
Darren dan Leona mampu membuat semua tamu undangan menatap kagum kepada mereka sejak kedatangan keduanya, sikap posesif yang ditunjukkan oleh Darren. Dan senyum yang diberikan Leona, seolah menjadi hal unik yang mereka lihat. Pasalnya dulu seingat mereka yang selalu memperhatikan, Leona dan Darren terlihat bukan seperti Suami-istri. Namun lihatlah kini, keduanya bahkan mampu membuat mereka terpaku.
Darren yang posesif walau menyembunyikannya dalam wajah datarnya, dan Leona yang selalu memberikan senyum tipis tapi hanya sebagian orang yang tau bahwa senyumannya adalah tulus.
Seorang Pria dan Wanita paruh baya menghampiri keduanya, Leona yang melihatnya membungkuk memberi salam.
"Ku kira kau tak akan datang, dan menantuku yang cantik ini. Terima kasih sudah menyempatkan diri datang ke sini." Ujar Pria yang ternyata Ayah Darren, Alex Kim.
Leona tersenyum tipis, ia begitu canggung dan takut untuk bertindak. Darren hanya diam tanpa berniat bicara, Tuan Kim yang melihatnya hanya tersenyum sebelum kembali berbicara "Acaranya akan segera dimulai, kalian bisa duduk di kursi depan yang sudah disediakan. Aku permisi dulu."
Leona mengangguk menatap kepergian Tuan Kim dan Istrinya, lalu ia menatap Darren. Menyenggol lengannya lalu bertanya "Ada apa? Kau tidak mau menyapa Ayahmu?".
"Untuk apa aku menyapanya? Sudahlah, ayo kita kesana." Darren membawa Leona menuju kursi yang berada didekat panggung kecil.
Keduanya duduk dengan tenang sampai suara Mic mulai terdengar, semua terfokus pada Tuan Alex Kim yang berjalan menuju ke atas panggung.
"Selamat malam. Sebelumnya saya ingin mengucapkan terima kasih atas kedatangannya." Tuan Kim membungkuk memberi salam lalu berbicara kembali "Acara ini adalah untuk menyambut Putra Pertamaku yang baru saja kembali dari Inggris. Kemari lah, Nak."
Jay yang berada disisi panggung berjalan perlahan menghampiri Ayahnya, ia membungkuk memberi salam. Lalu tersenyum sambil menyapa tamu yang hadir.
"Selamat malam, saya Jay Kim. Seperti yang Ayah katakan, saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada kalian yang datang." Para tamu undangan yang datang bertepuk tangan, lalu berhenti ketika Jay kembali berbicara.
"Mulai besok, saya mulai bergabung dengan LK Group. Mohon bimbingannya." Pria itu kembali membungkuk, sedangkan semua orang begitu terkejut namun tak berapa lama mereka bertepuk tangan.
Disisi lain, terlihat Darren begitu kaget. Ia menoleh kearah Ayahnya bertepatan dengan Pria paruh baya itu menatapnya, Darren segera menghampiri meninggalkan Leona yang dalam keadaan bingung.
"Jika boleh tau, anda akan menempati posisi sebagai apa?" Tanya salah seorang tamu undangan.
Jay terdiam beberapa saat sebelum tersenyum lalu menjawab dengan santai. "Aku tak bisa memberitahumu soal itu, tapi dapat ku pastikan jika aku akan menempati posisi utama."
Darren mengepalkan kedua tangannya erat, ia menoleh kearah Ayahnya yang berdiri didepannya. "Apa maksudmu dengan semua ini?".
"Bukankah semuanya sudah dikatakan? Mulai besok, Jay akan bergabung dengan LK Group."
"Sebagai posisi apa?" Tanya Darren berusaha menahan kesal.
Alex Kim menatap Putranya lama, sebelum berucap "Posisinya sama sepertimu. Kalian berdua harus bersaing untuk dapat menggantikan posisiku, bagaimanapun Jay juga pandai dalam dunia bisnis. Dia sama hebatnya denganmu, jadi apa kau takut?".
"Aku tak pernah takut. Seperti apapun kau memujinya, aku tetaplah yang terhebat." Ujarnya penuh penekanan.
