My Sweet Romance

My Sweet Romance
Bab 3


__ADS_3

Pagi kembali menyapa, cuaca cerah dan udara sejuk menyambutnya begitu matanya terbuka.


Hal pertama yang ia lihat sama seperti kemarin, seorang wanita paruh baya yang memperkenalkan dirinya sebagai Pelayan Pribadi Leona Lee. Ana, seorang wanita yang sudah bekerja sejak Leona Lee berada di Sekolah menengah.


Leona terduduk lalu menghela napas, kenapa dirinya masih berada disini? Bukankah dirinya sudah tidur, bahkan dirinya merasa tidurnya begitu nyenyak.


"Nona Leona, saatnya sarapan." Panggil wanita itu dengan nada lembutnya.


Leona tersenyum lembut, "Panggil Leo saja, Bi. Lagipula aku merasa tak enak dipanggil Nona."


"Tapi Nona, maksud saya.. Leo, bagaimana jika Tuan Darren marah?".


Mendengar nama Darren membuatnya teringat kejadian semalam, mood nya bisa hancur jika begini.


"Tenang saja, Pria itu biar Leo yang urus. Ah ya, bisa tolong buatkan Omelette dan nasi hangatnya? Jika bisa sekalian tolong buatkan Sup miso." Pinta Leona membuat Ana tersenyum geli.


"Kau tak perlu mengatakan tolong, itu sudah menjadi tugasku. Baiklah, kau mandi dulu. Biar Bibi siapkan semuanya," ujar Aja lalu berjalan keluar kamar.


Leona segera berlalu menuju kamar mandi, melakukan rutinitas paginya dengan damai.


-


-


Matanya menjelajahi sekitar lorong yang sepi, Rumah mewah ini begitu indah dengan dominasi warna putih dan krem. Terlihat serasi dengan interior klasik nya, rumah sebesar ini terasa sepi.


Begitu memasuki area dapur, ia mulai mencium aroma sedap dari masakan para Pelayan. Ia tersenyum senang lalu duduk di kursi makan sambil menunggu sarapan siap, matanya memandang sekitar mencari keberadaan makhluk lain selain dirinya dan para pelayan.


Namun seseorang yang dicarinya masih belum menampakkan batang hidungnya, bahkan hingga sarapan telah tersaji didepannya.


Sambil mengunyah ia mencoba mencari kalimat yang pas untuk menjawab rasa penasarannya, "Um.. Kemana Pria itu?".


Ana yang mendengar pertanyaannya Nona nya pun menjawab "Tuan Darren sedang ada Meeting, karena itu ia begitu terburu-buru tadi pagi."


Leona mengangguk lalu kembali melanjutkan sarapannya, ingatannya melayang kepada isi Novel. Ah ia ingat jika Darren Kim adalah Putera tunggal dari salah satu Keluarga Konglomerat di Seoul, karena itu ia diutus menjadi penerus tahta Ayahnya. Ya setidaknya itu yang ia tau, karakter Darren yang tak menarik membuatnya malas walau hanya sekedar mendengar namanya.


Beberapa menit berlalu untuk Leona dapat menghabiskan sarapannya, ia berjalan menuju wastafel berniat mencuci bekas makannya. Namun dicegah Ana yang sedari tadi memperhatikan, "Biar Bibi saja."


Leona menggeleng lalu menyalakan keran dan mulai mencucinya, "Tak apa, Lagipula ini bekas makanku. Segini saja tak akan membuatku lelah."


Ana merasa ada yang aneh dengan Nona nya, pasalnya sejak kapan Leona mau berlama-lama di dapur. Bahkan sarapan Nona nya itu begitu aneh, yang tadinya selalu sarapan Salad malah tadi meminta dibuatkan nasi yang sangat jarang di makannya.


Leona yang merasa diperhatikan menoleh pada Ana yang kini menatapnya curiga, mengelap tangannya setelah selesai mencuci piring. Ia lalu menoleh pada Ana "Ada apa? Apa ada yang aneh?".


