
Bulan Oktober telah tiba, musim panas berganti dengan Musim gugur. Salah satu musim favoritnya, karena ia dapat melihat pohon maple atau pohon ginko yang bertebaran dengan daunnya yang memerah atau menguning.
Leona memandang langit yang begitu cerah, bahkan beberapa tanaman sayur, buah, dan bunganya tumbuh dengan subur. Ia tersenyum namun senyumnya sedikit memudar, coba saja Darren di sini dan menikmati semua dengannya. Sebulan sudah berlalu, Darren semakin sibuk di perusahaan. Dia berkata bahwa ia harus fokus mengejar target, bulan depan adalah penentuan dari segala usaha yang telah dilakukannya.
Leona memetik beberapa sayuran yang tanam, kemudian beralih memetik bunga rose yang mekar dengan indah. Harumnya begitu semerbak, ia tersenyum lalu menyimpan beberapa tangkai dengan bunga Lotus.
Leona menghentikan aktivitasnya saat ponselnya berbunyi, dilihatnya siapa yang menghubungi. Ia mendengus kesal ketika mengetahui siapa yang meneleponnya, seseorang yang sudah mengganggunya dua bulan terakhir tepatnya ketika Darren sibuk di perusahaan.
Tanpa mengangkatnya, Leona kembali pada kegiatannya namun ponsel kembali berdering yang kali ini dengan beruntun. Ia mengeceknya saat Jay mengirimnya pesan dengan foto, ia mengernyit lalu membukanya. Seketika matanya membulat saat menemukan foto dimana sosok menyerupai Darren dan Irene memasuki sebuah hotel di malam hari, dengan tangan Darren yang terlihat memeluk pinggangnya.
Leona terkekeh sinis, ia tak akan mudah tertipu. Lalu tangannya beralih membuka file video yang baru terkirim, yang kali ini membuatnya diam tak berkutik.
Di video itu ditulis keterangan, Kau tidak tau kan, jika suami yang kau banggakan itu sedang sibuk dengan Sahabatnya? Kalau kau tak percaya, lihatlah video ini.
Leona tertawa miris, ya di dalam video memperlihatkan Darren tengah bekerja dengan Irene disampingnya. Sesekali tawa terdengar sampai membuat gendang telinganya seolah pecah, ia menggeram kesal. Setetes air mata mengalir di pipinya dilanjut beberapa tetes kemudian, ia mengepalkan tangannya kuat. Kenapa? Kenapa Darren melanggar janjinya? Jika memang hanya urusan pekerjaan, tapi kenapa dia tak memberitahunya?
Bukankah lebih baik mendengar kenyataan secara langsung meskipun menakutkan, daripada mendengar dari orang lain dan lebih menyakitkan.
Leona mengusap wajahnya kasar, tak ada gunanya ia menangis seperti ini. Ia akan menunggu Darren pulang untuk meminta penjelasan, namun sebelum itu ada satu urusan yang harus ia selesaikan.
-
-
Leona menatap datar Jay yang duduk didepannya "Apa maksudmu dengan semua ini?".
"Santai lah sedikit, ini pertemuan pertama kita kan tanpa Pria itu? Pesanlah sesuatu."
Leona mendengus "Jangan basa-basi, aku tanya apa maksudmu?".
Jay menghela napas lalu berucap "Baiklah, tak ada maksud apapun. Tetapi aku kasihan melihatmu yang memiliki Suami tak setia sepertinya, kau sudah lihat apa yang ku kirim kan?".
"Kau tidak tau apapun tentang Darren, seberapa keras kau menjauhkan dia dariku. Dia akan kembali padaku, dan aku akan tetap mempercayainya."
Leona berdiri dan hendak pergi, tetapi tarikan Jay membawanya menuju pelukan Pria itu. Matanya membulat terkejut, ia mencoba melepaskan pelukan itu namun usahanya sia-sia karena tenaga Jay yang besar.
"Lepaskan! Kau gila!" Sentakan Leona tak berarti apapun padanya, Jay semakin mengeratkan pelukannya "Dia terlalu serakah dengan mendapatkan segala hal yang ia mau."
Dengan sisa kekuatannya, Leona akhirnya terlepas dari pelukan Pria itu.
Plak.
Sebuah tamparan keras ia berikan ke Jay, napasnya memburu "Dia tak seperti yang kau katakan, dia mendapatkan segala hal karena usahanya."
Leona berlalu dari Cafe tanpa menyadari sebuah seringai terbit disudut bibir Jay.
-
Leona menatap jam tangannya yang menunjukkan pukul 12 siang, Iya menghubungi Darren untuk makan siang bersama.
