
LK Group. Sebuah Perusahaan besar di Korea Selatan dalam bidang Pembangunan dan IT.
Itulah yang tertera di internet saat Leona mencarinya, ia masih dalam perjalanan menuju Perusahaan itu. Pakaiannya telah rapi dengan dress hitam yang bagian tangannya mencapai siku, panjangnya 5 cm dibawah lutut. Ya itu yang diberikan Ana saat ia meminta mencarikan pakaian yang cocok untuk pergi ke kantor.
Tangannya yang berada dipangkuan, saling meremas saking gugupnya.
Dan tak berapa lama, mobil hitam mahal itu tiba di LK Group. Pintu dibuka oleh supir, Leona keluar dari sana sambil memandang kagum bangunan megah didepannya. Seorang Pria muda menghampirinya, "Silahkan Nona."
Leona mengangguk sambil mengikuti Pria itu, hingga mereka tiba disebuah ruangan dengan tulisan Leona Lee Room.
"Saya sudah menyiapkan berkas-berkas yang diperlukan di dalam. Jika anda butuh sesuatu, anda bisa menghubungi saya. Saya permisi," ujarnya hendak pergi tetapi Leona menghentikannya.
"Terima kasih, Shin." Ujar Leona setelah membaca name tag yang dikenakan Pria itu, Shin nampak terdiam beberapa saat sebelum tersenyum sambil mengangguk lalu melanjutkan perjalanannya.
Leona membuka pintu di depannya, melihat apakah ada orang atau tidak. Setelah tidak menemukan siapapun, ia lalu masuk ke dalam. Ruang kerja Leona Lee ini lumayan luas, Ruangan dipenuhi dengan rak buku, satu set meja kerja dan komputer juga mesin pembuat kopi.
Ia mulai mendudukkan dirinya di kursi kerja yang nampak nyaman, tangannya mulai membuka berkas-berkas yang sudah tersimpan di meja. Keningnya mengernyit tak mengerti dengan isi berkas yang di cek nya, teringat oleh ucapan Shin. Ia pun menghubungi Pria itu lewat ponselnya, ia mulai mencari nama Shin dan langsung menghubungi begitu mendapat nomornya.
Tak berapa lama Shin tiba di ruangannya, "Ada yang bisa dibantu?"
"Iya, Apa yang harus kulakukan dengan semua berkas ini?" Tanyanya membuat Pria itu memasang wajah heran, Leona yang melihatnya langsung melanjutkan ucapannya "Aku sedikit pusing, jadi aku agak lupa."
Shin mengangguk mengerti walau sedikit ragu, ia lalu berjalan ke samping Leona. Ia mulai membuka satu berkas lalu menunjukkannya pada Leona, "Anda hanya perlu membacanya lalu menandatangani berkas yang menurut anda penting untuk kerja sama ini."
Leona mengangguk mengerti, ia kembali berbicara "Bisakah kau membantuku? Lalu panggil saja aku Leona, aku sedikit tak nyaman dipanggil Nona."
"Ah ya, dan jangan terlalu formal padaku."
Shin mengangguk kaku kemudian duduk di kursi berhadapan dengan Leona, ia mulai memilah Berkas yang sudah ia pelajari beberapa waktu lalu. Leona melihat-lihat buku yang ada di sana, lalu mengambilnya satu. Ia membuka nya dan mendapati Nama Leona Lee di sampul depan buku itu, diikuti tanda tangannya. Ia mengangguk mengerti sebelum membawa buku tersebut dan kembali duduk di kursi, Shin langsung menyerahkan beberapa berkas yang sudah ia periksa. Dan Leona menerimanya lalu membubuhkan tandatangan Leona Lee pada berkas tersebut, Tandatangan Leona Lee agak sulit, tapi untung saja ia melihat buku tadi.
Berkas selesai dalam beberapa menit, Leona langsung meregangkan tubuhnya yang terasa kaku. Ia menoleh kearah jam dinding yang menunjukkan pukul 11, menjelang makan siang.
