My Sweet Romance

My Sweet Romance
Bab 5


__ADS_3

Kedua tangannya saling meremas gugup, ia tak berani memandang ke depan. Dimana Seorang wanita baya menatapnya dingin, wanita yang sepertinya adalah Ibu Leona Lee.


Makanan mewah yang tersaji didepannya, sama sekali tak membuat selera makannya bangkit. Pasalnya Wanita itu terus menatapnya sejak ia memasuki Ruang makan, menatapnya dingin seolah dirinya adalah musuh.


"Makanlah," titah Darren yang duduk disampingnya membuatnya mau tak mau memakan hidangan tersebut, rasanya begitu sulit walau hanya untuk sekedar menelan.


Beberapa menit kemudian, mereka selesai makan. Jeremy Lee, Ayah Leona Lee selaku Kepala Keluarga Lee memulai percakapan.


"Bagaimana pernikahan kalian?".


Leona menatap Darren yang turut menatapnya, "Pernikahan kami baik-baik saja." Jawab Darren.


"Lalu apakah ada kabar tentang Penerus?" Pertanyaan Jeremy membuat Darren dan Leona bingung, namun tak berapa lama Darren berdeham sebelum menjawab "Belum ada, tapi kami akan berusaha lagi."


Jeremy mengangguk mengerti, lalu memandang serius mereka "Besok, aku akan memberimu tugas ke cabang perusahaan di Gyeonggi-do. Aku akan memberimu liburan disana selama seminggu, lakukanlah tugasmu dan berikan kabar baik. Ku harap kalian segera memberi kami Cucu."


"Uhuk.. Uhuk.. " Leona tersedak liurnya sendiri, semuanya memandang dirinya. Leona memandang horor Jeremy, apa dia bilang? Cucu? Hei cucu apanya, ia bukanlah Leona Lee.


"Maaf, tapi bukankah aku masih terlalu muda untuk memiliki anak?" Tanya Leona hati-hati.


"Kau sudah berumur 25 tahun, bukankah sudah pantas menjadi Ibu." Jawaban Jeremy membuatnya diam tak berkutik, ia lupa jika saat ini ia menjadi Leona Lee.


Hingga tak berapa lama Pria itu berdiri "Darren, masuklah ke ruang kerjaku. Ada yang ingin ku bicarakan."


Darren mengangguk sebelum mengikuti Jeremy yang sudah lebih dulu pergi, Leona memandang kepergiannya dengan gelisah. Ia tak nyaman di kelilingi Orang yang tak dikenalnya, lebih lagi dengan Nyonya Lee.


"Masih ingat juga dengan jalan pulang," Ucapan bernada ketus itu membuat Leona terdiam, ia hanya menunduk sambil berucap maaf.


Wanita itu berdiri berjalan angkuh meninggalkan Ruang makan, namun ia berbalik sebentar "Kemari lah, Nana."


Leona menatap wanita itu bingung, namun saat melihat tatapan perintah itu tanpa sadar dirinya berdiri lalu mengikuti langkah Wanita itu.


-


-


Matanya memandang takut sekelilingnya, sebuah ruangan yang berada disudut rumah. Ruangan itu begitu gelap, namun tak berapa lama lampu menyala dan membuat seluruh isi ruangan terlihat.


Leona terkejut mendapati Wanita itu sudah duduk di depannya, sambil menyilang kan kaki dan meminum segelas Wine dengan elegan.


"Sebutkan!" Titahnya, Leona mengernyit bingung dengan apa yang dimaksud.


Wanita itu menyimpan gelasnya saat tak mendapati jawaban, ia tersenyum sinis "Baru beberapa Minggu tak kemari, kau sudah lupa ternyata. Kau ingin sebuah hukuman?".


"Apa?".


Wanita itu berdiri lalu berjalan mengelilinginya, setiap langkahnya terdengar berat. Bahkan Leona merasa udara disekelilingnya hilang saat Wanita itu, menyentuh pundaknya yang polos.


"Gaun yang indah, tapi kenapa sudah tidak nampak tato yang ku buat?".


Leona tetap diam dengan pikiran yang bingung, apa maksud Wanita itu.


"Kau ingin dibuatkan Tato lagi?" Tak ada jawaban apapun membuat Wanita itu menyeringai "Baiklah, dengan senang hati kulakukan."


Wajah Leona seketika pucat saat merasakan goresan atau lebih tepatnya sebuah benda tajam, mengenai kulit pundaknya. Ia meringis merasakan perih saat Wanita itu terus menggoreskan sebuah pisau lipat, seketika darah segar keluar dari luka itu.

