My Sweet Romance

My Sweet Romance
Bab 2


__ADS_3

Leona memainkan jari-jarinya gugup, kini ia tengah berada di meja makan. Matanya sesekali menatap Seseorang yang duduk dihadapannya, kemudian menunduk sambil memikirkan nasibnya kini.


Hidangan mewah yang sempat ingin ia nikmati, sekarang malah terlihat tak menarik sama sekali.


Darren Kim, Tokoh utama Pria dalam Novel yang dibacanya. Tokoh yang dirinya benci, kini berada dekat dengannya. Satu meja dengannya bahkan kini menjadi Suami dirinya, ya dalam nama Leona Lee.


Gadis bermata cokelat itu kembali menatap Darren yang masih sibuk dengan makan malamnya, hingga sebuah suara sendok beradu dengan piring mengejutkannya. Pria dengan bola mata hitam itu memandangnya dingin, membuat Leona menahan napasnya sejenak.


Pria yang ia benci didalam Novel, ternyata merupakan seorang Pria yang tampan. Tapi tetap saja sifatnya sama persis seperti dalam Novel, bahkan mungkin lebih buruk karena ia mengalaminya langsung.


"Apa?" Satu kata itu membuat pikiran Leona bercabang, memikirkan jawaban apa yang pantas ia ucapkan setelah tertangkap basah memandangnya.


"Tidak ada. Bagaimana harimu?" Tanyanya namun tak ada perubahan dari ekspresi Pria itu, membuat Leona menutup mulutnya.


"Abaikan saja pertanyaan ku, aku akan makan sekarang."


Langsung saja Leona memakan sepotong daging sapi yang diolah menjadi Steak itu, matanya langsung berbinar saat ia dapat merasakan kembali makanan di depannya. Nafsu makannya yang sempat hilang kini kembali, bahkan kini ia melahapnya dengan rakus seolah tak makan berhari-hari.


Darren yang melihatnya menghentikan aktivitas makannya, ia menatap Perempuan didepannya dengan datar. Tangannya mengambil gelas kristal berisi Wine, lalu menyesapnya perlahan tanpa mengalihkan pandangannya.


"Siapa kau?".


"Uhuk.. uhuk.. " Leona yang tiba-tiba ditanya sontak tersedak, Pelayan yang berada didekatnya dengan cepat memberinya minum yang langsung di teguk habis dalam sekali tegukan.


Leona menatap gugup Darren, lalu mengalihkan pandangannya kemana saja asal bukan Pria tampan didepannya.


"A.. Aku tentu saja Leona, Is.. Istrimu." Jawabnya pelan pada kata terakhir.


Hening setelahnya, Pria itu kembali menikmati Wine miliknya. Berbeda dengan Leona yang kini sudah berkeringat dingin, tak nyaman dengan keheningan yang ada. Leona langsung berdiri, ia menunduk memberi salam "Aku selesai, terima kasih makanannya."


Dan Leona pun berlalu menuju kamar Leona Lee di lantai dua, tanpa menoleh ke belakang. Darren menatap kepergian Leona kemudian sebuah seringai terbit dibibir tipis merah kecoklatan nya.


-


-


Sementara itu dikamar dengan dominasi warna putih itu, Leona duduk di ranjangnya. Kedua tangannya mencengkram erat rambutnya yang tadinya telah ditata rapi oleh Pelayan pribadinya.

__ADS_1


"Bodoh kau, Leo. Bodoh.. " Gumamnya.


Tangannya terlepas dari rambutnya, menghela napas sebelum berjalan menuju kamar mandi. Ia perlu menyegarkan diri agar tak berucap macam-macam, bagaimana jika Pria itu tau dirinya bukan Istrinya? Bisa saja ia dibunuh kan?


Sontak pemikiran itu membuatnya bergidik ngeri, jangan sampai Darren tau yang sebenarnya.


Sekitar 30 menit kemudian, Leona baru keluar dari kamar mandi dengan piyama. Dirinya tertidur di dalam bathtub, karena terlalu nyaman dengan aroma lavender yang berasal dari sabun cair yang ia gunakan.


Senyumnya mengembang saat menyadari kamar yang dimiliki Leona Lee, ternyata memiliki fasilitas mewah yang lengkap. Ia berdecak kagum dengan interior kamar yang terkesan elegan, matanya beralih pada jendela kaca yang berada tak jauh darinya.


Suasana malam yang indah, matanya memandang ke bawah. Ah ternyata pemandangan dikamar ini tepat menghadap kearah kolam renang, sungguh pemandangan yang indah dengan lampu yang menyala dibeberapa sisi.


Matanya berbinar saat tanpa sengaja melihat sosok pria yang sedang berenang dengan begitu indahnya, ah lihatlah punggungnya yang kokoh. Pundaknya yang tegap, lehernya yang jenjang, ah dari belakang saja sudah nampak indah makhluk yang satu ini.