Wanita paruh baya itu tersadar dari lamunannya, ia menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Eh tidak ada, hanya saja Nona terlihat eum.. maaf, agak aneh akhir-akhir ini."


Leona yang mendengarnya sontak membulatkan matanya, mulutnya terbuka hendak menjawab namun tidak jadi. Ia berpikir alasan apa yang harus ia gunakan, matanya menjelajah ke sekitar hingga matanya berhenti tepat disebuah pintu yang berada dekat dengan Dapur.


"Ah, aku rasa butuh udara segar. Kalau begitu aku akan keluar dulu, bye" ucapnya lalu berjalan menuju pintu tersebut. Sementara Ana yang mendengar dan melihat apa yang dilakukan Leona, mengernyit heran.

__ADS_1


"Kau akan kemana?".


Leona menghentikan langkahnya lalu menjawab "Tentu saja pergi keluar."


"Tapi itu pintu menuju Gudang penyimpanan, jika kau ingin keluar maka lewat sana," jelas Ana sambil menunjuk kearah depan.


Leona menepuk keningnya, lagi-lagi ia sok tau. "Maksudku, aku ingin mencari udara segar di gudang."


Ana semakin menampakkan raut bingungnya, Leona yang menyadari ucapannya segera berbicara, "Jangan dipikirkan ucapan ku, aku pergi dulu."


Ana menatap kepergian Leona yang tergesa-gesa, ia menghela napas sepertinya Nona nya memang kurang enak badan.


-


-


Leona berjalan menuruni anak tangga menuju Gudang, ia merutuki ucapannya tadi. Entah apa yang akan terjadi jika orang-orang di sini tau dirinya bukanlah Leona Lee.


Menghela napas kasar sebelum memandang sekeliling Gudang yang nampak bersih, bahkan Gudang itu lebih luas jika dibandingkan dengan Kamarnya di Apato.


Begitu banyak benda usang disini, juga beberapa kotak yang entah apa isinya. Tangannya menyentuh sebuah kotak yang membuatnya penasaran, dibukanya kotak kayu berukuran sedang itu.


Sebuah album foto dengan Cover berwarna hitam, tampak ukiran nama Kim dan Lee didepannya yang berbalut tinta emas.


Tangannya bergerak untuk membuka halaman pertama dari album tersebut, halaman pertama yang ia temukan adalah potret keluarga. Terlihat sekali disana, mereka tertawa bahagia membuatnya ikut tersenyum tanpa sadar. Tangannya beralih ke halaman selanjutnya, halaman kedua sampai akhir adalah potret anak kecil.


Seorang anak perempuan dan laki-laki yang ia yakini sebagai Leona Lee dan Darren Kim, keduanya nampak akrab berbeda saat dewasa dengan kisah di Novel. Hingga sampailah ia pada halaman terakhir album, ia terdiam memerhatikan potret Seorang Wanita tengah menggendong kedua bayi perempuan ditangannya.


Suara Ana mengejutkannya, ia menoleh dan mendapati Wanita itu terlihat ragu.


"Ada apa?".


"Nona Irene ada di depan," ucapan Ana membuatnya terhenyak. "Irene?" Tanyanya memastikan dibalas anggukan Ana, Leona yang mendengarnya langsung berlari setelah sebelumnya menyimpan kembali album foto tersebut.


Raut berbinar nya membuat Ana mengernyit heran, kenapa Nona nya begitu senang?


Sementara itu Leona yang mendengar nama Irene begitu senang, ia berharap Irene dapat membawanya pulang kembali ke Apato.


Ah rasanya ia tak sabar bertemu sahabatnya itu, ia akan menceritakan semua yang terjadi padanya dan.. Tetapi siapa Perempuan yang duduk angkuh di ruang tamu itu? Dan kemana Irene?


Leona menoleh pada Ana yang ada dibelakangnya, "Dimana Irene? Dan siapa Perempuan itu?".


Ana mendongkakan kepalanya cepat, "Dia Nona Irene, Sahabat Tuan Darren."


Leona menghela napas lelah lalu memijat pelipisnya, siapa lagi Irene yang ada disini. Bukankah dalam Novel, Tak ada peran yang namanya Irene.


