
Leona meregangkan tubuhnya yang terasa kaku, ia langsung membaringkan tubuhnya di ranjang.
Seminggu telah berlalu ia dan Darren nikmati di Gyeonggi-do, kini mereka baru saja kembali. Namun bukannya beristirahat sepertinya, Darren malah kembali sibuk dengan Laptopnya. Ia langsung duduk di ruang tamu sambil menyelesaikan pekerjaannya, tanpa istirahat ataupun hanya untuk sekedar berganti pakaian.
Beberapa menit kemudian ia terbangun, rasanya ia tak bisa tidur jika perutnya terus berbunyi minta diisi. Ia melihat Jam dinding yang menunjukkan pukul 1 siang, ah pantas saja ia lapar. Terakhir makan adalah saat sarapan sebelum pulang, ia bergegas menuju dapur.
Melewati ruang tamu, ia melihat Darren yang masih fokus pada Laptop. Dengan kaca mata bacanya, Pria itu dua kali lipat lebih tampan. Ia menggeleng beberapa kali mengenyahkan pikirannya itu, kembali melanjutkan langkahnya menuju dapur. Letak dapur dan Ruang tamu hanya berjarak beberapa langkah, terhalang oleh tembok.
Mengecek isi kulkas lalu mengambil beberapa bahan untuk membuat Ramen, entah mengapa ia sangat ingin memakan makanan berkuah itu. Beberapa menit dilewati akhirnya hidangan makan siang itu sudah tersaji dalam mangkuk, ia memasak untuk dua porsi tetapi satu porsinya masih ia simpan dalam panci.
Leona membawa ramen tersebut untuk disantap di ruang tamu, memulai satu suapan tanpa berniat menyalakan televisi. Matanya sesekali memandang Darren, Pria itu masih fokus pada kegiatannya. Ia berdeham sejenak sebelum bertanya, "Apa kau mau?".
"Aku tidak lapar." Bertepatan dengan itu terdengar suara perut dari Pria itu, membuat keduanya terdiam canggung. Leona terkekeh geli, ia berdiri lalu kembali ke dapur. Menuangkan seporsi Ramen ke dalam mangkuk lalu membawanya ke hadapan Pria itu. "Makanlah dulu, kau tidak akan bisa fokus hanya dengan minum Kopi."
Darren menghentikan pekerjaannya, ia menatap Leona yang tersenyum lembut padanya. Matanya beralih pada Ramen yang Perempuan itu buat, terlihat menggiurkan padahal tadi ia tak merasa lapar.
"Terima kasih," ujarnya singkat lalu mulai memakan Ramen tersebut. Leona mengangguk lalu mengambil mangkuk ramen nya dan membawanya untuk dimakan bersama Darren, "Aku akan menemanimu makan."
Darren menatapnya lama sebelum kembali melanjutkan makannya, keduanya makan dengan tenang. Sampai suara ponsel berdering mengejutkan mereka, Leona mengangkat panggilan yang berasal dari ponselnya.
"Halo?".
"Halo, Leo. Apakah kau sedang bersama Darren?" Tanya Shin diseberang telepon.
Leona melirik Darren yang sedang menikmati Ramen.
"Ya, ada apa?".
Terdengar helaan napas kasar Shin, "Katakan padanya untuk mengecek Ponselnya."
Leona mengangguk, "Baiklah, apa ada lagi yang harus kulakukan?".
"Tidak ada, katakan saja itu."
Panggilan pun terputus, Leona menyimpan ponselnya lalu menatap Darren "Hei, Shin menyuruh kau membuka Ponselmu."
Darren mengernyit, ia lalu melakukan apa yang disuruh. Memang selama sisa liburan, ia jarang mengecek ponsel pertamanya. Ia hanya menggunakan Ponsel yang satu lagi, yang khusus untuk bisnis. Seketika matanya membulat menemukan banyak panggilan dari orang yang paling ia hindari, ia mengecek satu persatu lalu menghubungi seseorang.
Leona melihat semuanya, kegelisahan dan ketakutan Pria itu.
"Sudah kukatakan, aku akan mengaturnya!" Suara bernada tinggi Darren membuat Leona tersentak, ia menatap Darren dan menemukan wajah merah Pria itu.
Darren memijat pelipisnya yang terasa pusing, ia menghela napas kasar sebelum mematikan panggilan secara sepihak.
"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Leona hati-hati.
"Hn." Hanya gumaman tak jelas Darren sebagai balasan, Pria itu kembali pada Laptopnya. Leona yang melihatnya hanya mengangkat bahunya acuh, bukan tak peduli tapi ia akan mencari tau sendiri. Mungkin dengan begitu ia dapat meringankan sedikit beban Pria itu.
