
Leona menatap pantulannya di cermin, hari ini adalah hari yang ditunggu dirinya dan juga Darren. Dimana penobatan sebagai penerus LK Group ditentukan, Leona menatap Darren yang terlihat tampan dengan jas pilihannya. Ia berjalan menuju Suaminya yang kesulitan mengenakan dasi itu.
"Kau semakin tampan," pujinya disela memasang dasi, Darren tersenyum lembut "Terima kasih, kau juga terlihat lebih cantik."
"Apa kau gugup?" Tanya Leona, Darren menggaruk tengkuknya yang tak gatal "Ya, sedikit. Tapi aku lega, semoga saja segala usaha yang kulakukan itu menghasilkan yang memuaskan."
"Aku yakin kau pasti menjadi apa yang kau mau, dan supaya tidak gugup coba hembuskan napas lalu keluarkan lewat mulut dengan perlahan." Darren mengikuti apa yang dikatakan Leona, ia tersenyum setelahnya.
"Aku sudah agak tenang sekarang."
"Nah, sudah rapi. Ayo berangkat sekarang, jangan sampai terlambat." Ujar Leona dijawab anggukan Darren, keduanya lalu berjalan bergandengan menuju mobil yang telah terparkir didepan.
-
-
Ballroom hotel milik LK Group, kini disulap menjadi tempat untuk penentuan ini. Suasana elegan dengan gaya Neo-Klasik, ditambah alunan musik klasik yang tidak membosankan.
Leona melingkarkan tangannya dan mengapitnya di tangan Darren, begitu memasuki hotel. Mereka disambut suasana yang nyaman, beberapa tamu menatap mereka kagum.
Sepasang tamu Pria dan wanita mendatangi Darren, mereka menjabat tangan Darren "Kalian pasangan yang romantis, dan semoga anda berhasil pada usaha kali ini." Ujar Pria paruh baya itu.
Darren tersenyum tipis "Terima kasih, saya juga berharap seperti itu. Kalau begitu saya menyambut yang lain dulu, silakan nikmati pestanya."
Leona dan Darren berlalu setelah memberikan salam, keduanya duduk di kursi yang telah disediakan. Bertepatan dengan itu, Jay datang dengan Ibunya. Kedua mata Pria itu saling menatap datar, lalu Jay memandang Leona datar. Beberapa menit kemudian, Irene datang lalu duduk disisi lain Darren. Leona yang melihatnya mendengus, namun Darren menenangkannya. Pria itu menggeser kursinya agar lebih mendekat pada Leona, ia tersenyum lembut.
Ia tak boleh mengacau di acara istimewa Darren, Leona kembali mengarahkan pandangannya ke depan panggung.
Tak berapa lama, Alex Kim berjalan ketengah panggung. Semua perhatian tertuju padanya "Selamat siang, terima kasih atas waktunya. Disini saya berdiri sebagai seorang Pemilik kedua LK Group, sebelumnya saya sudah mendiskusikan dengan Tuan Lee. Dan kami setuju untuk menentukan Penerus LK Group, berdasarkan usaha dan kerja keras yang dilakukan untuk perusahaan."
Tuan Lee atau Ayah Leona Lee yang duduk di di sofa yang disediakan di atas panggung, berdiri lalu membungkuk memberi salam.
"Penentuan ini begitu sulit kami lakukan, karena berdasarkan kinerja yang dilakukan kedua Pria itu. Mereka memberikan hasil yang memuaskan, namun mereka pun memiliki kekurangan masing-masing yang terkadang menjadi kendala. Tapi kami mengapresiasi usaha kalian, saya tak menyangka jika kalian sudah besar."
Para tamu undangan saling tersenyum hangat.
"Sebelum saya umumkan hasil ini, saya ingin meminta untuk kedua Putraku berpidato sebagai calon pemilik yang baru. Dimulai dari Jay, putra pertamaku."
Jay berdiri ia merapikan jas nya sebentar sebelum berjalan menuju panggung diiringi tepuk tangan Tamu.
"Selamat siang, saya Jay Kim. Sebelumnya saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Ibu saya yang telah mendukung saya selama ini, dan kali ini saya ingin menyampaikan apa yang akan saya lakukan untuk perusahaan ke depannya. Saya akan memajukan perusahaan menjadi Perusahaan bidang Pembangunan nomor satu di dunia, saya akan bekerja dengan ambisi dan tekad saya. Karena saya yakin kemampuan saya, akan membawa dampak besar untuk perusahaan. Sekian yang ingin saya sampaikan, terima kasih."