"Halo, apa kau masih di kantor?" Tanyanya begitu telepon tersambung.
__ADS_1
"Ah halo, tidak. Aku akan segera keluar untuk makan siang, ada apa?" balas Darren.
Leona tersenyum senang "Maukah makan siang bersamaku? Kita makan di restoran favorit kita."
"Maaf, aku pergi dengan para karyawan yang ada di ruangan. Aku sedang mentraktir mereka."
Senyum di wajah Leona memudar "Ah begitu ya, tak apa mungkin lain kali saja.. "
Leona terdiam, ia mengernyit mencoba memperjelas pandangannya. Ia tersentak saat mendapati Darren dan Irene baru saja keluar dari mobil, mereka terlihat memasuki sebuah restoran di seberang jalan sana. Tangannya mengepal, suara Darren di panggilan mengejutkannya.
"Apa semua baik-baik saja? Maaf ya, aku akan tutup teleponnya."
"Tunggu dulu! Apa kau, benar-benar pergi dengan para karyawan mu?" Tanya Leona memastikan, ia menggigit bibir bawahnya gugup.
Hening beberapa saat sebelum suara Darren kembali terdengar "Ya, dan mereka sudah menunggu. Maaf, aku telepon lagi nanti."
Sambungan pun terputus, Leona terdiam. Ia membisu, dalam benaknya terus bertanya Kenapa Darren tak jujur? Ia hanya berkata jika ia bersama para karyawan, tanpa menjelaskan apa yang ia lihat. Darren dan Irene terlihat pasangan, dapat ia lihat mereka tertawa saat panggilannya terputus.
Leona menghembus napas kasar, ia memanggil taksi dan memutuskan untuk kembali ke rumah.
Selama dalam perjalanan, ia hanya termenung. Bahkan ketika tiba di rumah, ia langsung masuk ke kamar begitu saja. Ana yang melihatnya dibuat heran, ia dapat melihat cahaya mulai redup dikedua bola mata Leona yang biasanya bersinar.
-
-
Matanya menatap lurus ke langit-langit kamar, ia berbaring terlentang dengan pikiran yang terus-menerus membuatnya pusing.
"Aku sudah terlalu dalam mencintaimu." Lirihnya. Kedua matanya terpejam, air mata mengalir dari sudut matanya yang tertutup.
Ia mencoba tak percaya dengan semua ini, namun saat Darren tak berbicara jujur padanya. Ia merasa tersadarkan, jika ia tak begitu penting di kehidupan Pria itu.
-
-
Leona membuka kedua matanya yang terasa lengket, ia menatap jam dinding yang menunjukkan pukul 6 sore. Ah pantas saja kepalanya begitu pusing, ia tertidur sampai malam.
Ia berjalan menuju kamar mandi, mencuci wajahnya lalu keluar menuju dapur. Di sana ia melihat Ana yang duduk di kursi makan, begitu melihatnya. Wanita paruh baya itu menghampiri dengan raut khawatir "Kau baik-baik saja? Aku begitu khawatir saat kau tak kunjung keluar dari kamar, namun saat kulihat ternyata kau sedang tidur."
"Aku baik-baik saja, hanya sedikit pusing. Eum, aku lapar. Bi, Tolong buatkan makanan, bisa?".
Ana mengangguk "Tentu, duduklah dulu. Bibi akan siapkan semuanya."
Leona mengangguk lalu mendudukkan dirinya di kursi "Bi, jika Darren ingin makan tolong siapkan untuknya." Ana menoleh heran namun mengangguk, ia sebenarnya ingin bertanya tapi rasanya tak sopan mengganggu privasi orang lain.
Tak berapa lama makanan tersaji di depannya, Leona perlahan memakannya dengan tenang. Pintu terbuka dan menampakkan Darren dengan wajahnya yang datar, Leona menatapnya sekilas sebelum kembali melanjutkan makannya.
Darren berlalu begitu saja menuju kamar, tanpa menoleh atupun menyapa. Leona yang melihatnya dibuat heran, ia berdiri tanpa menyelesaikan makannya. Lalu ia berjalan mengikuti Darren, Pria itu begitu saja masuk ke kamar mandi ketika ia tiba di kamar.
Leona berjalan menuju lemari dan mengambil pakaian untuk dikenakan Darren, ia menunggu Pria itu sambil duduk disisi ranjang. Ia akan bertanya langsung pada Darren, jika Pria itu masih tak bicara jujur Mungkin ia akan mengalah.
__ADS_1
Pintu kamar mandi terbuka, Darren keluar dengan kaos dan celana kain panjangnya. Pria itu langsung berbaring begitu saja, bahkan melewatinya seolah ia tak ada di sana.
