
Darren terduduk dengan lesu di kursi tunggu, menunggu menerima hasil dengan takut. Tuan Lee dan Tuan Kim pun sama-sama bersedih, mereka berdoa untuk satu nama. Tuan Kim berjalan menghampiri putranya, hari yang seharusnya menjadi hari membahagiakan. Kini menjadi kesedihan saat Darren, kembali ke acara dengan Leona di gendongannya sudah tak sadarkan diri dengan darah yang keluar dari perutnya.
Darren termenung, air matanya masih menetes namun tak seperti tadi. Masih hangat dalam ingatannya, saat ia dibuat heran karena Leona tak kembali juga padahal sudah pergi 20 menit.
Ia pun menyusul Leona menuju toilet, namun ia mendapati toilet yang kosong. Ia berlari di lorong mencari keberadaan Leona, ketika ia melihat ponselnya dirinya dikejutkan dengan beberapa panggilan masuk dari Leona. Kembali ia menghubungi Leona, namun suara teriakan membuatnya terkejut.
Ia berlari mengikuti arah suara berasal, matanya membulat begitu pintu terbuka. Didepannya, tepat disebuah ruang yang ia masuki. Darren mendapati Leona terjatuh namun bukan itu yang membuatnya terkejut, kehadiran Jay dengan pisau berlumuran darah yang mengacung pada Leona lah yang membuatnya terdiam.
Matanya beralih memandang jejak darah yang menghiasi lantai, sampai ia menemukan darah yang keluar dari luka di perut sebelah kanan Leona.
Ia berjalan cepat menghampiri, memangku kepala Leona yang sudah pingsan. "Leo, sadarlah! Ini aku, sadarlah!".
Jay tersentak, ia menatap tangannya yang berlumuran darah. Pisau dalam pegangannya terlepas dan jatuh ke lantai, ia menggeleng beberapa kali "Tidak, aku bukan pembunuh. Bukan aku.. bukan!" Jay langsung berlari namun Darren tak berniat mengejarnya, ia berdiri lalu membawa Leona dalam gendongannya dengan tergesa-gesa.
-
Darren mengepalkan tangannya kuat, ini semua karena Jay. Pria gila itu sudah membuatnya marah, meski Ayahnya sudah menelepon polisi tetapi tetap saja ia tak terima dengan apa yang menimpa istrinya.
"Tenanglah, Leo perempuan yang kuat." ujar Tuan Kim menenangkan.
Tak berapa lama pintu operasi terbuka, mereka dengan cepat menghampiri dokter.
"Bagaimana keadaan Istri saya?" tanya Darren.
"Beruntung, lukanya tak dalam dan hanya butuh satu jahitan. Ia hanya mengalami syok, sepertinya ia mempunyai trauma terhadap darah."
Tuan Lee yang mendengarnya terkejut "Benarkah? Tetapi selama ini ia baik-baik saja, bahkan saya pernah mengajaknya menonton film dengan banyak adegan darah. Tapi dia terlihat biasa saja."
Dokter tersebut mengernyit heran "Saya akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut, untuk sekarang ia hanya perlu istirahat saja. Jika ada yang ingin ditanyakan bisa menghubungi saya, saya permisi."
Mereka mengangguk kemudian berjalan memasuki ruang rawat Leona, Darren berjalan disisi lain Leona yang masih belum sadarkan diri.
"Bukalah matamu, maafkan aku. Seharusnya aku tak membiarkanmu pergi sendiri, ini salahku." Darren menundukkan kepalanya, tangannya dengan erat menggenggam tangan kiri Leona.
Tuan Kim menatap keseriusan dan cinta di mata Sang Putra, ia tertegun. Rasanya sudah lama ia tak mendapati ekspresi berarti diwajahnya, ia tersenyum karena kini ia tau alasan Darren memiliki ekspresinya kembali.
__ADS_1
Ponselnya berdering, ia berjalan perlahan keluar ruangan. Tuan Lee menatap sekilas sebelum kembali menatap Putrinya, ia merasa ada keanehan yang terjadi dengan Leona. Ia memiliki sifat yang ceria seperti cinta pertamanya dulu, namun ia menggeleng keras mengenyahkan pikirannya itu.
Ia berdehem mencoba mencari perhatian Darren, menantunya itu menatapnya. "Papa akan menemui Dokter dulu, jagalah Leona." Ia langsung berlalu setelah mendapat anggukan setuju Darren. Ia kembali memandangi Leona, namun suara ponsel mengganggunya. Ia mengangkat panggilan yang ternyata dari Ayahnya itu, "Hn?".
"Darren, Ayah punya informasi mengenai Jay. Ayah akan urus semuanya, kau urus Istrimu dulu. Ayah pergi sekarang." Panggilan pun terputus, Darren terdiam dengan ekspresi wajah datar. Ia akan memberikan Pria itu pelajaran, tanpa Ayahnya beritahu pun ia sudah tau ada yang tak beres dengan Jay.
-
-
Secercah cahaya perlahan menembus retina matanya begitu terbuka, ia mencoba menyesuaikan pandangannya. Ruangan serba putih itu adalah hal pertama yang ia lihat, ia menghela napas lelah saat tau sedang berada di rumah sakit.
Pikirannya melayang pada kejadian yang menjadi penyebab mengapa ia berada di sini, seketika ia bergidik ngeri saat mengingat darah yang keluar dari perutnya. Mengingatnya kembali membuat Leona meringis, ringisan nya membuat Darren yang tertidur sambil duduk itu pun terbangun.
