My Sweet Romance

My Sweet Romance
Bab 10


__ADS_3

"Kau ternyata Pria yang hangat, tetapi kenapa dulu kau terlihat dingin?" Tanya Leona disela suapan Darren.


"Entahlah, itu sifat bawaan mungkin. Dan jangan katakan jika aku Pria hangat, itu terdengar menggelikan." Ujar Darren menunduk, Leona tersenyum saat sekilas melihat rona tipis di pipi Darren.


"Jangan malu seperti itu, kau terlihat manis seperti anak kecil." Leona menggoda membuat Darren mendengus geli, "Hentikan. Jika tidak maka liburannya tak akan jadi."


"Liburan? Kemana? Dalam rangka apa? Tanya Leona beruntun.


"Ya, bagaimana jika ke pantai? Dan ini bukan dalam rangka apa-apa. Bisa dikatakan ini sebagai akhir liburan, karena setelahnya mungkin aku akan semakin sibuk dengan Perusahaan." Jelas Darren, Leona mengangguk mengerti.


"Tak masalah, lalu kapan kita pergi?".


"Setelah kau sembuh, dan kau bisa pulang setelah cairan infusnya habis."


"Baiklah, aku ingin cepat-cepat pergi. Ah, rasanya pasti menyenangkan. Aku akan mengenakan bikini terbaikku!" Seruan Leona membuat Darren tersedak liurnya sendiri, ia memandang kaget Leona "Kau masih waras?".


"Tentu saja, ke pantai kan pasti perempuan mengenakan bikini."


"Terserah kau saja, tapi pastikan pakai bikini yang tertutup." Ucap Darren, Leona memandangnya kesal "Namanya bikini mana ada yang tertutup, lagipula terserah aku ingin memakai apa."


"Kau tau, rata-rata Pria di Pantai itu Mesum. Bagaimana jika nanti ada yang berbuat mesum padamu?" Darren mulai menakuti membuat Leona tanpa sadar bergidik ngeri "Kau benar! Baiklah, aku akan mengenakan bikini modifikasi ku sendiri."


Tanpa Leona sadari, Darren tersenyum senang.


"Darren.. " Darren mendongkak saat Leona memanggilnya dengan ragu. "Apa?" Tanyanya.


"Bagaimana dengan wanita itu? Dan kau tau, sepertinya wanita itu memiliki gangguan panik." Ucapan Leona membuat Darren mengepalkan tangannya, ia kembali dibuat kesal saat mengingat apa yang dilakukan wanita itu.


"Dia akan mendapatkan balasannya, jangan pikirkan itu. Sekarang, fokuslah terhadap kesembuhan mu."


"Aku tak memikirkan wanita itu, yang ku pikirkan adalah bagaimana keadaan anaknya? Kau lihat data itu kan? Suaminya meninggal dan dia tak punya sanak saudara, jika Wanita itu dipenjara. Lalu bagaimana nasib anaknya?" Ucap Leona, Darren terdiam. Ia bahkan tak memikirkan sampai kesana, tapi lihatlah Perempuan yang ada didepannya itu. Terlihat begitu peduli, ia tersenyum lembut "Lalu apa yang mau kau lakukan?".


Leona yang mendengarnya tersenyum senang, "Bisakah kita menjenguknya?".


Darren mengelus puncak kepala Leona lembut, "Tentu saja. Besok kita kesana, sekarang istirahatlah dulu."


Leona mengangguk, lagipula ia sudah mulai merasa mengantuk mungkin efek obat yang diminum. Ia membaringkan tubuhnya dibantu Darren, sebelum matanya tertutup. Ia berkata "Tolong ringankan hukuman Wanita itu, Darren."


Darren terdiam, bahkan ketika Leona tertidur. Ia menunduk dengan kedua tangan yang terkepal erat, "Aku tak bisa membiarkan orang yang membahayakan mu tertawa."


-


-


Leona menatap orang-orang yang berlalu lalang di depannya, mereka baru saja tiba di rumah sakit tempat anak Wanita itu dirawat.


Sejak kepulangannya kemarin, Leona terus merengek ingin cepat-cepat mengunjungi Anak itu. Bahkan ia sampai tak bisa tidur saat Leona mengganggunya, kemarin Darren memutuskan untuk membawa Leona tidur di kamarnya. Ia tak mungkin meninggalkan Perempuan itu sendirian di kamar, namun keputusannya malah membuat ia kesal.


"Kau senang?" Tanya Darren dijawab anggukan semangat Leona, terdengar suara ringisan membuat Darren menatapnya cepat "Ada apa?".


