
Kelopak mata itu perlahan terbuka dan menampakkan bola mata hitam yang indah, Darren mengerang merasakan pusing.
Ia mencoba duduk, matanya memandang sekeliling mencari keberadaan sosok lain. Hingga ia menemukan Leona tertidur di bawah ranjang dengan kepala menempel pada ranjang, ia tersenyum kecil. Ternyata benar, Jika Leona lah yang mengurusnya.
Matanya masih betah memandangi wajah Leona yang terlihat damai dalam tidurnya, ia seolah terpaku.
Perempuan itu terlihat terusik, tak berapa lama kelopak mata itu terbuka. Kedua tangannya terangkat, meregangkan ototnya yang kaku. Ia menggaruk tengkuknya lalu menguap lebar, sampai suara tertawa seseorang menyadarkannya.
"Astaga!" Matanya membulat kala mendapati Darren yang ternyata menertawakannya.
"Kau sudah baikan?" Tanya Leona setelah tawa Darren reda, ia menyentuh kening Pria itu membuat Darren terdiam.
"Ah, syukurlah panasnya sudah turun. Kau mau makan?" Pertanyaan Leona membuatnya tersentak, ia mengangguk kaku.
"Baiklah, aku akan siapkan makanan. Ngomong-ngomong jam berapa sekarang?".
"Jam 3 sore. Ah iya, bisakah aku makan nasi? Makan bubur membuatku terlihat seperti orang yang sakit parah." Pinta Darren.
"Baiklah, aku ke dapur dulu."
Darren mengangguk, ia terlihat mencari sesuatu. "Apakah kau melihat ponselku? Aku harus mengecek Email."
Leona mendengus lalu menghadap Darren, "Kau itu masih belum sehat. Urusan pekerjaan biar aku bantu, sekarang fokus pada kesehatan mu."
Darren menghela napas saat mendengar ucapan mutlak Leona, apa boleh buat.
-
-
Selagi Leona sibuk dengan urusan dapur, Darren kini terlihat melamun. Pikirannya melayang ke masa lalu, tepatnya saat dirinya masih kecil. Sejak kecil ketika dirinya sakit, Ibunya lah yang selalu merawatnya. Namun ketika Ibunya meninggal, hanya Pengasuhnya yang menggantikan sosok Ibu.
Tetapi ketika ia menginjak dewasa, Pengasuhnya meninggal. Sejak saat itulah ia jarang sekali sakit, Ia tidak terlalu dekat dengan Ayahnya. Karena menurut ia, Ayahnya lah penyebab kematian Ibunya.
Pintu terbuka dan menampakkan Leona yang terlihat kerepotan dengan nampan berisi dua mangkuk dan segelas air di kedua tangannya.
"Aku sudah buatkan sup ayam, ku harap kau menyukainya. Kau bisa makan sendiri kan?" Tanya Leona dijawab anggukan Darren.
Pria itu mulai mencicipi sup buatan Leona, ia tertegun. Rasa sup ini seperti rasa sup buatan Ibunya, Ia tersenyum "Enak."
Leona ikut tersenyum, "Kalau begitu habiskan. Dan masalah sisa pekerjaanmu, biarkan aku membantu."
"Kau bisa?" Tanya Darren ragu.
Leona berdecak kesal "Jangan meremehkan aku, walaupun terlihat pemalas. Aku ini bisa diandalkan, jika boleh tau ada masalah apa?".
"Kau ingat Jay?".
Leona mengangguk ragu, siapa Jay?
Terdengar helaan napas lelah dari Pria itu, "Dia kembali. Kemarin Ayah menghubungiku, dia bilang jika aku tak bisa mengatasi Masalah itu, dia akan mengalihkan Perusahaan utama ke Jay."
Leona tidak tau harus menampilkan ekspresi seperti apa, tetapi saat melihat wajah sendu Darren. Entah mengapa membuatnya merasakan apa yang Pria itu rasakan, "Apakah masalahnya seserius itu sampai kau mengabaikan kesehatan mu?".
"Ya. Akhir-akhir ini ada kejanggalan dengan sistem Perusahaan, sebagian data penting hilang. Dan kejadian itu terjadi sejak aku mulai sibuk di LK Group," Jelas Darren.
Leona mengangguk mengerti "Baiklah, aku akan membantumu."
__ADS_1
"Memang kau bisa apa?" Tanya Darren meremehkan.
Leona menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kau terlalu meremehkan seseorang, mungkin karena itulah kau lengah dengan orang-orang disekitar mu."