Ia mengelus perutnya yang terasa keram, ia lapar. Lalu matanya beralih pada Shin yang sibuk dengan sebuah buku, "Shin, bisakah kita makan sekarang?".
Shin menyimpan bukunya lalu menatap jam tangannya, kemudian mengangguk "Itu terserah kamu, aku akan menyiapkan mobilnya."
Pria itu hendak pergi sebelum Leona memanggilnya "Tunggu! Aku ikut kesana."
Shin hanya mengangguk lalu kembali berjalan diikuti Leona.
Matanya menjelajah kesana kemari mencoba mengingat letak ruang di kantor ini, hingga matanya terpaku pada sosok Pria yang berjalan kearahnya.
__ADS_1
Keduanya berhadapan dan saling menatap, ah ternyata Pria itu ada di sini. Leona menatap Shin yang membungkuk hormat sebelum kembali berdiri tegak, Darren masih menatapnya datar. Pria itu berlalu begitu saja melewatinya, membuat Leona yang sempat menahan napasnya kini menghembuskan napas lega.
Keduanya kembali melanjutkan perjalanan yang tertunda menuju parkiran.
-
-
Mereka tiba disebuah Restoran cepat saji yang tak jauh dari kantor, setelah pesanan tiba mereka mulai memakannya.
Shin makan dengan santai sambil memperhatikan menu yang dipilih Leona, Pasta dengan saus jamur. "Apakah enak?" tanyanya dibalas anggukan Perempuan itu.
"Ini enak sekali, aku sangat suka." Jawabnya dengan mulut penuh.
Shin terdiam sejenak sebelum terkekeh geli mendapati cara makan Leona, ia mengambil tisu lalu menyodorkannya pada Leona.
Leona menerimanya dengan canggung lalu kembali melanjutkan makannya. Berbeda dengan Leona, Shin malah sibuk memperhatikan daripada menikmati makanannya.
-
-
Rasanya ia begitu merindukan hidupnya sebagai Leona Miskin, Namun ia tersadar satu hal dari hidup Leona Lee. Bahwa Menunggu tak akan membawamu pada perubahan, usahamu lah yang akan membawamu pada perubahan menuju kesuksesan.
Leona memandangi busa-busa ditangannya, lalu tersenyum lembut "Terima kasih, Leona Lee."
-
-
Pintu kamar terbuka begitu Leona selesai merapikan rambutnya, ia menoleh kearah pintu dan mendapati Darren berada di sana.
Ia berdeham lalu berdiri menghadap padanya, "Ada apa?" Tanyanya canggung.
Pria minim ekspresi itu menjawab "Bersiaplah, Tuan Lee mengundang kita makan malam di sana."
Leona memandang Darren ragu, namun ia memutuskan untuk bertanya "Pakaian seperti apa yang harus ku pakai?".
Darren terlihat menaikan sebelah alisnya "Pakailah seperti biasanya." Pria itu berbalik hendak pergi namun berhenti lalu kembali bicara, "Ku tunggu 10 menit."
Leona mendengus kesal, dasar Pria itu. Ia terdiam sejenak, otaknya mendadak buntu. Hingga ingatannya melayang pada kejadian pagi tadi, saat Shin menelponnya jika Keluarganya mengundang mereka makan malam.
__ADS_1
Astaga, ia bahkan tidak tau bagaimana Orang Tua Leona Lee. Di dalam Novel tak pernah dijelaskan hingga ke detailnya, yang ia tau kedua orang tua Leona Lee adalah seorang Perfeksionis.
Ia lalu berdiri menuju Lemari, mencari pakaian yang dikiranya cocok dipakai ke sana.
Hingga sebuah dress membuatnya terpaku, ia mengambilnya lalu bercermin dan senyum terbit dibibir nya. Ia dengan segera mengenakan dress tersebut, dilanjut menata rambutnya yang keriting menjadi bergelombang. Dilanjut dengan make up yang simpel dan anting mutiara kecil sebagai pemanis, untuk sepatunya ia memilih high heels krem 3 cm.