Leona tertawa geli, wajahnya memerah karena malu, tangannya sesekali menutupi wajahnya saat tanpa sengaja melihat tetesan air yang mengalir di punggung Pria itu.


Hingga sepasang mata hitam itu bersinggungan dengan mata cokelatnya, wajahnya yang tadi memerah malu. Kini semakin memerah saat lagi-lagi ia tertangkap basah tengah menatap pria itu, Darren.


Dengan cepat ia menutup gorden biru tua itu, jantungnya berdegup kencang antara malu dan takut.


"Lagi-lagi kau bertindak bodoh, Leona."


Helaan napas kasar ia keluarkan, matanya memandang lampu yang bersinar di langit-langit kamarnya.


Sebuah senyum terpaksa terbit di wajahnya, "Tak apa, Leona. Kau hanya perlu berakting, ya pura-pura tak melihat semuanya dan beres."


Ya, walau ia sudah berkata seperti itu tapi tak bisa dipungkiri bahwa hatinya masih resah. Mengingat tabiat buruk Darren dalam Novel, ia kembali berpikir hal apa saja yang berhubungan dengan Pria itu.


Namun percuma karena yang ia ingat hanyalah segala keburukan Pria itu, entah karena terlalu benci dengan karakternya atau apa.


Pintu kamar terbuka dan menampakkan seseorang yang menjadi lamunannya, memandang nya dengan menyilang kan tangan kanannya di atas tangan kirinya sambil bersandar pada tembok dibelakangnya. Tubuh yang sempat ia lihat bagian belakangnya walau setengah itu, kini terbalut dengan kimono mandinya.


Leona meneguk ludahnya kasar, perlahan ia berdiri tanpa berniat menghampiri.


"Apa seorang Perempuan dari Keluarga Terhormat memiliki hobi mengintip?".


Leona membuka mulutnya terkejut, pasalnya yang ia tau Kalimat tadi adalah kalimat terpanjang yang ia dengar dari mulut Pria dingin didepannya. Tapi tunggu dulu, apa tadi katanya. Mengintip?

__ADS_1


Leona terkekeh geli "Maaf saja Tuan Darren, tetapi aku sama sekali tidak mengintip."


Pria itu menaikkan alis kirinya, "Benarkah?".


"Tentu saja, lagipula untuk apa aku melihat badanmu yang jelek itu." Ucap Leona yang langsung menutup mulutnya dengan tangan, untuk kesekian kalinya ia bicara macam-macam.


Darren yang mendengar ucapan Leona, berdiri tegak lalu berjalan perlahan menghampirinya. Leona yang melihatnya sontak mundur "Jangan macam-macam!".


Darren menyeringai tangannya perlahan bergerak ke belakang punggungnya mencoba melepaskan tali kimono nya, sambil berjalan.


"Kenapa kau ketakutan? Bukankah kau bilang badanku jelek?".


Leona kembali gugup, jantungnya berdetak kencang. "A.. Aku tak bermaksud be.. begitu, tapi.. ".


Ucapannya terhenti saat Pria itu kini berdiri menjulang di depannya, telapak tangan kanannya kini menempel pada tembok sedangkan tangan satunya bertugas melepas tali Kimono.


"Tapi? Apa?" Tanyanya.


Rasanya Leona ingin menangis saat ini juga, "Maafkan aku, pergi sana! Dasar manusia mesum!".


"Mesum? Aku suami mu, jadi salah jika kau menyebutku mesum."


"Lagipula.. " Ucapan Darren terhenti saat pintu terbuka, terdengar suara terkejut dibelakangnya.


"Maafkan saya, Tuan."


Pintu kembali tertutup, Darren mendengus kesal sebelum berlalu dari sana. Leona menghela napas lega begitu Pria itu menghilang di balik pintu, dengan cepat ia menghempaskan tubuhnya di ranjang.


Wajah cantiknya kembali menampilkan raut ingin menangis, "Aku ingin kembali, tak apa miskin tapi setidaknya aku punya Irene."


"Dasar Pria Gila! Aku ingin kembali."


Pikirannya melayang tentang kejadian kemarin saat ia masih menjadi Leona miskin, mulai dari membaca novel, pergi ke pasar, jatuh di pasar hingga kembali ke rumah dan tidur.


Leona terduduk begitu teringat sesuatu, ia bisa ada disini karena tertidur kan?


"Baiklah, ayo kita tidur. Semoga saja besok aku bisa kembali, aku janji jika kembali aku akan jadi Leona yang rajin."

__ADS_1


Matanya pun terpejam, berharap esok ia dapat kembali menjadi Leona miskin.


Setidaknya itu lebih baik daripada ia harus berurusan dengan Pria itu.


__ADS_2