My Sweet Romance

My Sweet Romance
Bab 12


__ADS_3

Hari yang cerah untuk hati yang bahagia, itu mungkin gambaran yang pas dirasakan Leona pagi ini. Ia berjalan menuju ruang kerjanya, namun karena pikirannya melayang ke kejadian semalam membuat ia harus menabrak seseorang.


Leona meringis merasakan sakit di bokongnya yang jatuh duluan ke lantai, sebuah tangan terulur kearahnya. Ia mendongak dan mendapati Pria tampan dengan jas kerjanya yang terlihat mahal. "Kau baik-baik saja, Nona?" Tanyanya.


Leona berdiri tanpa menerima uluran tangan tersebut, ia membungkuk sekali sambil berucap "Maaf, ini salah saya. Saya permisi dulu." Leona pun berlalu dari sana tanpa menoleh ke belakang.


Pria itu terlihat menyeringai saat tau tangannya tak mendapat respon, "Menarik." Kemudian ia berlalu dari sana dengan arah berbeda dari arah Leona.


-


"Nona, hari ini ada rapat pukul 10." Ujar Shin begitu Leona tiba di ruangannya.


Leona duduk di kursinya, membuka Laptopnya lalu mengangguk "Oke. Apa kau sudah siapkan berkas yang diperlukan?". Shin mengangguk lalu menyerahkan dua berkas dan menyimpannya di meja.


"Ini, Nona. Untuk saat ini, Nona hanya perlu menandatangani berkas-berkas ini." Ucap Shin sambil menyerahkan berkas lain disisi meja, "Mungkin seperti itu dulu. Saya permisi."


Leona mengangguk, tatapannya beralih pada ponselnya yang berdering. Ia tersenyum saat menemukan nama Darren disana.


"Halo, Sayang.." Sapa nya dengan nada menggoda, dapat ia dengar Darren terkekeh di seberang.


"Halo juga, Istriku yang jelek.." Balas Darren.


Wajah Leona langsung cemberut "Jahat! Bisa tidak sih, kau bicara manis."


Darren tertawa kecil, "Baiklah, maafkan aku. Ah ya, jam 10 ada rapatkan? Aku akan kesana sebelum jam 10, jangan kemana-mana sebelum aku datang. Mengerti?".


Leona mengangguk namun saat ingat Darren tak bisa melihatnya, ia lalu menjawab "Iya.. Iya. Setelah itu, maukah Pangeran Darren makan siang bersama Puteri?".


Diseberang sana Darren menggeleng sambil tersenyum mendengarnya, "Siap, Puteri. Setelah itu, berikan Pangeran ini sebuah ciuman yang memabukkan."


Leona tersentak, ia menjauhkan ponselnya sebentar sebelum kembali menempelkannya ditelinga lagi. "Astaga, mendengar kau berkata manis ternyata bukanlah hal yang baik."


"Ah Puteri ternyata menyukainya jika langsung. Baiklah, persiapkan dirimu. Bye!".


Panggilan pun terputus, Leona menggelengkan kepalanya beberapa kali sambil tertawa pelan. "Konyolnya, untung dia tampan."


-


-


Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh, Leona masih setia menunggu Darren di ruangannya sesuai titah sang suami.


Tak berapa lama Pria yang ditunggunya muncul dengan senyum lebar, "Pangeran Darren datang!" Serunya lalu memeluk Leona begitu tiba dihadapannya.


Leona tersenyum geli sambil membalas pelukan Darren, "Berhentilah berkata Pangeran dan Puteri! Itu terdengar lucu."


Darren merenggangkan pelukannya tanpa melepaskan kedua tangannya dari kedua sisi pinggang ramping Leona, ia memasang wajah cemberut. "Padahal kau yang memintanya, sekarang berikan aku ciuman yang memabukkan itu."


Darren memajukan bibirnya membuat Leona tertawa geli, "Hentikan." Ia menutupi bibir Darren dengan telapak tangannya.


Darren membuka matanya perlahan, wajahnya berubah serius. Tangannya perlahan menggenggam tangan Leona yang menutupi bibirnya, Leona terdiam saat Pria itu memandangnya intens. Seketika ia menjadi gugup, matanya menjelajah ke sekitar asal jangan menatap mata Darren.

__ADS_1


"Hei, lihat aku." Panggil Darren dengan nada lembut, mau tak mau Leona menatapnya tepat ke mata. Keduanya terdiam saling menyelami mata masing-masing, Leona menutup matanya begitu wajah Darren mendekat. Genggamannya pada tangan Darren semakin erat, ia menahan napas.


Beberapa sentimeter lagi kedua bibir itu bertemu, sebelum pintu terbuka dan mengejutkan keduanya.


