My Sweet Romance

My Sweet Romance
Bab 6


__ADS_3

Leona yang merasa jenuh menunggu Darren yang tak kunjung kembali, memutuskan untuk pergi jalan-jalan sendiri.


Suasana Hotel yang kental dengan Tradisionalnya, membuat ia merasa kembali ke jaman dulu. Kakinya melangkah berjalan menyusuri Hotel tersebut, satu kata yang dapat ia simpulkan. Indah. Namun ia kembali kesal mengingat Darren yang menelantarkannya, padahal ini pertama kalinya ia pergi kesini.


Dengan wajah cemberut ia pergi dari Hotel, rasa kesalnya seketika hilang hanya dengan melihat pemandangan alam disana. Menghirup napas dalam merasakan udara sejuk disana, masih pukul 10 pagi ketika ia mengecek jam tangannya.


Ia memotret apa yang menarik dan unik untuk dilihat, bahkan beberapa kali ia memotret kegiatan orang-orang di sana setelah mendapat izin. Matanya langsung tertarik saat melewati area persawahan, di sana dirinya mendapati orang-orang tengah menyemai padi.


Ia berjalan cepat menghampiri, "Permisi, bolehkah saya ikut menyemai padi?".


Wanita paruh baya yang ditanya, mengangguk sambil tersenyum "Tentu saja, silahkan."


Leona mengikuti jejak orang-orang di sana dengan senang, rasanya menyenangkan walau ia tak mengenal mereka. Peluh membasahi wajahnya, ia terus melanjutkan sisa pekerjaan.


"Nak, apa kamu kesini untuk berlibur?" Tanya Wanita yang bernama Han itu.


Leona mengangguk "Iya, aku kemari dengan Suami."


"Ah, ternyata kamu sudah menikah. Pasti Pria yang menjadi Suamimu beruntung memiliki Isteri yang rajin dan manis sepertimu," ujar Han.


Pipi Leona bersemu merah, namun seketika raut kesal kembali nampak diwajahnya. "Kurasa, aku yang kurang beruntung memiliki Suami yang menyebalkan sepertinya."


Bu Han tersenyum lembut, lalu tangannya mengambil sebuah kotak bekal. Ia membukanya lalu menunjukkan pada Leona, beberapa Mochi tampak disana. Terlihat menggiurkan, "Ambillah." Leona langsung mengambil sebutir Mochi, memakannya dan seketika rasa pasta kacang merah dengan stroberi menyatu di mulutnya.


"Enak!" Serunya sambil terus mengunyah Mochi tersebut.


"Syukurlah jika kamu menyukainya, ah iya apakah kamu kemari untuk liburan sekaligus bulan madu?".


Pertanyaan Wanita itu membuatnya terbatuk-batuk, ia melupakan fakta bahwa alasan sebenarnya ia dan Darren kemari adalah untuk bulan madu.


Leona mengangguk ragu, "Y.. Ya, bisa dikatakan seperti itu. Tapi aku ke sini adalah untuk menemani Suamiku, beliau berencana mengurus Cabang Perusahaan di sini."


"Suamimu, orang yang pekerja keras ya. Kuharap, kalian bisa bersama hingga maut memisahkan."


Leona tersenyum canggung, Doa yang tulus tetapi salah tujuan. Harusnya Darren dan Leona Lee yang mendapat Doa itu, seketika rasa sesak menghampirinya.


-


-


Darren kembali ke hotel saat waktu makan siang tiba, Ia memasuki kamar dan tak mendapati Leona disana.


Kakinya melangkah mengitari sekitar Hotel tersebut, karena tetap tak menemukan Leona. Ia memutuskan menelponnya, belum sempat ia menekan tombol hubungi. Perempuan yang dipikirkannya kini berdiri didepannya, berdiri dengan wajah lesu serta badan penuh lumpur.


Ia mengernyit lalu menghampiri, "Ada apa denganmu? Kau baru saja membajak sawah?".


Leona memandang jengkel Pria didepannya, "Kau kira aku kerbau, lagipula kemana saja kau?".


"Aku baru saja mengecek lahan yang akan dijadikan Resort, kau mau makan?".


"Tentu saja, setelah itu ajak aku jalan-jalan. Kau itu Suami yang jahat, meninggalkan Isterinya tanpa kabar." Leona merajuk, lalu masuk ke dalam Kamarnya untuk berganti pakaian.


"Tunggu disini, aku akan mandi dan Jangan makan sendiri!".


Darren memandang datar Leona, ia mendengus lalu mendudukkan dirinya di kursi dekat sana. Tangannya tanpa sengaja menyentuh sesuatu disampingnya, ia menoleh dan mendapati Ponsel.