Leona tertawa canggung "Aku terlalu bersemangat sampai lupa jika pundak ku terluka."


Darren terkekeh geli, ia membawa kursi roda yang diduduki Leona menuju ruangan yang menjadi tujuan mereka kemari. Masalah kursi roda, sebenarnya Leona sudah menolak keras untuk menggunakannya tetapi Darren mengancam tidak akan membawanya kemari jika tak menuruti ucapannya. Dan akhirnya, Leona mau duduk di sana.

__ADS_1


Saat keduanya memasuki ruangan itu, seorang anak perempuan berusia sekitar 15 tahun terbaring di ranjang dengan berbagai alat kedokteran yang menempel ditubuhnya.


Darren membawa Leona menuju ke sana, Perempuan itu memandang sendu anak tersebut. "Malangnya.." Gumamnya.


Mereka terdiam beberapa saat sampai suara Leona terdengar "Darren, bisakah hukuman Wanita itu diringankan?".


Darren menghembuskan napas kasar, "Tidak. Wanita itu bukan hanya melakukan kesalahan pada Perusahaan. Tetapi ia bahkan hampir menghilangkan nyawa, bagaimana jika saat itu kau.. " Ia menunduk tak dapat melanjutkan ucapannya.


Leona terdiam, tangannya perlahan terangkat lalu mengelus lembut rambut tebal Pria itu. "Aku tau kau khawatir, tapi apa kau tega membiarkan ia sendiri tanpa seorangpun yang menemani?".


"Tidak," Jawab Darren datar, Leona mendengus kesal.


"Dasar Pria tak berperasaan! Jahat!" Leona yang kesal berlalu begitu saja tanpa menggunakan kursi rodanya, Darren yang melihatnya tersenyum melihat tingkah Leona.


-


-


"Apa kau akan terus merajuk?" Tanya Darren sambil terus mengejar Leona. Ucapan Darren tak diindahkannya, ia terus saja berjalan sampai sebuah tangan menghentikannya.


Ia memandang tangan Darren yang menggenggam tangannya, "Aku sudah mencari seorang Perawat untuk merawatnya."


"Benarkah?" Tanya Leona memastikan, Darren tersenyum tipis saat mendapati wajah berbinar Leona. Ia mengangguk, sebuah pelukan ia rasakan saat Leona memeluknya.


Ia terdiam, tubuhnya mendadak kaku.


"Terima kasih, Darren." Ujar Leona, Darren mengangguk tangannya terangkat hendak membalas pelukan itu tetapi Leona malah melepaskannya.


Perempuan itu terlihat kikuk "Maaf, aku terbawa suasana."


-


-


Seperti janji Darren seminggu lalu, kini mereka sedang berada di dalam mobil menuju Pantai Naksan. Pantai ini terbentang sekitar 4 kilometer dengan hamparan pasir putih dan juga dikelilingi oleh hutan pinus, terletak di Yang Yang, Gangwon-do. Dan menempuh perjalanan selama empat jam dari Seoul.


Leona tak henti-hentinya dibuat kagum, meski perjalanan menuju Pantai membutuhkan sedikit perjuangan. Tetapi semua itu terbayar sudah begitu mereka tiba di sana, hamparan pasir putih dikelilingi hutan Pinus menambah daya tarik.


Leona langsung berlari ke pinggir pantai, ia melompat-lompat kegirangan "Indahnya!".


Darren yang melihatnya dibuat tersenyum, rasa lelah harus mengemudi cukup jauh tapi setelah melihat semua ini. Rasa lelahnya hilang, bahkan kini ia mengikuti jejak Leona.


Suasana pantai yang tak terlalu ramai membuat mereka bebas berlarian, Leona membalas Darren yang melemparkan air padanya. Leona menutupi wajahnya dengan tangan "Hentikan, Darren! Kau merusak Kardigan ku!".


"Kau bisa membelinya lagi, apa kau mau naik Banana Boat?" Ajakan Darren membuat wajah masam Leona kembali bersinar, Perempuan itu mengangguk "Aku mau, ayo!".


Keduanya perlahan menaiki Banana Boat yang telah disewakan, Leona duduk dibelakang Darren. Begitu Speed Boat dinyalakan, Banana Boat itupun perlahan ditarik menuju ke tengah pantai. Leona sontak berteriak senang begitu Banana Boat itu ditarik mengelilingi pantai, tangannya masih setia melingkar di kedua sisi pinggang Darren.