Darren mengerang kesal, sementara Leona menunduk malu. Darren menatap datar seseorang yang sudah merusak momen indah itu, seketika tatapan dingin ia berikan saat melihat Seseorang yang ia benci berdiri di sana.


"Ah, Jangan salahkan aku. Pintunya tak terkunci." Ucap Pria itu dengan nada yang tak terdengar menyesal.


"Sekarang, pergilah!" Ujar Darren menatap tak minat Pria itu.


Pria itu terkekeh "Jangan marah begitu, Adikku. Aku hanya memberitahumu, jika rapat akan segera dimulai."


Darren tak menjawab, Leona mengintip siapa gerangan Pria yang membuat hawa disekitarnya menjadi suram. Ah, ternyata Pria yang tak sengaja ia tabrak tadi. Kedua matanya tanpa sengaja bertatapan dengan Pria itu, membuat Si Pria tersenyum aneh "Hai, kau memiliki isteri yang manis juga."


Emosi Darren sudah mulai naik, ia menatap tajam Pria itu "Jangan ganggu dia, pergilah sialan!".


Pria itu mengangkat bahunya acuh sebelum keluar dari sana, "Ah ya. Sepertinya, aku tertarik padanya." Pria itu kembali melanjutkan perjalanannya tanpa menoleh pada Darren yang mulai dikuasai amarah.


Leona dapat mendengar napas Sang Suami tak beraturan, wajahnya memerah dengan kedua tangan yang terkepal.


Leona menghela napas, "Hei, tenanglah." Ia mengusap punggung kekar Darren sampai perlahan napas Pria itu kembali normal, Darren kembali memeluknya erat.


Ia menyembunyikan kepalanya disela leher jenjang Leona, "Tenanglah. Semuanya baik-baik saja." Ujar Leona sambil terus mengusap punggung Pria nya.


Darren mengangguk kecil, ia semakin mengeratkan pelukannya membuat Leona terkekeh "Darren, lepaskan. Ingat, kita ada rapat sekarang."


Dengan berat hati Darren melepaskan pelukannya, Leona tersenyum melihatnya. Ia mengecup kening Darren lama, walau sulit karena perbedaan tinggi badan. Darren menutup matanya sebelum membukanya kembali setelah Leona melepaskan kecupannya, "Maaf. Aku terbawa emosi tadi."


Darren mengangguk lalu menggenggam tangan Leona dan berjalan bersama menuju ruang rapat.


-


-


Suasana mencekam begitu terasa di dalam ruang rapat sejak 1 jam yang lalu, bukan hanya Leona yang merasakan tetapi semua yang berada di sana juga merasakan hal yang sama.


"Jadi tujuan dia kemari hanya untuk menatapku tajam?" Tanya Darren dengan nada sarkastik.


Shin berdeham untuk menghilangkan rasa canggung lalu menjawab "Sebenarnya Tuan Jay kemari karena diutus oleh Tuan Kim, beliau ingin Tuan Jay dapat mengerti dengan sistem baru perusahaan."


Jay tersenyum mendengar penjelasan Shin. "Ah, bukan hanya itu saja. Sepertinya kini aku punya tujuan lain." Ujarnya dengan mata tak lepas dari Leona yang sedari tadi duduk di samping Darren dengan gelisah.


Tangan Darren terkepal erat, wajahnya memerah. Ia tak suka miliknya disentuh orang lain, bahkan jika itu hanya ditatap saja.


Semua yang ada di sana dapat merasakan suasana yang semakin tak nyaman, Leona mengambil jalan pintas dulu "Sebaiknya rapat hari ini selesai sampai di sini dulu. Jika ada pertanyaan lain, kalian bisa mengatakannya kepadaku."


Leona menatap Shin meminta bantuan, Shin yang tanggap segera berbicara. "Baiklah. Malam ini ada undangan penyambutan Tuan Jay di kediaman keluarga Kim, datanglah ke sana pukul 8 dan nikmati makanan di sana. Sekarang rapat selesai, Terima kasih."


Semua peserta rapat mengangguk, mereka begitu saja pergi seakan telah menanti waktu saat ini.


Sementara itu Darren yang mendengar ucapan Shin, merasa terkejut. Ia menggenggam tangan Leona dan membawanya pergi dari sana tanpa sepatah katapun, Jay masih setia memperhatikan semua itu.

__ADS_1


-


-


"Heh, Pak Tua!" Seruan Darren begitu tiba di ruangan Leona, Pria itu langsung menghubungi seseorang. Leona mengernyit mendengar panggilan Darren, Pak Tua? gumamnya.