Tangannya mengecek lalu ia langsung mengetahui jika ponsel itu milik Leona, jarinya menekan galeri tanpa sadar. Ia terkekeh ketika menemukan begitu banyak foto pemandangan dan foto Selfi Perempuan itu, ah ternyata Leona habis dari Sawah.

__ADS_1


Matanya terpaku pada satu foto, dimana Leona tengah tersenyum dengan dirinya di dalam mobil. Ia ingat itu adalah foto saat mereka pergi makan malam keluarga, saat perempuan itu memaksanya ikut berfoto.


Sebuah senyum lembut hinggap di bibirnya, namun suara orang yang ia lihat fotonya membuat ia kaget.


"Aku sudah selesai, Ayo!" Ajaknya. Darren berdiri sambil mengangguk, ia menyodorkan Ponsel itu pada Leona. Leona mengambilnya dengan wajah bingung, "Kau meninggalkannya disana." Ujar Darren sambil menunjuk Kursi yang tadi ia duduki.


Leona mengangguk mengerti "Baiklah, lalu kemana kita akan pergi?".


"Ayo!" Ajaknya.


-


-


Leona memandang sengit Darren yang nampak acuh dan malah asik mengunyah makanannya.


"Darren, Pria Gila!" Teriaknya kesal membuat Darren menghentikan makannya, ia ikut memandang kesal padanya.


"Apa?".


"Kau bilang akan mengajakku makan, lalu kenapa disini?".


Darren terkekeh geli, pasalnya tadi ia malah masuk kembali ke dalam penginapan. Membuat Leona heran dibuatnya, apalagi ketika mereka memakai Hanbok. Lalu diajak untuk pergi ke ruangan yang disebut ruang makan, dengan sebuah meja kecil yang menghadap ke jendela kayu yang terbuka.


Mau bagaimana lagi, Darren terlalu malas pergi keluar. Lagipula semua ini adalah bentuk pelayanan dari Hotel yang mereka tempati, untung saja semua makanan tradisional yang mereka santap begitu enak.


"Jangan cemberut seperti itu, malam ini akan diadakan Night Market Food Tour. Kau bisa menikmati makanan apapun yang kau mau." Bujuk Darren.


"Benarkah? Kau tidak berbohong lagi?".


Wajah Leona langsung berseri, "Baiklah, awas saja kalau kau bohong lagi!".


Pandangannya lalu jatuh ke tubuhnya yang kini dibalut Hanbok biru dan pink yang lucu, ia tersenyum senang "Tak apalah, Hanbok ini sangat lucu dan cantik. Sayang sekali jika dilewatkan."


Senyumnya semakin mekar saat melihat hidangan makan siang yang tersaji didepannya, beberapa kudapan tradisional dan modern.


"Dan lihatlah makanan ini, terlihat menggiurkan."


Darren menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku Leona yang menurutnya lucu, astaga ia rasa ada yang salah dengan otaknya.


Keduanya menikmati makanan dengan hening, diselipi obrolan yang ujungnya perdebatan.


-


-


"Ah, hidup sebagai Leona Lee tidak begitu buruk juga ternyata."


Leona menghirup udara segar dengan mata terpejam, sudah lama ia tak menikmati suasana seperti ini. Berbaring di lantai kayu dengan tubuh masih mengenakan Hanbok, ia terlihat begitu menikmati suasana belakang hotel.


Hidupnya sebagai Leona yang miskin, bukanlah sesuatu hal yang mudah. Meski dirinya terlihat santai namun, banyak hal yang ia pikirkan. Sedangkan menjadi Leona Lee, dirinya masih belum menemukan hal yang menguras pikirannya selain pertemuannya dengan Wanita yang disebut Ibu itu.


Matanya beralih pada Darren, Pria itu terlihat serius dengan Laptop dipangkuan nya.


Darren, tokoh dalam Novel yang ia benci. Namun kenapa alurnya sedikit berbeda, menyadari itu ia langsung terduduk. Matanya membulat. Benar, bukankah adegan ini tak ada dalam alur Novel? Seingatnya, Leona Lee dan Darren hampir tak pernah menikmati udara segar dalam artian selalu terkekang di dalam Sangkar emas yang disebut Rumah.


"Apakah aku benar-benar ada di dunia Novel? Atau aku masih berada dalam mimpi?" Leona bergumam tanpa menyadari Darren yang menatapnya aneh sedari tadi.

