My Sweet Romance

My Sweet Romance
Bab 11


__ADS_3

Shin memandang tak mengerti Leona, pasalnya Perempuan itu terus melamun bahkan sesekali ia tersenyum sambil mencak-mencak sendiri.


"Nona, kau baik-baik saja?" Tanyanya menyadarkan Leona dalam lamunannya.


Perempuan itu mengangguk, lalu berucap gugup "Tentu, aku baik-baik saja. Aku akan pergi ke Toilet sebentar."


-


Begitu tiba di Toilet, ia langsung membasuh mukanya lalu menatap pantulan dirinya di cermin. Ia menepuk-nepuk pipinya "Sadarlah, saat ini kau berada di kantor."


Namun, kenangan di Pantai seminggu lalu kembali menghampirinya. Ia lagi-lagi terbawa suasana. Setelah menikmati Sunset, mereka pergi ke penginapan di Naksan Beach Hotel yang letaknya tak jauh dari sana.


Liburan singkat itu membawa dampak yang begitu besar untuknya, ia selalu dibuat senang dan gugup ketika berhadapan dengan Darren. Tetapi entahlah bagaimana dengan Darren sendiri.


Leona kembali membenarkan makeup nya, lalu memandang pantulan dirinya dengan serius "Fokuslah! Tak peduli siapa kau saat ini, kau harus melakukan yang terbaik. Semangat!" Ucapnya menyemangati dirinya sendiri. Sampai suara beberapa wanita yang berbicara dengan beberapa kali nama Darren disebut, mengejutkannya. Ia dengan cepat pergi ke salah satu bilik toilet dan bersembunyi di sana.


"Aku tak menyangka Tuan Darren masih berhubungan dengan Wanita itu." Ucap salah seorang wanita.


"Memang siapa dia?" Tanya temannya.


"Irene, wanita itu merupakan Teman masa kecil Tuan Darren. Ada gosip yang mengatakan jika dulu keduanya hendak dijodohkan, namun entah mengapa kini Tuan Darren memilih bersama Nona Leona."


"Buat apalagi selain memperkuat Perusahaan, biasalah orang kaya seperti itu. Astaga, aku begitu kesal dengan sikap Irene. Wanita itu merasa dia adalah isterinya, bahkan kalian lihat kan tadi? Dia menyuapi Darren dengan sesekali menyentuh wajahnya."


"Ah ya, apa kalian ingat bagaimana wajah Nona Leona dulu? Dia terlihat menyedihkan dengan wajah datarnya, aku bahkan terkadang kesal melihat ia yang sok sempurna. Seenaknya memarahi orang didepan orang lain, membuat malu saja."


Mereka tertawa tanpa menyadari orang yang mereka bicarakan sedang ada di sana, bersembunyi dengan ekspresi masam. Begitu karyawan wanita itu pergi, Leona keluar dari persembunyiannya.


Ia mendengus kesal "Bukannya terus bekerja malah bergosip."


-


-


Leona kembali menuju ruangannya dengan wajah masam, Shin yang melihatnya dibuat heran.


"Shin, mulai besok buat peraturan dilarang bergosip di kantor. Dan jika ada yang melanggar akan mendapatkan peringatan, jika sampai peringatan ketiga jangan sungkan untuk memecatnya." Titah Leona membuat Shin terkejut.


"Baik. Saya permisi dulu." Melihat Shin yang sudah keluar, membuat Leona menjerit kesal.


Suara dering ponsel menyadarkannya, ia menatap ponselnya dan terlihat nama Darren terpampang di sana. Ia mendengus, tanpa menjawabnya ia membalikkan ponselnya.


Kemudian tatapannya beralih ke Laptopnya, membukanya perlahan untuk memulai pekerjaannya. Meskipun ia masih kesal tetapi ia tak boleh meninggalkan pekerjaannya, bagaimanapun saat ini ia sedang menjadi Leona Lee.


-


-


Darren memandang Leona tak mengerti, sejak ia menjemputnya untuk makan siang bersama. Perempuan itu sudah menampilkan wajah cemberutnya, ketika ditanya saja ia hanya dapat delikan.


"Ada masalah apa di kantor?" Tanya Darren untuk kesekian kalinya.


"Tidak ada." Jawab Leona, Darren terkekeh geli sampai sebuah ide hinggap di otaknya.


"Ada toko makanan manis yang baru buka, kau mau kesana? Biar aku yang traktir." Dan benar saja, ucapan Darren membuat Leona menoleh cepat kearahnya.


"Tentu saja kau yang traktir, belikan aku yang banyak." Ujar Leona lalu kembali menatap keluar kaca mobil.


