Tentu saja Operasinya berhasil, sekarang dia dalam masa perawatan." Jelas Nyonya Han sambil menyilang kan kedua tangannya didepan dada.


"Bagaimana jika aku memberitahukan kepada anakmu dari mana uang operasi itu berasal? Kira-kira bagaimana reaksinya?". Ucapan bernada pertanyaan itu membuat Nyonya Han tampak gelisah. Matanya terlihat bergerak cepat, dengan kedua tangan saling bertautan. Leona masih setia memperhatikan bagaimana gelisah nya Wanita itu, bahkan sekilas keringat dingin keluar dari wajahnya.


"Ka.. Kau tidak bisa melakukan itu! Ji.. Jika kau melakukan itu, aku akan.. akan.. " Wanita itu menghentikan ucapannya, sebuah seringai terbit diwajahnya. Leona tersentak mendapati raut yang berbeda dari Wanita didepannya, ia menahan napas saat sebuah benda tajam keluar di balik punggung Wanita itu.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Leona tak mengerti. Ia berdiri dari duduknya, berjalan mundur ke arah pintu sambil terus menatap Wanita itu.


Sebuah tawa yang terdengar menyeramkan terdengar. "Tadinya aku tak ingin melakukan ini, tetapi kau mengusikku."


-


Sementara itu diluar ruangan, Darren terlihat mondar-mandir sejak Leona didalam ruangan. Hatinya terasa tak tenang, ia begitu khawatir dengan Leona.


Pria itu langsung menghampiri Leona, "Darahnya banyak sekali. Kita ke rumah sakit!".


"Da.. Darren, darahnya.. Darah.. "Leona nampak panik, napasnya terdengar tak beraturan, membuat Darren bingung. "Tenanglah, semuanya akan baik-baik saja."


Digendongnya Leona ala bridal lalu membawanya pergi dari sana, namun sebelumnya ia menatap Sekretaris nya yang sedari tadi ada di belakangnya "Urus Wanita itu."


-


-


Leona pingsan ketika ia membawanya ke mobil menuju rumah sakit, Perempuan itu terus meracau tadi sebelum pingsan.


"Ku mohon bertahanlah." Darren menunduk, setetes air mata jatuh mengenai wajah pucat Leona. Tangis pertama setelah sekian tahun ia tak menangis, dan itu karena seorang Leona. Ia semakin mendekap erat tubuh Perempuan itu, sesekali merengis melihat luka dipundak Leona yang darahnya menembus hingga ke pakaiannya.


Sekitar 10 menit kemudian mereka tiba di Rumah sakit, ia langsung keluar dan meletakan Leona di ranjang dorong yang telah disiapkan. Sebelum kemari, supirnya telah menelpon rumah sakit untuk langsung menyediakan ruang atas perintah Darren.


Darren jatuh terduduk di kursi tunggu, Leona telah mendapatkan perawatan di dalam sana. Kedua tangannya meremas rambutnya sendiri, ia menggeram marah. Kenapa ia tak menemani Leona? Kenapa ia harus keluar dan menuruti kata-kata Leona.


Dering ponsel membuatnya tersadar, ia mengangkatnya tanpa minat.

__ADS_1


"Tuan, Wanita itu sudah kami amankan. Dia sekarang berada di penjara, apa yang harus saya lakukan selanjutnya?" Tanya Sekretaris nya diseberang.


"Berikan dia hukuman yang pantas," Ujar Darren singkat lalu menutup panggilannya.


2 Jam terlewati dengan kegelisahan, akhirnya hal yang ditunggu tiba. Dokter yang menangani Leona keluar dengan pakaian operasi, Darren berdiri menghampiri lalu bertanya "Bagaimana keadaannya?".


"Lukanya tak terlalu dalam, kami hanya butuh 2 jahitan. Tetapi yang perlu dikhawatirkan adalah Phobia nya, dia menderita hemophobia atau dengan kata lain ia Phobia darah." Jelas Dokter, Darren mengernyit. Ia tak tau jika Leona punya Phobia terhadap darah.


"Lalu apa yang harus kulakukan?".


"Anda tenang saja, untuk saat ini ia hanya butuh perawatan saja. Anda boleh melihatnya, saya permisi dulu." Setelah Dokter itu pamit, Darren memasuki ruang inap Leona.


Di sana, ia melihat Leona terbaring dengan selang infus ditangannya. Perempuan itu masih belum sadar, lagi-lagi Darren meringis melihat pundak Leona yang dibalut perban dan plester.


Darren duduk di kursi samping ranjang rumah sakit, Ia menggenggam tangan Leona yang tak di infus.


"Maafkan aku, seharusnya aku tak menuruti ucapan mu untuk pergi. Ku harap kau segera sembuh, setelah ini ayo kita pergi berlibur. Kau sudah membantuku banyak sekali, ini saatnya untuk aku membantumu."


Darren mengusap lembut wajah Leona yang terlihat damai, ia tersenyum hangat.


"Terima kasih, kau sudah menemaniku selama ini."


-


-


Usapan lembut di rambutnya, membuat Darren membuka matanya perlahan. Ia tertidur di samping ranjang Leona, dengan kepala yang terjatuh disisi ranjang.


Kepalanya mendongak, seketika senyuman Leona membuatnya ikut tersenyum. "Syukurlah, kau sudah sadar. Apakah ada yang sakit?".


Leona menutup matanya beberapa detik sebelum berkata dengan suara lirih "Tidak, hanya saja pundak ku terasa nyeri."


Raut wajah Darren seketika panik, "Perlu ku panggilkan Dokter?".


Leona terkekeh geli, "Tak perlu. Terima kasih telah menjagaku."


Darren tersenyum tipis "Tak masalah." Matanya menatap jam tangan yang menunjukan pukul 12 siang, "Sudah saatnya makan siang. Aku akan memanggil Dokter untuk membawakan makanan."


Darren berlalu keluar ruangan, Leona menatap langit-langit ruangan. Pikirannya melayang ke kejadian tadi, ia bergidik ngeri mencoba mengenyahkan pikirannya. Masih teringat saat Wanita itu mengacungkan pisau ke arahnya, saat ia hendak membuka pintu. Rasa sakit di pundaknya membuat ia terjatuh, begitu matanya melihat kearah pundaknya. Jejak tusukan pisau terlihat di sana dengan darah yang mulai keluar, Leona menutup matanya. Bagaimana pun ia tak boleh memikirkan sesuatu yang membuat Phobia nya datang.


Pintu terbuka dan menampakkan Darren dengan seorang Suster dibelakangnya, Pria itu menyimpan Kresek berisi makanan yang dibawanya ke meja.


Suster itu menyimpan makanan yang ia bawa ke meja di samping ranjang, ia pergi setelah urusannya selesai.


"Aku akan menyuapi mu," ujar Darren mengambil mangkuk berisi bubur itu, meniupnya pelan sebelum memberikannya kepada Leona. Leona menerimanya dengan malas, "Astaga. Rasanya hambar, lebih enak bubur buatan ku."

__ADS_1


Darren tersenyum geli. "Karena itu, cepat sembuh ya."


__ADS_2