__ADS_1


"Ahk..!" Pekikan itu membuat Darren tersentak, ia langsung bergegas menghampiri Leona.


"Ada apa?".


Leona menatap Darren dengan tangannya yang mengusap pipinya yang terasa sakit karena ia cubit, "Siapa kau?".


Darren memutar bola matanya malas, "Kau sudah mengejutkanku, dan kini kau bertingkah aneh."


Pria itu kembali menuju Laptopnya, sementara Leona menatap kepergiannya dengan gelisah.


Perempuan itu menghampiri Darren, lalu duduk disampingnya. "Hei, apa kau tak bosan berdiam diri seperti ini terus?".


"Jika kau bosan, kau bisa pergi sendiri. Aku sibuk, kau tau kan tujuan kita kemari karena apa?" Ucapan Darren membuat Leona berpikir, hingga ingatannya melayang pada ucapan Ayah Leona Lee tentang Bulan Madu.


Mengingatnya sontak membuat ia menyilang kan kedua tangannya didepan dada, "Aku tidak mau melakukannya! Lebih baik aku pergi jalan-jalan sendiri, daripada berbulan madu denganmu."


Darren menghentikan kegiatan mengetiknya, mendengar ucapan Leona membuat sebuah ide hinggap di kepalanya.


Tubuhnya berbalik menghadap Leona, ia tersenyum Misterius. Leona yang melihatnya memundurkan tubuhnya, namun karena dalam posisi terduduk membuat tubuhnya menjadi setengah berbaring.


"Apa kau tidak tertarik dengan tubuhku? Kau tau, tubuhku ini begitu diidamkan kaum lelaki." Tangan kekar itu perlahan membuka bagian depan Hanbok yang ia kenakan, melihat itu membuat mata Leona membulat.


"Ja.. Jangan macam-macam!" Peringatannya tak diindahkan oleh Darren, Pria itu semakin gencar menggodanya.


Leona menutup matanya saat dirinya dalam posisi terhimpit oleh tubuh Darren dan lantai kayu di bawahnya, Darren tersenyum tipis melihatnya.


Bola mata indah yang tertutup kelopak, hidungnya yang mancung namun mungil, pipinya yang sedikit bulat kemerahan, dan jangan lupakan bibirnya yang merah merona.


Deg.


Jantungnya seketika berdebar kencang, ia menyentuh dadanya sendiri dan terkekeh geli. Astaga, sudah berapa lama ia tak merasakan hal seperti ini. Hal yang sangat ia rindukan.


Leona langsung membuka matanya saat tak ada yang terjadi, ia menemukan Darren yang kembali duduk diam sambil fokus pada Laptopnya. Leona menghela napas lega, astaga apa yang tadi Pria itu hendak lakukan? Itu tak baik untuk kinerja jantungnya, kini keduanya hening dan sibuk dengan pikiran masing-masing.


-


-


Malam telah tiba dan kini saatnya kegiatan yang dinantikan Leona, Perempuan itu telah siap dengan Celana kain panjang hitam dan Kaos Oversize putih polos. Sedangkan Darren terlihat tidak terlalu semangat, ia mengenakan Kemeja kotak-kotak dengan Jeans hitamnya.


Leona yang melihat wajah Darren mendengus, "Kau itu jangan terlalu sibuk dengan dokumen milyaran mu, sesekali manjakan dirimu."


Pria itu hanya mengangguk malas, keduanya lalu berjalan mengikuti rombongan yang berjumlah 6 orang itu.


-


-


Rombongan itu tiba di tempat tujuan, tour guide segera memberikan penjelasan apa saja yang ada di sana. Mereka menghabiskan waktu di sana sekitar 2 jam Karena itulah batas waktu yang telah ditentukan, menikmati makanan authentic khas Korea dan bersenang-senang menikmati ciri khas yang ada di pasar tradisional tersebut.


Leona tertawa bahagia, rasanya sudah lama ia tidak merasakan hal seperti ini. Namun sesekali ia dibuat kesal oleh kelakuan Darren yang mengejeknya, mereka berbicara bahasa Inggris karena itulah yang membuatnya kesulitan dalam berbicara.


"Bisa tidak sih, sekali saja kau tidak mengejekku!" Kesalnya namun tak membuat Darren menghentikan tawanya.


"Kalian pasangan yang romantis," Puji seorang Wanita asal Jepang sambil tersenyum menggoda. Rombongan mereka ikut menggoda, membuat Leona dan Darren saling menatap.


Namun mereka langsung mengalihkan pandangan kearah lain, sebuah semburat merah tipis hinggap di kedua pipi mereka.

__ADS_1


__ADS_2