Sheat Dress model brokat warna hitam selutut, menjadi pilihannya untuk malam ini. Yang ia baca dari Novel, Leona Lee selalu memakai pakaian formal. Tetapi ketika melihat dress itu menggantung indah dengan masih terbungkus rapi, membuatnya tak tahan untuk mencoba.
Pintu kembali terbuka, ia menoleh ke belakang dan menemukan Darren telah rapi dengan Jas biru tua nya. Rambutnya nampak disisir rapi, aroma maskulin tercium sampai membuatnya tanpa sadar terus menghirup aroma manis itu.
Darren, Pria itu terpaku menatap Leona yang nampak berbeda. Hingga ia tersentak dari lamunannya, ia berdeham sebelum berbicara "Cepat! Jika kau bersolek begitu lama, kita akan terlambat."
Aroma Pria itu masih ada bahkan ketika Darren berlalu dari kamarnya, pipinya bersemu merah. Ia menepuk-nepuk pipinya sambil tersenyum, kemudian dengan cepat ia berjalan menghampiri Pria itu.
-
-
Mereka masih dalam perjalanan, butuh waktu sekitar 25 menit untuk tiba di kediaman Keluarga Lee. Leona dan Darren sama-sama terdiam, Leona menatap Darren yang sedari tadi terus menatap keluar.
Tangannya perlahan mengambil Ponselnya yang berada di dalam Tas kecil dipangkuan nya, ia mulai menatap pantulan dirinya di dalam Kamera ponsel.
Senyum manis tersungging dibibir merah merona nya, sementara itu Darren mengernyit heran melihat kelakuan Perempuan disebelahnya. Ia sesekali melirik Leona dengan ekor matanya, Perempuan itu masih asik memotret dirinya sendiri.
Mata keduanya bertemu, Leona memandang Darren dengan tatapan curiga. "Apa aku begitu cantik sampai kau terpesona?".
Darren menatap dirinya cepat, ia mendengus tanpa menjawab. Leona yang melihatnya melunturkan senyum, ia cemberut sebelum tersenyum beberapa detik kemudian. Tubuhnya langsung menempel pada Darren, membuat Pria itu terkejut dan menatapnya yang kini tengah mengarahkan kamera ponsel pada keduanya.
"Hei, jangan lihat padaku! Lihat ke kamera dan katakan, Kimchi!".
Satu foto telah didapat. Leona melihatnya dia cemberut kala mendapati hasilnya kurang memuaskan, Pria itu malah menatapnya kaget. Namun tak berapa lama ia tertawa geli, kembali pada posisi duduknya lalu berkata "Wajahmu manis sekali di sini."
Pria itu tersadar dari lamunannya ia memandang Leona yang menertawakan dirinya di dalam foto, "Hapus!".
Leona menatap Darren sengit sambil memasukkan ponselnya ke dalam tas, "Tidak mau, kita kan belum pernah berfoto bersama. Ini sebagai kenang-kenangan, tau."
Darren menghela napas membiarkan, hingga tak berapa lama mobil mereka tiba disebuah Rumah yang besarnya dua kali lipat dari Rumah Darren.
Leona segera keluar dari mobil bahkan Sopirnya saja belum turun, Leona memandang kagum Bangunan bergaya Eropa di depannya. Ia menggeleng beberapa kali sebelum tersadar, Darren menatapnya aneh. Leona yang melihatnya menggaruk tengkuknya yang tak gatal, Pria itu lalu menggandeng tangannya dan membawanya masuk ke dalam.
Mereka langsung disambut beberapa orang Maid yang berbaris rapi, lalu membawa mereka ke ruang makan dimana anggota keluarga telah berkumpul. Leona menahan napasnya kala mendapati orang-orang asing di sana, orang tua Leona Lee saja ia tak tau lalu bagaimana dengan yang lainnya.
__ADS_1