Darren mengalihkan pandangannya kearah panggung, namun yang ia dapati adalah seseorang yang ia panggil Ibu. Matanya lalu tertuju ke tempatnya tadi duduk, sontak emosinya memuncak saat menemukan Jay duduk di kursi tempatnya tadi duduk. Yang paling membuatnya kesal adalah Pria itu berusaha menyentuh Leona, terlihat sekali dari gerakan Leona yang terlihat tidak nyaman.
Darren berjalan menghampiri dengan aura gelap, para tamu undangan sedang sibuk menikmati hidangan.
"Berani sekali, kau menyentuh Istriku." Darren berbicara tajam. Jay menoleh padanya lalu tersenyum miring, "Yo. Adik! Aku tak menyentuhnya, hanya ingin lebih dekat dengannya."
__ADS_1
"Pergi, selagi aku bicara baik-baik."
Jay berdiri lalu berdiri berhadapan dengan Darren, ia memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Jika aku tak mau, kau mau apa? Lagipula, Istrimu begitu wangi dan membuatku mabuk."
Mata hitam Darren membulat, napasnya terengah-engah. Ia lalu mencengkeram kuat kerah Jas yang dikenakan Jay, Leona yang melihatnya tersentak. Ia lalu berjalan ke sisi Darren lalu mencengkeram lengan Darren, ia memandang sekitar dan mendapati semua tamu undangan menatap mereka penasaran. "Darren, hentikan. Orang-orang menatap kita, tenanglah."
Darren menatap sekeliling lalu kembali menatap Jay dengan dingin, ia mulai berbicara. "Mulutmu sepertinya perlu ku ajari, sekali lagi kau menyentuhnya. Aku tak akan mengampunimu."
Setelah mengatakan itu, ia melepaskan kasar cengkeramannya pada kerah Jay, ia menggenggam tangan Leona lalu membawanya pergi dari sana. Jay merapikan kembali pakaiannya, memandang datar kepergian Darren dan Leona. Lalu matanya menatap tamu undangannya, ia tersenyum "Tak apa. Hanya salam rindu seorang Adik kepada Kakaknya!".
Para tamu undangan yang mengerti kembali mengobrol, Jay pergi dari sana dengan mata lurus ke depan.
-
-
"Darren, berhenti!" Leona berusaha menghentikan langkah Darren yang terburu-buru, "Kumohon berhenti! Tanganku sakit."
Mendengar ringisan membuat langkah Darren terhenti, emosi yang sempat menguasainya kini terganti kekhawatiran. Ia menatap Leona yang menunduk, tangannya disembunyikan ke belakang. Darren menarik lembut tangan Leona, memandangnya terkejut saat mendapati ruam merah yang sepertinya bekas cengkeramannya yang terlalu kuat.
"Maafkan aku, aku begitu emosi tadi. Apakah sangat sakit?".
Leona menggeleng, ia memeluk Darren erat "Kau membuatku takut." Darren membalas pelukan Leona tak kalah erat "Maaf, aku tak bisa mengontrol emosiku. Aku tak mau dia menyentuhmu."
Leona melepaskan pelukannya, tangannya beralih menyentuh kedua sisi rahang tegas Darren. "Baiklah, mulai sekarang aku akan menjaga diriku sendiri agar kau tidak khawatir."
"Maafkan aku." Darren kembali menenggelamkan Leona dalam pelukannya, "Aku tak akan menyerah, jadilah penyemangat ku."
Leona mengangguk lalu membalas pelukan Darren, dalam hening ia berpikir. Bagaimana jadinya jika suatu saat nanti, ia kembali menjadi Leona yang dulu? Mungkin dirinyalah yang paling sedih, ia pasti tak akan bisa melepaskannya.
Karena, ia sudah jatuh cinta dengan Darren Kim.
-
-
Leona menatap pantulan dirinya di cermin, ada satu yang membuatnya bingung. Pantulan cermin menampakkan Leona si miskin. Lalu kenapa sejak pertama ia muncul, orang-orang yang ditemuinya sudah memanggil ia Leona Lee. Apakah wajah dan tubuhnya sangat mirip dengan Leona Lee? Satu pertanyaan lagi yang membuat ia dilema, Apakah ia benar-benar masuk ke dalam dunia Novel?
Sepasang lengan kekar memeluknya dari belakang, Leona tersenyum lembut menatap pantulan Darren dalam cermin. "Selamat pagi, apakah masih mengantuk?".
"Pagi. Ya, aku masih mengantuk. Tapi aku harus bekerja untuk menghidupi Istriku yang manis." Ujar Darren mengecup pipinya, Leona menggelengkan kepalanya melihat tingkah Darren.