__ADS_1


Leona memandang kaget Wanita itu, Dia Gila! Wanita itu Gila! Dia bahkan tersenyum aneh sambil menghirup aroma darahnya, ia bergidik. Sekuat tenaga Ia mendorong Wanita itu, Leona berlari menuju pintu sambil memegangi Luka dipundaknya.


Wanita itu terkekeh sinis lalu berjalan perlahan menghampirinya, setiap langkah Wanita itu membuatnya bergetar takut.


"Wajah dan tubuhmu itu harus selalu kau tutupi, kenapa kau membantah ucapan ku?".


"Jawab aku, sialan!!" bentakan itu membuat tubuhnya semakin bergetar hebat, ia menggeleng beberapa kali. Hingga suara Darren yang memanggilnya, membuatnya tanpa sadar menghela napas lega.


Wanita itu mendengus kesal, ia mengambil sebuah selimut tipis lalu melemparnya pada Leona. Ia segera menutupi pundaknya lalu membuka pintu yang sebelumnya terkunci, ia berlari dari sana tanpa menoleh pada Wanita yang menatapnya tajam.


-


-


Leona terus berlari mencari keberadaan Darren, hingga ia menemukan Pria itu berdiri didepannya. Sebuah pelukan ia lakukan, mencoba mencari rasa aman disana. Darren yang merasakan tubuh Leona bergetar, mengernyit bingung namun dengan perlahan tangannya mengelus punggung Perempuan itu.


"Ish.. "Sebuah ringisan membuat Darren bingung, ia menatap Leona yang kini menunduk. Tangannya perlahan membuka selimut putih yang menampakkan noda merah, mata hitamnya seketika membulat mendapati beberapa luka gores di pundak putih Leona.


"Apa yang terjadi?".


Pertanyaan Darren tak mendapat jawaban Perempuan itu, Leona masih tak menghentikan tangisnya. Darren yang melihatnya segera membawa Leona keluar dari Rumah tersebut, begitu di mobil ia langsung menjalankannya. Setidaknya ia harus segera sampai Rumah jika ingin bertanya, Namun sebelumnya ia harus mengobati luka gores tersebut.


-


-


Beberapa menit kemudian mereka tiba di kediamannya, Darren menuntun Leona menuju kamarnya.


Begitu tiba dikamar, Darren langsung membaringkan tubuh Leona di ranjang. Ia beralih menuju kamar mandi, lalu keluar dengan handuk bersih, Baskom berisi air, dan kotak P3K.


Diusapnya luka tersebut dengan handuk yang telah dicelupkan air, secara perlahan lalu setelahnya ia mengambil obat merah dan mulai mengobati. Terdengar ringisan kecil disela ia mengobati, Matanya memandang dengan teliti luka itu. Seperti disengaja, untung saja tidak terlalu dalam.


"Ada apa?" Tanyanya.


"Wanita itu Gila, Wanita itu Gila," Leona bergumam lirih membuat Darren tak mengerti "Siapa maksudmu?".


Leona memandang serius Darren, ia lalu berbicara dengan nada tegas "Wanita yang seharusnya dipanggil Ibu itu, Gila. Dia menggoreskan pisau lipat dipundak ku."


Darren tersentak, Leona kembali bicara "Percayalah padaku, Wanita itu Gila. Kau tau, aku sering membaca Novel tentang Psikopat. Wanita itu tersenyum seolah ia menemukan sesuatu yang memuaskan, dia sungguh.. ".


Leona tak bisa melanjutkan ucapannya, ia menjambak rambutnya kesal. Darren yang melihatnya menghela napas, perlahan ia melepaskan tangan Leona dari rambutnya.


"Aku percaya padamu, sekarang tidurlah."


Leona menggeleng pelan, ia menunduk lalu berucap ragu "Bisakah kau menemaniku? Dulu selalu ada sahabat yang memelukku saat takut."


Darren terdiam sejenak sebelum mengangguk, ia ikut membaringkan dirinya di sampingnya. Leona yang melihatnya tersenyum lembut, setidaknya masih ada Darren ketika ia tak mengetahui keberadaan Irene.


Tak berapa lama matanya terpejam, mengarungi mimpi dan berharap melupakan sejenak masalah yang ada.


Darren masih setia mengelus lembut rambut Leona, ia memandang wajah damai Leona saat tertidur. Pikirannya melayang pada ucapan Leona, apa benar Nyonya Lee yang melakukan perbuatan buruk pada Leona? Sepertinya ia harus menyelidiki semuanya, sebenarnya ia sudah menaruh curiga pada Wanita itu. Pasalnya setiap Mereka kesana, Leona selalu pulang dalam keadaan lelah.