Para tamu undangan bertepuk tangan, Jay kembali ke tempatnya semula digantikan dengan Tuan Kim kembali "Baiklah, selanjutnya mari kita dengarkan pidato dari Putra kedua saya. Darren, silakan ke depan."
__ADS_1
Darren menghembuskan napas lalu menoleh pada Leona yang tersenyum menyemangatinya "Semangat." gumamnya membuat Darren mengangguk yakin, ia berjalan menuju panggung diikuti suara tepukan.
"Saya, Darren Kim. Saya mulai mengenal dunia bisnis ketika umur saya 15 tahun, dimana dulu Ayah mengajarkan saya dengan keras sampai menjadi Pribadi seperti sekarang. Tak banyak yang ingin saya sampaikan, saya akan bekerja sesuai dengan visi dan misi perusahaan. Saya tak ingin menjadi seorang mikro manajer yang melakukan semua pekerjaan sendirian untuk mencapai hasil sempurna, karena itu mohon bantuannya. Saya bukanlah orang sempurna, karena itu butuh waktu yang lama untuk menjadi diposisi sekarang. Kepada para karyawan yang hadir, mohon bimbingannya." Darren menutupi ucapannya dengan membungkuk memberi hormat kepada orang-orang, beberapa tamu yang memang terdiri dari karyawan. Ada yang menangis haru, mereka bertepuk tangan begitu Darren kembali duduk.
Leona memberinya senyum lebar "Kau hebat." ujarnya membuat Darren ikut tersenyum.
Sementara itu Jay mengepalkan tangannya kuat, namun tak berapa lama ia menyeringai. Seberapa bagus pidato yang disampaikan Darren, tetap saja performa yang ia lakukan selama dua bulan. Pasti menghasilkan apa yang ia mau, ya Jay dan sifat ambisius nya.
Tuan Alex Kim kembali ke panggung kali ini ditemani oleh Tuan Tae Lee, Ayah Leona Lee.
"Terima kasih untuk kedua Putraku yang telah memberikan pidatonya, kali ini saya akan mengumumkan hasil kerja mereka selama dua bulan ini. Saya harap Jay dan Darren serta kalian dapat menerimanya, silakan Tuan Lee."
"Kami memilih dia sebagai Pemimpin karena kerja kerasnya, tidak ada hubungannya sama sekali dengan status keluarga. Langsung saja saya umumkan, Pemimpin yang akan meneruskan LK Group adalah.. "
Semua menanti-nanti siapa yang akan menjadi Pemimpin, begitupun dengan Darren yang terlihat gugup.
"Darren Kim."
Darren menatap tak percaya ke depan, Leona yang berada disampingnya tersenyum bahagia "Selamat, Suamiku." Darren yang tersadar ikut tersenyum, ia memeluk Leona erat.
"Kepada Darren Kim, dipersilakan untuk maju."
Darren melepaskan pelukannya, ia menatap Leona yang mengangguk. Lalu ia berjalan diiringi tepukan para tamu dan musik yang mulai terdengar, sementara itu terlihat Jay yang begitu syok dengan apa yang ia dengar. Ia memandang tak percaya pada Sang Ayah yang tersenyum bangga pada Darren, ia mengepalkan kedua tangannya kuat. Ia berdiri dan berlalu begitu saja dari acara, Leona melihatnya sekilas sebelum kembali menatap Darren dengan senyum lebar.
"Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada kalian, Tim yang telah membantu saya hingga akhirnya saya mampu menjadi Pemimpin LK Group. Kepada Tuan Kim dan Tuan Lee, saya ucapkan terima kasih karena telah mempercayakan perusahaan utama kepada saya."
"Dan saya juga mengucapkan terima kasih kepada Istri saya, yang telah menyemangati. Terima kasih." Darren membungkuk memberi salam sebagai penutup, ia berjalan ke sisi panggung ketika Ayahnya kembali bicara.
"Untuk merayakan keberhasilannya, silakan nikmati hidangan yang telah kami sajikan. Sebelumnya, saya meminta kalian untuk mengangkat gelas kalian dan mari kita bersulang." Para tamu undangan mengikuti arahan Tuan Kim, lalu mereka mengangkat gelas berisi Wine sebagai tanda perayaan.
Darren tersenyum sampai menatap hangat orang-orang yang ada di sana, matanya kemudian tertuju pada Leona yang balas menatapnya.
Darren memberikan senyuman, terima kasih. Ucapnya lewat gerakan mulut, Leona membalasnya dengan kepalan tangan yang terangkat.
-
-
Leona bergerak gelisah, ia menatap Darren yang ada disampingnya sedang mengobrol dengan rekan bisnisnya. Darren yang menyadarinya menoleh pada Leona "Ada apa?".