Ia berdiri lalu berjalan menuju dapur dengan dua mangkuk bekas makan Ramen, mencucinya sambil sesekali menatap Darren.
Setelah selesai ia memutuskan untuk membersihkan taman belakang, sekalian panen tomat yang ia lihat sudah berwarna oranye.
-
-
__ADS_1
Memetik satu persatu beberapa buah dan sayur yang ditanam disini, dilanjut menyiram ataupun memotong tanaman yang layu.
Tak terasa sore pun tiba, ia tertidur di ayunan yang tergantung di pohon. Rasanya terlalu nyaman hingga tanpa sadar sore telah tiba, ia menguap lalu mengecek ponselnya. Jam 4 Sore, pantas saja kepalanya pusing. Ia tidur terlalu lama, dengan sempoyongan ia berjalan ke dalam rumah.
Seperti Dejavu, ia masih melihat Darren dalam posisi yang sama saat sebelum ia meninggalkannya.
"Kau tidak lelah? Istirahatlah dulu."
Tak ada tanggapan dari Darren, mungkin saking seriusnya melakukan perkejaan. Leona berlalu menuju kamar tanpa bertanya lebih jauh, lebih baik ia mandi. Lagipula Pria itu bisa berisitirahat jika lelah.
-
-
Keadaan masih sama bahkan ketika malam menjelang, Leona memandang heran Darren. Pria itu masih bertahan dalam posisinya, ia meringis. Apakah Darren tak merasa pegal?
Ia memulai kegiatan memasak makan malamnya, Nasi Kare menjadi pilihannya. Hanya membutuhkan beberapa menit makanan itu jadi, Ia menuangkannya di piring. Lalu mulai memakannya di dapur, ia tak ingin mengganggu Pria itu.
Setelah membereskan sisa makannya, ia memutuskan pergi ke ruang tamu. Menyalakan televisi tanpa berniat menontonnya, matanya sesekali melirik Darren. Terlihat beberapa kali Pria itu mengernyit, lalu umpatan kesal ia dengar.
-
Ia menguap untuk kesekian kalinya, matanya sesekali terpejam. Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, ia melihat Darren yang lagi-lagi masih duduk di sana.
Ia mematikan televisi sebelum berjalan menuju kamarnya, "Jangan terlalu dipaksakan."
Darren tidak menjawab, matanya terus terfokus pada benda didepannya. Ia mulai menguap, ia begitu lelah tetapi ia tak akan membiarkan Pria itu merebut posisinya. Karena itu, ia harus bekerja lebih keras agar bisa diposisi pertama.
Leona langsung memasuki alam mimpi begitu tubuhnya berbaring di ranjangnya yang empuk.
-
-
"Halo, selamat pagi Leo. Apakah Tuan Darren ada di sana?" Tanya Shin.
Leona mengernyit "Ya, kurasa dia masih disini. Ada apa?".
"Bisakah kamu suruh dia mengecek Email yang ku kirim? Sejak kemarin aku sudah mengirimnya, tetapi belum ada respon apapun."
"Baiklah, akan ku katakan. Ada lagi?".
"Aku rasa tidak ada, Terima kasih Leo."
Menghela napas sejenak sebelum berlalu menuju kamar mandi, mencuci mukanya dilanjut menggosok gigi setelah itu ia berganti pakaian dan pergi menuju kamar Darren.
Ketukan pintu yang kesekian ia lakukan, tak kunjung mendapat jawaban. Karena itu Leona memutuskan untuk membukanya, begitu pintu terbuka hal pertama yang ia lihat adalah kegelapan. Ia menekan saklar lampu yang seketika membuat Kamar terang, namun ia tak menemukan Darren di dalam kamarnya itu.
Ruang tamu menjadi tujuan selanjutnya, jika Pria itu masih di sana berarti ia tak beristirahat.
Leona menghela napas lelah, di sana tepatnya di tempat Darren kemarin duduk. Pria itu terlihat tertidur di sana, masih dengan posisi duduk dengan kepala menempel pada meja kaca. Ia berjalan menghampiri, membereskan Laptop dan beberapa berkas yang berceceran. Matanya beralih menatap Darren, wajah Pria itu terlihat pucat.
"Darren, bangun." Ujarnya sembari mengguncangkan tubuh Pria itu.
Tidak ada tanggapan dari Pria itu, malah keringat terlihat mengucur di wajahnya yang gelisah. Leona menyentuh kening Pria itu, seketika rasa panas menyengat kulit tangannya.