Deru Ombak dan hembusan angin yang kencang, semakin menambah semangat mereka. Beberapa menit kemudian, Banana Boat tersebut berhenti dan kembali ke pesisir pantai.


"Ini menyenangkan!" Seru Leona begitu keduanya kembali ke pasir. Darren ikut tersenyum, ya rasanya begitu menyenangkan.


"Apa kau lapar?" Tanyanya dijawab anggukan Leona "Tentu saja aku lapar, semua kegiatan ini menguras tenaga ku."

__ADS_1


Darren menggeleng melihat kelakuan Leona, "Ikut aku. Ada Restoran seafood yang terkenal disini."


Keduanya berjalan menuju Restoran yang tak jauh letaknya dari Pantai.


-


-


Berbagai hidangan Seafood segar tersaji didepan mereka, Darren hanya dapat terdiam melihat kelakuan Leona yang memesan semua ini.


"Kau bisa menghabiskannya?".


"Tentu saja, Jarang-jarang kan aku memakan semua Seafood segar ini." Ujar Leona sambil mengambil Abalon yang sudah dibumbui butter dan bawang putih, mencelupkannya ke saus Chojang sebelum melahapnya.


Seketika sensasi rasa pedas, manis, dan gurih menyatu dalam mulutnya.


"Ini lezat sekali! Kau pun wajib mencobanya." Leona menyodorkan sumpit berisi Abalon seperti yang dimakannya ke arah Darren.


Pria itu mulai menerima suapannya, ia mengunyahnya perlahan dan benar saja rasanya sangat enak. "Enak kan?" Tanya Leona dijawab anggukan olehnya dengan mulut penuh.


Kini mereka menikmati hidangan laut itu diselingi candaan, diakhiri dengan Lemon Jus.


-


-


Tak terasa Sore pun tiba, inilah saat yang dinantikan oleh beberapa orang. Melihat Sunset, Leona dan Darren telah duduk di ayunan yang disediakan di sana. Duduk berdampingan dengan mata yang mengarah langsung pada pantai, keduanya asik menyelami Indahnya senja di pesisir pantai.


"Hei, terima kasih sudah mengajakku kemari." Ucap Leona tanpa mengalihkan perhatiannya dari Sunset.


Darren mengangguk, kepalanya menoleh ke arah Leona. Biasan cahaya jingga dan pink keunguan, menimpa wajah Leona. Satu kata yang menggambarkan, indah.


Darren seolah tak bisa mengalihkan pandangannya ke arah lain, keindahan didepan matanya membuat ia terpaku. Degupan keras di dadanya tak membuat ia sadar, degup yang menyenangkan. Darren meneguk ludahnya gugup.


"Hei.. " Panggilnya lembut membuat Leona menoleh kearahnya. Seketika benda basah dan lembut mengenai bibirnya, bola mata cokelat itu membulat terkejut.


Darren menciumnya! Walau hanya kecupan, itu membuatnya gugup.


Ditatapnya wajah Darren dari dekat, matanya menutup secara perlahan. Kecupan itu berlangsung beberapa detik, Darren perlahan menjauhkan bibirnya. Kening keduanya menyatu, napas Leona terdengar tak beraturan. Ia begitu gugup bahkan hanya untuk membuka matanya, sampai kedua telapak tangan Darren menyentuh pipinya. Ia perlahan membuka matanya, hal pertama yang ia lihat adalah tatapan lembut Pria itu.


"Bisakah.. " Darren memberi jeda ucapannya "Bisakah kau berjanji untuk selalu di sisiku? Jangan pernah tinggalkan aku."


Leona menahan napasnya sebentar, ia menggigit bibir bawahnya gugup. Ia tak tau harus menjawab apa, ia pun tak ingin pergi tapi bagaimana pun posisi ini harusnya milik Leona Lee.


"Kumohon, berjanjilah." Darren kembali bicara dengan nada putus asa.


Leona tak sanggup menolaknya, ia mengangguk lalu berkata "Aku berjanji."


Sebuah senyum terbit di bibir Darren, Pria itu perlahan mendekatkan wajahnya lalu mengecup lama kening Leona. Kemudian memeluknya erat, "Terima kasih."


Leona membalas pelukan itu tak kalah erat, air mata perlahan menetes melewati pipinya.


Matanya memandang sendu ke depan.

__ADS_1


Tuhan. Ijinkan aku bersamanya, walau hanya untuk menggantikan Leona Lee. Ijinkan aku, mencintainya dengan caraku.


__ADS_2