"Aku ingin ke toilet, aku ke sana dulu." Leona hendak pergi tapi Darren menahannya "Mau ku antar?".
Leona menggeleng "Tak perlu, aku sudah besar. Lagipula kau tak bisa mengabaikan tamu mu." Ia kemudian pergi dengan tergesa-gesa, Darren menatapnya khawatir. Entahlah, sebagian dirinya takut jika Leona sendiri.
__ADS_1
-
Leona memandang sekitar dengan bingung, setelah bertanya letak Toilet pada pelayan. Ia menghela napas lega setelah berhasil mengeluarkan air yang sejak tadi ia tahan, ketika pintu bilik toilet terbuka. Dirinya dikejutkan dengan kehadiran Jay yang langsung membungkam mulutnya dengan tangan, ia mencoba melepaskan diri dari tangan Jay.
Leona menggigit kuat telapak tangan Jay yang membungkamnya sampai terlepas, ia langsung berlari keluar toilet.
Ia berlari dengan mata yang menjelajah sekitar, mencoba mencari keberadaan orang lain. Ia hendak kembali ke acara namun jaraknya berlawanan dengan arahnya lari, ia terus berlari melewati beberapa belokan di lorong. Sampai akhirnya ia menemukan sebuah ruangan yang terbuka sedikit, tanpa berpikir panjang ia masuk ke sana lalu menguncinya.
Napasnya tak beraturan, Leona menatap sekeliling ruangan yang ternyata sebuah kamar. Ia mencoba mencari CCTV namun tak ia temui, hingga sebuah ide melintas di pikirannya.
Ia mengeluarkan ponselnya dari tas lalu mencoba menghubungi Darren, namun hingga panggilan yang ke 5 tak kunjung mendapat jawaban. Melihat pintu yang terlihat akan di dobrak, membuat ia membuka aplikasi video. Ia mulai merekam lalu mencari sudut yang pas untuk meletakan ponselnya, sebagai antisipasi jika Jay melakukan hal buruk padanya.
Bertepatan dengan ia berhasil menemukan tempat yang di yakini pas, pintu berhasil dibuka paksa Jay. Pria itu terlihat menyeramkan dengan wajah menyeringai yang penuh amarah, Leona berjalan mundur saat melihat Jay maju.
"A.. Apa yang kau inginkan?" Leona bertanya.
"Kau, Kau pasti membantu Pria itu sampai bisa menang, kan? Enak sekali Pria itu menang dengan mudah, ia hanya perlu bantuan Ayahnya dan kau!"
Leona mengernyit, jadi ini alasan Pria itu begitu marah "Kenapa kau tidak terima? Darren berhasil karena usahanya sendiri!".
Jay menyeringai "Benarkah? Kau kira aku bodoh?! Dia menang karena Pria Tua itu yang membantunya! Hanya karena aku anak tiri, dia tak mau membantuku!".
"Semua ini terjadi karena Darren lebih baik darimu, kau terlalu mengandalkan ambisi mu itu!"
Jay tertawa menakutkan, ia berjalan cepat kearahnya lalu mengurung Leona diantara tubuh dan tembok. Leona menatap waspada Jay.
"Berani sekali anak buangan sepertimu bicara begitu padaku! Kau kira kau siapa! Aku, akulah yang harusnya menang. Bukan Pria sial itu, akulah.. akulah.. "
Leona menatap heran Jay yang terlihat gelisah, ia menjambak rambutnya sendiri sambil bergumam aneh. Sampai ia dikejutkan oleh sepasang mata yang menatapnya tajam, "Ini semua karena kau, kan. Kau, harus mati."
Kedua bola mata Leona membulat saat Jay, mengeluarkan sebuah pisau yang terlihat tajam lalu mengarahkannya padanya.
"Ti.. tidak!"
Suara dering ponsel membuat keduanya menoleh ke asal suara, Jay yang melihat keberadaan ponsel menatap geram Leona "Kau merekamnya?".
Leona menggeleng, sementara Jay berjalan menuju rak lemari hendak mengambil ponsel Leona. Namun Leona tak membiarkannya, ia berlari cepat dan mengambil ponsel itu lalu menyembunyikannya dibelakang tubuh.
"Berikan padaku."
Leona menggeleng cepat, membuat emosi Jay berada pada puncaknya.
"Kau memang ingin mati!".
__ADS_1
Leona menutup matanya saat pisau itu melesat cepat kearahnya tanpa sempat ia lari, matanya terbuka lebar saat rasa sakit itu ia rasakan pada perutnya.
Matanya berkunang-kunang, tubuhnya jatuh, sebelum matanya tertutup. Ia memandang sendu Jay, kemudian kegelapan mengambil alih kesadarannya.