Matanya membulat menemukan Leona telah sadar, langsung saja ia memeluk tubuh Perempuan yang ia rindukan itu. Leona kembali meringis saat merasakan sakit di perut bagian kanannya, Darren yang mendengarnya melepaskan pelukan. Ditatapnya dengan khawatir Leona "Mana yang sakit? Aku akan panggil Dokter."
Leona hanya mengangguk lemah saat Darren keluar, tak berapa lama Pria itu kembali dengan Seorang pria berjas dokter.
Dokter melakukan pemeriksaan "Apakah sangat sakit?".
Dokter tersebut mengangguk "Wajar saja, lukanya baru saja di jahit. Tapi untuk yang lainnya baik-baik saja, untuk sekarang pasien jangan terlalu banyak bergerak. Untuk masalah obat, aku sudah memberikan resepnya pada suster. Dia akan mengantarnya saat waktu makan, diharap pasien meminumnya dengan rutin.Tunggu seminggu atau dua Minggu baru bisa keluar, saya permisi."
Darren mengangguk mengerti, ia menghampiri Leona kemudian duduk disampingnya. Ia mengusap lembut rambut Istrinya "Maaf, harusnya aku menemanimu."
Leona tersenyum tipis "Ini bukan salahmu, aku sendiri yang menolak saat kau ingin menemani. Aku hanya terkejut saja."
Tangan Darren beralih ke pipi Leona "Tenanglah, sekarang aku tak akan pernah meninggalkanmu. Apa kau lapar? Akan ku panggil suster, sebentar."
Leona hanya mengangguk saat Darren pergi dari ruang rawatnya, pikirannya kembali melambung mengingat kejadian saat acara itu. Masih hangat dalam ingatannya pada ekspresi wajah yang Jay perlihatkan, Pria itu terlihat ketakutan dan gelisah. Ia menghela napas, setidaknya masalah ini dapat diselesaikan oleh Darren.
Tak berapa lama Darren kembali dengan troli makanan ditangannya, Leona mengernyit heran "Kenapa kau antar sendiri? Kemana susternya?".
Darren terkekeh sambil meletakkan meja kecil lalu menyimpannya di atas kaki Leona, setelah itu ia meletakkan Bubur, gelas berisi air, dan beberapa butir obat dalam piring kecil.
"Aku yang memintanya sendiri," ujarnya.
__ADS_1
Leona mengangguk mengerti, ia mulai menyendok kan bubur ke mulutnya. Begitu bubur masuk kedalam mulutnya, ia mengernyitkan dahinya "Rasanya hambar, lebih enak bubur buatan ku."
Darren tersenyum geli "Karena itu, cepat sembuh lah. Ah ya, aku juga akan makan dulu di sofa." Ia kemudian berjalan menuju sofa yang tak jauh dari tempat Leona, pria itu mulai mengeluarkan kotak makanan dari dalam kantung plastik yang dibawanya.
Leona memperhatikan Darren yang sibuk memakan pasta saus jamur di sofa, ia meneguk ludahnya kasar "Boleh aku meminta sedikit?".
Darren menghentikan makannya, ia memandang Leona yang menatapnya dengan memelas. Ia terkekeh geli "Baiklah, hanya sesendok setelah itu habiskan buburnya."
Leona mengangguk, ia menanti Darren dengan tak sabar. Begitu Darren di depannya, Pria itu lalu menyuapkannya sesendok kecil pasta kemudian memberikannya pada Leona yang langsung disambutnya.
"Enak?" Tanya Darren dijawab anggukan Leona "Kalau begitu, sekarang habiskan makananmu. Setelah itu, istirahatlah."
Leona kembali mengangguk lalu menuruti ucapan Darren, memakan buburnya walau sesekali ia mengernyit tak suka. Padahal hanya perutku yang sakit, gerutunya dalam hati.
-
-
Akhirnya seminggu yang membosankan itu akan segera berakhir, Leona tersenyum lebar sambil menunggu dengan sabar Darren yang akan menjemputnya. Ia kembali memasukkan potongan buah apel yang sudah disiapkan suster, matanya sesekali menatap ke arah pintu.
Tak berapa lama Orang yang ia tunggu datang, Darren tersenyum geli menatap Leona yang sudah tak sabar ingin pulang.
"Mau menginap di sini lagi?" tanya Darren dibalas gelengan cepat Leona, Perempuan itu memasang wajah cemberutnya. "Oke, maafkan aku. Kau sudah siap pulang, Tuan Putri?".
Leona mengangguk cepat "Tentu saja, bisa kau gendong aku?".
Darren semakin melebarkan senyumnya, ia mengangguk dengan pasti. "Tentu," ujarnya lalu menggendong Leona ala bridal. Leona dengan segera melingkarkan tangannya di leher Pria nya, ia menatap Darren hangat.
Ah, ia jatuh cinta pada Pria itu. Seandainya ia pergi, apakah Darren akan mencarinya? Entahlah, akhir-akhir ini ia selalu merasa cemas dan takut.
Darren memandang heran pada Leona yang melamun, "Hei, ada apa?".
Leona tersadar, ia menggeleng lalu menyembunyikan wajahnya diantar ceruk leher Darren. "Apakah kau akan mencari ku ketika aku tak ada?".
Darren mengernyit "Tentu saja, tapi kenapa kau berbicara aneh? Kau tak akan meninggalkan aku, kan?".
__ADS_1
Leona tersenyum tipis, ia menutup matanya tanpa membalas ucapan Darren. Sementara itu, Darren menghela napas berat. Ia berjalan keluar dari ruangan menuju mobilnya, wajahnya kembali suram. Ucapan Leona sukses membuatnya takut, entahlah. Tetapi, ia tak siap jika nanti Leona meninggalkannya.