Darren terdiam, perkataan Leona memang ada benarnya. Ia selama ini tak terlalu memperhatikan hal kecil berkaitan dengan karyawannya, ia terlalu fokus untuk mencapai target perusahaan.
"Kurasa kau benar."
Leona mengangguk setuju "Tentu benar, aku akan membantumu. Tetapi kau harus sembuh dulu, jangan terlalu memforsir diri untuk bekerja."
Darren menatapnya lama lalu menunduk sambil tersenyum tipis, "Hn."
-
-
Kertas-kertas berhamburan di lantai kamar Darren, penyebabnya adalah Leona yang terlihat fokus dengan Laptop milik Leona Lee.
Darren terlihat tertidur pulas setelah ia berikan makan dan obat, Leona lalu menghubungi Shin untuk membantunya mengatasi masalah Darren. Bagaimanapun ia masih belum berpengalaman dalam Dunia Bisnis, salah-salah Pria itu pasti akan membencinya.
Shin terlihat sibuk dengan Laptopnya disudut kamar lainnya, Pria itu turut membantu.
"Astaga, ini gila!" Keluhnya sembari membaringkan tubuhnya di lantai.
Shin menghentikan sejenak pekerjaannya, ia menoleh ke arah Leona lalu tersenyum tipis.
"Pantas saja Pria itu bisa sampai tumbang, Masalahnya bukan hanya satu." Leona terduduk kembali, "Semangat Leo!".
Ia kembali fokus pada Laptop, suasana hening menyapa hingga malam pun tiba.
Leona menguap lalu menatap jam dinding yang menunjukkan pukul 8 malam, Darren sudah terbangun lima menit lalu. Ia terkejut begitu mendapati Shin di kamarnya, dan yang membuatnya lebih terkejut adalah keberadaan Leona dengan berkas-berkas miliknya.
"Aku sedang membantumu, kau sudah lebih baik?".
"Ya, aku baik-baik saja. Memang kau membantu apa?" Darren duduk disampingnya sambil menatap pekerjaan apa yang dilakukan Leona.
"Aku hanya mengecek beberapa data karyawan Perusahaan," Ujar Leona. "Oh ya apa kau tau, ternyata ada beberapa masalah dengan karyawan mu." Lanjutnya membuat Darren memandangnya tak mengerti.
"Lihatlah ini.." Leona menunjukkan data di Laptop yang telah dirangkum nya, "Tiga orang karyawan mu mengambil cuti dihari yang sama dan waktu yang sama, dan yang lebih mengejutkannya lagi adalah kejadian data Perusahaan hilang bertepatan dengan mereka yang Cuti."
Darren tersentak, ia mengambil alih Laptop itu dan mengecek isinya. Kenapa ia begitu bodoh hingga tak menyadari hal seperti ini?
"Kau tidak bodoh, hanya kau terlalu meremehkan seseorang." Ujar Leona seolah mengerti apa yang dirasakan Darren.
Darren mengambil ponselnya yang tergeletak di nakas, ia mulai mencari kontak Sekretaris nya.
"Nic, besok siapkan ruang rapat dan suruh tiga orang karyawan kesana. Aku akan kirim datanya."
Belum sempat sekretaris nya menjawab, Darren sudah mematikan panggilannya duluan.
"Apa kau mengingat alasan mereka cuti?" Tanya Leona dijawab gelengan Darren, ya ia tidak tau. Karena pada dasarnya ia orang yang acuh, baginya mencapai apa yang ia inginkan lah yang harus diutamakan.
"Terima kasih sudah membantuku, untuk yang lainnya biar aku yang urus." Pria itu berdiri lalu mengambil Laptopnya, Leona yang melihatnya langsung menghampiri Darren.
"Untuk saat ini kita istirahat dulu. Setelah masalah ini selesai, aku janji akan membantumu." Cegah Leona, Darren menatapnya datar "Aku bisa menyelesaikannya sendiri."
Leona berdecak malas, "Lagi-lagi kau keras kepala. Dengar ya, seseorang belum tentu bisa menyelesaikan masalah-masalah mereka dalam satu waktu. Bukan hanya tubuh yang perlu beristirahat, tetapi otak juga."
__ADS_1
"Kau belum terlalu sehat, lagipula kita masih punya hari esok kan."
Darren menatap Leona lama, ia menghela napas kasar karena lagi-lagi ucapan Leona membuatnya terdiam.
Leona tersenyum melihatnya, ia lalu beralih menatap Shin "Shin, kau bisa istirahat di kamar tamu. Pekerjaan ini bisa diselesaikan besok, terima kasih sudah membantuku."
Shin tersenyum lembut, ia mengangguk sebelum berlalu keluar dari kamar.