Darren terdiam beberapa detik mendengar jawaban Leona, wajahnya sempat datar sebelum kembali seperti sebelumnya.

__ADS_1


"Siap, laksanakan!" Seru Darren sambil tersenyum, Leona yang mendengarnya diam-diam ikut tersenyum.


-


-


Dua gelas besar berisi es krim berbagai rasa, tersaji didepannya. Dilengkapi dengan cinnamon roll favoritnya, dan secangkir kopi untuk Darren.


Leona memandang pesanan Darren dengan heran, "Apakah kau tidak bisa memesan yang lain selain kopi? Minum terlalu banyak kopi, tak bagus untuk kesehatan."


Darren yang sedang menyeruput kopi, menghentikannya lalu menatap Leona dengan sebelah alis yang terangkat "Benarkah?" Tanyanya memastikan, padahal ia sudah tau tetapi rasanya asik jika mendengar suara Leona yang mengomel.


"Tentu saja. Jika dikonsumsi secara berlebihan, kopi bisa menyebabkan diare, meningkatkan asam lambung, menyebabkan sindrom iritasi pada usus, dan membuat tubuh mengalami dehidrasi. Itulah yang kutahu dari Internet," Jelas Leona semangat.


Darren yang melihatnya terkekeh geli "Baiklah, aku akan mengurangi minum kopi. Sebagai gantinya, kau harus membuatkan minuman enak untukku."


Leona menghubungkan ujung jari telunjuk dan jempolnya menjadi bentuk bulat, "Oke!" Ucapnya.


Kemudian ia kembali melahap es krim di depannya, begitu sensasi dingin di mulutnya terasa. Leona menggerakkan kakinya di lantai dengan cepat, "Dinginnya!" Serunya.


Darren tersenyum sambil menggelengkan kepalanya pelan, Leona dan segala tingkahnya yang mampu membuat ia tersenyum.


"Makanlah, makanan manis bisa membuatmu bahagia." Leona menyodorkannya sepotong cinnamon roll ke hadapan mulut Darren, Pria itu terdiam sebelum menerima suapan itu.


"Enak tidak?" Tanya Leona dijawab anggukan Darren.


"Tentu saja enak, itu kan makanan favorit ku."


Leona kembali melanjutkan makannya, namun saat mengingat kembali ucapan karyawan di perusahaan nya tadi. Membuatnya membuatnya menghentikan suapannya, ia menunduk lalu mulai bertanya "Eum.. Apakah kau sudah makan?".


"Ya, aku sudah makan." Jawaban Darren membuat Leona menghela napas, lalu kembali bertanya dengan nada suara pelan "Bersama Irene?".


Leona mendongkakan kepalanya terkejut "Kenapa kau minta maaf? Itu kan hak mu."


Darren tersenyum tipis "Itu memang hak ku, tetapi kini aku sudah beristri. Bagaimanapun, kau mungkin harus tau apa yang aku lakukan."


"Karena itu, jangan sungkan untuk bertanya." Lanjutnya.


Leona terdiam namun tak berapa lama ia tersenyum lembut, "Ya." Jawabnya singkat lalu kembali melanjutkan makannya sambil sesekali tersenyum.


-


-


Leona dan Darren sama-sama terdiam memandang hujan deras yang tiba-tiba turun begitu mereka selesai makan, Leona menghela napas kasar.


Darren lupa menyimpan payung di mobilnya, ia bisa saja membeli payung. Tetapi di dalam toko makanan itu tak menyediakan payung, sedangkan minimarket berada diseberang jalan. Ia bisa saja berlari menuju mobilnya yang terparkir didekat minimarket, tetapi bagaimana dengan Leona? Ia tak mau membuat Perempuan itu sakit lagi.


Matanya beralih menatap Leona yang terlihat kedinginan, terbukti dari tubuhnya yang bergetar. Sudah 15 menit berlalu sejak mereka keluar dari Toko, bicara tentang toko yang mereka kunjungi tadi pun. Kini sudah lebih sesak oleh orang-orang.


Darren melepaskan Jas kerja yang ia kenakan lalu memakaikannya ke tubuh Leona, "Maaf. Aku tidak menyangka ternyata akan hujan, padahal tadi cuaca begitu cerah."


Leona mengangguk mengerti, wajahnya tersipu malu "Tak apa, dan terima kasih untuk Jas nya."


Darren mengangguk, keduanya kembali memperhatikan rintik hujan yang turun. Hembusan angin yang lumayan kencang, aroma hujan yang menyatu dengan tanah, entah mengapa membuat Leona mengantuk.


Matanya terasa berat bahkan sesekali ia menguap, Darren yang melihatnya tersenyum geli.