__ADS_1
"Astaga, Kau demam!".
Leona dengan cepat berjalan keluar rumah, ia mencari keberadaan supir "Pak, bisakah bantu saya membawa Darren ke kamar?".
Supir tersebut mengangguk lalu segera membawa Darren ke kamarnya di lantai 2. Selesai membaringkannya di ranjang, ia langsung kembali ke depan rumah. Sedangkan Leona terlihat mengecek ponsel Darren, berharap ada kontak yang dapat ia hubungi. Hingga ia menemukan Dr. Jimmy di sana, menekannya lalu mulai menghubungi.
Beberapa saat kemudian, Dr. Jimmy tiba di kediaman mereka. Wanita itu langsung mengecek keadaan Darren dengan peralatan Dokter yang ia bawa, "Demamnya tinggi, ia juga terlalu kelelahan. Aku sarankan ia tidak boleh bekerja terlalu keras." Ujar Dr. Jimmy sambil membereskan peralatannya.
"Ini Vitamin, berikan padanya setelah makan. Aku ada kerjaan lagi, permisi."
"Terima kasih, Dok." Dr. Jimmy terdiam sejenak sebelum berlalu dari sana setelah mengangguk sebelumnya.
Leona duduk di samping Darren, ia mendengus "Kau terlalu memaksakan dirimu, cepat sembuh."
Ia pergi menuju dapur untuk menyiapkan Bubur dan juga Kompres.
Beberapa menit kemudian, Bubur dengan tambahan sayur dan daging telah siap disajikan. Leona membawanya menuju kamar dengan Baskom berisi air hangat dan juga Handuk bersih.
Bertepatan dengan ia yang baru saja tiba, Darren membuka matanya.
Leona membantu Darren duduk, tubuhnya setengah bersandar pada kepala ranjang.
"Jam berapa sekarang?".
"Jam 8 pagi, makanlah dulu. Aku sudah menyiapkan bubur untukmu, setelah itu baru minum obat." Ujar Leona sambil membawa mangkuk berisi bubur ke pangkuannya.
"Tak usah, aku harus melanjutkan pekerjaan ku." Darren hendak berdiri namun dengan cepat dicegah nya.
"Kau ini keras kepala, Percuma saja jika kau memaksakan diri untuk bekerja. Sesuatu yang dipaksakan itu tak baik, dengarkan aku mengerti?".
Darren hanya mampu menghela napas, tak ada salahnya mengikuti apa yang disuruh Leona. Lagipula tubuhnya terlalu lemah bahkan hanya untuk berdiri, Leona yang melihatnya tersenyum senang. Ia mulai menyendok kan bubur, meniupnya perlahan lalu menyodorkannya ke mulut Darren.
Pria itu menerimanya hingga suapan terakhir, dilanjut meminum obatnya.
"Aku ingin ganti baju," Pintanya membuat Leona mengangguk lalu berjalan ke arah lemari, mengambil kaos lengan pendek putih dengan celana kain hitam panjang.
"Apa kau bisa melakukannya?". Darren mengangguk, "Ya, tapi bisakah kau menyeka tubuhku? Rasanya tak nyaman, tubuhku lengket." Pintanya.
Leona menggigit bibir bawahnya gugup, lalu mengangguk kaku. Tangannya mulai bergerak ke ujung baju yang dikenakan Darren, menariknya ke atas bersamaan dengan tangan Darren yang ikut terangkat.
Lalu tangannya beralih mengambil Handuk yang telah dicelupkan ke dalam air hangat, memerasnya dan mulai menempelkannya pada punggung Darren. Diusapnya perlahan hingga bersih, kini tinggal bagian depan. Leona meneguk ludahnya kasar, ia merasa sangat gugup. Dengan menunduk ia mulai menyeka dada Darren, jantungnya berdegup kencang.
Ia dapat merasakan napas panas Pria itu, begitu selesai ia lalu memberikan kaos ganti Darren.
"Kau bisa menyeka tubuh bagian bawah mu sendiri kan?" Tanya Leona dibalas anggukan Darren.
"Terima kasih." Ucap Darren.
Leona mengangguk sambil tersenyum lembut.
"Istirahatlah, aku akan menghubungi Shin jika kau tidak bisa bekerja dulu."
Leona menatap Darren yang kini kembali tertidur, ia mendekat lalu duduk di bawah ranjang.
"Cepat sembuh."
__ADS_1
Sebuah kecupan ia berikan pada Kening Darren.