"Darren, bisa kita bicara?".
"Hn." Hanya gumaman tak jelas yang terdengar.
"Bagaimana makan siangnya? Dan benarkah kau pergi dengan para karyawan mu?".
Darren terduduk, ia menatap Leona datar "Ya, bicara yang jelas."
"Apa kau, mengajak Irene juga?" Tanya Leona ragu.
"Kenapa kau membawa namanya? Lalu apa yang kau lakukan hari ini?" Bukannya menjawab, Darren malah kembali balik bertanya.
Leona mengedarkan pandangannya ke sekeliling lalu menunduk "Bukan apa-apa, Aku seperti biasanya. Membersihkan rumah, membaca buku, dan berkebun." Ya, ia tak menceritakan perihal ia yang bertemu dengan Jay. Lagipula ia tak mau Darren emosi kemudian terbebani pikirannya.
"Benarkah? Aku mendapat kiriman dan juga ucapan yang mengejutkan, kau mau lihat? Ini dia.." Darren mengeluarkan ponselnya, lalu menunjukkan pada Leona foto yang mengejutkan.
Foto dimana saat ia dan Jay ada di Cafe, tepatnya saat Pria itu memeluknya. "I.. Ini?".
"Itu kau kan? Melihat reaksi mu sepertinya benar, kenapa kau berbohong?".
"Aku tak berbohong, dia yang tiba-tiba memelukku. Lagipula, kau pun selalu bersama dengan Irene, kan? Saat makan siang itu pun, kau bukan bersama para karyawan mu. Kau pergi dengan Wanita itu, tertawa seolah dunia milik kalian."
"Kau memata-matai ku? Aku sudah bilang kan, jika aku hanya menganggapnya seperti adikku sendiri? Yang jadi pertanyaan adalah kau dan Pria itu pun tampak seperti kekasih, kau tidak pernah akrab dengannya. Namun kenapa aku mendapati foto kalian berpelukan?" Ujar Darren.
"Kau menuduhku?" Leona menunjuk dirinya sendiri "Iya, aku salah! Bagaimana denganmu? Saat kau memberikan perhatian pada seorang wanita meski kau menganggapnya sebagai adik, dia akan melihat mu sebagai seorang Pria. Itulah yang aku lihat dari Wanita itu, Dia menyukaimu! Karena itu aku takut!" Lanjutnya dengan nada tinggi.
Alis Darren menyatu dengan wajah yang nampak kesal "Kau ini aneh sekali, dulu saat aku selalu bersama dengan Irene. Kau biasa saja, bahkan tak pernah peduli walau hanya bertanya."
"Apakah salah jika seorang Istri peduli pada Suaminya?".
"Tidak. Tapi apakah seorang istri pantas keluar dengan Pria lain tanpa izin suaminya? Lalu berbohong dan berbicara seolah dia adalah yang paling tersakiti?!" Bentakan Darren membuat Leona menitikkan air matanya.
"Kenapa kau bicara seperti itu? Aku sudah minta maaf."
"Kau tau, sebuah pernikahan bukan hanya masalah hidup bersama dengan seseorang yang dicintai. Saat kau menikah, kepercayaan menjadi kunci utama pernikahan awet."
"Kau bicara tentang kepercayaan, lalu kenapa kau tak percaya padaku?!" Tanya Leona dengan nada tinggi.
"Karena kau.. " Darren memberi jeda ucapannya, ia berjalan ke samping Leona lalu menyibakkan rambutnya ke samping "Mengkhianati ku."
Darren berlalu keluar kamar setelah menyentuh satu titik di leher Leona, Leona terheran-heran dibuatnya. Ia berjalan menuju cermin, dan matanya membulat saat mendapati tanda merah keunguan di sana.
"Ti.. Tidak! Aku tidak tau apa ini!" Teriaknya kesal sambil mengusap kasar tanda itu agar hilang, kemudian ia tersadar jika Darren pergi.
Ia menoleh ke arah jendela dan menemukan Mobil Darren yang keluar dari pekarangan rumah, Leona menggertakan giginya.
Ia berjongkok lalu menutupi wajahnya diantara lutut, ia menangis sesenggukan di sana.
Kepalanya menggeleng beberapa kali sambil berkata Tidak, tidak dan tidak. Tanda merah itu ia tak tau bagaimana bisa ada di lehernya, ia tak pernah mengkhianati Darren.
__ADS_1
Ia mencintai Pria itu dengan segenap hatinya, tapi kenapa kehidupan cintanya begitu rumit.