"Kau mengantuk?" Tanyanya dijawab gumaman tak jelas Leona.

__ADS_1


Darren kembali menatap hujan yang sudah mulai surut, ia lalu menatap Leona. Tanpa aba-aba, ia menggendong Leona ala bridal lalu membawanya menyeberangi jalan untuk sampai ke mobil. Leona sontak terkejut, ia melingkarkan kedua tangannya di leher Darren. Matanya yang sayu menatap wajah Pria itu, beberapa kali tetesan air hujan mengenai wajahnya yang tampan.


Deg.


Untuk kesekian kalinya ia terpesona, jantungnya selalu berdegup kencang bahkan hanya mencium aroma tubuhnya.


Matanya perlahan terpejam, ia menyenderkan kepalanya ke dada bidang Darren.


Darren memasukan Leona ke kursi penumpang, menidurkannya di sana sebelum dirinya duduk di kursi pengemudi. Ia mulai menjalankan mobilnya menuju Rumah, sesekali memastikan kondisi Leona yang takutnya demam.


-


-


Begitu tiba di kediamannya, Darren langsung membawa Leona menuju kamar Perempuan itu. Ana yang melihat majikannya pulang dalam keadaan basah, mengikuti Darren menuju kamar.


"Ana, tolong gantikan bajunya dengan yang hangat. Setelah itu tolong bawakan makanan ke kamarku." Ujar Darren keluar dari kamar.


Ana mengangguk mengerti, ia kemudian berjalan menuju lemari lalu mulai memakaikan pakaian hangat ke tubuh Leona. Beberapa menit kemudian ia selesai, Ana keluar dari kamar dan menemukan Darren di sana.


"Sudah Tuan, saya akan menyiapkan makanannya." Ana berlalu dari sana.


Darren langsung memasuki kamar Leona, menggendong Perempuan itu kembali untuk membawanya menuju kamarnya.


Darren membaringkan tubuh Leona ke ranjangnya, mengambil selimut lalu mulai menyelimutinya. Tangannya mengusap lembut wajah Perempuan itu, menghela napas lega ketika merasakan suhu tubuh Leona yang normal.


Ia beranjak menuju lemari, mengambil Sweater dan celana tidurnya menuju kamar mandi.


Bertepatan dengan ia keluar, Matanya bertatapan dengan Leona. Perempuan itu terlihat terkejut, ia lalu menunduk begitu Darren menghampiri.


Sebuah sentuhan di keningnya membuat ia terkejut "Syukurlah tidak demam." Ujar Darren.


"Eum.. Terima kasih, tapi kenapa kau membawaku kemari?" Tanya Leona.


"Kau kan Istriku, mulai sekarang tidurlah dikamar ini." Titah Darren, Leona membulatkan matanya terkejut.


Saat hendak bertanya lagi, pintu terbuka dan menampakkan Ana dengan mendorong Troli makanan. "Silakan Tuan, saya permisi dulu." Ana kembali pergi setelah menyimpan troli tersebut di samping ranjang.


"Makanlah dulu, kau bisa makan sendiri? Atau ingin aku yang suapi?" Goda Darren sambil mengambil mangkuk berisi Sup ayam ke pangkuan Leona.


Leona yang mendengarnya mendengus, "Aku bisa sendiri. Kau juga kan harus makan."


Darren mengangguk lalu mengambil mangkuk sup bagiannya, keduanya mulai memakan sup dengan tenang.


Darren menyelesaikan makannya terlebih dahulu, ia lalu berjalan menuju sofa yang ada di sana. Duduk di sana lalu membuka Laptop dan mulai menjalankannya, Leona memperhatikan Pria itu.


"Sedang apa?" Tanyanya sambil menghampiri Darren, Pria itu menoleh sejenak sebelum kembali pada Laptopnya.


"Menyelesaikan pekerjaan." Jawab Darren singkat.


Leona mengangguk mengerti, ia duduk disampingnya lalu menengok pekerjaan seperti apa yang dilakukan Darren. Banyak sekali angka-angka dengan nominal tinggi dan tulisan dengan bahasa Inggris, astaga hanya dengan melihatnya saja ia sudah pusing.


"Hei." Panggil Darren, Pria itu menatap Leona serius.


"Ada sesuatu yang ingin ku beritahu.. " Leona menantikan ucapan Darren dengan cemas.


"Jay sudah kembali ke Korea, ku mohon. Jika aku tak ada di sampingmu, pastikan kau menjauh dari Jay. Kau taukan, Dia pria yang nekat dan selalu iri dengan apa yang ku punya, dan aku tak ingin dia merebut milikku."


"Kau adalah milikku, Leona."

__ADS_1


__ADS_2