"Kenapa harus ada penyambutan untuk Pria itu?" tanpa memberikan kesempatan bicara pada lawan bicaranya, Darren kembali bertanya.


"Tentu saja, dia juga puteraku. Dan kau ingatkan, jika aku belum menyetujui 100 persen bahwa kau yang akan menggantikan ku di Perusahaan utama."


Darren berdecak kesal "Dengar Pak Tua, aku lebih baik bahkan seribu kali lebih baik dari dia." Ujarnya penuh penekanan.


Pria diseberang telepon terkekeh, "Benarkah? Lalu apakah kau akan ketakutan, saat aku katakan kau akan bersaing dengan Jay?".


Darren tentu saja terkejut, setelah Jay pergi ke Inggris sejak 4 tahun lalu dan kembali hari ini. Kenapa Ayahnya tiba-tiba menginginkan ia bersaing? Bukankah dulu Pria itu terlihat setuju dengan ia yang menjadi penggantinya?.


"Tak ada kata ketakutan dalam kamus ku, dan akan ku pastikan jika posisi utama adalah milikku." Ujarnya penuh penekanan lalu memutuskan panggilan tanpa perlu mendengar balasan di sana.


Pria itu langsung terduduk, kedua tangannya meremas kesal rambutnya. Leona yang melihat dan mendengar semuanya sejak awal, seolah dapat merasakan apa yang Darren rasakan.


Tangannya secara perlahan mengusap lembut punggung Sang Suami, ia lalu berbicara dengan nada lembut "Tenanglah."


Darren memindahkan kedua tangannya ke tubuh Leona, menariknya pelan lalu mendudukkannya di pangkuannya. Leona tersentak apalagi saat merasakan Darren yang memeluknya, ia hendak melepaskannya tetapi mendengar suara Darren yang terdengar rapuh. Tanpa sadar membuatnya merasakan sedih juga.


"Aku bisa, kan? Terkadang aku ragu dengan kemampuanku, tetaplah di sampingku."


Leona mengangguk dalam pelukan Darren, "Ya, aku akan selalu di sampingmu. Kau pasti bisa, kau adalah Darren yang tak pernah menyerah."


"Terima kasih." Ujar Darren lirih semakin mengeratkan pelukannya.


-


-


Leona menatap Darren yang bergelung dalam selimut sejak kepulangannya dari kerja sejam yang lalu, sekarang sudah pukul 7 malam. Jam 8 mereka harus sudah berada di Kediaman keluarga Kim, untuk memenuhi undangan itu. Darren sejak tadi merajuk dan tak mau pergi, ya sejujurnya ia pun malas pergi. Tetapi bagaimanapun mereka harus menghormati Ayah Darren, sekaligus mencari informasi-informasi yang mungkin penting.


"Baiklah, kalau kau tidak mau ikut maka aku akan pergi berdua dengan Shin." Ujar Leona dengan kesal. Perlahan selimut itu turun dan menampakan wajah Darren, "Yasudah aku bangun. Padahal aku tak mau kesana, tapi aku lebih tak mau kau pergi dengan Pria lain."


Darren berdiri lalu berjalan menuju Kamar mandi, Leona yang melihatnya tersenyum lucu. Ia lalu berjalan menuju lemari untuk menyiapkan pakaian Darren, setelahnya ia duduk di meja rias dan mulai menata rambutnya menjadi bergelombang.


Sebagai pemanis, ia menambahkan anting-anting mutiara kecil dikedua telinganya. Ia tersenyum menatap dirinya yang dipantulkan cermin, pintu kamar mandi terbuka dan menampakkan Darren dengan bertelanjang dada dan hanya memakai handuk untuk menutupi bagian bawahnya.


Darren tertegun, sementara Leona merona malu sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain. Darren berjalan menghampiri tanpa mengalihkan tatapannya, walau hanya riasan wajah yang sederhana namun mampu membuatnya terpesona.


"Kau terlihat lebih cantik." Pujinya sambil mengelus pipi Leona lembut, "Darren hentikan! Kita harus pergi, kalau tidak nanti terlambat." Leona mengelak saat Darren berusaha memberinya kecupan bertubi-tubi diwajahnya.


Darren mengerucutkan bibirnya "Baiklah, tapi sebelum itu berikan aku kecupan di sini." Ujarnya sambil menunjuk bibirnya sendiri. Leona tersenyum geli, ia menyentuh kedua rahang Darren lalu mengecup singkat rahang Pria itu.


"Sudahlah, ayo. Sekarang ganti bajumu."


Darren menghela napas sebelum mengikuti apa yang diucapkan Leona, walau ia sungguh tak ingin pergi.

__ADS_1


__ADS_2