Lalu pikirannya melayang pada ucapan Jeremy, Ayah mertuanya. Anak ya? Rasanya aneh ketika ia mendengar permintaan itu, Ia dan Leona sudah bersahabat sejak kecil. Ia merasa aneh jika menyentuh Leona, Perempuan yang sudah ia anggap adik.


-

__ADS_1


-


Pagi kembali menyapa, Leona masih memejamkan matanya. Ia terus mencari kehangatan dari benda di depannya, begitu mendapatkannya ia langsung melesakkan tubuhnya kesana.


Sementara itu Darren perlahan membuka matanya, kesadarannya segera pulih saat sesuatu bergerak disampingnya.


Matanya membulat kaget ketika menemukan Leona yang tertidur dalam pelukannya, seketika ingatannya melayang ke kejadian semalaman. Ia menghela napas lega, untung saja ia tak melakukan hal aneh.


Ia terkekeh geli mendapati wajah lucu Leona, Perempuan itu tetap manis walau masih tertidur. Matanya lalu beralih kearah jam dinding, seketika ia tersentak kala menemukan jarum jam menunjukkan pukul 8 pagi.


Tubuhnya langsung terduduk membuat Leona yang tertidur disampingnya terkejut, Perempuan itu membuka matanya perlahan. Dan menemukan Darren tengah berdiri hendak keluar dari kamarnya, "Kenapa kau terburu-buru?".


Darren menghentikan langkahnya "Kita harus pergi pukul 9, Tuan Lee memberi titah padaku untuk mengurus Cabang perusahaan di Gyeonggi-do."


"Lalu kenapa kau mengajakku?" Tanyanya bingung.


Darren menghela napas lelah lalu menjawab pelan "Sekaligus bulan madu untuk kita."


"Apa?" Leona terkejut, ia kembali teringat ucapan saat Makan malam itu.


Darren yang melihatnya hanya memandang datar, Kembali ia melanjutkan langkahnya.


"Astaga, apa yang harus kulakukan?"


"Ini Gila, Ini Gila, Ini Gila... " Gumamnya.


-


-


Tak berapa lama Leona sudah duduk manis di dalam mobil bersama Darren, mereka sedang menuju Gyeonggi-do. Leona mendengus kesal saat teringat Darren memaksanya ikut, padahal ia sudah menolaknya dengan keras.


Darren yang melihatnya hanya memandang sekilas sebelum kembali fokus pada kemudi, "Tenang saja, aku tak akan menyentuhmu. Kita hanya perlu berakting seperti biasa."


Leona terdiam, ya setidaknya Pria itu sudah berucap seperti tadi "Baiklah, kau harus berjanji! Jangan menyentuhku kecuali aku yang mau, Itu pun mustahil."


Darren berdecak malas "Ya, aku janji. Lagipula tubuhmu tak akan membuat tubuhku bereaksi."


Ucapan Darren sukses membuatnya kesal, "Dasar Aneh!".


Darren yang mendengarnya terkekeh, entah mengapa ia merasa akhir-akhir ini sering tersenyum.


-


-


Sekitar Satu Jam kemudian mereka tiba di Gyeonggi-do, Sebuah tempat yang berada di sekeliling Seoul. Gyeonggi juga terkenal dengan pesona keindahan alamnya.


Leona memandang takjub pemandangan alam yang terhampar di depannya, Ia mengikuti langkah Darren menuju Rakkojae Seoul Bukchon Hanok Village Entire Hotel.


Tempat mereka beristirahat.


(Rakkojae Seoul adalah hotel hanok tradisional mewah pertama dan utama yang terletak di dalam Bukchon Hanok Village. Hanok ini dirancang untuk mengakomodasi kenyamanan kehidupan modern.)


Leona segera menyimpan Kopernya disudut ruangan, ia berdiri lalu berkeliling mengitari Village tersebut. Pandangannya beralih pada Darren yang terlihat hendak pergi, "Mau kemana?" Tanyanya.

__ADS_1


"Aku ada urusan, jika kau ingin jalan-jalan pergilah sendiri." Lalu ia pun pergi dengan tergesa-gesa tanpa menoleh pada Leona yang terlihat kesal, ia mendengus.


"Kasihan sekali Leona Lee, Punya Orang tua yang aneh dan Suami yang tak peduli. Malangnya.."


__ADS_2