Ia memutuskan untuk menghampiri, namun langkahnya terhenti saat melihat kelakuan kasar Perempuan itu pada salah satu Pelayan muda di sini. Entah apa yang dikatakan Perempuan itu, tetapi ia kesal saat Perempuan bernama Irene itu melemparkan Gelas kaca berisi Jus jeruk itu dan mengenai kaki pelayan itu.


Terlihat di Pelayan membungkukkan badannya berkali-kali meminta maaf, namun dibalas acuh Perempuan itu.

__ADS_1


Melihat itu sontak membuatnya geram, seumur hidupnya baru kali ini ia lihat Perempuan kasar.


"Ella, pergilah. Ini perintah!" Ujar Leona pada Pelayan muda bernama Ella itu, Ella yang mendengarnya langsung berlari terbirit-birit.


Irene yang melihatnya mendengus kesal, ia memandang Leona malas "Apa masalah mu?".


"Kau mengganggu pelayan di rumahku dan aku adalah Nyonya di rumah ini, pergilah sebelum aku menyeretmu secara paksa."


Perempuan itu langsung berdiri dengan tatapan kesal, "ini adalah rumah Darren dan Kau bukanlah siapa-siapa di sini, karena setelah ini akulah Nyonya nya."


Leona memandang remeh Irene, Perempuan didepannya begitu berbeda dengan Irene Sahabatnya. Lihatlah dandanan Perempuan itu yang terkesan seksi, Dress hitam ketat di atas lutut dengan sepatu berhak tingginya.


"Kau tidak pantas memiliki nama Irene, kau pantasnya... " Leona menghentikan ucapannya, ia menyilang kan kedua tangannya didepan dada lalu mulai berjalan mengelilingi Irene dengan gaya angkuhnya.


"Dipanggil, Baka."


(Baka : Bodoh - dalam bahasa Jepang)


Setelah berkata begitu, Leona pun berlalu dari sana meninggalkan Perempuan bernama Irene itu dalam kekesalan.


-


-


Di dalam kamarnya, Leona tengah berdiri menghadap kaca. Ia ingin menghubungi Irene tapi dengan apa ia dapat menghubunginya? Kenapa ia tidak tiba-tiba menjadi Leona Lee sambil membawa serta Ponselnya?


Kakinya melangkah menuju Lemari kecil yang berada di samping Ranjang, membuka satu persatu lacinya dan akhirnya apa yang dicari ada di sana.


Ponsel milik Leona Lee yang terlihat mahal, ia berdecak kagum.


Dasar orang kaya, pikirnya.


Tangannya mulai mengetik sebuah nomor telepon yang ia ingat diluar kepala, namun ucapan dari operator membuatnya terdiam.


Nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif.


Leona mendengus kesal, ia membaringkan tubuhnya di ranjang lalu menyimpan ponsel tersebut di sampingnya. Tak berapa lama panggilan masuk dengan nama Tuan Shin, membuatnya tersentak bangun.


Ia mengangkatnya dengan ragu, "Halo?".


"Selamat pagi, Nona. Tuan Besar mengundang anda untuk acara makan malam, malam ini. Lalu sekarang, bisakah anda pergi ke kantor? Ada beberapa berkas yang harus anda tangani." Ucap seorang Pria diseberang.


Leona mengernyit bingung, otaknya serasa berhenti bekerja. Siapa itu Tuan Besar? Dan untuk apa yang harus ia lakukan?


"O.. Oh baiklah, Aku akan kesana. Ah ya, dimana alamat kantornya?" Leona langsung menggigit bibirnya gemas.


Hening beberapa saat, hingga suara Pria bernama Shin itu terdengar kembali. "Akan ada Supir yang mengantar anda, saya tutup teleponnya. Sampai jumpa."


Leona melempar ponsel itu ke ranjang, ia bingung sekarang. Kenapa masalahnya semakin panjang? Rasanya ia ingin menangis, Lebih Baik ia kembali menjadi Leona yang miskin dulu.

__ADS_1


Malangnya.


__ADS_2