Leona membereskan barang-barang yang berceceran itu, merapikannya lalu berjalan menuju kamar mandi.
Sementara itu Darren tampak termenung. Leona, ia dapat merasakan perubahan mereka. Perempuan itu bukan hanya membuatnya akhir-akhir ini banyak bicara, tetapi perempuan itu juga entah sejak kapan selalu mengganggu pikirannya.
Lamunannya terhenti saat Perempuan yang berada dalam lamunannya, kini keluar dengan baju tidur.
"Apa kau lapar?" Tanyanya, Darren menggeleng "Tidak. Lagipula aku tak mau terlalu banyak makan, bagaimana jika tubuh indah ku rusak?".
Leona memutar bola matanya malas, "Kau ternyata terlalu percaya diri. Aku akan tidur di kamar ku, jika butuh sesuatu ketuk saja pintu kamar ku."
Darren mengangguk, setelah Leona menghilang di balik pintu barulah ia tertidur.
-
-
Suasana pagi ini terasa lebih ramai dengan kedatangan Shin, Pria itu terus berdebat dengan Darren. Membuktikan siapa yang lebih unggul dalam bisnis, bahkan mereka seolah lupa dengan apa yang menjadi tujuan utama mereka berkumpul.
Leona memutar bola matanya malas, ini masih pagi dan mereka baru selesai sarapan. Namun ketika akan menyelesaikan tujuan mengapa mereka berkumpul, kedua Pria itu malah tiba-tiba berdebat.
"Kalian, hentikan!" Ucapan Leona tak diindahkan oleh keduanya, menarik napasnya sebelum kembali berbicara yang kali ini dengan nada lebih keras.
"Hentikan!". Dengan napas terengah-engah, Leona menatap Darren dan Shin yang akhirnya berhenti berdebat. Kedua Pria itu sama-sama menatapnya dengan kedua tangan menutup telinga, Leona tersenyum puas "Anak baik. Sekarang dari pada kalian berdebat, lebih baik kita cepat selesaikan masalah utama kenapa kita harus berkumpul."
"Sekarang ayo kita selesaikan masalah ini, setelah itu kita ke kantormu dan mulai bicarakan ini dengan pihak yang terkait." Jelas Leona dijawab anggukan patuh Darren dan Shin.
Mereka langsung sibuk di ruang tamu dengan Laptop masing-masing di pangkuan, mereka begitu fokus karena tak menginginkan sampai ada kesalahpahaman.
-
-
Ditengah keheningan itu hanya terdengar suara jarum jam, butuh waktu sekitar tiga jam untuk mereka menyelesaikan masalah ini.
Mereka secara bersamaan menghela napas lega diikuti merenggangkan otot tubuh yang kaku karena terlalu lama duduk, mereka saling menatap lalu tersenyum senang.
"Untunglah kita mendapatkan jawaban yang memuaskan, setelah ini apakah kita langsung ke kantor?" Tanya Leona.
"Ya, lebih cepat lebih baik. Ini sangat mengejutkan, walau aku tak terlalu memperhatikan tetapi aku tak menyangka jika Orangnya adalah dia." Jawab Darren, Ia berdiri "Aku akan bersiap dulu." Lanjutnya berlalu pergi menuju kamar.
Leona menatap Shin lalu tersenyum tipis, "Terima kasih Shin, apakah kau akan ikut?".
Shin berdiri lalu menatap jam tangannya, ia menggeleng kemudian menjawab "Ku rasa tidak, ada pekerjaan lain yang harus ku kerjakan. Aku permisi dulu." Pamitnya berlalu pergi diikuti Leona, Shin memasuki mobilnya "Jika ada apa-apa, telepon saja aku. Sampai jumpa!".
Shin melajukan mobilnya, Leona melambaikan tangannya ke arah mobil yang ditumpangi Shin sampai mobil itu menghilang dari balik gerbang.
Leona kembali memasuki Rumah, ia berjalan menuju kamarnya untuk berganti pakaian. Ia akan ikut dengan Darren, setidaknya ketika Pria itu pusing ia ada disampingnya.
Beberapa menit kemudian ia telah siap dengan pakaian formalnya, ia tak tau gaya Leona Lee namun setidaknya ia ingin berpakaian yang layak.
__ADS_1
Ia melangkah menuruni tangga, bertepatan dengan itu Darren keluar dari kamar. Keduanya saling menatap lalu melangkah menuruni tangga. Begitu menapaki lantai bawah, mereka kembali saling bertatapan lalu mengangguk dengan senyum di wajah masing-masing.
"Semangat!" Gumam mereka..