"Dasar, mandi dulu sana! Aku akan siapkan sarapan." Bukannya melepaskan pelukannya, Pria itu semakin mengeratkan pelukannya. "Berikan aku 5 menit."
Senyum Leona semakin lebar, ia akhirnya membiarkan Darren lebih lama memeluknya. "Padahal orang sepertimu biasanya akan mengatakan, Waktu adalah uang dan aku tak akan menyia-nyiakannya."
__ADS_1
Di sela leher Leona, Darren tersenyum mendengar ucapan Istrinya. "Bagiku, kau lebih berharga daripada uang. Aku bisa mencari uang dengan mudah, tetapi untuk menemukanmu. Mungkin begitu sulit."
Leona tertegun mendengarnya, ia melepaskan pelukan Darren dengan lembut lalu berbalik menghadapnya. "Waktunya sudah habis, sekarang mandilah. Dan jangan menggombal di pagi hari, aku membuat sarapan dulu." Setelah mengatakan itu, Leona berlalu meninggalkan Darren yang menatapnya lembut.
-
Sementara itu di dapur, Leona terlihat sibuk dengan peralatan dapur. Pagi ini sepertinya ia akan memasak Omelette, sosis, dan sup.
Ditengah kesibukannya memasak, ia dikejutkan dengan ponselnya yang berdering. Leona menghentikan aktivitas memasaknya lalu mengambil ponselnya yang ia simpan di saku baju, keningnya mengernyit heran kala menemukan nomor asing yang menelponnya.
Ia mengangkatnya karena mungkin saja penting, "Halo?".
Hening beberapa saat sebelum suara seseorang yang tak mau ia dengar, malah menyapanya "Halo, Nona manis. Sudah bangun? Ini Jay."
Tanpa membalas ucapan Jay, ia mematikan panggilan tersebut. Ia mendengus kesal, siapa gerangan orang yang memberikan nomornya pada Pria aneh itu.
Ponselnya kembali berbunyi, dan dari orang yang sama. Leona terus mematikannya, sampai kedatangan Darren membuatnya menyembunyikan ponsel itu dibelakang tubuh.
Darren yang melihat kelakuan aneh Leona, bertanya "Ada apa? Kau terlihat tak nyaman."
Leona menggelengkan kepalanya beberapa kali "Tak ada, aku sudah selesai membuat sarapan."
Ia mengambil sarapan yang sudah ia buat, lalu menyimpannya di meja makan. Ia duduk diikuti Darren disampingnya, Leona menyimpan ponselnya di atas meja saat tak merasakan ponselnya berdering.
Namun begitu mereka memulai sarapan, ponsel Leona berdering dan yang lebih parah adalah Darren melihatnya. Pria itu mengernyit heran, tangannya meraih ponsel Sang Istri lalu memperhatikan nomor tersebut "Siapa ini?" Tanyanya dijawab gelengan Leona "Ku rasa orang asing."
Darren mengangkat bahunya acuh, belum sempat ia menyimpannya kembali. Ponsel itu kembali berdering, ia menekan tombol hijau.
Menunggu seseorang di sana berbicara, "Halo, akhirnya kau mengangkat panggilanku juga."
Mata Darren membulat, ia dengan cepat memutuskan panggilan itu. Lalu melempar ponsel itu ke lantai sampai pecah, Leona yang melihatnya terkejut. "Aku akan memberikanmu yang baru, sejak kapan dia menghubungimu?".
"Saat aku menyiapkan sarapan untukmu tadi," Jawab Leona.
Darren mengusap wajahnya lalu menghela napas kasar, "Mulai sekarang, jika ada nomor asing seperti itu. Jangan menjawabnya, sekarang ayo berangkat."
Leona mengangguk lalu mengikuti Darren yang sudah lebih dulu keluar menuju mobil, mereka akan pergi bersama menuju LK Group.
-
Selama perjalanan di dalam mobil, keduanya terdiam dalam hening. Leona menggigit bibir bawahnya sebelum berbicara "Darren, maaf."
"Tak apa, ini bukan salahmu. Aku akan memberinya peringatan lagi."
Leona terdiam saat merasakan aura Darren yang mulai gelap, ia memperhatikan keluar kaca mobil.
__ADS_1
Kini Leona tau, jika Darren sulit dalam mengontrol Emosinya.